Arlandy Ghiffari Esai Opini

Manusia, Buku, dan Keinginan untuk Hidup Seribu Tahun Lagi

fiks

Kalau sampai waktuku/ ‘Ku mau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau// Tak perlu sedu sedan itu/ Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulannya terbuang// Biar peluru menembus kulitku/ Aku tetap meradang menerjang// Luka dan bisa kubawa berlari/ Berlari/ Hingga hilang pedih peri// Dan aku akan lebih tidak perduli// Aku mau hidup seribu tahun lagi

(“Aku”, Chairil Anwar)

Jika manusia bisa hidup seribu tahun lagi, mungkin kita tak akan membaca sajak Chairil di atas, atau bahkan ia tak akan pernah membuatnya. Karena, tak seperti ulat yang dapat melihat sayap cantiknya mengembang, manusia senantiasa menyongsong kematiannya lebih dini, berkali-kali. Manusia mencari cara agar dapat hidup abadi. Seperti kisah seorang raja yang mencari sumur abadi di ujung dunia agar ia tetap bernyawa, entah sampai kapan. Tapi manusia tak sendiri, ada yang berharap dapat hidup seribu tahun lagi.

Hari itu waktu mulai beranjak malam. Saya memarkir sepeda motor di lantai dua dan bergegas menuruni anak tangga. Tepat sebelum memasuki lobby sebuah toko buku, anak-anak kecil—sekitar tiga sampai lima orang—berkeliling ke sana kemari menjajakan surat kabar yang masih banyak tersisa. Seorang di antara mereka menghampiri saya menawarkan surat kabar itu. Saya terenyuh, membeli sebuah dan memasukkannya dalam tas. Wajah sumringah seketika terpancar darinya.

Melihat surat kabar yang masih banyak tersisa di tangan mereka, saat itu saya membatin: surat kabar semakin ditinggalkan pembacanya saja. Tak pelak, pemandangan ini akan makin jamak kita temui. Dan anak-anak kecil tadi hanyalah satu mata rantai dari keseluruhannya.

Surat-surat kabar yang sempat berada di era keemasannya dalam menjadi medium informasi kepada khalayak kini perannya mulai tergerus. Segala jenis media cetak baik surat kabar harian, surat kabar mingguan, majalah, atau tabloid mengalami penurunan oplah hingga berada di titik minus dalam kurun waktu 2008 sampai 2015. Itu tiga tahun lalu, bayangkan angka oplah akan lebih menurun lagi tahun ini!

Untuk mengantisipasi jurang yang semakin dalam, surat-surat kabar kini membuat media daringnya sendiri. Tidak seperti surat kabar  cetak yang membutuhkan waktu cukup lama dalam proses produksinya, media daring hanya membutuhkan sekali klik untuk menurunkan berita. Dan “boom, boom! the drums roll”’, seperti McLuhan pernah katakan dalam suatu wawancara.

Sumber: blog.oup.com
Sumber: blog.oup.com

Selama Ratusan Tahun Media Cetak Berjaya, Mengapa Bisa Runtuh? 

Syahdan, pada awal penemuan mesin cetak oleh Guttenberg, ia membuat dunia gempar. Penemuannya ini merevolusi segala aspek kehidupan manusia kala itu, salah satunya politik. Benedict Anderson dalam Imagined Communities menulis bahwa konsep nasionalisme bisa dengan cepat menyebar melalui printing press yang disokong oleh capitalism market. Ia mengistilahkannya sebagai print capitalism atau kapitalisme cetak. Kapitalisme cetak dalam bentuk surat kabar atau novel memiliki kelebihan dalam membentuk persepsi terhadap waktu yang linier.

