Dea Safira Basori Opini Resensi Film

Kita Hidup Dalam Handmaid’s Tale

handmaidstale

“Nolite te bastardes carborundorum, bitches!” adalah sebuah kalimat penguat di serial Handmaid’s Tale yang kini sedang tayang di Hulu. Walaupun kalimat tersebut berasal dari bahasa Latin dan sangat tidak sesuai terjemahannya, kira-kira makna yang berusaha disampaikan adalah “Jangan sampai mereka menindasmu, bitches!” Kalimat tersebut hanya berada dalam sebuah fiksi, namun masih relevan. Terutama ketika upaya untuk mempersempit ruang gerak perempuan datang dari segala arah.

Mungkin ada yang pernah membaca atau mengetahui novel karya Margaret Atwood berjudul Handmaid’s Tale dengan genre distopia tentang konstitusi negara yang berubah dan digantikan dengan peraturan yang berlandaskan agama. Dalam distopia yang kini sudah dibuat serial televisinya dan sudah tayang selama satu musim itu bercerita tentang perempuan-perempuan yang terbagi dalam beberapa kelas yang perannya diatur dalam negara. Pemerintah mengatur peran tersebut menjadi beberapa kelas, namun tak disangka pengaturan kelas perempuan dalam distopia yang novelnya pertama kali terbit pada tahun 1985 itu, sangat erat dengan kehidupan perempuan di Indonesia, bahkan di jagat media sosial. Seringkali kita mendengarkan cerita yang kurang lebih sama dan upaya-upaya yang sama untuk mempersempit ruang perempuan.

Mungkin kesannya jauh sekali perjalan bagi masyarakat Indonesia menuju peradaban ketika fungsi perempuan diatur oleh negara yang dikuasai oleh pemerintahan teokrasi, tapi kita bisa mengobservasikan apa yang terjadi pada kehidupan kita sehari-hari.

Pengekangan Perempuan dalam Pembagian Peran

Dalam cerita Handmaid’s Tale, para perempuan dari golongan istri umumnya adalah mereka yang beruntung menikahi para pejabat laki-laki yang memanggil diri mereka Putra Jakob (Sons of Jacob) yang berhasil mengubah konstitusi dasar negara kepada Perjanjian Lama. Mereka tunduk pada suami serta ajaran Kristen fundamentalis yang mereka anut sehingga yang mereka lakukan semuanya untuk memastikan berdasarkan teks kitabnya. Beberapa dari mereka tak segan-segan mendukung penghilangan hak-hak perempuan mulai dari hak untuk membaca hingga hak atas kepemilikkan atas properti dan kekayaan. Mereka juga bahkan sangat memaksakan agar perempuan golongan handmaid dapat memberikan keturunan untuk mereka karena masalah infertilitas yang sangat mendunia dialami oleh baik laki-laki dan perempuan.

Hari ini kita bisa melihat tidak hanya laki-laki saja, tetapi perempuan juga ikut “mengampanyekan” poligini. Dengan iming-iming surga serta banyak anak banyak rezeki. Perempuan “dirayu” melalui berbagai gerakkan offline hingga online untuk tidak melanjutkan sekolah dan segera menyegerakan diri menikah. Bahkan, sebuah kelompok di Facebook yang berisikan perempuan yang sudah menikah pun mencarikan istri kedua dan ketiga untuk suaminya. Hal ini yang dilakukan oleh para istri dalam serial film tersebut, yaitu memastikan para handmaid dapat memberikan keturunan, bahkan mereka tak segan untuk menemani proses pembuahan yang dilakukan oleh para suami kepada para handmaid.

Walaupun masalah infertilitas tidak separah yang diceritakan dalam seri Handmaid’s Tale dalam kenyataannya, tetap ada kesamaan yaitu perihal tujuan dari poligini yang digalakkan hari ini untuk memperoleh banyak anak. Karena masih mengamini banyak anak banyak rezeki dan pahala yang perlu dikejar secara membabi buta. Sayangnya, banyak anak yang telantar akibat pemikiran yang demikian. Populasi pun menjadi membeludak dan tidak merata.

