Fiksi Gloria Fransisca

Nasib Si Kopi Sidikalang

sumber: https://i.ytimg.com/vi/-cSx2_UsKr0/maxresdefault.jpg
sumber: https://i.ytimg.com/vi/-cSx2_UsKr0/maxresdefault.jpg

“Siska, kamu ditugaskan ke Danau Toba untuk meliput tentang keramba jaring apung bersama Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman. Segera hubungi pengundang untuk pemesanan tiket. Thanks.”

Aku hanya bisa melotot membaca email dari redakturku, aku terkesima, senang luar biasa. Aku balas emailnya, “Siap Kang!”

Aku akan berangkat lagi keluar Jakarta untuk meliput di tanah Sumatera, asyiknya lagi di Danau Toba, Sumatera Utara! Kesempatan ini seperti mimpi bagiku, tetapi semoga Tuhan merestui perjalananku kali ini. Amin! Semoga perjalanan ini juga bisa mengobati sedikit patah hati karena ditinggal gebetan minggu lalu. Maklum, susah move on bisa jadi disebabkan karena kurang piknik, toh?

Perjalanan selalu membawakan pesan tersendiri bagiku. Perjalanan melalui kereta, pesawat, kapal laut, ataupun bus kota selalu membawaku berrefleksi atas lika-liku kehidupan. Perjalanan memberi ruang. Kesendirian. Untukku menyusun langkah setibanya aku di tujuan atau ketika aku kembali ke rumah. Aku harap, perjalananku kali ini akan membawa jalan keluar. Aku pernah move on dari Ardi, lelaki yang sudah pergi ke Magelang. Aku ingat. Kejadian yang sama. Dulu. Perjalanan tur ke lima kota sukses membuatku move on dari seorang lelaki yang tanah kelahirannya akan segera aku datangi, Pematangsiantar.

***

Aku sudah berkemas pakaian, sarapan roti tawar selai cokelat dengan kopi hitam manis racikan ibuku.

“Nanti oleh-oleh dari Medan jangan lupa loh Kak,” kata Ibuku, belum berangkat sudah minta oleh-oleh. “Yang enak dari Medan itu apa ya? Pokoknya Ibu mau dibelikan Bika Ambon asli Medan itu ya,” lanjutnya.

“Iya Bu. Nanti aku belikan Bika Ambon, sama Meranti ya. Kue Bolu Meranti itu khas Medan, enak juga kok,” sambungku.

“Oh ya boleh. Jangan bawa kopi lagi ya,” tegasnya.

Tumben, ibu tak minta kopi. Dia itu minum kopi seperti minum obat, tiga kali sehari. Baru setelahnya bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kopinya pun harus kopi hitam panas dengan gula. Manisnya harus pas!

“Loh kenapa? Kan aku memang kalau setiap liputan keluar, niatnya bawa pulang kopi dari setiap daerah Bu?”

“Iya, tapi di rumah ini Kopi sudah kebanyakan Kak. Kamu ini sering keluar kota, pergi liputan ke sana-ke sini, pulang bawa kopi. Itu kopi dari Bajawa saja belum dibuka. Bulan lalu, kamu bawa pulang kopi jahe dari Banyuwangi. Aduh keras banget itu bau jahe-nya, pedas gitu. Cocoknya buat orang masuk angin,” gerutu Ibu.

Aku hanya bisa tertawa mendengarnya sambal mengaduk-aduk lalu meneguk kopiku sendiri. Ibu ini lupa, aku membeli kopi juga bukan hanya memuaskan hasratku, tetapi juga hasratnya.

“Iya Bu, tetapi kan enak-enak yang aku bawa. Yang kopi jahe dari Banyuwangi itu idola loh, aku beli langsung dari desa pengelola kopi.”

“Ya apa pun deh. Tetapi Ibu sih suka cuma kopi Flores, ya macam kopi Bajawa itu bolehlah, sama kopi Toraja dan Kopi Bali. Yang lain-lain kamu beli, Ibu gak suka. Biasa aja, kalau gak, ya ga enak,” ketusnya Ibuku kalau soal kopi.

