Arnette Harjanto Fiksi

Pengantar Malam Ini…

Aroma dupa masih tercium dari rambutku. Aroma yang melekat siang tadi di perkuburan rupanya enggan melepaskanku begitu saja. Padahal aku tak pernah menyukainya. Selalu saja kukuatkan hati menahan napas ketika ada dupa dibakar di sekitarku. Langkah selalu kupercepat ketika melewati rumah peramal nasib yang hanya berjarak dua blok dari rumahku. Sengaja kumencari tempat agak jauh dari altar saat perayaan ekaristi agung, sekadar menjauhkan diri dari hembusan angina yang membawa aroma dupa merasuk rongga hidung. Bahkan aku selalu menolak menemani nenek buyut berdoa ketika kami masih tinggal bersama lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Aku hanya tidak ingin menghirup asap dupa yang tak pernah terlupa diayunkan nenek buyut sembari berdoa.

Namun, aku sering meminjam dupa itu sebelum dibakar dan meniru nenek buyut mengayun-ayunkannya di depan altar kecil di rumah kami. Menyenangkan rasanya mengayun-ayunkan batangan dupa merah itu. Lebih menyenangkan lagi, setelah puas mengayun, selalu ada paman yang siap menggendongku lantaran altar dan tempat menancapkan dupa batangan itu terlampau tinggi. Kala itu usiaku belum genap lima tahun. Begitu paman menyalakan dupa yang kutancap tadi, tanpa dikomando aku melarikan diri sejauh mungkin. Biasanya ke pekarangan, lantas mengajak anjing mengejar ayam-ayam kate peliharaan kami. Bocah.

Tahun-tahun berlalu. Tidak ada lagi dupa batangan merah yang tertancap menyala di altar itu. Nenek buyut telah berpulang dan tak ada yang meneruskan ritual tersebut, meskipun sekurang-kurangnya lima kali setahun keluargaku dan ribuan umat lain terpaksa menghirup aroma serupa dari dupa bakaran yang dipersembahkan dalam perrayaan ekaristi agung. Simbolis saja. Asap dupa yang mengangkasa diasosiasikan dengan lantunan doa-doa yang dipanjatkan, diharap sampai juga kepada Sang Maha. Tapi, tetap saja, aku tak menyukai aromanya.

Kali ini aku terlalu malas untuk membasuh rambut, mengganti aroma dupa dengan harum mint shampoo yang kusuka. Perjalanan pulang satu jam tadi terasa seabad. Rasanya tenagaku tercecer di setiap bongkah kerikil beraspal yang kulewati. Bongkah-bongkah kerikil yang memisahkanku dari peristirahatan kekal seorang teman.

Baru beberapa minggu yang lalu aku masih duduk bersamanya mengelilingi meja yang sama, membahas hasil kerja bersama dalam rapat rutin triwulan kami. Baru sebulan yang lalu aku berkumpul bersama teman-teman sepermainan di rumahnya yang kami jadikan markas. Ketiga anak lelakinya tentu bergabung bersama, bahkan si sulung itulah kepala regu kami.

Masih sulit kupercaya bahwa baru saja kami menyaksikan raganya disimpan rapi dibalik bongkahan tanah merah bertabur bunga. Belum ada satu minggu sejak kuhadiri doa untuk ketenangan arwah seorang nenek dari teman. Sehari sesudahnya, sms teman lain kuterima. Informasi lain seputar duka cita. Seorang teman sekelas sewaktu SMP meninggal karena leukemia. Jadilah minggu ini kuiisi dengan berkeliling rumah duka dan pemakaman.

Letih yang menghinggapi badan membuatku bertahan dan segera terlelap ketika berhasil mengunci pintu rumah dan mencapai kamar tidurku. Aroma yang melekat di rambut tak mampu menunda ritual istirahat malamku. Hmm… kali ini aroma dupa membuka celah bagi rasa yang lain. Rasa rindu.

About the author

arnette.harjanto

Alumnus Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, Indonesia. Salah satu anggota angkatan perdana Agenda 18.