Selain golongan istri dan handmaid, terdapat perempuan yang dianggap tidak subur yang disisihkan untuk menjadi Martha, Bibi dan Istri Ekonom. Perempuan Martha ditugaskan untuk mengurusi rumah tangga para pejabat yang mana jelas kita familiar dengan perempuan yang berkerja sebagai pekerja domestik dari pengasuh hingga asisten rumah tangga. Bibi diberi tugas untuk mendisiplinkan perempuan handmaid yang mana hanya mereka yang diperbolehkan untuk membaca buku yang berdasarkan teks kitab agama, mereka juga tidak jauh dengan ustadzah yang mengampanyekan poligini. Sementara, Istri Ekonom mengalami beban ganda yang bertubi-tubi, biasanya mereka akan dipasangkan dengan pegawai rendahan dan mengemban tugas untuk melayani suami seperti peran golongan istri dan handmaid, serta mengurusi rumah tangga seperti Martha, potret perempuan Istri Ekonom dapat dilihat dari pengalaman perempuan yang berada di tingkat ekonomi menengah kebawah yang terus mengemban beban ganda.

Perempuan bebas adalah pekerja seks

Dalam semesta Handmaid’s Tale, perempuan yang berhasil kabur dari pemerintahan tersebut akan digiring dan dipaksa untuk memilih antara membersihkan kotoran limbah yang mematikan atau menjadi pekerja seks. Umumnya, perempuan berpendidikan atau yang memiliki orientasi seksual yang jauh dari konsep heteronormatif, yang tertangkap akan melarikan diri memilih untuk menjadi pekerja seks ketimbang kembali kepada pembagian kelas yang dilakukan oleh negaranya. Mereka mau tidak mau terpaksa melayani nafsu seks para pejabat laki-laki dan pejabat dan pebisnis dari luar negeri. Golongan perempuan tersebut dikenal dengan sebutan Jezebel. Jika ditelusur dari zaman Rainasans hingga hari ini, pekerja seks dikenal sebagai perempuan paling “bebas” meskipun mereka tidak memiliki kepastian akan hidupnya, mereka setidaknya punya beberapa keleluasaan yang perempuan lain tidak miliki.

Relevansi Handmaid’s Tale dan Realita Indonesia

Dinamika yang terjadi hari ini dapat dikatakan memiliki kemiripan. Ketika Timor Leste sudah dapat menerima keberagaman orientasi seksual dan ekspresi gender, Indonesia malah memburu dan mengkriminalkan orang-orang yang dianggap jauh dari heteronormatif. Sama halnya dengan Amerika, baik yang ada dalam semesta Handmaid’s Tale dan realita kita hari ini. Amerika kini melarang kelompok trans untuk mengabdi pada negara, dan Amerika yang ada pada serial berubah nama menjadi Republik Gilead menghukum mereka yang memiliki orientasi seksual dan ekspresi gender yang berbeda dan memanggil mereka dengan sebutan “pengkhianat gender” lalu menjatuhi hukuman mati. Sementara, negara Kanada pada serial tersebut menjadi tempat untuk pengungsi yang berhasil kabur dari pemerintahan tersebut, mirip dengan Kanada kini yang menjadi tempat pengungsi dari penjuru dunia terutama akibat prahara Timur Tengah. Kanada dianggap terbuka dan dapat menerima keragaman manusia.

Margaret Atwood berhasil membayangkan dunia tempat perempuan diatur dan dipersempit ruang geraknya. Dalam kasus perempuan Indonesia tentu sudah lama dialami, bahkan tanda-tanda penghilangan hak perempuan sudah terjadi sejak lama. Seberapa pun perjuangan perempuan yang diupayakan dalam segala bidang, akan ada segelintir kelompok yang berusaha menarik perempuan kembali dari mendapatkan hak-haknya. Namun, di sini Margaret berupaya mengingatkan bahwa apa pun dapat terjadi terutama ditengah tingkat fanatisme yang mulai mendidih. Banyak pula yang menyalahkan arus kapitalisme dan globalisasi sebagai pemicu reaksi dari fundamentalis, namun yang kita tak sadari bahwa keduanya disetir oleh patriarki.

 

About the author

Dea Safira Basori

Peserta Kursus Perempuan Tingkat II tahun 2017. Seorang feminis Jawa yang melawan segala kemungkinan untuk menemukan cinta, kehidupan, dan semangat hidupnya. Mendokumentasikan kehidupannya di www.deasafirabasori.com.
Facebook: Dea Safira Basori
Twitter: @DeaSB

Add Comment

Click here to post a comment