Esai Gloria Fransisca Opini

Apa yang Membekas Bagimu Pada 13 Mei 2018?

Bunda Mariaku

Jika ada ilmu cocokologi, maka tulisan ini adalah tentang hal tersebut.

Tepat pada peringatan 20 tahun reformasi, yakni 12 Mei 2018, saya mendapat kesempatan mengikuti workshop tentang Jurnalisme Keberagaman di Sentul City, Bogor. Ada pun workshop ini diselenggarakan oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman atau SEJUK. Tentu saja, peringatan 20 tahun reformasi ini membuat saya menggantungkan harapan bisa memberikan memori tak terlupakan sebagai seorang jurnalis yang masih meniti panggilan hidup ini.

 

 

Salam Maria Penuh Rahmat…

Saya menerima banyak input tentang bagaimana membuat tulisan dengan perspektif gender dari Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis. Ilmu yang paling penting bagi saya adalah tentang bagaimana menuliskan berita dengan perspektif gender dengan lebih kreatif. Jangan sampai, pembicaranya 4L alias lo lagi, lo lagi. Kemalasan wartawan mencari narasumber seringkali menjadi penyebab mengapa pemberitaan kerap kali bias gender, karena yang dia kenal -dan mudah dihubungi- hanya si 4L itu.

 

Selain itu, saya menerima pula ilmu baru soal kreativitas menuliskan berita berperspektif gender dengan mengajak pula lelaki bersuara. Sebab, menurut Uni Lubis, pada akhirnya agenda-agenda perempuan harus dipandang sebagai agenda memanusiakan manusia. Sebuah keinginan bersama yang menguntungkan semua pihak, bukan hanya perempuan saja.

 

Sangat menyenangkan berinteraksi dengan Uni Lubis, karena dia banyak melakukan praktik tentang menulis karya berperspektif gender dari kasus-kasus marak yang sedang terjadi saat ini, yakni kerusuhan di Mako Brimob. Menurut Uni Lubis, perspektif gender adalah sebuah cara pandang penyampaian informasi yang tidak melupakan unsur empati terhadap golongan yang menjadi korban, yang pada umumnya adalah perempuan dan anak-anak.

 

 

Tuhan sertamu, Terpujilah Engkau di antara wanita…

Baru sekitar pukul 07.40 WIB, saya menerima informasi dari salah seorang rekan wartawan bahwa ada pengeboman pada Gereja Katolik Santa Perawan Maria Tak Bercela di Surabaya. Aduh, bom, di gereja. pada bulan Maria, bulan Mei. Tiba-tiba pesan ibu saya terngiang lagi, “Kak, kalau bulan Maria, jangan lupa berdoa rosario ya. Biasanya banyak cobaan, bencana, pada Mei dan Oktober, bulan-bulan Maria.” Butuh beberapa saat bagi hati saya untuk tenang sekalipun saya tetap tampil sebagai pribadi yang ceria, ceriwis, dan banyak bertanya di antara para peserta. Saya sudah sangat berkembang untuk menyembunyikan gemuruh emosi dalam batin saya pada setiap situasi.

 

Tentu saja WhatsApp Group tidak pernah berhenti bergetar, ada saja yang masih mengirimkan video dan foto korban dengan darah yang bergelimang. Betapa kita, sebagai jurnalis ataupun non jurnalis belum memiliki kepekaan terhadap hak asasi mereka, para korban ataupun pelaku. Betapa kita seharusnya ingat untuk tetap memperlakukan orang lain selayaknya manusia dengan tidak melakukan share atas tubuh yang terkoyak. Inilah yang disebut sebagai penghormatan. Ah, sialnya, ada saja media siber yang mengambil keuntungan dengan mengajak para warga pengguna media sosial untuk ikut mengirimkan situasi terkini berupa gambar dan video dari lokasi kejadian. Bukan wartawan pula. Alamak, situ waras? Tahukah kalian, apa yang dilakukan itu malah menyebarkan teror ke sesama masyarakat sipil?