1 Comment

Click here to post a comment

  • Saat berkunjung ke rumah seorang kawan saya pernah dimintai izin oleh si tuan rumah. Permintaannya sederhana saja, “Sorry, man! Gue mundur dulu ya? Mo sembahyang nih!”
    Tentu saja permintaan itu membuat saya cengar-cengir.
    Hal yang pertama muncul di benak adalah pertanyaan,
    “Hemmmh, yang tuan rumah tuh sebenarnya siapa, ya?
    Kok malah dia yang minta izin pada saya?”
    Hal kedua yang menyeruak adalah pertanyaan,
    “Wooi, eloe ikut berdoa juga, enggak?”
    Terhadap pertanyaan kedua saya hanya menjawab lirih, “Enggak.”
    Kali ini ucapan itu hanya diakhir dengan tanda baca titik.
    Bukan “tanda seru” seperti biasanya.

    Saya hidup di tengah-tengah doa dan orang-orang yang berdoa.
    Sementara saya sendiri tidak berdoa.
    Bukan karena ingin tampil beda,
    namun hanya karena sudah tidak biasa saja.
    Sudah tidak biasa berdoa, ajaib sekali bukan?

    Sejak kecil saya sudah diajarkan untuk berdoa.
    Menjelang dewasa saya adalah salah satu orang
    yang kerap dimintai tolong oleh orang lain
    untuk mendoakan mereka.
    Sekarang, saat usia tiga puluh mulai menjelang,
    saya malah jarang berdoa.

    Ketika masih kecil, doa-doa diajarkan
    dan kami diminta untuk menghafalkan.
    Jadilah doa menduduki tempat yang setara
    dengan daftar perkalian
    dan daftar kata kerja bentuk lampau dalam bahasa Inggris.
    Karena kemampuan mengingat saya cukup lumayan,
    jadilah saya bank doa di mata kawan-kawan.
    Pada saat saya mulai remaja,
    terbukti betapa kemampuan mengingat doa itu sungguh berguna
    dan seandainya bisa diuangkan,
    punya prospek bisnis yang menggiurkan.

    “Kalo ‘doa sebelum ujian’ tuh gimana, ya?”
    “Mas, tolong ‘doa untuk pacar’-nya diprintkan!”
    “Sayaaaang, aku tadi mau mengaku dosa… trus lupa ‘doa tobat,’ ajarin dong.
    Ntar aku masuk ruang pengakuan lagi!”

    Pada usia dua puluh tiga dan sekian-sekian,
    doa saya mulai berubah.
    Saya memahami bahwa doa adalah
    “komunikasi dengan Tuhan.”
    Bagian itu saya beri tanda kutip karena saya sadar,
    bahwa yang saya ajak berkomunikasi sungguh belum saya kenal
    dan pahami namun, (katanya) ADA!
    Karena doa adalah sebuah komunikasi,
    maka saya mulai menyingkirkan jauh-jauh segala jenis doa hafalan
    dan malahan mulai cenderung membencinya.

    Doa saya sekarang mengalir dari hati dan perasaan,
    menjadi ungkapan tertulus untuk berusaha menjangkau-Nya.
    Karena judulnyapun “usaha”
    maka doa saya pun kadang-kadang terasa unik, lucu dan memaksa.
    Saya bisa berdoa dengan kata-kata indah dan lancar
    hanya untuk memohon agar hujan berhenti.
    Dengan penuh iman (yang masih saya pertanyakan maksudnya),
    saya akan memohon dengan rendah hati (semoga sungguh demikian),
    agar permohonan itu diperhatikan.
    Lalu dengan penuh kepasrahan
    (dan agar menimbulkan efek dramatis),
    saya akan mengakhiri doa itu dengan ucapan,
    “Namun bukan kehendakku…melainkan terjadilah kehendak-Mu!”

    Terkesan aneh? Namun dengan formula ajaib macam itu,
    saya kerap dimintai tolong oleh banyak orang
    agar mendoakan mereka.
    Khususnya pada saat-saat tertentu,
    saat doa yang hadir dari ucapan sendiri
    sudah terasa tidak manjur dan meyakinkan lagi.

