Cerpen Fiksi Gabrielle Marsha

Putri Duyung Terakhir

legenda-putri-duyung

Butir-butir buih melayang di angkasa perairan pada malam itu. Keremangan malam membawa buih itu pergi menjauh. Tubuhku mulai berubah, tanpa ada seorang pun yang menyadarinya.

2

Aku bukan berasal dari sini, tetapi sudah mulai terbiasa tinggal di sini. Aku tidak mau kembali lagi ke tempat itu. Tempat itu sudah hancur sebelum aku meninggalkannya. Selama aku tidak banyak terkena air, aku akan baik-baik saja dan identitasku tidak akan terbongkar. Sejujurnya, aku sangat rindu tempat itu dan aku tahu risiko tinggal di tempat ini, tetapi aku tidak peduli. Tempat itu hanya menyisakan kenangan yang menyakitkan untuk kaumku. Walaupun aku tetap akan pergi ke sana. Aku akan pergi ke tempat itu saat orang lain sedang sibuk dan tidak menyadari kebedaraanku. Terlebih, bila aku sudah sangat rindu.

“La… La… RIELA!”

Suara seseorang menyadarkan lamunanku.

“Kamu dipanggil tuh sama Ibu. Mikirin apa, sih, sampe nggak dengar aku panggil panggil?” Kata seseorang yang di sini kupanggil kakak.

“Enggak, nggak apa-apa. Bentar, aku ke Ibu dulu ya,” jawabku.

“Kalau ada apa-apa bilang, ya,” katanya menatapku lembut.

Aku pun mengangguk. Kamu belum tahu semua tentangku, Kak. Ayah dan Ibu juga hanya kuceritakan sebagian saja. Mereka belum tahu kebenarannya.

***

Saat ini aku menjejakkan kakiku di tempat itu. Sebatas daerah yang kering karena di sini masih bagaikan lautan manusia. Mereka senang menikmati tenggelamnya matahari yang keemasan. Aku pun turut serta menikmati, memang lebih indah menyaksikan dari atas sini daripada melihat biasnya di bawah air. Manusia menghabiskan waktu di tempat ini, kebanyakan untuk menghabiskan waktu liburan dan akhir pekan. Mereka datang bersama dengan keluarga mereka dengan tawa merekah lebar. Aku datang kemari membawa kesedihan dengan rindu segunung di pundakku.

Setelah orang-orang itu pergi, kurang lebih tengah malam aku mulai beranjak dari tempat kering, menuju daerah basah di depanku. Aku pergi ke tempat asalku. Aku terus berenang mengarungi daerah basah yang disebut oleh manusia sebagai laut. Ombak menggulung dan angin kencang dari darat tentu tidak membuatku gentar. Aku terus mencari tempatku bertengger untuk mengalunkan sebuah nada. Alunan nada milik kaumku yang membuat semua gendang telinga menjadi nyaman dan terlena. Dengan keadaanku yang sekarang, aku butuh tempat di mana semua orang sekiranya tak mungkin melihatku. Aku naik ke sebuah batu besar, duduk di sana dan mengalunkan nada yang sudah mulai aku coba lupakan.

Sebenarnya, aku tahu kalau pada malam hari sering ada penangkap teman-temanku yang lewat, tetapi apa peduliku? Mungkin, mereka juga sudah tidak ingat denganku. Aku sudah bertahun-tahun pergi dari tempat itu. Angin kencang dari darat bahkan membuat mereka terdorong untuk ke sini. Mereka mungkin sama tak gentarnya dengan aku menghadang ombak. Setelah alunan itu selesai kunyanyikan, aku mulai turun dari tempatku dan mencari rumahku yang dahulu. Semakin dalam aku melewati jalan pulangku, semuanya telah berubah. Beberapa teman tak lagi menyapaku, entah mereka tak mengenaliku atau merasa asing.

Tiba-tiba ada seorang sahabat lamaku berenang ke arahku. Ia menatapku dengan tatapan kekecewaan yang tak sanggup kulihat. Ia mulai berkata-kata kepadaku dengan air mata, “Mengapa setelah selama ini kau baru kembali lagi? Apa kau sudah tidak peduli pada kami? Sejak kau meninggalkan kami, tempat ini begitu kacau. Semua keluarga dan saudara-saudaramu tidak ada satu pun yang masih hidup. Mereka semua berubah menjadi buih, karena para manusia sudah menemukan tempat tinggal duyung. Rumahmu sudah dihancurkan dan diubah menjadi sebuah tempat aneh yang sering dikunjungi manusia untuk kegiatan yang mereka sebut wisata di bawah laut.”

1

Aku menelan semua perkataan sahabat kecilku itu. Aku tahu manusia memang jahat. Banyak ornamen laut dirusak demi kepuasan wisata manusia. Wisata laut memang memikat dengan keindahannya, aku tahu pasti. Hanya saja, tak bisakah mereka tidak terlalu egois? Aku memang berteman dengan mereka sekarang, tetapi aku tetap menentang hal semacam ini.