Waktu yang linier dan horizontal ini, tulis Anderson, tak ditemukan konsepnya pada komunitas agama yang meyakini adanya kesatuan dan kesinambungan antara hari kemarin, hari ini, dan hari esok. Kehadiran novel dan surat kabar menghadirkan waktu yang homogen, kosong, dan saling mengokupasi. Konsekuensinya, hari kemarin, hari ini, dan hari esok menjadi terbedakan dan tidak lagi dipandang sebagai satu kesatuan. Hadirnya kedua medium cetak tersebut mengubah hubungan vertikal komunitas agama–-antara manusia dan Tuhan–-menjadi hubungan horizontal antarmanusia dalam komunitas nasion.

Penemuan mesin cetak kala itu telah merombak cara pandang manusia terhadap alam dan sesamanya. Beratus tahun kemudian setelah penemuan Guttenberg, Marshall McLuhan mengajukan tesis lain: global village (desa-semesta). Desa-semesta yang menjadi tesis McLuhan sebelumnya dilalui oleh dua gelombang besar yang mempengaruhi pandangan-dunia (worldview) manusia  terhadap dunia. Gelombang pertama terjadi terjadi sekitar 10.000 tahun silam berupa revolusi pertanian dan gelombang kedua terjadi 300  tahun lalu berupa revolusi industri. Masing-masing gelombang membawa perubahan besar pada peradaban. Dan saat ini manusia tengah memasuki gelombang ketiga, yaitu apa yang disebut Alvin Toffler dalam The Third Wave sebagai revolusi informasi.

Toffler mengatakan dengan yakin bahwa sifat revolusioner dari revolusi informasi ini akan menjungkirbalikkan asumsi-asumsi  lama karena informasi baginya adalah hal unik yang  bersifat tak terhingga (infinite). Ia membuat permisalan: jika saya menggunakan tenaga kerja atau modal Anda, Anda tidak dapat menggunakannya lagi dalam waktu yang sama, tapi tidak demikian dengan informasi. Saat saya menggunakan sebuah informasi Anda dapat mengaksesnya juga. Tapi Toffler lupa bahwa informasi tidak mungkin menyebar tanpa medium. Apakah semua orang memiliki medium itu? Tentu tidak, masih ada prasyarat material yang harus dipenuhi: gadget. Sedang untuk membeli dan memiliki gadget, tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan. Tak sedikit yang harus menjual ini-itu hanya untuk memiliki gadget terbaru. Bolehlah saya bilang demikian: eksistensi mendahului fungsi. Di sinilah ironinya.

Revolusi informasi dalam gelombang ketiga (Third Wave) yang diajukan Toffler berdampak pada terbentuknya “gubuk-gubuk elektronik”—sebutan untuk rumah sebagai tempat kerja. Pusat perbelanjaan Mangga Dua dan Tanah Abang adalah dua contoh “korban” keganasan arus informasi yang tak bisa dihalangi. Di sana, banyak toko tutup, berpindah ke media sosial. Meskipun kita tetap tak bisa meletakkan hal ini sebagai satu-satunya faktor tutupnya toko-toko. Namun begitulah, dengan sekali klik, seorang calon pembeli bisa membeli barang di layar kacanya. Apalagi dengan jasa ojek online yang menjamur, calon pembeli tersebut tidak usah bersusah-payah berjalan ke pusat perbelanjaan lagi. Semua tampak dimudahkan. Manusia merasa memiliki dunia dalam genggaman. Namun, itu semuanya hanya di permukaan. Mereka yang tak dapat bersaing karena dilumpuhkan secara tersistematis harus meringkuk dan berjuang nyawa. Efisiensi dan efektivitas adalah kunci sistem yang ada hari ini, tak peduli apa yang harus dikorbankan untuk keduanya. Kita berada pada fase yang sama seperti positivisme Era Pencerahan: menaklukkan alam semata-mata untuk manusia.

