Cerpen Felicia Fiksi

Kisah Bas, Lam, dan Jan

Foto: Heru Joni Putra
Foto: Heru Joni Putra

Malam kembali menjemput, bulan purnama bertengger di langit memantulkan cahaya sehingga menerangi jalan tikus yang sempit itu. Jalan yang jarang dilalui oleh manusia dan banyak kardus bekas bertumpukan. Tidak ada yang tahu atau bahkan tidak ada yang menyangka bahwa masih ada kehidupan di sana. Sebut saja tiga bersaudara, yaitu Bas, Lam, dan Jan. Seharusnya mereka berlima, tapi sayang dua saudara mereka yang lain meninggal karena udara dingin. Tidak ada tempat yang aman dan nyaman untuk mereka, setidaknya jalan tikus ini mampu menaungi mereka. Malam itu hujan deras, mereka bertiga berteduh di bawah tumpukan kardus sembari berharap akan ada daging-daging sisa di tempat sampah yang letaknya kurang lebih 50 senti dari tempat mereka berteduh.

Daging yang mereka makan juga bukan sembarang daging, mereka memiliki seleranya masing-masing. Walaupun tiga bersaudara dan selalu bersama, tiga-tiganya memiliki cara pandang hidup yang berbeda-beda. Bas, si belang tiga, memilih untuk tidak percaya dengan keberadaan Tuhan dan mengusung motto hidup “asal makan dan berbuat baik tiap hari”. Sedangkan Jan, si hitam polos, rajin berdoa dan diam-diam suka menyusup ke Gereja pada hari Minggu. Ia begitu percaya pada Kristus. Berbeda dengan Lam, si putih polos, yang sering menyelinap ke Masjid terdekat saat maghrib lalu ikut berdoa. Babi itu haram, katanya pada Bas dan Jan.

Mereka tidak pernah rebutan makanan atau rebutan daging. Bas lebih suka daging dan tulang ikan, Jan lebih suka daging babi, dan Lam adalah pecinta daging ayam. Tidak ada dusta di antara mereka, terutama soal daging. Di suatu siang, Jan menemukan seonggok potongan daging yang tercecer di tempat sampah dekat pasar. Ia mengendusnya lalu membawa daging itu pada Lam. Daging ayam rupanya, daging kesukaan Lam. Lam paling anti makan daging babi, ia selalu menyebut daging kesukaan Jan adalah daging haram. Jan tidak ambil pusing, asal ia kenyang, tak masalah walau saudaranya itu selalu protes.

Tibalah bulan di mana Lam harus berpuasa sebagai kewajiban dalam agamanya. Ia harus berpuasa selama 30 hari lamanya, menahan diri untuk tidak makan daging kesukaannya dari pagi hingga sore. Selama berpuasa, Lam menjauhkan diri dari kerumunan pasar dan pergi ke tempat-tempat sepi seperti di balik tembok atau di balik pohon, lalu tidur. Ada suatu hari, Lam berjalan-jalan karena ia bosan berada di balik pohon, tanpa sengaja ia melihat Jan sedang makan dekat tempat sampah sebuah restoran. Sialan, dia makan daging haram itu ketika aku sedang berpuasa! Gerutu Lam dalam hati. Tanpa basa-basi, Lam mendatangi Jan dan merampas daging yang tinggal seperempat itu dari Jan.

“Bisa-bisanya kau makan babi dengan enak sedangkan aku di sini berusaha menahan lapar!” Bentak Lam.

“Apa maksudmu? Kau selalu protes tiap kali aku makan dan sekarang kau juga protes. Kau sedang puasa, jaga amarahmu!” Nasihat Jan.

Lam tidak peduli, ia terlanjur naik pitam. Lam langsung mengoyak-ngoyakkan daging kesukaan Jan yang tinggal sedikit itu, melemparkannya ke tengah jalan sehingga terinjak oleh sepatu manusia. Jan kesal, ia langsung mencakar Lam dan pertengkaran tak dapat dihindari. Mata Lam hampir buta karena diserang oleh saudaranya sendiri, ia akhirnya pergi meninggalkan Jan sendirian.

Jan masih tidak puas, ia berteriak dengan lantang, “Mati saja kau, tukang protes!”

Keesokan paginya terjadi kegaduhan yang luar biasa. Seekor kucing berwarna hitam polos ditemukan terbujur kaku di dekat jalanan. Di tubuhnya terdapat bekas cakaran dan dari mulutnya keluar suatu cairan bening.

“Astaga, dia keracunan!” Duga seorang wanita yang berambut pendek.

Bas yang baru saja kembali dari pasar untuk mencari daging ikan heran mengapa ada banyak manusia di dekat jalan. Mungkin sedang menyembah sesuatu, pikir Bas enteng. Baru berjalan beberapa langkah, Bas bertemu dengan Lam. Matanya sipit sebelah, sinting betul saudaraku, ucap Bas dalam hati.

Lam langsung berteriak di depan Bas, “Jan menghilang! Kemarin ia makan babi di depanku! Ia tidak ada di rumah! Kami bertengkar!” Cerita Lam dengan ketakutan.

Bas belum menjawab apa-apa dan Lam sudah lari menuju kerumunan dekat jalan. Bas langsung menyusul Lam, menyerobot kaki-kaki manusia, dan tibalah mereka di tengah kerumunan manusia.

Jan sudah tewas. Tidak bernyawa.

Lam bergeming. Ia masih tidak percaya bahwa saudaranya sudah mati karena makan daging haram. Lam tidak percaya. Ia berlari sekencang-kencangnya, tak peduli ia berlari ke arah mana, dan malangnya Lam, ia terlindas oleh motor yang sedang melaju kencang.

Lam sudah tewas. Tubuhnya tidak berbentuk.

“Ada kucing tertabrak!” Teriak seorang pria di kerumunan tadi.

Bas terdiam. Dua saudaranya sudah mati. Sekarang tinggal ia sendiri yang hidup, mengamati mayat dua saudaranya. Ia termenung. Apakah semua hal di dunia ini selalu mengatasnamakan Tuhan atau agama?

Bas memutuskan pergi dari tempat itu. Ia berjalan sendiri, menyusuri kota tanpa dua saudaranya.

Foto Koleksi Heru Joni Putra
Foto Koleksi Heru Joni Putra

(Cerita ini terinspirasi dari kucing-kucing yang ada di FIB UI)

About the author

Felicia

Seorang mahasiswi Sastra Belanda yang masih mencari jati diri di belantara kehidupan. Seorang pembelajar dan introvert sejati. Bergabung di Agenda 18 Angkatan 6 dengan modal nekat, berniat mengembangkan diri, mempertajam kemampuan menulis, dan betapa beruntungnya bahwa ia bertemu orang-orang hebat di Agenda 18. Kadang-kadang suka mengamati meme dan netizen.

Add Comment

Click here to post a comment