Gabrielle Marsha Opini

Duc In Altum dalam Mengenal yang Lain

Poster Kelas Mengenal yang Lain
Poster Kelas Mengenal yang Lain

Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, ras, dan agama. Perbedaan diantara kita seharusnya bukan menjadi tembok, melainkan menjadi jembatan agar bisa belajar bekerjasama dan saling menghargai.

Cara setiap orang untuk menghargai perbedaan itu berbeda. Misalnya dengan mempelajari tarian dari suku lain, menghargai kepercayaan tertentu yang berbeda, dan lain sebagainya. Namun, perselisihan yang akhirnya mengatas-namakan perbedaan selalu muncul. Perselisihan juga kerap memakan korban yang tak sedikit. Konflik semacam ini membuat gap antar manusia Indonesia semakin melebar.

Konflik yang melibatkan perbedaan ini, khususnya orang Kristen dan Muslim di dunia, mendapat perhatian khusus dari Paus Fransiskus. Pada perayaan Idul Fitri tahun 2018, Paus Fransiskus mengimbau agar orang Kristen dan Muslim untuk tidak berkompetisi, melainkan berkolaborasi.

Kolaborasi ini memang belum tentu diterima dengan semua pihak, tetapi hal ini adalah sebuah jembatan untuk merunut kembali kepada sejarah religius bersama diantara pihak tersebut.

Sekilas pernyataan Paus Fransiskus bisa menuai kritik dalam internal umat Kristiani, khususnya di Indonesia yang mana umat Kristiani menjadi minoritas dan merasa menjadi korban atas radikalisme. Dalam melaksanakan kolaborasi ini, harus dimulai dengan kesadaran setiap orang.

Terlebih, tidak semua pihak setuju untuk melakukan kolaborasi. Indonesia sendiri masih mempunyai ancaman akan konflik semacam ini karena banyaknya perbedaan yang dimilikinya.

Pada 13 Mei lalu, Indonesia mengalami kasus terorisme di sejumlah rumah ibadat Kristen di Surabaya. Terorisme memang mengancam dari sisi kemanusiaan, namun dalam kasus ini pemilihan tempat menjadi hal yang krusial. Hal ini dapat memancing sisi radikalisme dan intoleransi antar umat beragama di Indonesia.

Perkembangan teknologi juga semakin mendukung hal tersebut. Media sosial memberi medium untuk menyampaikan pendapat setiap orang tentang konflik seperti ini. Namun, dengan maraknya hoaks dan ujaran kebencian di media sosial, tak jarang kita jumpai pernyataan dengan minim informasi dan perkataan buruk yang disampaikan orang lain, sehingga memunculkan perspektif yang keliru antar agama.

Perspektif tersebut harus diubah agar pandangan orang bisa lebih tepat, benar, dan adil. Pengetahuan antar agama harus bersifat dua arah bukan hanya pada tataran pemuka agama tetapi juga pada tataran masyarakat. Sehingga tidak ada tuduh-menuduh yang menimbulkan konflik yang kurang baik.

Dalam ajakan kolaborasi itu ada sebuah tantangan iman yang hendak diajarkan oleh Paus Fransiskus sendiri, mengutip pernyataan Yesus Kristus kepada Santo Petrus yaitu ‘Duc in Altum’ artinya bertolak lebih dalam. Makna ini juga diadopsi oleh Paus Fransiskus perihal kolaborasi, dengan kemauan ‘Mengenal yang Lain’ kita berani bertolak lebih dalam mengimani Kristus dengan kesadaran toleransi dan cintakasih.

Untuk menindak-lanjuti pengalaman iman tersebut, secara kolektif penulis muda Agenda 18 menggelar acara “Kelas Mengenal yang Lain”, empat kali pertemuan dengan sesi dimana ‘Katolik menjawab disana Islam menjawab.’

Sesi ini diharapkan bisa memberikan pengalaman batin yang baru bagi setiap peserta untuk mengubah perspektif soal saudara-saudari Muslim, serta memperkuat kolaborasi untuk perdamaian.

Simak informasi selengkapnya soal Kelas Mengenal yang Lain di www.agenda18.web.id atau segera registrasi ke http://regiskelasagenda18.typeform.com/to/Nkbwkh.

Mari bertolak lebih dalam. Duc in Altum!

 

Artikel ini telah dimuat oleh Hidup Katolik pada 16 Juli 2018.

About the author

Gabrielle Marsha

Penulis ngasal yang kerjaan sehari-harinya berkhayal dan tidur diantara mimpi. Alasan ia menulis adalah agar tidak gila. Temukan tulisan ngasalnya di idiotweirdos.tumblr.com.

Add Comment

Click here to post a comment