Berto Tukan Fiksi

Hadiahmu Untukku di Hari Ulang Tahunmu

Telah dekat hari ulang tahunmu, Pacarku. Tentu saja aku akan menyiapkan sebuah hadiah untukmu. Ah, inilah saat-saat sulit yang telah menjadi konsumsi kecemasan otakku jauh-jauh hari sebelumnya. Aku termasuk jenis laki-laki yang tak bisa memilihkan sebuah hadiah dengan tepat. Memang, aku mengenal beraneka pernak-pernik hadiah; kue cokelat, sebuket bunga, selingkar cincin, kalung, bandana untuk rambutmu yang terurai, arloji mungil, boneka lucu, dan mungkin sehelai baju. Tetapi, pengetahuanku tentang mereka hanya berupa setarikan asap rokok saja, bukan sehisapan sebatang rokok.

Ada sebuah benda yang begitu kukenal. Kamu telah lama tahu tentang itu dan sering juga mengomel karenanya; buku. Bukulah satu-satunya benda yang sangat kukenal lekak-lekuknya, saat ini.

“Kamu kok cuma mikirin buku mulu sih? Emangnya apa aja yang diberikan buku buat kamu; selain nilai test jelek, uang saku cepat habis, tak pernah traktir. Kamu make kacamata kan karena buku juga? Aku heran sama kamu! Hu, begitu bangganya dengan sebutan Predator Buku.”

Yah… begitulah, Sayang. Kamu tahu, mungkin cuma bukulah yang sangat bisa kupahami. Dari aroma buku mana yang paling enak dibaui, rasanya yang selezat masakan ibu tercinta, warnanya yang menarik, harga yang cocok, tempat-tempat terterang sampai paling tersembunyi yang bisa didatangi untuk mencarinya, sampai pada singgasananya di kamar pun (tentang singgasana ini, aku sudah membayangkannya; buku yang akan kuberikan sebagai hadiah buatmu, harus kamu letakkan di sudut utara kamarmu, tepat di dalam pelukan boneka beruang kesayanganmu) aku ahli merancangnya.

***
Hari ulang tahunmu. Kita bersepakat tanpa kata terucap, ber-candle light dinner di sebuah restoran di pinggir Margonda Raya. Restoran ini punya dua ruangan berbeda. Yang satu dibatasi tembok-tembok, sedangkan yang lainnya hanya dipagari pagar kayu setinggi pinggang kita. Dan tentu saja, yang kedua menjadi pilihan kita.

Pengunjung tidak ramai benar, malam ini. Maklum saja, hari ini bukan akhir pekan; waktu yang tepat bagi masyarakat pekerja merayakan sepekan kerja mereka. Hingga, kita pun bisa dengan leluasa memilih meja terujung. Di bawah kita, sejauh mata memandang, terlihat pohon-pohon mulai menghitam hijaunya oleh persetubuhan waktu dan kelam. Di antara hijau yang menghitam itu, terlihat pendar kekuningan dan putih dari lelampu yang mulai dinyalakan. Petanda, penghuni kompleks perumahan Depok Indah mulai membenah diri menyambut malam. Dan dari ketinggian, kita terpesona oleh kilau getar kehidupan di bawah sana.

Inilah pemandangan indah yang jarang kita temui. Maklum, hari-hari kita selalu dipenuhi dengan sumpeknya perkampungan Jakarta, yang terkadang membuat kita rindu untuk mengunci kamar, lalu berdua saja kita habiskan waktu seharian.

“Ah, serasa di puncak,” katamu diiringi senyum yang selalu membuatku pengen tersenyum seribu kali.

Kamu memesan menu spesial yang disajikan restoran ini. Tentu saja aku hanya bisa mengekor pesananmu (sejak kapan sih aku bisa menjadi seorang pemilih menu makanan yang handal?).

Aku memperhatikan gemulai tanganmu yang menyumpit mie dari mangkok. Lalu, perhatianku
beralih pada tarian dua belah bibirmu yang menjepit mie. Kamu menelannya dengan menggerakkan kedua ujung bibirmu ke dalam, mendekati gigi. Ah, pasti kamu tak sadar, bibirmu jadi begitu enak untuk dipandang saat ini.

Kontinyu! Gerakan tangan dan bibirmu terus berulang. Memenjara perhatianku. Membuat pesananku cuma bengong menunggu giliran untuk dicicipi.

Ujung-ujung rambutmu jatuh disamping leher, menyentuh pundak bajumu yang berwarna jingga. Ada juga beberapa helainya menghiasi atas dadamu yang halus, kuning keputihan. Terkadang ujung rambutmu yang menyebarkan wangi tetumbuhan, bergerak-gerak oleh sapuan angin.

Aktifitas memakan miemu berhenti mendadak. Kamu pandangi aku.

“Kenapa mienya nggag dimakan?” katamu.

