Berto Tukan Fiksi

Petir Merah Jambu

“Tok, tok… toktrook,” aku mengetuk pintu. Tak ada yang membukanya. Kuulangi lagi mengetuk pintu. Masih belum ada yang mau membukakannya. Kuulangi lagi, masih tak ada. Terus kuulangi….

“Dari mana kamu, Di?” sapaan perempuan itu perlahan-lahan menyentuh selaput telinga. Terdengar jauh.

Cuek! Aku masuk. Tak sedikit pun mataku mampir padanya. Mungkin ia memandangku kesal, sedih, getir, pilu. Ah, jelas aku tak punya waktu untuk memikirkannya. Apalagi merenungkannya.

Berjalan gontai, aku melewatinya. Ia mengikutiku dari belakang. Inderaku telah sangat terlatih untuk merasakan setiap gerakan perempuan satu ini bahkan dalam keadaan setaksadar apa pun. Kini pun aku tahu, tatapan matanya terus mengikuti jejak bayanganku yang tertinggal di ubin putih.

Aku memanjat anak-anak tangga kayu dan meninggalkan bunyi berderit yang bergema malu. Langkahku tak pasti. Absolute Vodka, Jack Daniels, Black Label, enggan melepaskan lilitannya di urat-urat syarafku. Perempuan itu masih membuntutiku. Langkah kakinya meremajakan derit yang kutimbulkan.

Dengan sentuhan lembut sepatu botku, kudorong pintu kamar. Sprai, selimut, bantal, tertata rapi di ranjang. Kulemparkan tubuh yang masih beratribut ziarah malamku ke ranjang. Dengan manis, wajah mendarat di atas bantal empuk diikuti tindihan tubuh pada kasur. Seketika, bantal dan kasur mengerutkan diri, enggan menyambutku. Tetapi, apa daya mereka? Tubuhku terus saja menindih mereka. Wah, ternyata mereka memberontak! Kasur dan bantal menurunkan tubuh mereka beberapa senti. Tiba-tiba bagaikan tali busur, mereka membusungkan tubuh dan melemparkanku ke udara. Aku melenting ke langit sejauh puluhan lemparan tombak.

Langit tak mau menerimaku, ternyata. Awan-awan, langit biru, matahari, bintang, bulan, semuanya tak sedetik pun tersenyum padaku. Kembali aku ditendangnya ke bawah. Di bawah, bantal dan kasur masih saja marah. Aku kembali dilentingkan ke langit.

Langit masih tak mau menyambutku sedangkan bantal dan kasur belum juga berhenti marah. Aku melenting ke langit, ditendang kembali ke tempat tidur, dilentingkan, ditendang lagi….

***

“Adi. Bangun, Di! Mama mau bicara sebentar,” kata-katanya merasuki telinga, seiring belaian tangannya di kepalaku. Bagaimana bisa ia ada di sini? Apakah ia pun terlempar ke ketinggian ini? Atau mungkin ia menyusulku entah dengan kendaraan apa? Huh, apa pun itu, ia tetap mengganggu aktivitasku. Mataku terus terpejam. Kedua otot penggerak kelopakku pun, masih kehilangan semangat bekerja mereka.

“Di, kamu dari mana, Nak? Kok, baru pulang selarut ini?”

“Ah, ini kan baru jam dua belas?” jawabku sekadarnya.

Ya, jam berapa sekarang? Jam. Kata ini telah keluar dari repertoar kosa kata otakku dalam beberapa hari terakhir ini. Kapan harus pulang ke rumah, kapan belajar, kapan begini, kapan begitu, kapan melakukan apa dan kapan diperlakukan bagaimana, telah aku lupakan. Telah menjadi masa lalu.

Aku tak tahu. Sudah kukatakan tadi aku tak tahu. Aku telah menyepelekannya. Yang kutahu, jalan sepanjang kampung ini telah sunyi. Tak ada bunyi “tok, tok, tok” nasi goreng, tak ada suara “roti, roti” penjajak roti, tak ada bunyi lonceng kecil bahkan suara perkelahian daun dan angin pun sama sekali tak kudengar.

“Kamu mabuk lagi ya, Di?” Aku hanya diam, tak ada semangat membantahnya.

“Aduh, Nak. Jangan sentuh lagi barang itu. Mama dan Papa hampir bosan menasihatimu tentang soal yang satu ini. Bahkan, Bapamu sudah tak mau memikirkannya lagi. Kamu mau mabuk-mabukkan atau melakukan apa pun, dia sudah tak mau ambil peduli. Tapi mama tak…”

Kata-katanya masih saja berkejaran di langit-langit kamarku. Kutinggalkan jauh di bawah semuanya. Aku terus melayang, masih melayang dan semakin melayang-layang bak layangan.

Dunia kugenggam, dunia kupegang. Terus melayang. Di langit, hari siang berganti malam lalu siang lagi dan malam pun tiba kembali. Aha, dan lihatlah di bawah sana. Bumi mulai cerah wajahnya, kala matahari terbit di timur. Bila matahari tiba di barat, bumi dengan wajah memerahnya melambai-lambai pada matahari berucap sayonara.

Aku terus melayang-layang. Awan-gemawan menyelimuti tubuhku. Hah, dinginnya. Inikah dingin yang sejati? Dingin yang menyejukkan sekaligus meremas-remas tubuhku. Tulang-tulangku luluh, luruh oleh sejuknya.