Screenshot_20180514-014312

Seruan dari Pengamat Media Ignatius Haryanto soal bagaimana media siber mainstream ini malah mengkapitalisasi tragedi lewat mengajak netizen mengirim foto dan video.

Screenshot_20180514-014319

Akhirnya media yang bersangkutan mencabut postingan untuk mengirim video dan foto.

 

Pagi ini (13/5/2018), sesi semakin seru bersama Usman Hamid, Direktur Amnesty International dan moderator Daniel Awigra, dari Human Rights Working Group. Kebetulan, Kak Awigra ini adalah salah satu senior saya di Agenda 18, dia dari Angkatan 1, sementara saya dari Angkatan 5. Sesi ini juga tentu menambah perspektif HAM dalam pemberitaan, dan bagaimana isu-isu HAM itu seharusnya bisa terakomodasi dalam berbagai sektor berita. Kami juga banyak membahas tentang demokrasi dan kondisi demokrasi Indonesia setelah 20 tahun reformasi.

 

Tiba-tiba saja, saya iseng membaca artikel tentang pelaku bom bunuh diri yang ternyata seorang perempuan dengan membawa dua orang anak perempuan. Mereka melakukan bom bunuh diri di depan GKI Diponegoro. Lalu saya melihat instastories salah satu kawan jurnalis kesayangan, Francisca Christy Rosana dari TEMPO. Begini kata Chicha kira-kira, “Dear Mary, it’s hurts.” Chicha pun mengatakan kepada saya, “Pelakunya perempuan, mereka mengebom Gereja Santa Maria, gereja dengan nama seorang perempuan. Tepat pada peringatan Mother’s Day. It’s really hurts.”

 

Percakapan singkat dengan Chicha sukses melempar saya jauh dalam perjumpaan dengan Uni Lubis semalam, “Bagaimana kamu konsisten membuat sebuah laporan dengan perspektif gender?” Ya Tuhan, inikah yang disebut ujian alias panen atas benih ilmu yang sudah ditaburkan?

 

 

Dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus…

Saya tidak habis pikir sebenarnya, bagaimana seorang anak bisa ikut dalam perang? Mengapa golongan teroris ini menjadikan mereka sebagai tentara yang bahkan tidak mengenal apa itu perang? Apakah mereka memang sengaja dieksploitasi oleh oknum dan bahkan keluarga sendiri? Mereka hanya anak-anak, Ya Tuhan. Mereka hanya anak-anak. Berkali-kali itulah yang mendekam dalam batin saya, mengapa anak-anak, buah cinta orang tua mereka harus dijadikan korban?

 

Sesungguhnya, anak-anak adalah korban utama dari tragedi ini. Baik anak-anak dari umat gereja, maupun anak-anak pelaku teror. Sebab mereka tidak mengenal apa itu kebahagiaan sebagai anak-anak, bahwa mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk memilih hidup mereka sendiri. Bahwa mereka akhirnya… Ah, ya, saya bahkan susah berkata-kata lagi untuk mendeskripsikan sebuah kekecewaan.

 

Saya semakin gelisah dengan melihat adanya pola pengeboman masa kini, dimana perempuan mulai muncul sebagai pelaku utama. Mereka bukan lagi sub-ordinat dari suami yang adalah seorang teroris, sebaliknya mereka mengambil peran aktif. Saya mengingat lagi, potensi perempuan menjadi sangat radikal memang sudah lama menjadi alarm dari sejumlah aktivis, golongan terdidik, dan pegiat masyarakat sipil. Saya ingat, bahwa Wahid Institute bersama salah satu lembaga sudah pernah merilis laporan tentang potensi radikalisme dari perempuan.

