Anggono Wisnudjati Fiksi

romero must die

Oleh Anggono Wisnudjati

 

romero must die

dua tangan angkat piala isi anggur

belum lagi bibir buka

dada sudah pecah dan kamu rebah

merah, bumi memerah

(domba-domba mematung kena sihir ketakutan)

waktu jiwamu lepas dari badan

lepas juga harapan dan iman

sementara kasih telah lama mati

tenggelam dalam kekerasan

(apakah kefas terus nyanyi gregorian

saat darah panas kental bikin becek lantai bawah altar?)

pembebasan!

pembebasan!

rohmu terbang sebagai api

sulut para domba jadi harap

menyala, segalanya menyala

pembebasan!

pembebasan!

tanduk-tanduk harus tabrak

kaki-kaki mesti tendang

dan kehidupan wajib terbela

(apakah kefas tetap lamban dan ngantuk

lelah tiduri kemewahan dalam merdu lagu gregorian?)

pembebasan!

di mana pembebasan?

rohmu diam menjadi sunyi

pembebasan!

ke mana pembebasan?

dan di sekolah-sekolah filsafat

rohmu beku menjadi buku

(tolong kau tanyakan pada Yesus, uskup romero,

mengapa bahasa-Nya sering beda dengan kefas punya?)

About the author

Anggono Wisnudjati

Panggilannya Anggono. Angkatan IV di Agenda 18.

1 Comment

Click here to post a comment