“Aku sedang berdoa, Tri. Melantumkan seberkas harapan tentang kita, yang mungkin bila kuucapkan dihadapanmu, kamu akan mencapku ‘gombal’. Yah sudah, aku ucapkan itu di hadapan Tuhan saja. Setidak-tidaknya — bila Ia pun menilaiku gombal — suara-Nya kan tak bisa kudengar!?”

Kamu menggelengkan kepala dengan halus, ditimpali sekilas senyum. Aku bisa menebak, apa kata hatimu bila menggeleng dan tersenyum sekilas itu; “dasar gila!”. Tersenyum lagi dan melanjutkan memakan miemu.

Tak banyak kata terucap dariku hari ini. Kita sudah jalan bareng selama dua tahun. Tetapi kebersamaan kita tetap seperti ini-ini saja. Untuk itu, aku harus berterima kasih padamu. Kamu telah menerimaku apa adanya dan tak pernah ingin untuk merubahnya. Itulah penilaianku! Mungkin penilaian orang lain beda. Atau perasaanmu pun beda. Mungkin juga penilaianku salah, tak sesuai keadaan sebenarnya. Bisa jadi, kamu sering berucap kekesalan tentangku di forum-forum curhatmu. Mungkin kamu juga punya pacar lain, selain aku?! Bisa saja bukan?

Ah, persetanlah dengan kemungkinan-kemungkinan-kemungkinan itu. Yang penting, engkau selalu hadir dengan kesempurnaanmu dalam hati dan pikiranku. Persetan dengan syak wasangka, pandangan orang lain, persetan pula dengan kenyataan-kenyataan lainnya, bahkan persetan pula dengan perasaanmu yang mungkin berbeda dengan penilaianku. Bukankah kamu yang ada di dalam hati dan pikiranku adalah realitas juga untuk diriku dan untuk sebuah dunia kecilku?

***

Tahun lalu, saat ultahmu yang kedelapan belas, aku menghadiahkanmu sebuah boneka kelinci. Sekarang entah di mana boneka itu. Aku tak pernah bertanya tentangnya lagi, kamu pun tak pernah berceritera lagi tentang boneka kelinci yang kubeli di Blok M itu.

Boneka itu aku beli setelah terlebih dahulu berkonsultasi pada seorang temanku. Ia memang telah terkenal dengan kisah-kisah cintanya yang mendebar-debarkan. Maka, sering ia dijadikan tempat berkonsultasi cinta oleh anggota geng kami. Jadi, boneka itu bukan hadiah dariku untukmu saja. Melainkan hadiah dari aku dan temanku untukmu.
Tahun ini aku tak mau terus-menerus mematikan inderaku. Aku tak mau lagi bertanya pada orang lain. Aku bertekad membeli sebuah hadiah untukmu yang dipilih hati dan pikiranku sendiri tanpa berkonsultasi dengan orang lain atau setelah repot membolak-balik buku-buku petunjuk bercinta.

Bergentayanganlah aku di beberapa mall, bolak-balik di counter-counter pernak-pernik hadiah, mondar-mandir di eskalator, nongkrong di lift…. Namun sampai kaki ini penat dan tubuh ini merinding lemas, aku belum menemukan hadiah yang cocok untukmu.

Malah kudapati diriku sedang asyik melihat-lihat buku yang terpajang di rak-rak sebuah toko buku kecil. Aku betul-betul capek waktu itu, Sayang. Aku ingin mengaso sejenak; membaui aroma buku di sekitarku, membersihkan mataku dengan beraneka warna gambar sampul buku.

Aku mulai mengambil buku itu satu-persatu, sebuah kebiasaan yang tak pernah bisa dikekang. Kubaca! Kuhabiskan sejamku di sana. Terhanyut dalam ceritera, mengunjungi tempat-tempat terjauh dari dunia, pengembaraan sukmaku mengasyik saat itu. City of Love and Ashes bawa aku mengunjungi belantara cinta di Mesir, kala perang, kala perjuangan bertubrukan dengan keinginan diri. “Buku bagus,” bisik hati kecilku. Tanpa berpikir panjang lagi, aku pun membeli buku itu. Dan hati langsung berkata; inilah hadiah untukmu.

Yah, menurut orang kebanyakan, buku adalah sebuah hadiah yang paling netral. Tak bisa mewakili perasaan sang pemberi. Menurutku mereka salah. Dengan memberimu buku ini, aku berharap (mungkin sebuah harapan yang teramat muluk) kamu akan selalu setia bersamaku, walau hal itu akan membawamu pada beberapa konsekuensi hidup yang sangat tak menyenangkan.

***

“Mana hadiahnya??” Kata-katamu yang selalu manja, pasti akan menghentikan segala lamunan, pengembaraan sukma, dan segala aktifitas berpikir otakku. Yah, kamu selalu mampu membawaku kembali ke bumi yang real, entah semabuk apa aku dengan segala alkohol otak ini.