“Yaudah Bu, nanti aku gak beli kopi lagi deh. Suer! Hahahaha”

***

Hawa di Kota Medan ini nikmat, syahdu, asri. Pepohonan yang sangat asri, begitu berbeda dari suasana di Jakarta. Dalam cahaya yang temaram menuju gelap, aku lihat hutan pinus ataupun sawit memenuhi kiri-kanan jalan yang aku lalui dari Bandara Kualanamu menuju Pematangsiantar. Maklumlah, hutan-hutan itu bukan sembarang hutan apalagi hutan liar. Itu adalah hutan yang dikelola oleh badan usaha milik negara, PT Perhutani.

Aku melalui perjalanan nyaris tiga jam menuju hotel. Setibanya di hotel pun sudah terlampau larut, aku pun segera berbenah diri beristirahat karena perjalanan menuju Danau Toba esok hari pasti akan sangat menyenangkan.

***

Teman-teman jurnalis lain ternyata belum bangun. Aku sudah bangun duluan untuk sarapan pada jam enam pagi. Sebenarnya niatku bangun sepagi itu untuk menikmati bau pagi di Pematangsiantar yang asri. Suasana di kota kecil ini begitu hangat, entah mengapa aku seperti memiliki ikatan dengan daerah ini.

Sekitar jam setengah delapan pagi rombongan jurnalis bersama Kemenko Maritim berangkat dari Hotel Horison Pematangsiantar menuju Danau Toba. Aih, anginnya sepoi-sepoi menyibakkan rambutku. Sesekali aku terpejam menikmati suasana perjalanan.

Kiri-kanan sepanjang jalan menuju Danau Toba aku melihat pegunungan, hutan pinus, dan rumah-rumah adat. Aku juga melihat banyak kuburan adat orang Medan yang mirip seperti kuburan orang Cina. Bentuk kuburannya besar, berbentuk rumah adat. Uniknya lagi, setiap 300 meter berjalan ada gereja protestan. Anjing-anjing berkeliaran dengan bebas. Aku mulai paham mengapa aku begitu akrab dengan suasana ini, karena suasananya mirip dengan kampung halamanku di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Rumah kakek dan nenekku di Flores juga berbentuk rumah adat, di depan rumah kami ada kuburan leluhur. Di setiap rumah penganut agama Katolik punya Gua Maria, sebagai tempat penghormatan terhadap Ibu Kristus. Anjing dan babi bebas berkeliaran di hamparan sawah dan jalanan.

Di Flores juga banyak rumah makan yang menyajikan menu masakan menantang dan haram. Tahu kan? Makanan babi atau anjing. Di Pematangsiantar juga sama, papan di depan rumah-rumah penduduk punya tulisan besar-besar ‘LAPO: SEDIA B1 DAN B2.’ Bayangkan, rumah makan seperti Lapo ini di Jakarta tak terlalu banyak, di Pematangsiantar rumah makan ini seperti jamur. Ada di mana-mana.

Perjalanan kami tempuh dalam waktu dua jam. Suhu udara menuju Danau Toba juga semakin dingin, membuatku jatuh terlelap lagi di mobil. Hingga akhirnya sahabatku sesama jurnalis bernama Iqbal membangunkanku.

“Sis! Bangun! Itu Danau Toba sudah kelihatan! Katanya lo mau lihat, itu tuh Sis!”

Aku pun mengucek-ngucek mata yang masih mengantuk. Seketika melihat danau yang begitu luas dan megah seperti hamparan samudera, gantian mataku pun terbelalak. Dari balik kaca mobil aku melihat betapa luasnya Danau Toba. Aku benar-benar tersihir dengan karya Tuhan yang super indah. Ternyata benar kata orang, begitu sampai ke Danau Toba, pasti perasaan seseorang akan ditenangkan sendirinya oleh Tuhan melihat keindahan dan kemegahan alam yang luar biasa.

Wah, awalnya aku pikir hanya Danau Kelimutu di Flores saja yang memiliki daya mistik membuat merinding. Aku salah. Aku sudah dibuat merinding oleh Danau Toba.

Aku masuk ke Danau Toba melalui Kabupaten Simalungun. Maklum, Danau Toba itu melalui tujuh kabupaten. Biasanya, para wisatawan akan masuk ke kawasan Danau Toba dari Parapat, bukan Simalungun. Aku tetap tidak kecewa, karena toh ini bukan jalan-jalan. Sebenarnya, ini adalah liputan ke lokasi perusahaan yang membudidayakan keramba jaring apung di Danau Toba.

Sesampainya di kantor, para jurnalis diperkenalkan dengan perusahaan yang membuat keramba jaring apung. Mereka mempresentasikan proses budidaya ikan nila di Danau Toba yang hasil produksinya mereka ekspor ke Amerika.

