Cerpen Fiksi Karina Chrisyantia

Meja Makan

Meja Makan
Meja Makan

Kalian pasti memiliki tempat favorit.  Tempat dimana kalian kagumi karena keindahannya atau tempat tersebut membuat kalian merasa nyaman, bahkan sebuah tempat yang memberikan memori indah untuk kalian juga bisa dibilang tempat favorit.

Tempat favoritku adalah pantai. Dulu sebelum pindah ke Jakarta, aku tinggal di Lombok. Aku dan keluarga sering main pantai Senggigi. Aku cinta dengan alunan musik yang dimainkan oleh ombak, itu menumbuhkan ide-ide yang bisa aku tuangkan di buku harianku. Kalau Ayahku suka berjemur di pinggir pantai, menikmati sinar sang surya yang tidak berkesudahan.

Lain hal dengan ibuku

Ibu selalu ikut kami ke pantai, biasanya beliau berjemur bersama ayah, tetapi ternyata beliau tidak menikmatinya sebagaimana aku dan ayah.

Tempat favoritnya adalah meja makan.

Menurutku itu aneh. Pertama, semua keluarga pasti memiliki meja makan.  Kedua, keluargaku selalu berkumpul di meja makan saat makan malam khususnya, dengan formasi lengkap. Ada ayah, ibu dan aku. Itu hal biasa. Ketiga, di ruang makan kami tidak ada TV, jadi aku tidak bisa nonton sambil makan. Itu hal yang menyebalkan.  Jadi buatku meja makan bukan tempat yang spesial atau menyenangkan. Sampai pada akhirnya aku tahu alasannya.

Saat itu, aku sedang membuat tugas Bahasa Indonesia. Aku diminta untuk membuat karangan dengan tema ‘tempat favoritku dan keluarga’.

Langsung aku bertanya kepada ayah dan ibu yang sedang bersantai di ruang tamu. Sudah pasti jawabannya pantai. Akan tetapi.

“Tempat favorit ibu adalah meja makan”

Aku cemberut. Lalu aku tanya, kenapa. “Ya enggak apa-apa. Meja makan adalah tempat kebersamaan. Bisa duduk dan makan dengan Grace dan ayah,” kata ibu sambil membelai rambutku.

“Ah ibu, kita kan selalu bersama-sama, kan satu rumah. Ini kita lagi ngumpul di sofa, enggak hanya di meja makan. Ibu aneh.”

Ayah yang tadinya sibuk membolak balik majalah pun bersuara. “Benar itu Grace, kebersamaan di meja makan itu sangat menyenangkan.”

Aku mulai mengkerutkan kening. “Apa deh istimewanya meja makan, punya kita itu kecil ayah, apa enaknya sih. Di meja makan juga kita hanya makan dan paling sambil ngobrol.”

“Nah, itu, selain menkimati masakan ibu, kita bisa ngobrol kegiatan kita abis pulang sekolah atau pulang kantor, ya, kan, Bu?” tanya ayah. Ibu mengangguk tersenyum. Air muka nya berubah.

Aku semakin mengkerutkan kening.

“Buatku meja makan itu biasa saja! Aku bisa ngobrol dengan ayah dan ibu dimana saja, enggak hanya di meja makan!” teriakku kesal. Lalu aku beranjak menuju kamar.

Duh, masa aku harus cerita meja makan adalah tempat favorit keluarga karena adanya kebersamaan disitu. Tidak ada istimewanya. Bakal kalah lah dengan cerita teman-teman di sekolah, batinku. Jangan-jangan nanti aku bisa ditertawakan lagi masa tempat favorit keluargaku di meja makan.

15 menit berlalu, buku tulisku masih kosong.

Tok Tok Tok!

“Grace lagi ngerjain PR, jangan ganggu”

“Ibu boleh masuk sebentar?”

Aku menghela nafas.

“Iya sebentar aja ya bu”

Ibu lalu membuka pintu kamarku dan duduk di ranjangku yang kebetulan sebelahan dengan meja belajarku.

“Gimana sayang? Sudah selesai tugasnya?”

“Belum lah,” jawabku sinis.