Layaknya setiap revolusi, akan terjadi penyingkiran-penyingkiran segala yang ada sebelumnya. Revolusi Prancis tahun 1789, misalnya, menyingkirkan raja dari tampuk singgasananya. Kaum borjuasi yang kemudian mengambil alih kekuasaan melucuti keistimewaan monarki dan membawa Louis XVI dan istrinya, Marie Antoinette, ke hadapan guillotine—alat penggal yang eksekusinya disaksikan masyarakat luas. Terlahirlah Republik Prancis. Revolusi informasi yang sedang terjadi hari ini juga demikian halnya. Ia menyingkirkan cara-cara lama; benda-benda lama; sistem-sistem lama. Koran, buku, atau majalah, kini digantikan oleh buku elektronik; telepon rumah kini digantikan oleh telepon genggam; bahkan sistem kerja kantor konvensional kini digantikan oleh yang baru. Namun, tersingkir bukan berarti tak lagi punya arti. Buku elektronik sebagai pengganti buku cetak fungsinya tetap sama. Di sana ada deretan huruf, angka, cover, daftar isi, dan lain sebagainya. Hanya berpindah mediumnya saja. Tentu ada perbedaan, seperti yang telah diungkap riset-riset, ketika membaca di buku elektronik dibanding membaca buku cetak. Muaranya satu: distraksi. Namun, toh itu bukannya tak bisa diatasi.

Membumihanguskan Buku

Saya membayangkan jika buku dapat berkata, ia akan memohon-mohon pada manusia agar tetap setia padanya. Manusia bukannya tak setia. Bahkan saat buku dianggap sebagai sumber kesesatan, ia tetap dibaca umat manusia. Ya, buku yang sayangnya tak bisa bicara itu pun tak lepas dari vonis manusia. Ia dibakar! Kita bisa melacak berbagai peristiwa pembakaran buku ini dari segala peradaban, mulai dari yang paling kuno sampai modern. Bahkan di negara kita sendiri, Indonesia, masih sering terjadi pembakaran buku. Jika saja buku benar-benar dapat berkata, di depan persidangan manusia mungkin ia akan membela dirinya: “Wahai kalian makhluk yang mengaku paling sempurna, aku tidak pernah takut dengan apimu. Bakarlah aku sepuasmu sampai tinggal abu karena aku akan tetap hidup. Yang aku sesalkan hanya satu, jika kalian memusnahkanku sebelum membaca utuh diriku. ”

Kronik sejarah manusia, tak bisa dinafikan, dipenuhi dengan darah. Untuk berebut abadi, manusia harus saling memusnahkan agar hanya tersisa dirinya satu-satunya. Buku yang tak berdosa sayangnya harus berada di tengah pertempuran itu. Ia dimusnahkan secara sengaja maupun tidak. Namun, seperti sajak “Aku” di pembuka tulisan ini, Chairil mengatakan secara implisit bahwa hidup yang dimaksudkannya bukanlah dapat bernapas selamanya. Hidup seribu tahun, bagi saya, adalah metafora bagi keabadian Chairil dalam sajak-sajaknya yang masih diperdengarkan lantang sampai hari ini.

Begitulah kiranya. Manusia dapat meraih keabadian dengan karya-karyanya. Namanya dapat selalu terkenang tanpa harus mereguk air di sumur keabadian. Seperti manusia, buku juga dapat abadi meski dimusnahkan berkali-kali. Karena akan selalu ada manusia-manusia yang menyelamatkan dirinya, seperti halnya Hypatia, filsuf perempuan yang mencintai ilmu pengetahuan, dengan menyelamatkan buku-buku di perpustakaan Alexandria dari amukan si jago merah. Mau tak mau manusia dan buku tak bisa dipisahkan, karena dengan tulisan, suara manusia takkan padam ditelan angin, sampai jauh, jauh di kemudian hari, seperti Nyai Ontosoroh pernah berujar.

About the author

Arlandy Ghiffari

Arlandy Ghiffari alias Diki, masih melanjutkan studinya di jurusan Sistem Informasi. Namun dia bercita-cita menjadi penulis dan jurnalis. Bersama teman-teman yang lain, saat ini tergabung dalam Agenda 18 Angkatan 6.

Add Comment

Click here to post a comment