Felicia Kegiatan Liputan

Lebih Dalam, Lebih Paham

Peserta Kelas Mengenal yang Lain bersama Mukti Ali.
Peserta Kelas Mengenal yang Lain bersama Mukti Ali.

Gedung Karya Pastoral 1 Katedral Jakarta Lantai 3 tepat di samping ruang Komunikasi Sosial (Komsos), ada kue-kue yang telah terjejer rapi. Bukan acara kondangan atau acara ramah-tamah, melainkan pertemuan kedua Kelas Mengenal yang Lain. Di hari Sabtu, 11 Agustus 2018, topik yang diangkat di kelas adalah keterlibatan agama dengan terorisme. Narasumber yang dihadirkan pada pertemuan ini adalah Mukti Ali Qusyhairi, atau akrab disapa Pak Ali, adalah Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jakarta.

Untuk membuka sesi, Pak Ali menjelaskan apa itu Muslim Posesif, istilah yang halus untuk menyebut kaum muslim garis keras. Posesif erat hubungannya dengan kepemilikan, maka mereka akan merasa aneh atau bahkan tidak suka jika melihat ada kelompok lain. Di tengah-tengah pembahasan, Pak Ali juga sempat menyebut kata cemburu sebagai perumpamaan rasa posesif. Pemahaman mengenai syariat Islam dimaknai secara harafiah tanpa mengindahkan proses pemahaman melalui ilmu mantik, perangkat-perangkat ilmu logika, garis mayor garis minor, ilmu linguistik, dan ilmu sastra. Para muslim posesif cenderung memahami secara tekstual dan akhirnya membangun ideologi sendiri. Ideologi-ideologi radikal ini menyelinap masuk ke kampus-kampus umum dan menyerang para kaum muda yang pemahaman agamanya masih minim.

Landasan teologis kaum muslim posesif ini berasal dari pandangan mereka sendiri yang melenceng dari paham kaum muslim pada umumnya atau dapat dikatakan bahwa mereka membuat tafsiran mereka sendiri. Salah satu yang menjadi bahan pembicaraan adalah jihad atau perjuangan fisik. Sebelum jihad, Pak Ali menyebutkan istilah I’dad yang berarti persiapan jihad. Mereka memberi arti pada kata ‘perang’ sebagaimana perang semestinya, yaitu dengan angkat senjata. Jihad terbesar sesungguhnya bukan tentang memerangi musuh, tetapi bagaimana tiap individu mampu memerangi hawa nafsunya. Pak Ali juga menambahkan dengan menjaga gereja dari ancaman teroris atau menjaga umat agama lain dari ancaman kekerasan adalah salah satu bentuk jihad.

Jihad jika diartikan secara sempit maka erat hubungannya dengan terorisme. Ada perbedaan pola terorisme di masa Amrozi dan di masa sekarang yang didominasi oleh ISIS. Amrozi berasal dari kelompok Al-qaidah. Kelompok ini masih terstruktur dan memiliki musuh-musuh yang terbatas yaitu orang barat. Berbeda dengan ISIS, kelompok yang menyerang segala pihak yang dianggap berbeda. Self-radicalism atau meradikalkan diri sendiri menjadi salah satu faktor seseorang untuk menjadi teroris. Ia merasa terpanggil untuk menyelamatkan Islam karena melihat kondisi saudara-saudara muslim di Palestina, bahkan dengan melihat konten seperti cara merakit bom di YouTube, ia bisa menjadi radikal dengan proses tertentu.

Dalam beberapa aksi terorisme di Indonesia, perempuan dan anak-anak turut dilibatkan di dalamnya. Pak Ali menjelaskan bahwa ada keterikatan yang kuat antara perempuan dengan ideologi yang dianutnya. Perempuan menjadi ‘produsen’ anak karena dengan memperbanyak anak maka akan memperbanyak anggota. Bagi perempuan, tingkatan jihad yang mereka lakukan bervariasi. Mulai dari ikut demo hingga ikut angkat senjata atau membawa bom. Semua mereka lakukan tergantung kemampuan yang mereka miliki.

Topik di minggu kedua rasanya tidak ada habisnya untuk dibahas. Pertanyaan-pertanyaan mulai dilontarkan peserta kepada Pak Ali. Ada rasa keingintahuan dan rasa peka untuk memahami fenomena yang terjadi di negeri ini. Sampai bertemu di pertemuan berikutnya!

About the author

Felicia

Seorang mahasiswi Sastra Belanda yang masih mencari jati diri di belantara kehidupan. Seorang pembelajar dan introvert sejati. Bergabung di Agenda 18 Angkatan 6 dengan modal nekat, berniat mengembangkan diri, mempertajam kemampuan menulis, dan betapa beruntungnya bahwa ia bertemu orang-orang hebat di Agenda 18. Kadang-kadang suka mengamati meme dan netizen.

Add Comment

Click here to post a comment