Esai Opini Yusuf Ramadhan

Menyoal Pengangguran Saat Hari Buruh

Mayday

Pengangguran[1] atau tuna karya adalah  istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak[2].  Dalam masyarakat kita saat ini, nganggur kerapkali mendapat label sebagai kegiatan yang menimbulkan banyak masalah, mereka yang sering nongkrong sambil bermain kartu hingga larut malam biasanya disebut pengangguran yang hanya membuat onar. Para pengangguran seringkali disebut “sampah masyarakat” yang tidak berkontribusi pada kehidupan, tentunya hal itu tidak benar. Namun kemudian pertanyaannya adalah bagaimana pengangguran itu muncul? Benarkah malas adalah penyebab mutlak dari pengangguran? Atau ada sebab lain?

Pengangguran sendiri bukanlah barang baru dalam masyarakat Indonesia maupun dunia, pengangguran berjalan beriringan dengan sistem kapitalisme sejak masa berdirinya sistem ini. Di seluruh negara yang menganut sistem kapitalisme, akan selalu ada pengangguran. Pada tahun 2011 saja terdapat 18-20 juta pengangguran di Eropa.[3] Di negara-negara utara seperti AS dan inggris dimana terdapat penurunan angka pengangguran, ternyata hal ini juga dibarengi dengan pengurangan dan pembatasan hak-hak pekerja, kenaikan pangkat, penurunan besaran upah, dan keamanan kerja yang mengacu pada menurunnya bargaining power para pekerja dalam dua dekade terakhir.[4]

Bicara pengangguran berarti bicara manusia secara keseluruhan. Berarti juga bicara situasi kerja dalam masyarakat dimana pengangguran merajalela. Bekerja dan menganggur seperti dua sisi mata uang, ia tidak bisa dilihat secara terpisah, dan manusia adalah social animals, mereka saling bergantung secara resiprokal dan interrelasi dalam memproduksi syarat-syarat hidup mereka. Artinya, jika pengangguran diletakkan hanya pada problem individual maka kita akan menghadapi masalah pikiran yang kacau, karena dengan demikian kita menganggap bahwa manusia adalah makhluk individual yang terisolasi satu sama lain. Demikian juga ketika kita menjadi menyerah pada kehidupan dan akan menganggap bahwa pengangguran adalah takdir Tuhan. Oleh karena itu, untuk menyederhanakan pembahasan, mari kita lihat satu persatu tentang apa itu kapitalisme—sistem yang kini mendominasi di seluruh dunia? Apa itu kerja—dalam masyarakat kapitalisme?

 

Sedikit Tentang Kapitalisme

Belajar dari Marx, disini kita akan mengenal istilah modus produksi, yaitu historical dan hegemonic way in which a society organize itself to produce and repoduce the condition of human interpendence[5]. Dalam 300 tahun terakhir, modus produksi yang dominan dan berkembang di seluruh dunia adalah capitalist mode of production. Secara sederhana kapitalisme adalah suatu paham yang mengajarkan kepada manusia agar “berusaha dengan modal sedikit-dikitnya, untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya”. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena kapitalisme adalah sistem ekonomi (dan sosial) yang bercirikan pada profit motive dan kontrol terhadap sarana produksi, distribusi, dan pertukaran oleh kepemilikan pribadi (kamus bahasa inggris longman). Kata kunci pertama adalah profit motive, kedua adalah kontrol terhadap sarana produksi, ditribusi dan pertukaran, yang ketiga adalah kepemilikan pribadi. Ratusan tahun lamanya, dengan berbagai bentuk dan kebijakan, dan segala dampak seperti perang dunia, depresi besar, kerusuhan-kerusuhan sosial, kerap disebabkan oleh sistem ini.

 

Sumber: www.stream.org
Sumber: www.stream.org

 

Kerja dalam Masyarakat Kapitalisme

Bekerja dalam masyakat kapitalisme adalah hal yang paling fundamental. Tanpa kerja, tidak akan ada produk (baca:komoditas) yang bisa dibuat. Ada pun persoalan yang muncul adalah bekerja hanya sekedar bertujuan mendapat upah. Mengapa demikian? Sebab, yang dimaksud kerja pada masyarakat kita hari ini berarti mendapat uang, selanjutnya memperoleh kesejahteraan. Konsekuensinya dari ini adalah meningkatnya fokus manusia pada sekedar pencarian “keuntungan” semata dalam setiap relasi sosial-produksinya[6]. Akhirnya, seseorang yang tidak bekerja demi upah tidak akan bisa bertahan hidup. Ketika semua dari kita tidak memiliki alat produksi (seumpama tanah) untuk memperoleh makanan demi bertahan hidup, maka yang tersisa hanyalah manusia dengan tenaga kerjanya yang siap dijual, dan dibayar dengan murah. Kerja dalam masyarakat kapitalisme menemui pergerseran istilah sekaligus prakteknya. Namun terlepas dari pergeseran itu, kerja tetap menjadi kunci dalam keberlangsungan sistem ini. Tanpa kerja manusia pabrik hanyalah rumah-rumah hantu dan mesin hanya rongsokan tak berguna, begitu ujar seorang aktivis rakyat yang diculik dan tak diketahui keberadaannya hingga sekarang—Wiji Thukul.

