FA Triatmoko HS Opini

Mitos Otak dan Pendidikan

ot

Ternyata mitos tidak hanya ada di dalam cerita fiksi, namun di dunia pendidikan. Mitos itu kemudian menjadi dasar bagi pengajaran yang tidak efektif, menurut sebuah makalah yang terbit di Nature Review Neuroscience 15 Oktober 2014.

Apakah anda pernah mendengar bahwa manusia hanya menggunakan 10% otaknya? Atau manusia dengan otak kanan dominan lebih kreatif dari manusia yang dominan otak kiri? Kedua “fakta” tersebut ternyata merupakan neuromyths, atau mitos tentang otak, dalam publikasi oleh Paul A. Howard-Jones.

sumber: http://sites.dartmouth.edu/gsc/files/2014/03/ravenous_brain_rect.jpg

Menurut doktor dari Graduate School of Education Bristol University, mitos-mitos tersebut seringkali dipromosikan kepada guru sebagai hasil dari penelitian tentang otak, atau neuroscience. Namun, peneliti di bidang neuroscience sendiri tidak menemukan hasil yang mendukung ide-ide tersebut. Lanjutnya, ide tersebut tidak ada nilai pentingnya bagi pendidikan, dan sering dikaitkan dengan penerapan pengajaran yang tidak efektif di kelas.

Howard-Jones meneliti guru-guru di Inggris, Belanda, Turki, Yunani dan Cina, dengan menyajikan 7 mitos tentang otak. Hasilnya, seperempat dari guru di Inggris dan Turki percaya bahwa otak anak akan menyusut jika meminum kurang dari 6-8 gelas per hari. Lebih dari setengah juga percaya bahwa siswa hanya menggunakan kurang dari 10% otaknya, dan kurang memperhatikan setelah minum minuman yang mengandung gula.

Lebih dari 70% guru di kelima negara tersebut percaya bahwa ada siswa yang lebih dominan otak kanannya atau otak kirinya. Lanjutnya, hampir semua guru (90% di kelima negara), jika siswa belajar sesuai dengan gaya belajar yang disukainya, auditori, visual atau kinestetis, siswa tersebut akan akan lebih baik dalam memahami pengetahuan.

Mitos-mitos lainnya seperti: latihan koordinasi bisa meningkatkan integrasi belahan otak kanan dan kiri, atau permasalahan dalam belajar karena perbedaan perkembangan fungsi otak tidak bisa diperbaiki lewat pendidikan.

Beberapa mitos di atas tentu pernah kita dengar. Salah satunya, terkait gaya belajar visual, auditori dan kinestetis, sering didengungkan ketika saya masih kuliah dulu. Bahkan,  masih saya pegang sebagai salah satu dasar dalam memberikan masukan bagi pengajar dalam proses pembelajaran.

Saya mungkin hanya salah satu dari sekian banyak pekerja pendidikan yang memegang mitos-mitos tersebut. Jika di dunia luar sana saja masih banyak guru yang mendasarkan pengajaran dari mitos-mitos tersebut, mungkin di Indonesia juga. Apalagi neuroscience belum begitu berkembang di sini.

Atau justru ini keuntungan kita? Karena guru kita belum banyak tahu tentang ide-ide tadi maka kita bisa memulai mempromosikan ide yang tepat tentang otak manusia?

 

Bacaan lebih lanjut:

Howard-Jones, Paul A. (2014) Neuroscience and education: myths and messages. Nature Review Neuroscience. Diakses di http://www.nature.com/nrn/journal/vaop/ncurrent/full/nrn3817.html pada 23 Oktober 2014. (terima kasih pada Nature, sudah memberikan akses gratis publikasi ini. Tinggal daftar saja).

Press Release (2014). Myth-conceptions: How myths about the brain are hampering teaching. Diakses di http://www.bristol.ac.uk/news/2014/october/brain-myths.html pada 23 Oktober 2014.

Myth-conceptions: How myths about the brain are hampering teaching. Diakses di http://www.neuroscientistnews.com/research-news/myth-conceptions-how-myths-about-brain-are-hampering-teaching pada 23 Oktober 2014.

Etchells, Pete. (2014). Brain baloney has no place in the classroom. Diakses di http://www.theguardian.com/science/head-quarters/2014/oct/17/brain-baloney-neuro-myths-teaching-education-classroom pada 23 Oktober 2014.

About the author

FA Triatmoko HS

Agenda 18 Angkatan 3. Saat ini bekerja di almamaternya yaitu Kantor Teknologi Pembelajara Universitas Indonesia sebagai Koordinator Teknologi Pembelajaran. Aktif menulis di POPsy! sebuah jurnal psikologi populer. Sejak 2012 membuka Kelas Koki Cilik @kekoci bersama istrinya, Kak Tasya.

Add Comment

Click here to post a comment