Ku keluarkan buku itu dari tasku. Tak ada sampul kertas kado atau pita merah muda. Dengan hati yang sedikit cemas dan tangan yang bergetar, kuberikan buku itu padamu. Kau menerimanya (tentu dibarengi senyum indahmu)! Ingin kulayangkan juga hadiah kecupan tulus untukmu, wakil dari pijar-pijar tak bernamaku. Lagi-lagi, peraturan darimu dan keengganan melanggar peraturan itu, menghentikanku. Ah, basi! Tak ada keromantisan apa-apa! Pacaran macam apa ini? Hatiku berumpat. Tapi kulihat kamu, asyik-asyik saja. Seakan-akan telah memaklumi segala kekurangan yang harus kita terima. Misteri apa lagi yang kamu sembunyikan?

Hari beranjak ke jam setengah delapan malam. Dan kita harus pulang kira-kira setengah jam lagi. Itu peraturan yang kamu buat kira-kira sembilan bulan yang lalu. Saat itu, aku begitu menyesal telah memacarimu. Ingin kuputuskan hubungan kita saat itu juga. Kau tak memberi kebebasan dan kesempatan untuk nakalku beraksi. Tapi, sekali lagi senyummu, sikapmu, parasmu, rambutmu, kulitmu, kukumu, matamu, dan segala-mu lainnya, memborgol ide gilaku.

Kita menjalani waktu dengan berpegang pada peraturan-peraturanmu. Lambat laun aku jadi mengerti. Pagar yang kamu buat adalah pagar yang bakalan mengajari “nakal” lain yang timbul dari pijar-pijar perkelahian hati dan pikiranku. Pijar-pijar seperti ini, pasti telah meracuni banyak ceritera hidup sebelum ceritera hidup kita. Sehingga, janganlah heran bila ia punya banyak nama dan penggambaran. Karena dalam sebuah periode kehidupan, selalu akan ada segelintir orang yang merelakan waktunya untuk menyepi dan menghayati pijar-pijar ini secara mendalam dan utuh. Merekalah para ‘tukang kata’ yang selalu menempuh jalan yang sunyi, sambil mengkreasikan beraneka rupa ungkapan jiwa!

In My Place dari Cold Play, terdengar dari loud speaker yang ada di dinding dan tongkat penyangga atap rumah makan.

Apakah mereka yang bekerja di tempat ini punya pengetahuan Bahasa Inggris yang terbatas, sehingga lagu itulah yang diputar di malam yang butuh keromantisan ini?

Aha, bisa jadi di antara mereka ada yang sedang berkisah cinta juga. Mungkin kisah yang tak kesampaian? Maka ia memutar lagu penantian itu, sekedar untuk menguatkan komitmen cintanya atau untuk meruntuhkan kepongahan orang yang ditaksirnya. Atau mungkin sebagai pelarian perasaan?

Bukankah sebuah lagu kadang-kadang bisa membuat kita meloncat-loncat, memelintir-pelintir kepala, mengacung-acungkan tangan, berteriak dengan suara keras semampu kita, membuat kita tertidur dengan enak? Lantaran melodi dan syairnya mewakili sepenggal pengalaman hidup kita. Tetapi, tentu saja tak ada satu lagu pun yang sanggup menuntaskan sebuah kenangan hidup kita dalam beberapa menit durasinya. Karena itulah, kita masih saja memburu lagu-lagu baru untuk memperbanyak koleksi hiburan jiwa kita.

***

Aku menggandengmu ke kost-kostanmu. Sebuah Suzuki Carry merah kecoklatan diparkir di dekat pintu pagarnya. Kamu buka pintu pagar! Aku beranjak hendak masuk bersamamu. Bukankah inti perayaan ultahmu ada di kamar nomor 11, lantai I, bangunan ini? Kamu pandangi sekilas Suzuki Carry itu.

Kamu bersikeras menahanku untuk tidak masuk. Bagaimana mungkin, Sayang? Aku belum memberi hadiah terindah untukmu. Maka, aku bersikeras untuk ikut masuk.

“Hai, ada tamu tuh. Udah dari tadi nunggunya.” Kata temanmu padamu, sambil memamerkan sekilas senyum yang tampak tak cocok untuk dipelototi.

“Kamu langsung pulang aja, sekarang. Besok kan ada test!! Aku lagi ditunggu tamu tuh!” Katamu, lalu langsung masuk dan menutup pintu pagar.

Aku berbalik! Melangkah menyusuri sepi gang. “Ah, hadiahmu untukku di hari ulang tahunmu, begitu tak menyenangkan!!”

Palmeriam, Oktober 2004

About the author

Berto Tukan

Berto Tukan bergabung dengan Agenda 18 sejak 2004. Ia kini tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara. Buku kumpulan cerpennya "Seikat Kisah Tentang Yang Bohong" (2016).

Add Comment

Click here to post a comment