“Kenapa kamu tidak cerita saja kalau kita suka ke pantai? Kita kan memang biasanya menghabiskan waktu bersama di sana”

“Gitu?”

“Iya” jawab ibu tersenyum. “Kalau cerita soal kebersamaan di meja makan katamu aneh”

“Ya emang aneh. Keluarga mana yang tidak pernah kumpul di meja makan?! itu hal yang biasa bu,” protesku.

“Keluarga ibu, Grace”

Aku terdiam. Ibu menunduk.

“Dulu, waktu ibu umur 6 tahun, kakek dan nenek pisah. Ibu tinggal dengan kakek. Kakek  selalu berangkat pagi, pulang malam. Kakek biasanya makan malam dikantor karena sering lembur.  Ibu dan Pakde-mu jarang ketemu dengan beliau. Ibu punya meja makan kecil dulu untuk empat orang, tapi jarang sekali ditempati. Ibu selalu makan sendirian di meja itu. Kadang sama Pakde dan teman-temannya yang kebetulan main ke rumah. Pernah juga makan bertiga tapi itu bisa dihitung pakai jari. Merasakan kebersamaan dengan keluarga yang utuh di meja makan seperti yang kamu rasakan sekarang adalah hal yang jarang buat ibu”

Suasana kamarku mendadak hening dan sendu.

“Ibu pernah sesekali makan malam di rumah teman karena bikin tugas sampai larut malam. Keluarganya lengkap berkumpul di meja makan, dan sebelum makan, mereka berdoa. Sambil mengambil sayur dan lauk, mereka sambil menceritakan kegiatan mereka seharian tadi. Dan Ibu pun mendapatkan giliran untuk cerita dengan mereka,” kenang Ibu sambil tersenyum.

“Saat itu, Ibu berjanji dalam hati, kalau Ibu sudah berkeluarga nanti, Ibu akan punya meja makan dimana Ibu akan menikmati kebersamaan dengan suami dan anak-anak disitu.”

Aku beranjak duduk disamping Ibu dan memeluknya.

“Di meja makan ada sebuah kebersamaan, dimana tidak semua orang bisa menikmatinya, Grace.”

***

10 Tahun kemudian…

Tok Tok Tok!

“Mami!”

Aku tersentak mendengar anakku berteriak. Aku menatap layar laptop, oh sudah 700 kata. “Iya sayang buka aja.”

“Mami, bantuin aku kerjain PR!”

Aku menghentikan kegiatanku dan berpaling kearah gadis mungil yang berteriak cempreng di depan pintu. Ia pun menghampiriku dengan seperangkat alat tempurnya, ada buku tulis, pensil dan penghapus. Aku menutup laptop dan menyingkirkannya dari meja kerja. Ia langsung menduduki singgasanaku dan meletakan semua alat tempurnya.

“PR apa Ra?” tanyaku sambil merapikan rambutnya

“Ini PR Bahasa Indonesia, Mami. Disuruh buat karangan tentang ‘tempat favoritku dan keluarga,” jawabnya sambil menyibakan lembar buku tulisnya. “Tulis saja tempat favoritku dan keluarga adalah meja makan.” jawabku.

“Kok meja makan, Mami?!” tanyanya protes sambil berpaling ke arahku. “Nanti kalau Rara cerita tempat favorit kita di meja makan malah ditertawakan. Semua orang kan punya meja makan, Mami dan tiap hari makannya disitu,” jelasnya dengan wajah polos

Aku tersenyum. Aku melihat foto ibu dan ayah yang terpampang di meja kerja.

“Karena di meja makan ada sebuah kebersamaan dimana tidak semua orang bisa menikmatinya.”

About the author

Karina Chrisyantia

Penulis buku harian yang disekolahkan oleh orang tuanya demi meraih sarjana pendidikan. Setelah itu malah memutuskan terjun bebas ke dunia media. Gemar mengumpulkan uang receh untuk membangun studio foto dan mengutarakan emosinya melalui puisi. Demi meningkatkan kepercayaan diri dalam menulis, dia bergabung dengan Agenda 18 Angkatan ke 6.

Add Comment

Click here to post a comment