    Pada titik ini, saya lalu merasa bahwa berdoa
    menjadi bagaikan merangkai puisi.
    Menanti kata-kata yang datang dari entah
    dan merangkainya menjadi suatu kalimat
    yang punya maksud dan tujuannya sendiri.
    Maka tahun-tahun setelahnya pertanyaan ini
    selalu menampakkan dirinya,
    “Bisakah kau berdoa tanpa maksud tertentu?”

    Saya terlahir sebagai seorang Katolik.
    Doa adalah irama hidup.
    Minggu pagi ke Gereja, berdoa.
    Senin dan Kamis bertemu dalam perkumpulan orang muda, berdoa.
    Selasa dan Rabu berkumpul dalam latihan paduan suara, berdoa.
    Jum’at perkumpulan doa lingkungan, jelas-jelas berdoa.
    Hari sabtu pertemuan pendalaman iman, pasti juga berdoa.
    Lingkaran harian itu saya garis bawahi
    karena pada saat itu saya dipastikan sedang berdoa,
    atau malah sedang memimpin doa.
    Itu semua masih di luar doa-doa pribadi yang paling standar,
    doa sewaktu bangun tidur…
    Sebelum dan sesudah makan….
    menjelang berangkat tidur.

    Tradisi Gereja Katolik sendiri membagi hari dalam lingkaran tujuh kali waktu doa.
    Dua kali lebih banyak dari saudara-saudari yang Muslim.
    Sayang, kebiasaan tersebut kini hanya dijalankan
    oleh para biarawan dan biarawati serta para Pastor dan Diakon.
    Entah mengapa, Para petinggi Gereja dari masa dahulu hingga sekarang
    terkesan membuat tradisi lingkaran doa harian
    jauh dari kami, kaum awam.

    Bagaimana dengan diri saya,
    yang sekarang ini (katanya) sudah jarang berdoa?
    Entah mengapa, saat saya mulai merasa dewasa
    dan masuk dunia kerja doa menjadi terasa asing bagi saya.
    Kedewasaan seolah menjadi semacam pembebasan.
    Sekarang saya tak perlu lagi menghafal agar mendapat pengakuan.
    Tidak butuh lagi merangkai puisi hanya untuk memperoleh penguatan,
    bahwa saya tidak sendirian.

    Kedewasaan membuat saya melihat Tuhan dengan sudut pandang lain.
    Ayolah! Ia bukan guru matematika
    yang akan memukul betismu dengan rotan
    atau guru Bahasa Inggris yang akan pasang wajah kecewa
    kala engkau melupakan kata “take” dalam bentuk kedua.
    Maka, ia juga tak butuh puisi indah bergaya liris
    atau Sajak perkasa dengan dentuman suara keras
    demi meyakinkan maksud hati saya untuk menjangkau dia.
    Karena saya ingin bisa sekedar berkomunikasi,
    tanpa maksud yang aneh-aneh,
    maka dua cara berdoa di atas saya “delete”.

    Sekarang, saya kebingungan sendiri.
    Saya terbiasa dengan Tuhan
    yang dijelaskan secara sistematis menurut tradisi Teologi Gereja.
    Doa lalu ikut menjadi sistematis pula,
    karena ditujukan pada si-Dia yang dipahami
    secara (dengan penuh pemaksaan) sistematis.
    Saya ingin mengenal si-dia secara lebih akrab,
    dengan pengenalan yang murni dari pencarian.
    Bukan lewat kuliah para dosen,
    bukan lewat sebuah kitab berusia dua ribu tahun
    (yang sering dituduh sebagai palsu dan tidak otentik),
    dan lebih-lebih bukan menurut kata-kata
    yang entah hafalan …. entah karangan pribadi
    justru membuat si-dia tampak begitu miskin di hadirat saya.

    Rupanya,
    hingga mulai jarang berdoa.
    Saya masih belum mengenalnya
    dan karena itu bingung ….