Nah, siapa konsumen dari produksi ikan Danau Toba itu? Mc Donald! Tahu, menu Fish and Fries yang mana adalah menu makanan favoritku, ternyata ikannya dari Danau Toba! Ya ampun, ternyata aku ini makan ikan yang diproduksi dalam negeri, dibuat fillet, di ekspor, balik lagi ke Indonesia diolah menjadi makanan matang yang justru dijual oleh pengusaha asing, bukan pengusaha lokal.

Untuk meninjau langsung ke lokasi keramba yang berada di tengah danau, kami menaiki motor boat. Aku pun menyempatkan diri mengambil beberapa gambar dengan handphone-ku hamparan luas Danau Toba.

Aku pun mencelupkan tanganku ke air danau yang begitu bening, terasa dingin dan menyejukkan. Kata warga setempat, warna asli Danau Toba lebih jernih dari sekarang. Warna yang saya anggap lumayan bening, menurut mereka sudah butek. Konon banyak pencemaran yang diakibatkan dari pabrik-pabrik sekitar yang membuang limbahnya ke Danau Toba.

Puas bermain di Danau Toba dan meninjau pabrik ikan, rombongan jurnalis ini siap kembali ke hotel. Pemilik perusahaan lalu membagi-bagikan cenderamata kepada kami. Ketika aku menerima kantong cenderamata, aku melihat dua bungkus kopi Arabica.

“Loh? Bu? Ini beneran dikasih kopi? Sidikalang?” Aku terkesiap.

“Iya, kami khawatir kalau jadwal terlalu padat kalian gak bisa beli oleh-oleh.”

Aku mengucapkan terima kasih kepada tim dan menerima kopi itu dengan sukacita. Dua bungkus Kopi Sidikalang Arabica dengan wangi kental. Aku tak menyangka akan mendapatkan kopi padahal aku tak berencana membeli kopi. Bahkan Ibuku sudah mewanti-wanti untuk tidak membeli kopi. Duh, bagaimana ya? Hahahaha, namanya rezeki tidak baik ditolak. Ya kan?

Tetapi kalau nanti Ibu ngedumel, kok beli kopi lagi? blablabla.. aku jawab apa? Yasudahlah, nanti saja dipikirkan namanya rezeki. Hari kedua sudah berlalu. Besok saatnya kembali di Jakarta, dan memikirkan oleh-oleh wajib yang diminta Ibu.

***

Ketika berkemas-kemas, aku kebingungan karena tidak sempat membelikan Bika Ambon ataupun Meranti buat Ibuku. Penerbangan kami dijadwalkan jam 12 siang, sementara perjalanan dari Pematangsiantar ke Bandara Kualanamu saja menempuh waktu tiga jam. Aku pikir, lebih aku beli saja kue-kue itu di Bandara dengan resiko harga dikenakan pasti lebih mahal.

Sepanjang perjalanan kembali dari Pematangsiantar menuju Kualanamu aku banyak merenung, melihat pemandangan hijau yang akan sangat jarang aku lihat di Ibukota. Aku tidak bisa tertidur seperti teman-teman yang lain. Aku mencoba menangkap lekat-lekat pemandangan itu. Aku memikirkan apa yang harus aku lakukan sekembalinya di Jakarta selain tentunya menulis berita. Tetapi, mengapa perasaanku seperti ada yang hilang? Kok aku mau menangis meninggalkan kota ini? Kampung ini bukan kampungku.

Aku putar lagu Charlie Puth dan Selena Gomez, “We Don’t Talk Anymore”. Aduh, baper deh. Aku mulai ingat apa yang mengganjal batinku. Sebenarnya, aku tahu sejak awal aku menginjakkan kaki di kota ini, aku akan menjelajahi kampung halaman mantan gebetanku zaman SMP.

Pria yang aku sukai selama delapan tahun, namanya Edo. Sejak awal aku sebenarnya berusaha mengabaikan kenyataan, bahwa aku sedang dibawa Tuhan ke kampung halaman Edo. Ah, Edo memang hanya cinta monyetku. Cinta yang sukses membuatku mampu membahasakan dalam sebuah surat kepadanya tentang apa itu ketertarikan antara lelaki dan perempuan. Tentang ketertarikanku kepadanya sekalipun dia sering usil kepadaku.

