Arnette Harjanto Fiksi

SMS

4-sms

Malam makin larut. Aku masih saja berbaring diam di atas tempat tidurku. Tidak, aku tidak tidur. Kelopak mataku seolah malas menutup, malah membiarkan kedua manik mataku hadapi langit-langit kamar. Napas yang memburu memenuhi dadaku. Namun, udara yang kuhirup tampaknya tak mampu menyuplai oksigen sesuai kebutuhan otak. Sesak! Pusing!

Tubuh ini begitu lemas terasa. Ingin rasanya tangan kanan menggenggam tangan kiri, hanya untuk memastikan bahwa tulang-tulangku masih terikat erat pada tempatnya. Namun, udara malam telah melumpuhkanku. Rembulan menyedot habis energiku. Mungkin Rizal, temanku itu benar, manusia-serigala itu ada! Kau tahu kisah itu, bukan?! Manusia yang akan bertransformasi menjadi serigala di kala bulan purnama. Mungkin nenek moyangku adalah salah satu dari mahluk jadi-jadian itu. Buktinya, malam ini aku hanya dapat terbaring tanpa daya di atas kasurku dengan napas memburu dan pikiran yang kosong.Tok, tok, tok,… . Lagi-lagi seseorang mengetuk pintu kamarku.
“To, ayo turun, yang lain nyariin kamu…, ga enak sama famili kita… .Mereka bawa oleh-oleh untukmu loh… .” Itu suara ibu. Ibu yang…ah..sudahlah, tak usah bicarakan ibu. Aku malas membicarakannya saat ini. Hh…Entah sudah berapa kali ibu mengetuk pintu kamarku malam ini, mencoba membujukku menebar senyum basa-basi pada keluarga besar kami. Tanggapanku? Aku? Masih saja terdiam, tak kuasa beranjak dari pembaringanku.

Apakah aku lumpuh? Tidak. Cacatkah aku? Tidak. Namun, aku kehilangan kekuatanku. Menggerakkan jari saja aku tidak mampu!

Langkah ibu menuruni tangga masih tertangkap jelas indra pendengaranku. Aku heran, bagaimana mungkin manusia-manusia dibawah sana itu mampu mengobral senyum dan tawa sepanjang hari ini. Dari mana mereka mendapatkan energi untuk itu? Apakah mereka semua menyodot energi mahluk lain seperti yang kulihat di film-film jagoan Jepang semasa kanak-kanak dulu? Apakah mereka – bukan rembulan – yang menyedot habis energi yang kukumpulkan dalam tidurku semalam kemarin ditambah sarapan dan makan siangku hari ini?

Entahlah! Pertanyaan-pertanyaan itu hanya semakin mendesak otakku yang sudah over-load. Aku ingin istirahat!

Kucoba kumpulkan sebanyak mungkin hawa untuk kualirkan melalui lubang hidung untuk masuk ke dalam paru-paru. Namun, semakin aku berusaha, dada ini semakit terasa sakit. Di satu sisi seolah memintaku memasukkan lebih banyak udara lagi, di sisi lain memaksaku menghembuskannya saat itu juga.

Tiba-tiba saja ada rasa asin yang mengganggu indra pencecapku; asin yang dibawa butiran air mata menggiring debu jalanan bercampur keringat yang melekat di wajahku. Akhirnya kelopak mataku bersedia turun dan mengatup. Tapi hanya sekejap; dalam hitungan detik pun tidak. Aku ingin mempertahankannya mengatup, namun aku tak dapat mengusir bayang-bayang yang menyertainya; bayang-bayang darah yang mengalir deras dari tubuh seorang kawan di saat ia meregang nyawa.

Seharusnya ia masih di sini bersamaku. Seharusnya ia mengiringi kami dengan petikkan basnya di panggung besok malam. Seharusnya ia menghilang dari benakku sejak tiga tahun yang lalu dan menyisakan kenangan manis saja bagi kami. Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin teror itu terulang kembali?

Kugerakkan sedikit kepalaku, coba hapus bayang-bayang imaji yang semakin nyata di langit-langit kamar. Seketika pandanganku tertumpu pada hp yang tadi meluncur begitu saja dari tanganku. Layar hp itu masih menunjukkan isi sms yang kuterima sore ini: “To, Gus udah pergi, To… .Tabrakan sama truk… . Dia pergi, To… Gus ga kuat nunggu Rizal ngambil duit di bank… .” Kini band kami kehilangan dua personilnya. Apa gunanya sebuah band tanpa basis dan gitaris? Padahal Gus bukanlah tipe pelanggar lalu lintas! Aku jadi ingin bertanya, kemana perginya para petugas lalu lintas ketika itu? Apakah mereka tengah menukar uang pajak dengan sepiring danging panggang? Ataukah mereka sibuk berebut recehan yang dilemparkan para kondektur bus pada preman halte yang menerikkan tujuan mereka untuk menarik penumpang?

Dada ini semakin sesak dan otak ini semakin mampat. Kemana slogan kepedulian dan pelayanan kasih yang dikumandangkan ketika pita peresmian rumah sakit dipotong pejabat setempat? Entah sejak kapan nyawa manusia tak lebih berharga dari lembaran kertas bercetak angka rupiah produksi BI. Dan ini bukan yang pertama kalinya.

Dimuat di Rayakultura

About the author

arnette.harjanto

Alumnus Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, Indonesia. Salah satu anggota angkatan perdana Agenda 18.

Add Comment

Click here to post a comment