Arlandy Ghiffari Opini

Kita Tidak Sinting, Bukan?

Sumber Gambar: https://motivasinews.com/news/menenun-kembali-keberagaman-indonesia-di-jakarta/
Sumber Gambar: https://motivasinews.com/news/menenun-kembali-keberagaman-indonesia-di-jakarta/

Indonesia dan keberagaman adalah dua hal yang tak terpisahkan. Ribuan suku dan adat-istiadat membentuk satu—meminjam Benedict Anderson—‘komunitas terbayangkan’ yang mendiami belasan ribu pulau, meski sampai saat ini hanya ratusan pulau yang berpenghuni atau ber(di)nama(i). Tak terhitungnya produk budaya yang dihasilkan dari ribuan suku ini memiliki sejarah yang berurat-berakar, mulai dari peradaban animisme-dinamisme, kerajaan Hindu-Buddha, kerajaan Islam, penjajahan negara-negara kolonialis, proses tercapainya kemerdekaan, sampai hari ini. Keberagaman budaya pada setiap periode sejarah Indonesia memiliki keunikannya masing-masing yang saling menerima satu sama lain. Maka ekletisisme budaya, jika boleh dikatakan demikian, adalah keunikan yang ada di negara kepulauan ini. Suatu keunikan yang tidak dimiliki banyak negara lain. Cukuplah sebaris lagu “Dari Sabang sampai Merauke” merangkumnya: Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung-menyambung menjadi satu itulah Indonesia. Setidaknya demikianlah narasi yang selalu diajarkan dan diulang-ulang di dalam ruang-ruang kelas, mulai dari sekolah dasar sampai bangku perkuliahan. Menjadi wajar jika negara-negara asing, khususnya turisnya sangat tertarik untuk datang ke Indonesia, di samping ketertarikan dengan keeksotisan alam dan keramahan masyarakatnya. Meskipun terkadang, ironisnya, Bali lebih dikenal dibanding Indonesia sendiri.

Sebagai seorang yang lahir di Indonesia jauh setelah proses ‘pembentukan’ Indonesia, tentu saya terikat dengan ruang dan waktu ketika negara ini telah selesai dengan pergulatan ideologi. Saya hanya bisa membaca risalah perdebatan di ruang sidang BPUPKI, PPKI, maupun Konstituante. Perdebatan ideologi para pendiri bangsa ini telah mencapai kata sepakatnya: Pancasila. Dinyatakan oleh penemunya, Soekarno, nilai-nilai Pancasila digali dari nilai luhur bangsa Indonesia. Nilai-nilai itu terangkum dalam lima silanya: ketuhanan, internasionalisme/perikemanusiaan, patriotisme, demokrasi dan keadilan sosial. Jika lima sila ini diperas menjadi satu, maka gotong-royong adalah saripatinya. “Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong-royong! Alangkah hebatnya! Negara gotong royong!” Begitulah sepenggal pidato “Lahirnja Pantja Sila” Soekarno. Namun demikian, betapapun holistiknya Pancasila sebagai worldview bangsa Indonesia, ia tak kebal koyak, baik disadari maupun tidak, seperti yang telah dan sedang terjadi saat ini. Sekali terkoyak, meledaklah semuanya menjadi konflik horizontal, yang sebenarnya kebanyakan dimulai dari hal-hal remeh: saling tatap atau  saling ejek. Oleh karenanya, adakah keberagaman sebagai—jika boleh dikatakan—kekuatan Indonesia ini sesuatu yang terberikan? Atau ia lahir dari rahim bangsa sebagai sesuatu yang perlu terus dipupuk secara bergotong-royong?

Dahulu, ketika kecil saya memiliki pengalaman tak terlupakan, yang bisa dikatakan cukup getir. Lingkungan saya bertumbuh, meski hanya selama tujuh tahun, melekat sebagai ingatan pertama saya soal ihwal keberagaman Indonesia karena keberagaman penduduknya: Tionghoa, Batak, Jawa, Sunda, Betawi, dan lain-lain. Bolehlah dikatakan semacam miniatur Indonesia. Semua orang di sana hidup berdampingan secara harmonis. Tidak ada konflik apapun yang terjadi. Sebelum akhirnya pada suatu hari di bulan puasa pecahlah adu mulut sampai hampir adu fisik antara dua orang tetangga yang diawali dari kesalahpahaman. Teman saya, Jansen, seorang Tionghoa beragama Kristen mengajak kami bermain di rumahnya.