Entah bagaimana Edo sekarang. Kisah cinta monyetku tak berjalan mulus semulus jalanan di Pematangsiantar ini. Saat SMP dulu, aku dan Edo sering bertengkar, kami bersaing soal pencapaian prestasi. Maklum, dia langganan juara kelas, sementara aku siswi teladan. Jadi sekalipun aku tak secerdas Edo, tetapi attitude-ku jauh lebih baik dibandingkan dia.

Aku mengirimnya sebuah surat sebagai bentuk pengakuan atas perasaanku. Surat itu aku berikan lewat sahabatku, Agustina. Edo tak membalasnya, namun sejak menerima suratku, dia menjauhiku dan anehnya, dia sering memandangku dari kejauhan. Satu hal yang kuingat saat kami perpisahan SMP, dia mengatakan bahwa dia mau fokus belajar di SMA, kuliah  S1, sampai S2. Dia mau fokus pada karya dibandingkan percintaan. Aku harus menunggu saatnya. Tetapi buatku, itu artinya penolakan. Aku pun berusaha tak menggubrisnya sejak aku SMA hingga kuliah. Sampai seminggu lalu, tiba-tiba dia muncul ketika aku sedang di gereja. Agaknya dia terkejut karena melihatku. Kami pun saling sapa. Meski ada kikuk, usai misa. Dia meminta nomorku. Kejadian yang terlalu cepat, sebelum akhirnya dia katakan akan pergi lagi ke Jerman melanjutkan kuliah S2.

Perjalananku mengenang Edo membuatku terasa lebih kilat sampai di bandara. Aku memasuki Bandara Kualanmu untuk check-in, dan setelah semua proses pemeriksaan selesai, aku segera mencari kios yang menjual Bika Ambon dan Meranti untuk ibuku. Untunglah di Bandara ada toko yang menjual Meranti, namun tidak ada yang menjual Bika Ambon. Kata si penjaga kios, kalau mau membeli Bika Ambon aku harus ke kota Medan, karena kue itu hanya dijual di pusat kota Medan. Yah, semoga Ibu tidak kecewa dengan oleh-oleh Meranti dan Kopi Arabica ini.

Di dalam pesawat, aku memutuskan untuk tidur, tetapi tidak bisa. Sesekali aku mencoba berdiskusi dengan Hans, salah satu rekanku sesama jurnalis. Namun saat Hans kembali sibuk dengan film yang ditontonnya, aku juga terpaksa ikut membuka film dan memasang headset. Aku teringat Edo, pria yang sudah aku lupakan. Aku pun tersenyum mengingat kebetulan ini, setelah bertahun-tahun, aku dibawa ke Pematangsiantar mengenal tanah leluhur Edo.

Saat ini Edo sudah tak mendapat ruang dalam hatiku, sudah digantikan oleh lelaki bernama Ardi yang memutuskan kembali ke Magelang menjadi guru. Seperti halnya Edo, aku juga mengirimnya sebuah surat sebelum kami berpisah. Baik dengan Edo, ataupun Ardi, statusku dengan mereka hanyalah teman, bukan mantan pacar.

***

“Loh kamu bawa kopi lagi?” Ibu kaget melihatku mengeluarkan sekotak kue Meranti dan dua bungkus kopi Arabica sepulang dari Danau Toba. Aku akhirnya mendarat di Jakarta jam 4 sore dan langsung kembali ke rumah.

“Iya Bu. Ini Kopi Sidikalang Arabica. Hehehe.”

“Aduh, kan Ibu sudah bilang jangan bawa kopi lagi. Ibu bingung bagaimana menghabiskannya loh!”

“Iya ini aku tidak beli kok. Aku dikasih sama perusahaan yang diliput. Mereka kasih hadiah kopi Bu.”

“Iya terus gimana dong? Kamu aja yang habiskan ya, Ibu tidak mau minum Kopi Sidikalang,” katanya tegas. Aku kaget dengan respon Ibu.

“Loh kok segitunya toh? Ya anggap aja kita koleksi kopi,” ujarku.

“Bukan, Ibu tuh sudah lebih pengalaman kalau soal kopi. Nih kamu hirup sendiri baunya, kopi Sidikalang itu keras loh. Kayak arak, keras banget. Ibu nggak suka kopi yang terlalu keras. Kalau kamu mau coba silahkan, habisin sendiri ya, jangan ajak-ajak Ibu,” tuturnya.

