Felicia Kegiatan Liputan

Mengenal Gerakan Islam Indonesia dan Peta Perdamaian

Dokumen Agenda 18
Dokumen Agenda 18

Setelah tiga kali pertemuan di Gedung Karya Pastoral Katedral Jakarta, Kelas Mengenal yang Lain tiba di pertemuan keempat alias pertemuan terakhir. Sabtu siang, 25 Agustus 2018, pertemuan ditutup dengan mengundang 3 narasumber dengan tiga topik yang berbeda.

Sesi pertama diisi oleh M. Abdullah Darraz atau akrab disapa Abdul, beliau adalah Direktur Maarif Institute. Abdul dalam sesinya membawa materi yang cukup menarik, yaitu peta gerakan Islam di Indonesia. Abdul membagi Islam di Indonesia menjadi dua haluan, yaitu tradisional dan modern. Di samping dua haluan itu, ada Islam dengan kearifan lokal seperti di Lombok dan Sumatra Barat.

Saat ini Indonesia menghadapi tantangan baru yaitu munculnya Islam Transnasional. Menurut Abdul, Islam Transnasional dapat dikatakan sebagai arus baru dan menjadi kontestasi di Indonesia. Haluan ini membawa gagasan yang sudah melekat dengan budaya Saudi dan berkeinginan untuk menyebarkannya di negeri yang lain, sebut saja ada Hizbut Tahrir, Salafi, dan lain-lain. Sebelum membahas Islam Transnasional lebih lanjut, Abdul menjelaskan terlebih dahulu haluan modern dan tradisional.

Kelompok Islam modernis-reformis, menurut Abdul di awal penjelasan, merupakan Islam yang dibungkus dengan kemajuan namun saat ini ada kecenderungan bahwa kelompok ini kehilangan ciri modern dan inovatifnya sehingga menjadi konservatif. Kelompok Islam modern yang terbesar adalah Muhammadiyah. Muhammadiyah, seperti yang sudah disebutkan, merupakan organisasi Islam modern terbesar di Indonesia yang melakukan reformasi terhadap praktik keagamaan yang selama ini dianggap tidak murni. Muhammadiyah lahir di tengah-tengah masa penjajahan, kondisi sosial saat itu marak dengan kepercayaan terhadap hal-hal supranatural. Hal-hal supranatural turut melanggengkan penjajahan yang terjadi. Muhammadiyah ingin melakukan gerakan revolusioner, hal ini dapat dilihat dari praktik-praktik agama yang jauh dari takhayul (ziarah ke kuburan, pergi ke dukun, dan sebagainya), membina umat dengan pengajian, mengadakan pendidikan Islam modern, mendirikan PKU atau penolong kesejahteraan umum dan pelayanan sosial, mendirikan Taman Pustaka, dan yang terakhir, mendirikan Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Islam pertama. Kelompok berikutnya yang dibahas adalah kelompok Islam tradisional yaitu Nahdlatul Ulama atau sering dikenal sebagai NU. Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar kekayaan tradisi para kyai, tujuannya adalah menangkal ancaman gerakan kaum modern yang mengkritik gerakan Islam nasional. Selain dua kelompok ini, ada kelompok lainnya yang menjadi tantangan global yaitu gerakan transnasionalisme. Sebut saja Ikhwan Al-muslimin, Salafi Wahabi, dan Hizbut Tahrir.

Setelah berjalan cukup panjang menjelajah peta gerakan Islam di Indonesia, topik di sesi kedua adalah hukum jilbab dan cadar di agama Islam. Sesi kedua akan diisi oleh Nurun Nisa, beliau adalah mahasiswi Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebagai pembuka, Nisa menjelaskan apa itu aurat dan batasan-batasannya. Sebuah kata yang tidak asing bagi kita, aurat adalah anggota badan yang wajib ditutup dengan pakaian dan sejenisnya, berlaku untuk perempuan dan laki-laki, dan memiliki batasan tertentu. Aurat berkaitan dengan penggunaan kerudung untuk perempuan. Dalam tradisi agama lain, kerudung menjadi salah satu busana wajib bagi orang Yahudi, Kristen Ortodoks, dan biarawati di Gereja Katolik.

