Esai Eva Angela Opini

Ironi Pendidikan dengan Tekanan Mental Siswa

Sumber: https://media.npr.org
Sumber: https://media.npr.org

Pada akhirnya, unit waktu yang kita miliki memang tak terbilang banyaknya. Sama seperti satuan angka yang infinit atau dalam kata lain tak terbilang. Ambil kata dari angka 0 sampai 1, ada 0.1, 0.12, 0.112 dan banyak lagi. Dari sini kita menyadari bahwa beberapa hasil infinit itu lebih besar dari hasil infinit yang lain[1], sama seperti waktu yang kita miliki dalam hidup ini. Terkadang hidup itu terasa singkat tetapi juga terkadang hidup itu terasa lama. Hal inilah yang membuat waktu menjadi misterius. Pertanyaan ‘kapan’ akan selalu ada, dan kata ‘akhir’ itu akan selalu menanti. Pertanyaannya, apakah semua orang sesabar itu menantikan jemputan menuju akhir hidup, atau justru mereka sendiri mengakhiri hidup hanya karena tertekan secara mental?

Sejumlah ungkapan seperti; “mau mati aku,” atau “matilah aku,” atau juga “haduh, habislah aku,” dan masih banyak lagi sering diucapkan ketika seseorang mengalami tekanan mental tertentu. Memang terdengar sederhana atau bahkan bercanda, namun tekanan mental itu tidak bisa diabaikan. Faktanya, setiap 40 detik ada 1 orang yang mati karena bunuh diri dan 20 lain yang mencoba tapi gagal. Ini saja sudah membuat sekitar 800.000 jiwa melayang setiap tahunnya. Seperti yang telah dilansir oleh World Health Organization (WHO), bunuh diri merupakan penyebab kedua mortalitas di kalangan generasi muda usia (produktif) 15-29 tahun. Di mana 78% dari kasus tersebut datang dari orang-orang kalangan menengah ke bawah. Kalangan orang-orang yang tertekan karena ekspektasi sukses yang berlebihan.

Salah satu kasus yang terbaru misalnya penamparan terhadap seorang siswa di PGRI Purwokerto oleh seorang guru pada pertengahan April 2018 ini. Kondisi ini bisa memberikan dampak trauma lebih lanjut baik kepada siswa sebagai korban, sekaligus orang tua murid. Buktinya, salah satu korban dari kekerasan sang guru telah membuat sang siswa mengalami gangguan pendengaran. Kondisi ini sangat mungkin memburuk berujung dengan bunuh diri jika taka da rehabilitasi bagi korbam. Contoh lain yang terjadi di Living World pada Sabtu (16/4/16), seorang mahasiswa berinisial TP yang baru berusia 28 tahun menjatuhkan dirinya dari lantai 8 pusat pembelanjaan tersebut. Hal ini tentu membuat para pengunjung takut dan terkejut parah. Hanya karena dimarahi oleh dosennya, seorang mahasiswa rela mengakhiri hidupnya di usia yang masih belia.

Kasus-kasus tersebut tentu bukan hal yang sepele bagi kalangan remaja sampai angkatan pekerja yang masih muda. Sudah lumrah jika tekanan terberat yang dimiliki oleh para generasi muda tidak lain dan tidak bukan adalah tuntutan pada kesuksesan di masa depan. Mereka berlomba menjadi yang terbaik agar kelas menjadi orang sukses. Bahkan definisi sukses itu pun masih banyak yang vague. Ada yang bilang kesuksesan itu materi, ada yang bilang kesuksesan itu perasaan happy. Ketidakpastian akan masa depan dan pandangan akan kesuksesan itu menjadi hantu bagi pemuda-pemuda hari ini. Sehingga ada masanya remaja memilih untuk tidak memiliki masa depan sama sekali, dengan cara bunuh diri. Remaja dipaksakan berkembang menjadi pribadi yang cocok dengan stereotipe masyarakat, bukan sebagai suatu pribadi yang otentik sebagaimana adanya dia.

Sumber Foto: http://affinitymagazine.us
Sumber Foto: http://affinitymagazine.us

Pendidikan remaja masa kini nampak menunjukkan pemaksaan tertentu, dan untuk menyenangkan orang-orang sekitar, sehingga remaja harus mengikuti itu. Seperti pengandaian Albert Einstein, “Pendidikan di masa kini itu berusaha membuat ikan memanjat pohon.” Remaja mengejar standar terjemahan masyarakat, bukan standar yang sesuai dengan dirinya sendiri. Ini semua adalah akibat sistem yang meraup kebebasan dan kebahagiaan  remaja, sistem yang menurut hemat saja menjadi diktator bukan pendukung.

Pembenahan mental health melalui berbagai organisasi dan institusi bisa menjadi solusi bagi fenomena ini. Pembenahan yang dimaksud adalah pengutamaan perkembangan diri (dan mental) seorang remaja agar mampu meraih potensi maksimal mereka. Contohnya saja fenomenabunuh diri yang terjadi di Korea, mayoritas dilatarbelakangi oleh pemaksaan ekspektasi orang tua kepada anaknya. Mereka didorong menjadi yang terbaik agar orang tua mereka menganggap mereka berguna sebagai seorang anak, jika tidak mereka akan dihina dan ‘dibuang’. Hal-hal seperti ini bukannya menjadi motivasi untuk maju, tetapi justru menjadi motivasi bunuh diri. Dari situ kita sadari bahwa dukungan mental bisa datang dari pembiasaan orang tua dan mentor memberikan input secara postif kepada usaha yang telah dilakukan oleh sang remaja. Bimbingan lain seperti konseling dan sesi berbagi lain juga perlu diterapkan untuk meningkatkan pengertian bagi masing-masing pihak, remaja dan orang-orang disekitarnya.

Mental health masih merupakan kebutuhan yang vital di era digital saat ini. Manusia yang sehat secara mental, pasti bisa menjalankan tugas dan hidupnya dengan lebih produktif. Tanpa mental yang terbina sehat, seorang pribadi, terutama remaja yang masih mencari jati diri mudah menjadi linglung dan stres. Hal ini bisa berakibat pada kematian dini, karena bunuh diri. Maka dari itu, untuk mengurangi tingkat bunuh diri pada generasi muda sekaligus membantu mereka menjadi pribadi yang ‘berguna’, diperlukan pembenahan sarana dan implementasi mental health yang lebih baik melalui edukasi bagi orangtua, guru, dan segenap elemen masyarat. Selain itu diperlukan political will untuk mejaga tindakan dalam ruang pendidikan internal (keluarga) dan eksternal (sekolah atau kursus) tidak memberi tekanan apalagi kekerasan kepada remaja.

Pembenahan ini bukan hanya merupakan momen meningkatkan kualitas kesehatan mental. Sebaliknya, revitalisasi ini sangat bermanfaat untuk perbaikan kualitas pendidikan dan pengembangan manusia berhati nurani yang peka bagi sesama dan alam raya.

 

Catatan Kaki

[1]There are infinite numbers between 0 and 1. There’s .1 and .12 and .112 and an infinite collection of others. Of course, there is a bigger infinite set of numbers between 0 and 2, or between 0 and a million. Some infinities are bigger than other infinities.” (Eulogy Hazel untuk Agusus Waters) – The Fault in Our Stars

 

About the author

Eva Angela

Gadis kelahiran Denpasar, Bali yang baru legal Februari lalu. Siswi fulltime yang bersekolah di SMA Santa Laurensia. Gemar bermain voli, membaca, menulis, dan menonton film. Pemimpi yang ingin menjadi 'seseorang' bagi semua orang.

Add Comment

Click here to post a comment