Fiksi Fransiska Deviana

Menyimpan Seribu Kisah dalam Sebuah Tulisan

12

oleh Fransiska Deviana

Masih jelas ingatanku tentang secarik kertas bergaris, dilipat menjadi pesawat dan disisipkan dalam agenda yang biasa kubawa ke mana-mana, tentang sebuah surat yang kulayangkan pada Tuhan.

Entah mengapa aku bisa memiliki pikiran bahwa zaman itu, malaikat pasti akan menemuiku, membaca suratnya dan keajaiban akan terjadi.Ternyata pikiran itu diporak-porandakan oleh teman sebangku-ku, dia menemukan suratku, membaca, dan menertawainya.

Aku benci jika ada yang mengetahui aku menuliskan sesuatu kepada apa pun, siapa pun. Karena bagi mereka, tulisanku itu mustahil, tulisanku hanya lelucon dari anak ingusan yang tidak tahu apa-apa.Hingga aku bertemu dengan Ibu Melani, guru Bahasa Indonesiaku yang memberikan PR menuliskan kisah sehari-hari dalam sebuah buku harian.

Buku harian milik-ku warnanya hijau kemerah-merahan, tidak besar tapi tidak terlalu kecil juga. Aku hampir tidak pernah absen untuk mengisinya, mengebu-gebu untuk tertawa, menangis, tersipu, mengadukan apa pun yang kulakukan pada saat itu. Yang kuingat, aku selalu menunggu-nunggu komentar lucu dari Ibu Melani, menunggunya kembali ke tanganku.

Ibu Melani, memperkenalkan satu hobi yang tak kusadari. Hobi yang membuatku menyimpan sebuah mimpi, menjadi seorang penulis. Ia juga mengatakan “Modal awal seorang penulis adalah gemar menulis, menulis apa pun, mulailah dengan sebuah buku harian”. Aha! Ketika itu juga, aku percaya bahwa aku sudah memiliki satu harapan yaitu buku harian.

Kebiasaan dengan buku harian yang jika dikumpulkan sudah berpak-pak ini masih berlanjut hingga kini, walau tidak seintensif dulu. Beberapa bulan lalu, aku baru mendapat suatu pelajaran berharga dari sebuah tulisan, baru aku sadari bahwa apa yang kita tulis melalui media apa pun, entah itu diary, blog atau media sosial lainnya adalah sebuah peninggalan, seperti prasasti, hak milik, yang suatu ketika kau coba ingin menyelami romatika masa lalu, kau dapat meniliknya kembali, mengulang ritme tawa, sedih, konyol secara bersama-sama.

Aku merasakannya saat ini, membuka si oranye, buku harianku yang ke-delapan, yang isinya adalah masa putih abu-abu yang penuh gejolak. Dan aku mendapatkannya, tawa yang bisa ku-ulang hingga ribuan kali jika aku masih memilikinya.

Penulis adalah peserta Agenda 18 angkatan 5

About the author

Agenda 18

Komunitas penulis muda berwawasan plural.

Instagram: @agenda18
Twitter: @agenda18
Email: agendadelapanbelas@gmail.com

Add Comment

Click here to post a comment