Dari paparan singkat di atas tentang kapitalisme dan kerja dalam masyarakat kapitalisme, kita bisa menyimpulkan secara sederhana bahwa sistem ini selalu penuh dengan persaingan—karena profit motive dan kepemilikan pribadi atas sarana produksi tidaklah mungkin menerapkan keadilan yang merata di ranah distribusi. Sementara kerja para pekerja menjadi medan tempur utama dimana kapitalis tetap bisa mengeluarkan modal sedikit-dikitnya dengan menarik untung sebanyak-banyaknya. Mengapa demikian? Hal tersebut bisa terjadi karena tidak ada komoditas yang bisa dibuat tanpa ada mesin dan tenaga kerja. Mesin bisa disiasati dengan perkembangan teknologi, namun kerja tetap harus membutuhkan tenaga manusia. Selain untuk berproduksi, pekerja juga sebagai subjek konsumen dari hasil produksi. Sederhananya, siapa yang akan bekerja memproduksi komoditas, dan siapa yang akan membeli komoditas jika tidak ada kerja upahan? Kapitalis bisa saja saling membeli, namun jumlah mereka tetap terlampau sedikit ketimbang komoditas yang diproduksinya.

Pengangguran bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Pengangguran juga merupakan dampak dari sistem ini sekaligus menjadi produk yang juga diciptakan kapitalis untuk mempertahankan posisinya sebagai kelas yang berkuasa. Dengan adanya pengangguran, sang kapitalis akan mudah memecat para pekerjanya yang melawan menuntut kenaikan upah misalnya. Kapitalis dengan enteng bisa berkata “Pergilah kalian, masih banyak orang yang butuh uang untuk melanjuti hidup yang mau dibayar murah”.

Pengangguran diciptakan demi tersedianya tentara cadangan (reserve army) yang sewaktu-waktu digunakan untuk menekan perlawanan para pekerja. Paradoks yang muncul adalah, di satu sisi kapitalis membutuhkan tenaga kerja untuk berproduksi, di sisi lain, pekerja menjadi hambatan karena kapitalis tetap harus membayar upah mereka. Oleh karena itu, di negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia yang relatif memiliki banyak cadangan tenaga kerja, pengangguran tetap mungkin dipertahankan demi bargaining power terhadap para pekerja yang sedang bekerja.

Kaum pengangguran di seluruh dunia, bersatulah!

 

 

 

Catatan Kaki

[1] Data terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang memastikan jumlah pengangguran di Indonesia sampai Agustus 2017 mencapai 7,04 juta orang dari 128,06 juta orang angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja ini bertambah 2,62 juta orang dibanding Agustus 2016  sebanyak 125,44 juta orang.  Adapun jika dihitung, angka pengangguran pada Agustus 2017 ini meningkat sekitar 10.000 orang dari total angkatan kerja pada Agustus 2016 yang mencapai 125,44 juta orang

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Pengangguran

[3] Jumlah saat ini justru semakin bertambah, ada 46 juta tak punya pekerjaan di dunia. Selain di AS, jumlah pengangguran juga melonjak di Belanda, Prancis, dan Italia (lihat https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-2550674/jumlah-pengangguran-membludak-di-amerika-dan-eropa

[4] Swanvri CS, Pengantar ekonomi-politik, Resist Institute, 2011, hlm. 5

[5] Ibid, hlm. 29

[6] Tidaklah mengherankan jika hari ini kita menemui suatu fenomena dimana hubungan antar teman, saudara, dan keluarga, kerap kali didasari pada seberapa besar keuntungan yang mereka dapat dari relasinya satu sama lain. Tentu para pembaca masih ingat dengan kejadian yang menimpa nenek-nenek yang dipenjarakan oleh anaknya sendiri. Atau tentang pembunuhan sadis seorang suami kepada istrinya hanya karena soal uang dapur. Atau tentang kisah para pembegal yang siap mati demi kelangsungan hidupnya.

 

About the author

Yusuf Ramadhan

Yusuf, seorang manusia yang sedang menempuh studi di Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tertarik dalam dunia tulis menulis demi menyingkap suatu fakta yang tak terekam oleh mata. Bergabung di Komunitas Agenda 18 Angkatan 6.

Add Comment

Click here to post a comment