Christoforus Ristianto Kegiatan Liputan

Warna-warni Jakarta dalam “RUMAH KOTA KITA”

8
(dari kiri ke kanan) Wartawan Harian KOMPAS Agnes Rita, pengamat perkotaan Marco Kusumawijaya, dan moderator Blessty dalam acara Peluncuran & Diskusi Buku “RUMAH KOTA KITA” di kantor Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta Pusat, Sabtu (13/2).



JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Mengusung tema perkotaan, komunitas penulis muda Jakarta, Agenda 18 angkatan kelima meluncurkan buku berjudul RUMAH KOTA KITA. Buku yang berisi kumpulan esai ini mengurai warna-warni cerita tentang Jakarta dan menyoroti apa saja yang terjadi di dalam kota urban.

“Buku ini hasil refleksi dan pengamatan kita tentang Jakarta. Ini bentuk keprihatinan akan banyak hal yang perlu dibenahi,” kata wakil dari tim penulis, Jenni Anggita dalam acara Peluncuran & Diskusi Buku “RUMAH KOTA KITA” di kantor Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta Pusat, Sabtu (13/2).
Dalam acara tersebut hadir dua narasumber, yaitu wartawan Harian KOMPAS desk metropolitan Agnes Rita dan pengamat perkotaan Marco Kusumawijaya. Rita mengungkapkan transportasi umum di Jakarta masih memprihatinkan.
“Angkutan umum di Jakarta belum memudahkan masyarakat, tapi menyulitkan karena untuk sampai tempat tujuan, kita harus mengeluarkan uang dua hingga tiga kali lipat dibandingkan memakai kendaraan pribadi,” tuturnya.
Ia mencontohkan bahwa rute Transjakarta dari Harmoni menuju Sumber Waras hanya disediakan satu halte. Padahal, jarak dua daerah tersebut cukup jauh. Akibatnya, masyarakat yang ada di pusat perbelanjaan seperti di daerah Roxy tidak memiliki pilihan selain menggunakan kendaraan pribadi.
“Kita dibuat bingung, mau naik apa jika haltenya hanya satu dan itu jauh dari pusat kegiatan masyarakat. Akhirnya lebih baik pakai kendaraan pribadi. Kota ini buat kendaraan atau buat orang?” tegas Rita.
Senada dengan Rita, Marco menjelaskan, masih banyak transportasi di Jakarta yang harus diperbaiki. Hal itu dikarenakan transportasi umum yang sudah ada belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi, ia membandingkan infrastruktur di Jakarta dan Singapura.
Di Singapura, masyarakat yang ingin membeli mobil harus mempunyai surat izin (lisensi) dengan membayar 250 dolar Singapura atau sekitar Rp 2 miliar. Oleh karena itu, di Negeri Singa tersebut tidak terjadi kemacetan karena mayoritas masyarakat menggunakan transportasi umum.
“Karena kebutuhan masyarakat belum terpenuhi, maka munculah ojek daring yang bisa di pesan pakai gadget kita,” jelas Marco.
RUMAH KOTA KITA merupakan karya sembilan penulis muda yang tergabung dalam komuntias Agenda 18 angkatan kelima. Mereka adalah Maria Krisnasari, Bernadeta Niken, Brigita Blessty, Rio Noto, Gloria Fransisca, Della Nadya, Yogie Pranowo, Jenni Anggita, dan Christina Dwi Susanti.
Kesembilan penulis tersebut menyoroti Jakarta dari berbagai sisi, mulai dari transportasi publik, ruang terbuka hijau, perekonomian penduduk, penggusuran, pembangunan gedung bertingkat, joki, komunitas ruang publik, hingga prostitusi.
Penulis: Christoforus Ristianto
Editor: Lani Diana

About the author

Christoforus Ristianto

Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Saat ini aktif di Pers Kampus UMN yaitu Ultimagz.

Add Comment

Click here to post a comment