Felicia Kegiatan Wawancara

Jakarta-Semarang dengan Jarak Tempuh Lima Agama

Sumber Foto: https://www.inspirasi.co/nhunaiya/36039_perjalanan-beda-iman-namun-tetap-satu-cinta-1
Sumber Foto: https://www.inspirasi.co/nhunaiya/36039_perjalanan-beda-iman-namun-tetap-satu-cinta-1

Banyak bukan berarti mayoritas, sedikit bukan berarti minoritas. Jumlah hanya angka dinamis yang bisa memicu rasa arogan. Namun pada akhirnya, rasa persaudaraan mengalahkan itu semua. Ini kisah tentang sebuah perjalanan, bukan sekadar jalan-jalan, tetapi perjalanan unik yang dilakukan oleh rekan saya, Ursula Adeodata Stephania alias Fania pada September 2017 lalu.

Melalui informasi dari rekan sejawatnya yang bergelut di Nadhatul Ulama (NU), Fania mencoba mendaftarkan diri ke suatu acara unik bernama Peace Train. Nekat, dan tidak tahu siapa saja yang akan mengikuti program tersebut, dia tetap pergi ke Semarang menggunakan kereta bersama rombongan yang masih terasa sangat asing.

Berangkat dari Stasiun Pasar Senen, Fania mengawali perjalanan tanpa gentar. Peace Train, program jalan-jalan yang menawarkan keunikan dari acara jalan-jalan lainnya, yaitu mengajak para rombongan mengunjungi rumah-rumah ibadah di suatu kota. Khusus perjalanan kali ini Semarang dipilih sebagai tuan rumah.

Ibu kota dari Provinsi Jawa Tengah ini memang memiliki sesuatu yang mungkin tidak dimiliki oleh kota lainnya. Ada berbagai tawaran wisata yang ditawarkan oleh kota yang berbatasan dengan Laut Jawa di sisi utara ini, baik wisata alam, wisata sejarah, wisata keluarga, wisata malam, wisata belanja, hingga wisata religius. Ah, Semarang memang memberikan kesan tersendiri untuk siapa saja yang pernah singgah.

Pergi ke Semarang untuk pertama kalinya bersama orang-orang baru merupakan hal yang menarik untuk perempuan alumnus Universitas Atma Jaya Jakarta ini. Bersama kawan-kawan baru di Peace Train, dia mengunjungi masjid, pura, vihara, klenteng, dan gereja. Setibanya Fania bersama rombongan di masjid, mereka disambut hangat dan ditawari makan. “Harmonis,” begitu ungkapnya ketika mengingat bagaimana rasanya ketika tiba di masjid. Selain itu, Fania juga bertemu dengan santri-santri, berbincang dengan mereka tanpa ada rasa khawatir bahwa akan ada penolakan.

Foto oleh Fariz Fardianto, https://today.line.me/id/pc/article/Anak+Muda+Lintas+Agama+Belajar+Toleransi+di+Semarang-OPPw2j
Sumber: Foto oleh Fariz Fardianto

Keunikan lainnya, rombongan Peace Train tidak menginap di hotel, melainkan di suatu lembaga advokasi sehingga memberikan kesan tersendiri untuk perjalanan ini. Pada hari terakhir, Fania dan rombongan Peace Train menghabiskan waktu di Gereja Wonosari. Ternyata di gereja ini biasa dilakukan kegiatan diskusi antar agama. Di Semarang sendiri, berdasarkan apa yang diceritakan oleh para aktivis pluralisme di Semarang, mulai muncul banyak konflik horizontal, indikasi radikalisme, dan ketegangan antar agama.

Perjalanan singkat ini memang begitu membekas bagi Fania. Pada dasarnya semua agama mengajarkan perdamaian, bukan kekerasan dan intimidasi. Sebelum mengikuti kegiatan Peace Train, Fania sendiri memiliki stigma negatif terhadap pemeluk agama dengan jumlah terbesar di Indonesia. Untung saja, stigma itu berubah setelah mengikuti perjalanan ini.

Rasa keprihatinan pun timbul dan mengendap dalam diri Fania karena menyadari masih banyak orang yang menggunakan agama sebagai senjata utama dalam politik. “Yang lu imanin, Tuhan lu atau agama lu?,” celetuk Fania saat bercerita kepada saya. Perkataan Fania sempat membuat saya terdiam, mungkin memang benar, perlukah Tuhan dibela mati-matian atau hanya manusia saja yang membuat seolah Tuhan memang perlu dibela atas nama agama?

 

About the author

Felicia

Seorang mahasiswi Sastra Belanda yang masih mencari jati diri di belantara kehidupan. Seorang pembelajar dan introvert sejati. Bergabung di Agenda 18 Angkatan 6 dengan modal nekat, berniat mengembangkan diri, mempertajam kemampuan menulis, dan betapa beruntungnya bahwa ia bertemu orang-orang hebat di Agenda 18. Kadang-kadang suka mengamati meme dan netizen.

Add Comment

Click here to post a comment