Aku kebingungan dengan sikap Ibu yang agak ganas. Aku saja pulang ke Jakarta dengan oleh-oleh seadanya karena keterbatasan waktu untuk bereksplorasi belanja sana-sini Ibu malah responnya begitu. Padahal, aku sebenarnya ingin mencicipi sebentar Kopi Sidikalang itu. Bagaimana ya?

“Yah, terus bagaimana dong Bu? Aku aja ini bingung loh mau kasih oleh apa ke kantorku. Cuma sedikit begini oleh-olehnya, aku tidak ada waktu belanja.”

“Naaahh, di rumah kita kopi-kopi masih sangat banyak,” kata Ibu sambal mengeluarkan dari rak dapur satu bungkus kopi Bajawa, satu toples Kopi Jahe dari Banyuwangi, dan Kopi Toraja yang aku beli saat ke Makassar.

“Ini Meranti buat di rumah saja. Kamu kasih oleh-oleh buat kantor kopi saja. Bagaimana?”

Ide ibu ada benarnya, apalagi Kopi Sidikalang ini ada dua bungkus. Satu bisa buat orang kantor. Satu buat di rumah.

“Ya sudah, satu buat kantor. Satu di rumah. Bagaimana? Ah, tapi Bu, ini bungkusnya juga cuma kecil. Orang-orang di kantorku banyak banget, dari mulai redaktur sampai reporter-reporter. Aku takut gak sopan kasih oleh-oleh cuma sebungkus kopi.”

“Ya sudahlah, kamu kasih saja dua-duanya Kopi Sidikalang buat orang kantor.”

Aku tercengang dengan pesan Ibu. Waduh, berarti aku tidak mencoba sama sekali dong Kopi Sidikalang ini? Aduh, tetapi ide Ibu benar, kalau aku cuma kasih satu, beneran kelihatan pelit. Kalau aku kasih meranti, Ibu pasti kecewa, atau bisa-bisa malah ngamuk cuma dapat kopi saja. Dengan berat hati aku pun memutuskan.

“Ya sudah deh Bu. Benar kata Ibu, Kopi Sidikalang ini dua-duanya aku kasih ke kantor saja. Nanti aku cobain di kantor saja bareng teman-teman, itu pun kalau aku sempat ke kantor,” ungkapku sedih.

***

Sekitar jam sepuluh pagi aku sampai di kantor. Tidak ada seorangpun di lantai tujuh alias di ruang redaksi pagi ini kecuali Mbak Erna, sekretaris redaksi. Dia sedang mengandung empat bulan, alhasil wajahnya jadi nampak cantik dan ramah. Mungkin itu cahaya wajah yang biasa dipancarkan ibu-ibu hamil.

“Pagi Mbak Erna, aku mau kasih oleh-oleh nih buat teman-teman redaksi.”

“Apaan tuh? Cie yang abis jalan-jalan ya, dari mana sih?”

“Iya aku abis dari Danau Toba, kemarin ditugaskan sama Kang Asep, hehehe.”

“Oleh-olehnya apaan nih Non?”

“Kopi Mbak, Kopi Sidikalang buat teman-teman redaksi. Ya, kan anak-anak di kantor ini suka banget minum kopi, apalagi redaktur-redaktur. Aku juga dikasih nih dari perusahaan di Danau Toba itu,” ujarku sambil memberikan dua bungkus kopi Sidikalang.

“Aduh, asik banget Kopi Sidikalangnya. Wanginya enak nih, kental banget. Beberapa redaktur asal Medan pasti suka banget nih. Aku simpan di pantri ya, nanti kalau kamu mau bikin, atau yang lain mau bikin bisa langsung seduh sendiri. Terima Kasih loh, Siska,” kata Mbak Erna.

Begitulah akhirnya aku melepaskan Kopi Sidikalang yang tak pernah sempat aku cicipi. Ya, aku memutuskan tidak mencicipinya, aku ikhlaskan kepada rekan-rekan di kantorku saja yang menghabiskannya.

Di dalam lift menuju lantai dasar hendak berangkat liputan aku membatin dan tersenyum, nasib cintaku dan Edo, persis nasibku dengan Kopi Sidikalang itu. Bertemu, tetapi tak sempat menjalin hubungan apa pun. Bertemu, tetapi tak sempat saling mencicipi.

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment