Berto Tukan Fiksi

Nuounou

cebuah cerpen

Dia berjalan dalam keheningan malam. Tak ada api, hujan, dan angin. Ini malam yang mati; malam ketika lolong anjing tak akan membuat bulu kudukmu berdiri. Ah, kisah tentang malam, tak pernah akan selesai.

Malam, sebuah lagu terdengar. Pengendara dalam badai yang berjalan menantang zaman. Butuh kau segelas anggur atau sekeresek anggur? Tinggal isi kantongmu bukan yang menentukan seleramu? Ah, sudahlah. Jangan terlalu lokal. Bukankah pencerita harus menulis cerita yang menyapa lebih banyak orang? Tapi saya bukan pencerita. Saya hanya harus menorehkan beberapa kata ketika kepala sedang penuh-penuhnya. Kau tempat sampahku! Tentu saja. Ini hanya sekadar memberi rasa berarti pada jari.

Malam yang hangat. Ah, malam. Dunianya para binatang, mereka yang dari kumpulannya terbuang, kalau kau masih mau mengenang Chairil Anwar.

Anjiiiiiiiiiing! Dunia penuh pengguna topeng menjijikan dan membuat kita ingin muntah. Tapi bukankah Nietzsche mengatakan, memang begitulah hidup? Sudahlah! Katakan saja ya pada hidup. Itu mungkin lebih membantumu. Tapi tidak. Ia seorang gila, Bung. Bukan hanya itu, Nietzsche juga punya suatu kepercayaan dan punya suatu keinginan untuk membersihkan pemikiran dan hidup dari segala pedoman hidup; dia punya satu cita-cita juga, mengembalikan semua orang pada pengenalan diri sendiri dan mengikuti jalan hidupnya sendiri-sendiri. Nietzsche seorang pengagum ‘yang entah’ (dengan huruf kecil) yang sangat fanatik sepertinya. Maka, dia sama saja dengan yang lainnya dalam hal ini; ada tujuan yang terselubung. Kita butuh tujuan atau sesuatu yang kita percayai. Walau pun tujuan memang tak pernah pasti dan kepastian nyatanya tak bertujuan. Mungkin!

Arrrrrrgh, aku butuh anggur saat ini; semacam menghirup kembali intuisi Dionisian. Hidup kadang memang sungguh meresahkan di satu sisi tetapi begitu nikmatnya di sisi yang sama.

Aku sedang ingin menulis. Menulis sesuatu, yang tak perlu berarti untuk orang lain atau berarti untuk diri sendiri atau berarti untuk tulisan itu sendiri. Aku hanya sedang ingin menulis, sedang ingin dan sedang ingin saja. Mari tak bertanya apa-apa. Oke?

Ada sebuah kisah tentang Dionisius ini. Di sebuah pulau, yang saya lupa pulau apa, Dionisius dan kekasihnya, Corona, hidup bahagia. Namun suatu ketika, mampirlah di situ seorang pahlawan Sparta yang pulang dari perang saudara. Saya pun, maaf, lupa namanya. Dionisius waktu itu tengah berada di ladang anggurnya. Corona seketika itu juga jatuh cinta dan pergi bersama sang pahlawan, kesatria itu.

Sudahlah, mari kita tinggalkan Dionisius. Saya sedang menginginkan sesuatu yang lain; semacam kehangatan dalam selimut waktu, di suatu tempat yang entah, di suatu janji yang entah, di suatu masa depan yang entah juga, di sebuah suasana yang entah juga. Ah, keentahan, keingintahuan atasnyalah mungkin terkadang membuat kita bertahan di sini, melakukan hal-hal tak penting ini; merokok, mendengarkan musik, seperti menunggu Godot. Atau mungkin lebih indah dibilang mengejar Godot atau mencari Godot? Mungkin tiga kata itu punya esensi yang sama; mengejar, mencari, dan menunggu dalam hal ini berobjekan Godot.

Ufh, hopiofola…. Hufh, hopiofola… Hufh, ah…. hopiofola. Kupanggang benda tanpa sapa asal.

Mungkin mengisi kekosongan ini, kita kembali pada Dionisius. Ketika Dionisius kembali dari ladang anggurnya, ia tak menjumpai Corona. Seketika, tahulah ia, Corona telah pergi meninggalkannya. Di tangannya, Dionisius menggenggam mahkota dari zaitun buatannya yang hendak dipersembahkannya untuk Corona. Dalam kesedihannya, Dionisius mengeluarkan segala anggur yang dimilikinya. Ia, penghuni hutan, dan makhluk-makhluk penceria kemabukan yang dengan mata telanjang tak mungkin kita lihat, berpesta pora anggur malam itu di tengah hutan.

Anda para pejuang yang menganggap sesuatu yang anda inginkan harus menjadi milik pribadi anda, mungkin berandai Dionisius pada suatu ketika akan mencari Corona dan mempersembahkan mahkota indah yang dibuatnya itu? Hem, ternyata tidak. Tidak, saudara-saudari. Dalam kemabukan amat sangat dan tanpa syaratnya, disaksikan makhluk-makhluk hutan dan makhluk-makhluk penceria kemabukan yang lain, Dionisius dengan penuh khidmat mengambil mahkota itu. Sepenggal saat, Dionisius memperhatikannya dengan saksama. Lalu dengan teriakan lantang, (saya ingin menambahkan dengan berlinang air mata di sini, tetapi tentu terkesan sangat hiperbolis) Dionisius sekuat tenaga melemparkan mahkota itu ke langit. Mahkota itu terbang, terus terbang dan terus terbang, entah didorong apa atau entah membawa apa. Gerak perginya mahkota itu mengabadi, mewujud petanda, mewujud pedoman para pemabuk. Pandanglah langit, bila anda melihat sebuah rasi bintang indah berbentuk mahkota, itulah rasi bintang Corona, tanda keabadian gerak pergi kenangan Dionisius

Lalu, malam itu pun berubah fiksi. Seseorang datang padaku dan duduk di sampingku. Kami tak berbicara apa-apa. Orang itu mungkin ingin berbicara sesuatu tetapi saya memang sedang tak mau berbicara apa-apa. Demi kesopanan, anda harus mengingat hal ini sungguh-sungguh, kesopanan! Saya lalu menyapanya, memulai sebuah pembicaraan.

“Malam yang dingin.”

Dia menjawab,

“Hujan pertama yang jatuh.”

“Seperti ada yang hendak dibisikan Sang Dingin.”

“Sawah dan ladang berceria.”

“Ah, telingaku belum terbiasa dengan bahasanya.”

“Petani-petani di desa, hahahahahaha, mereka pasti bahagia. Sungguh bahagia. Aku teringat, ayah selalu akan tersenyum bahagia bila hujan pertama turun ke bumi. Ibu menggigil kedinginan, ayah lantas menyuruhku, anak satu-satunya mereka waktu itu, segera tidur. ‘Akan ada kilat jahanam yang menculik anak kecil ketika hujan pertama’.”

“Terkadang aku berpikir, kegelapanlah tempat di mana segalanya tersedia. Dengan berteman kegelapan, hidup menjadi mudah untuk dijalani. Engkau pasrah pada misteri, engkau awas pada bahaya menghadang, engkau sedia pada segala yang tak tersedia.”

“Ah, Bapak, aku rindu padamu.”

“Ada banyak jenis malam. Aku baru mengenal sepuluh di antaranya. Aku sedang menunggu yang keempat. Ia berjanji akan menemuiku di sini, beberapa saat lagi. Atau mungkin, anda utusannya?”

“Aku akan mengambil cuti barang empat hari bulan depan dan pulang sebentar ke kampung. Anakku mungkin kubawa serta. Ibunya jelas tak bisa ikut. Jatah cutinya sudah habis.”

“Malam adalah teman semua orang. Tak ada yang tak. Kegelapannya membuat orang rindu padamu. Dinginnya, membuatmu merindu rasa hangat.”

“Kemarin, adik bungsuku menelepon. Ayah sudah tak kuat lagi turun ke ladang, katanya. Yah, tentu aku paham itu. Sudah dari enam bulan lalu, aku melarangnya bekerja. Tinggal saja denganku. Tapi ayah tak mau. Katanya, tunggu sampai ayah tak mampu menolak segala ajakan apa pun, baru kau bawah ayah ke rumahmu.”

Kami lantas diam. Malam semakin larut saja. Taman itu, tak seterang lima minggu yang lalu. Beberapa lampu taman sudah pecah. Ada yang sengaja dipecahkan dan bolam di dalamnya diambil, ada yang pecah akibat permainan anak-anak. Seorang gelandangan tidur nyenyak di balik perdu. Aku memandang sekeliling; tak ada yang terlihat lewat. Langit mulai bercahaya.

“Senja segera tiba. Ayo pulang, Bung!”

Kami pun melangkah bersama, pulang ke rumah.

pada sepenggal dinihari 5/12/09

ketika dingin memuntahkan isi perutnya

dan malam berbisik lirih, “manusia itu sendirian, Bung!”

 

About the author

Berto Tukan

Berto Tukan bergabung dengan Agenda 18 sejak 2004. Ia kini tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara. Buku kumpulan cerpennya "Seikat Kisah Tentang Yang Bohong" (2016).

Add Comment

Click here to post a comment