Aku terus melayang-layang. Burung-burung sejenak singgah, sejenak hinggap di tanganku, di kepalaku, di sekujur tubuhku. Kulewati awan-awan, kulewati langit biru gemerlapan. Aku semakin jauh melayang. Kulihat bumi bagaikan bola kaki biru belang-belang putih. Aku terus menjauh, melayang-layang. Segerombolan awan kulewati, tiba aku di gerombolan awan yang lain, sejenak aku mampir di sana membasahi tubuhku dan tenggorokanku.

***

Suara-suara tawa kecil terdengar kini. Lirih. Kubayangkan hantu-hantu kecil (atau malaikat?) mengitariku, memandangiku. Suara tawa kecil itu semakin ramai terdengar. Ah, aku kedinginan lagi. Sejuk terasa di wajahku. Apakah awan punya tangan halus yang mampu membelai seindah ini? Dingin…. Suara-suara itu ramai menikam telingaku.

Kubuka mataku. Oh, benar. Ada tangan putih yang membelaiku. Anehnya, setelah membelai, tangan itu seolah-olah hilang, lesap ke dalam pori-poriku. Lalu, muncullah tangan putih lain yang pada akhirnya hilang juga ditelan pori-poriku.

Kulayangkan mataku sedikit jauh ke atas. Nah, sekarang baru aku tahu, dari mana datangnya suara-suara kecil menggelikan itu. Di atas sana, sekitar dua puluh meter dari mukaku, kulihat manusia-manusia kecil dengan sayap merpati putih di punggungnya. Kulit mereka bening. Seolah terbuat dari air. Tapi, tidak. Kalau air pasti mengalir. Kalau gas, pasti tak berbentuk. Yah, mereka seperti es. Sangat kecil, sekecil dua telapak tangan. Walau mereka telanjang, aku tak bisa membedakan jenis kelamin mereka. Bentuk tubuh mereka hampir sama, alat kelamin mereka tak terlihat jelas.

Mereka terus terbang ke sana-ke mari sambil bercanda tawa ria. Di sekitar mereka, kadang-kadang menyembullah dari bumi kilat merah muda. Bila kilat merah muda itu muncul, makhluk-makhluk itu memandangnya dengan penuh kerinduan, semacam akhir penantian panjang.

Nah, lihat. Kilat merah muda itu muncul lagi.

”Plop”. Bunyi letupan kecil mengiringi kedatangan seorang lelaki kecil berkulit kemerah-merahan, lesung pipit manis hiasi pipi gemuknya. Tentu saja lelaki kecil itu bersayap halus serupa malaikat kecil.

”Hui… hui… Kupido, Kupido, Kupido! Amor, Amor, Amor. Ia datang…. Ia datang….” Makhluk-makhluk kecil itu bersorak-sorai kegirangan dan terbang meloncat-loncat indah. Kupido tersenyum manis. Dibelainya beberapa makhluk kecil yang berada di dekatnya; membuat pipi-pipi bening beberapa makhluk kecil itu berkilat mengkilat dan mengeluarkan bunyi ”ting”. Lalu, Amor mengangkat tangannya ke atas dan muncullah di tangannya sebuah busur berwarna biru muda dengan tali busur sewarna susu. Tanpa anak panah, ia menarik tali busur itu. Sekali lagi ia tersenyum memamerkan lesung pipitnya sambil mengedipkan mata pada makhluk-makhluk kecil yang kini berkerumun di belakangnya. Tiba-tiba, muncullah di busur dan tali busurnya sebuah anak panah merah.

Ia lalu maju ke depan, terbang melewatiku. Kuarahkan mataku mengikutinya. Ia berdiri di atas awan putih kecil. Lalu, dibidikannya anak panahnya dan dilepaskannya tali busurnya. Anak panah bermata hati itu melesat, melewati awan gemawan, langit biru, dan terus menukik ke bawah. Anak panah itu terbang sembari meninggalkan bekas garis merah muda yang bercahaya terang.

Beberapa menit setelah panah dilepas, salah satu dari makhluk-makhluk kecil itu beramai-ramai didorong teman-temannya. Mereka tertawa-tawa bahagia saat mendorongnya.

”Selamat ya….”

”Penantian panjangmu berakhir sudah.”

”Tunggu kami di bawah sana, ya.”

”Semoga kita bersua pula.”

Salah satu dari gerombolan makhluk kecil itu mendekati seluncuran merah muda. Ia mengecup pipi makhluk kecil yang didorong tadi sambil berbisik pelan, ”kita akan bersatu di bawah sana. Harus bersatu dan bersama di bawah sana” Selesai berbisik, ia lalu menancapkan kukunya pada bahu makhluk yang didorong tadi. Tanda lahirmu. Agar aku bisa mengenalimu kelak, katanya kemudian.

” Hei, siapa kau?” Amor melihatku dan membentakku.

”Teman-teman. Ada penyusup. Usir dia.” Katanya lagi.

Beratus-ratus, bahkan beribu-ribu makhluk kecil itu mendekatikku. Ah, makhluk kecil. Bisa kuhabiskan sepuluhnya dalam satu kebasan tangan, pikirku. Ternyata, aku salah. Setiap kali aku ingin menerjang mereka, seketika itu juga seluruh tubuhku terasa kaku.

”Pergi kau! Dan ingat; kau harus melupakan segala yang kau lihat tadi.”

Pontianak Post Minggu 7 Juni 2009

About the author

Berto Tukan

Berto Tukan bergabung dengan Agenda 18 sejak 2004. Ia kini tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara. Buku kumpulan cerpennya "Seikat Kisah Tentang Yang Bohong" (2016).

Add Comment

Click here to post a comment