Felicia Kegiatan Liputan

Menyoal Poligami, Relasi Islam dan Agama Lain, Sampai Khilafah

Pertemuan 3

Pertemuan ketiga pada Sabtu, 18 Agustus 2018, ada tiga narasumber dengan tiga topik yang berbeda dalam Kelas Mengenal yang Lain. Sesi pertama diisi oleh Bapak Muhammad Monib atau akrab disapa Monib, adalah pengasuh Pesantren Fatihatul Quran di Bogor. Monib membuka sesi dengan membahas sosok idola umat Muslim Indonesia masa kini. Idola menjadi panutan dalam bertindak sehingga dikhawatirkan jika umat Muslim zaman now mengidolakan idola yang tidak seharusnya diidolakan, akan ada kecenderungan ideologi yang radikal.

Mengulang pernyatan Ahmad Nurcholis pada pertemuan pertama, Islam adalah ajaran yang mengutamakan kedamaian dan jauh dari kekerasan, maka dari itu, pandangan Islam terhadap perbedaan dan kebhinekaan harus ditinjau ulang dan tidak disalahartikan. Menurut Monib, sunnah jangan hanya dikembangkan dalam satu sudut pandang saja dan jangan melupakan sunnah nabi yang lain. Relasi Agama Islam dengan agama lain di Indonesia menjadi sorot utama dalam pembahasan bersama Monib. Dia menyebut, tingkat ketegangan umat Muslim begitu tinggi karena ada beberapa ayat yang digunakan untuk mendzolimi bahkan sampai ke tahap menggeneralisir bahwa orang Yahudi adalah kaum anti Islam. Tingkat ekstrimisme yang begitu tinggi menjadi perusak toleransi dan perdamaian. Ideologi sebagai akar, ekonomi dan politik sebagai faktornya, ungkap Monib.

Dia menjabarkan, ada 7 alasan mengapa ekstrimisme berkembang, yaitu tidak ada penggunaan nalar, rendah wawasan dan ilmu, politisasi dan instrumentalisasi agama, ortodoksi, organisasi masyarakat radikal, tafsir atas ayat, dan ketidakadilan politik internasional. Monib menyampaikan keprihatinan atas kondisi saat ini

Melanjutkan perbincangan soal relasi Islam dengan agama lain, sesi kedua dibawakan oleh Muhammad Subhi Azhari tentang konsep negara khilafah. Pak Subhi, begitu panggilan akrabnya, mantan peneliti di Komnas HAM yang sekarang fokus Program Officer di Wahid Institute. Untuk membuka sesi, Subhi melemparkan joke kecil ke para peserta. Dia mengungkapkan, bahwa jika umat Muslim masuk ke rumah ibadah agama lain akan mengurangi iman mereka. Pokok pembahasan dari sesi kedua adalah konsep Khilafah dalam Islam.

Khilafah, menurut penganutnya, berarti mendirikan sistem kenegaraan sejak nabi Muhammad meninggal. Ide Khilafah dianut untuk pertama kali oleh Ikhwanul Muslimin yang berdiri di Mesir pada 1928. Dalam Al-quran, ayat-ayat yang mengatur tentang hukum sangat sedikit. Subhi juga menyebutkan bahwa di dalam hadis nabi atau Al-quran, tidak ada penjelasan yang jelas mengenai sistem pemerintahan dalam Islam. Islam mewajibkan untuk mengangkat pemimpin, bukan untuk menetapkan sistem pemerintahan (dirangkum dari Nahdlatul Ulama). Islam adalah agama yang komprehensif, ia meletakkan masalah negara tidak dalam konsep yang utuh namun ke dalam prinsip, seperti prinsip keadilan, kesetaraan, dan lain-lain1. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah perjanjian luhur para pendiri bangsa, ia bersifat majemuk dalam suku, budaya, dan agama2.

Menjelang akhir sesi, Subhi mengambil 3 kesimpulan, yaitu bahwa ide Khilafah tidak cocok untuk Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah sesuai dengan ajaran Islam, dan dalam mengisi negara ini perlu sikap menghormati satu sama lain.

Sesi ketiga atau sesi terakhir diisi oleh Ibu Ala’i Najib, salah satu pengajar di Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah dengan bidang studi gender. Ala’I memberikan pemahaman tentang seperti apa Hukum Islam tentang Poligami. Ala’i memulai sesi dengan memutarkan sebuah lagu yang diambil dari hadis nabi yang dinyanyikan oleh penyanyi Tunisia. Dengan lagu ini, Bu Ala’i ingin menggiring peserta ke pokok bahasan utama yaitu konsep poligami dalam Islam.

Hal yang pertama dibahas dalam sesi adalah tentang sejarah orang Arab yaitu masa ketika mereka belum mempunyai aturan. Satu laki-laki bisa memiliki ratusan istri, derajat perempuan masih rendah, dan berbagai polemik lain di negara patriarki. Pembatasan-pembatasan mulai dibuat dan diadopsi oleh Islam. Maka, ditetapkan bahwa satu laki-laki hanya boleh memiliki paling banyak 4 istri.

Dia menegaskan, seperti juga di agama lain, termasuk Katolik, pernikahan dalam Islam digambarkan sebagai ikatan yang kuat antara laki-laki dengan perempuan. Dalam Al-quran disebutkan bahwa Allah menciptakan pasangan untuk setiap manusia agar manusia di bumi tidak habis dah hendaknya mereka saling menyayangi. Kala itu, perempuan tidak mendapat warisan justru ia diwariskan. Poligami sendiri berkaitan dengan perlindungan anak yatim. Poligami tidak dibenarkan jika untuk menuruti nafsu semata atau bahkan menyakiti pasangannya. Ala’i dengan tegas mengatakan bahwa poligami erat hubungannya dengan perlindungan anak dan keluarga.

Setelah menyelam lebih dalam dengan tiga materi yang berbeda, sesi tanya jawab dibuka. Ada banyak pertanyaan dari para peserta. Terselip rasa keingintahuan yang besar, rasa peduli, dan peka terhadap pokok bahasan. Pukul 17.15, sesi tanya jawab ditutup dan tentu tidak lupa untuk foto bersama. Tiga pemateri hari itu sungguh menambah cakrawala pemahaman kita tentang sejarah Islam sesungguhnya.

Penulis: Felicia
Agenda 18, Angkatan 6

About the author

Felicia

Seorang mahasiswi Sastra Belanda yang masih mencari jati diri di belantara kehidupan. Seorang pembelajar dan introvert sejati. Bergabung di Agenda 18 Angkatan 6 dengan modal nekat, berniat mengembangkan diri, mempertajam kemampuan menulis, dan betapa beruntungnya bahwa ia bertemu orang-orang hebat di Agenda 18. Kadang-kadang suka mengamati meme dan netizen.

Add Comment

Click here to post a comment