Dengan meneteskan air mata pula, aku memeluknya erat. “Aku tidak penah bermaksud begitu, sahabat kecilku. Aku juga tidak ingin meninggalkan tempat ini. Aku hanya tidak ingin mengingat lagi kenangan buruk yang terjadi di tempat ini. Aku tidak bermaksud membuat kalian semua sedih, karena aku tidak kembali kemari. Tetapi percayalah kalian selalu ada di hatiku, kawan.”

Aku tidak kuat menahan semua air mataku yang sudah lama kupendam. Aku telah meninggalkan tempat ini sejak tempat ini mengalami bencana.

***

Pagi itu, aku baru menikmati makan pagi di rumah bersama ayah dan ibuku. Aku masih tertawa sambil bercanda saat tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu rumah. Ia adalah penjaga perbatasan negeriku dengan laut bebas. Ayahku, pemimpin negeri ini, langsung mendapat laporan dari penjaga bahwa ada manusia mulai mendekat ke arah negeri kami. Sudah beberapa hari terakhir ada laporan seperti ini, namun hari itu berbeda. Mereka menebar racun.

Racun itu menyebabkan bencana yang sangat besar dan berdampak kepada eksistensi kaum kami. Racun itu sengaja dikirim untuk menangkap dan menjadikan kami bahan penelitian. Entah mereka membuat racun memakai bahan apa, yang jelas aku melihat saudaraku mulai kaku. Padahal ibuku sudah menceritakan tentang legenda itu, tetapi manusia memang tidak pernah kehabisan akal untuk mengincar kami. Rumah, tempat tinggal kami, juga mereka hancurkan dengan alasan estetika dan kepuasan manusia. Tidak bisakah mereka menghargai apa yang sudah Tuhan berikan pada lautan yang kaya ini? Ibuku menyuruhku untuk segera pergi sejauh-jauhnya dari rumahku agar aku dapat bertahan hidup. Ibu tak ingin melihat kaumnya punah, ia berharap aku dapat menemukan orang untuk menjaga eksistensi kami. Kalaupun tidak, barangkali aku akan menjadi putri duyung terakhir di bumi.

Aku menurutinya dan pergi, aku tidak pernah tahu apa pun yang terjadi setelahnya karena aku sudah naik ke daratan. Sejak itu siripku berubah menjadi kaki dan akan kembali menjadi sirip bila terkena air banyak. Aku mulai tinggal di daratan, di dunia manusia. Orangtua angkatku menemukanku setelah aku terdampar di lautan. Tentu aku tidak memberitahu mereka identitas asliku. Dari tempat inilah, aku banyak mendengar tentang diriku termasuk legenda dan mitos tentangku. Film dan buku tentangku mulai dibuat sebagai pengantar tidur untuk anak-anak. Orang yang tidak percaya akan keberadaanku pun banyak. Ya, apapun kata mereka, yang jelas aku sekarang ada di tengah-tengah mereka, dan berwujud seperti mereka.

***

Setelah berpamitan, aku mulai meninggalkan spesies laut unik, kecil, dan bercorak mencolok, ya, ikan badut itu, sahabatku kecilku. Aku cepat-cepat naik ke daratan sebelum ada seseorang yang melihatku. Aku akhirnya sampai pada batu yang aku gunakan untuk bernyanyi tadi malam, berarti aku sudah setengah jalan untuk sampai ke daratan.

Langit masih gelap, karena hampir subuh, aku pun harus segera bergegas. Aku sudah lama tak berenang sejauh ini, gerakan siripku menjadi kurang tangkas. Suara berenangku menjadi lebih gaduh daripada dulu. Para penangkap ikan mulai mengarah ke arah yang sama denganku. Kapal-kapal mulai berhenti di pinggir dermaga. Siripku kurang cepat dan terdengar cipakan air setiap aku bergerak maju.

Aku pun menjadi bergerak lebih cepat untuk bersembunyi. Ah, tidak! Menurut legenda, aku akan menjadi buih jika aku membongkar indentitasku atau jika ada seseorang yang melihatku. Sekarang legenda itu menjadi nyata, aku menjadi buih. Seorang manusia telah melihatku.

Aku pun mulai berubah sedikit-sedikit menjadi butiran buih dan terbang dibawa angin malam. Keturunan terakhir dari keluargaku, aku, turut terbang menjadi buih, dan aku tidak berhasil menyelamatkan hidupku. Aku malah ikut lenyap menyusul mereka semua keluargaku yang telah terlebih dahulu pergi.

About the author

Gabrielle Marsha

Penulis ngasal yang kerjaan sehari-harinya berkhayal dan tidur diantara mimpi. Alasan ia menulis adalah agar tidak gila. Temukan tulisan ngasalnya di idiotweirdos.tumblr.com.

Add Comment

Click here to post a comment