Pembahasan berikutnya adalah busana Muslim di Indonesia khususnya jilbab. Menurut Nisa, jilbab untuk perempuan mengalami tren yang berbeda-beda. Ditinjau dari aspek sosial budaya, pada awalnya jilbab dipakai secara khusus oleh kelompok santri dan saat ini jilbab sudah mengalami transformasi menjadi hal yang umum dan popular di kalangan umat Muslim. Jilbab ada sangkut-pautnya dengan kesalehan, kesopanan, identitas, dan di masa kini, jilbab menjadi fashion. Di beberapa negara, ada aturan yang mewajibkan warga negaranya yang berjenis kelamin perempuan untuk memakai jilbab. Jilbab seharusnya bukan sebagai bentuk opresi atau paksaan atau bukan untuk mencegah pengaruh buruk, melainkan kewajiban untuk Allah. Di samping jilbab, kita tidak asing dengan penggunaan cadar.

Ada dua argumen mengapa wanita menggunakan cadar dan mengapa wanita tidak harus bercadar. Cadar di Indonesia bersifat makruh, tidak dianjurkan, dan dianggap terlalu berlebihan, begitu menurut Nisa. Selain itu, ada pemahaman yang kurang jelas terkait Islam dan Arab, salah satunya adalah penggunaan cadar dianggap sebagai bagian dari Islam. Penggunaan cadar di Arab berkaitan dengan alasan keamanan dan penggunaan cadar di Mesir bertujuan untuk melindungi wajah dari debu.

Sudah pukul tiga setelah jeda, maka sudah waktunya untuk masuk ke sesi terakhir bersama Alamsyah M. Dja’far, atau akrab dipanggil Alam. Beliau adalah peneliti di Wahid Foundation dan akan mengajak peserta menjelajah peta jalan menuju Indonesia damai. Perjalanan dibuka dengan membahas kasus Meiliana. Alam menegaskan bahwa titik masalahnya bukan tentang pengeras suara, melainkan adanya perasaan terancam sehingga menyalahkan umat agama lain. Tingginya intoleransi tidak terjadi karena adanya perbedaan, melainkan oleh penggunaan kebencian terhadap agama tertentu untuk kepentingan politik.

Ada tiga faktor yang menyebabkan tindakan intoleran, yaitu perasaan kebencian yang dipelintir, perasaan takut dan terancam, serta keberagaman. Bertambahnya tindakan intoleran disebabkan oleh dua hal, yaitu adanya dukungan terhadap pandangan konservatisme terhadap isu-isu non-jinayah (Jinayah adalah bagian dari hukum Islam) dan adanya perasaan tidak aman atau merasa terancam, seperti budaya barat atau musuh Islam yang sedang melancarkan perang. Di sela-sela pembahasan, Alam menegaskan bahwa pekerjaan terbesar bangsa Indonesia saat ini adalah mengurangi dampak intoleransi yang resiprokal. Untuk menutup sesi, Alam memaparkan dua pendekatan untuk mengatasi intoleransi, yaitu pendekatan struktural: bagaimana cara negara menanggulanginya; memastikan bahwa pejabat negara tidak melakukan tindakan diskriminatif, dan pendekatan kultural melalui pendidikan, hukum, akses informasi, kesadaran individu, dan solusi lokal.

Sesi ditutup dengan tanya jawab kepada tiga narasumber. Kurang lebih ada 4 pertanyaan yang diajukan ke narasumber dan semua dijawab dengan jelas.

Tak terasa empat pertemuan sudah dijalani, semoga Kelas Mengenal yang Lain mampu menjadi bekal yang baik untuk menghadapi isu-isu keagamaan yang tengah beredar. Sampai jumpa dan terima kasih!

 

About the author

Felicia

Seorang mahasiswi Sastra Belanda yang masih mencari jati diri di belantara kehidupan. Seorang pembelajar dan introvert sejati. Bergabung di Agenda 18 Angkatan 6 dengan modal nekat, berniat mengembangkan diri, mempertajam kemampuan menulis, dan betapa beruntungnya bahwa ia bertemu orang-orang hebat di Agenda 18. Kadang-kadang suka mengamati meme dan netizen.

Add Comment

Click here to post a comment