Masuk waktu makan siang, dia meminta izin kami—saya dan Fajar—untuk makan. Entah karena tergoda oleh aromanya atau memang lapar, Fajar mencicipi sedikit. Jansen sempat mengingatkan bahwa Fajar sedang berpuasa, namun apa daya usia kami masih terlalu kecil untuk memahami makna larangan dalam puasa. Beberapa waktu kemudian kami pulang ke rumah masing-masing. Tak berapa lama, ayah Fajar berteriak di depan rumah Jansen—saya lupa persisnya meneriakkan apa. Ayah Jansen keluar. Terjadilah adu mulut. Keduanya bersitegang. Adu mulut ini terdengar sampai rumah saya karena terletak persis di sebelah rumah Jansen. Melihat keadaan yang semakin memanas, ayah saya keluar untuk mendinginkan situasi dan mendamaikan keduanya. Ia berdiri melerai di tengah-tengah. Gambaran ‘heroik’ itu masih terekam jelas dalam ingatan saya sampai hari ini. Ayah saya sebagai ‘juru mediasi’ dadakan memaksa keduanya untuk berjabat tangan, bermaafan. Tak lupa ia mengingatkan bahwa menahan amarah adalah kewajiban di bulan puasa. Keduanya akhirnya berjabat tangan dan pulang ke rumah masing-masing, meski masih menggerutu. Saya ingat setelah peristiwa adu mulut itu Fajar menjadi jarang keluar rumah.

Pengalaman getir masa kecil saya itu tak seberapa dibanding pengalaman keberagaman yang saya alami dalam dua puluh tiga tahun hidup di dunia. Dilahirkan dari ayah dan ibu yang berbeda suku—Sumatera dan Jawa—dengan latar belakang sosio-kultural dan pendekatan pendidikan yang berbeda, mengajarkan saya betapa pentingnya laku toleransi. Saya namai keluarga saya ini sebagai keluarga ‘campursari’. Ayah cenderung memahami Islam dengan “ketat”, ia kerap menyuruh saya membaca buku-buku fiqh dan kumpulan hadits Bukhari dan Muslim untuk memahami Islam. Sedangkan ibu lebih membebaskan saya mempelajari Islam melalui apapun: sastra, sejarah, filsafat, dan lain-lain. Perbedaan di antara keduanya tidak melulu berjalan harmonis, kadang ada hal-hal yang mungkin bagi mereka telah mencapai batas toleransinya.

Teringat ketika saya SMP, terjadi debat antara ayah dan ibu perihal gambar. Saya menggambar –padahal amat jelek—tentang tentara Jepang dan romusha. Ayah mengatakan bahwa dalam Islam dilarang menggambar makhluk hidup. Ia memarahi saya. Namun ibu tak setuju dengan pendapatnya. Ibu justru menganggap suaminya itu membatasi kreativitas anaknya. Saya hanya duduk termangu menonton debat kecil itu. Ayah akhirnya mengalah dan mengizinkan saya melanjutkan gambar yang jelek itu. Lain pengalaman masa kecil dengan ibu dan ayah, lain pula pengalaman nenek saya dari pihak ibu. Ketika muda, ia tinggal di kampungnya, Wonosari, Jogjakarta. Keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi kala itu terbentur masalah ekonomi. Namun tekad kuatnya dilihat oleh seorang saudara jauh yang rela membiayai ongkos pendidikannya di sebuah sekolah Katolik. Perbedaan agama tidak menghentikan tekadnya tersebut. Suatu kali ia pernah mengatakan bahwa ilmu bisa datang dari mana dan siapa saja. Bersekolahlah akhirnya ia di sana sampai lulus.

Semua fragmen masa kecil saya di atas turut membentuk pemahaman dan kesadaran saya sampai sekarang ihwal pentingnya toleransi dan saling menghargai. Perbedaan suku, ras, atau agama bukanlah penghalang hidup berdampingan. Negara gotong-royong ini bukan milik satu atau sekelompok orang, maka semua harus turut andil merawatnya. Melalui falsafah bangsa yang telah disepakati, Pancasila, kita harus mengamalkannya melalui kehidupan sehari-hari, bukan hanya menghapalnya. Tak perlu jauh-jauh atau rumit-rumit, bisa dimulai dari unit terkecil: keluarga, dengan menerima segala perbedaan, apapun bentuknya. Terlebih agama.

Dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan bangganya Soekarno menyampaikan falsafah bangsa ini, bahwa Indonesia diliputi berbagai macam agama, bahkan yang tidak menganut suatu agama pun tetaplah bangsa Indonesia. Baginya, Pancasila adalah alat pemersatu, bukan pemecah-belah karena sesiapa yang menjadikan Pancasila sebagai alat pemecah-belah, maka ialah yang sesungguhnya sinting. Tentu kita tak mau jadi satu di antaranya, bukan?

About the author

Arlandy Ghiffari

Arlandy Ghiffari alias Diki, masih melanjutkan studinya di jurusan Sistem Informasi. Namun dia bercita-cita menjadi penulis dan jurnalis. Bersama teman-teman yang lain, saat ini tergabung dalam Agenda 18 Angkatan 6.

Add Comment

Click here to post a comment