 

 

Santa Maria Bunda Allah…

Sesampainya di Jakarta, saya sempat kalut. Awalnya, saya sudah berencana untuk mengerjakan berita, lalu mengikuti ziarah pembukaan Novena Peringatan Santa Maria Menampakkan Diri di Fatima pada 13 Mei.

 

Sesungguhnya, saya bukanlah Katolik yang taat, tetapi saya sangat mencintai Bunda Maria, karena bagi saya, dialah ibu saya. Saya mengenal Maria sebagai perempuan yang selalu menerima saya dalam segala apapun termasuk kondisi terburuk. Dalam keadaan bingung, sebab Jakarta sudah mendapatkan status Siaga 1, saya harus memutuskan untuk tetap pulang ke rumah, atau saya tetap mengikuti ziarah Santa Maria Fatima.

 

Saya mendapatkan kabar dari adik saya, bahwa Ziarah Fatima di Sekolah Santa Maria Jatinegara ditunda menyusul Status Siaga 1 terorisme. Dia juga mengirimkan sebuah broadcast messages yang mengingatkan bahwa 13 Mei adalah tanggal yang sakral, dimana pada tanggal ini tahun 1981, Santo Paus Yohanes Paulus II ditembak oleh Mehmed Ali Agca di Lapangan St. Petrus, Roma. Paus Yohanes Paulus II pun memaafkan sang pelaku dan dia membuktikan bahwa Bunda Maria telah melindungi dia.

 

Selain itu, saya tak akan lupa pula bahwa 13 Mei 2018 ini diperingati sebagai Hari Komunikasi Sosial Sedunia oleh Gereja Katolik. Ada pun tema besar pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia dari Paus Fransiskus adalah tentang jurnalisme damai, jurnalisme yang melawan pemberitaan hoax. Menurut kepercayaan cocokologi saya, tidak ada alasan lagi untuk saya harus kembali ke rumah dan tidak jadi ikut ziarah. Saya pun memilih untuk misa di Katedral saja, apalagi ada perayaan bersama Bunda Maria dengan kostum sebagai Ibu dari Segala Suku.

 

Orangtua saya sesungguhnya tak menyetujui keputusan saya, jika saya kenapa-kenapa di jalan. Apalagi, Jakarta sedang siaga 1 dengan teroris. Saya jadi teringat celotehan ayah saya, kalau saya bertindak tanpa berpikir panjang, “Kamu itu jangan sok-sok, nanti bisa mati konyol!”

 

Ah, tidak, saya tidak sok berani atau menantang teroris. Saya jelas takut, cemas, tetapi perasaan lain yang cukup dominan adalah perasaan ingin pulang ke rumah. Perasaan ingin berjumpa dengan ibu, tentu kamu memahami perasaan itu. Entah mengapa, semua berjalan lancar saja. Saya juga mendapatkan kursi di dalam gereja sehingga bisa mengikuti proses perarakan Bunda Maria dan mengikuti misa dengan khusyuk.

 

 

Doakanlah kami yang berdosa ini…

Dalam misa yang dipimpin oleh Bapak Uskup Ignatius Suharyo saya menemukan lagi hal aneh yang terjadi dua hari ini. Apakah Tuhan sengaja mengirim saya ikut Workshop Jurnalisme pada peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia? Sebab, tumben saja, tidak banyak agenda pada akhir pekan yang membuat saya tak ada beban mengikuti workshop ini.

 

Pesan Bapa Uskup dalam pembukaan homilinya sangat jelas, “Jurnalisme Damai adalah tugas para jurnalis, melawan hoax, melakukan klarifikasi adalah tugas jurnalis,” begitu kata Bapa Uskup. Pernyataan yang membuat saya tertohok sebagai salah satu umat Katolik yang bekerja sebagai jurnalis. Namun, Bapa Uskup melanjutkan, “Tetapi, saat ini, dengan gadget yang kita punya, kita juga mengambil peran jurnalis. Kita kerap menyebarkan informasi tanpa melakukan klarifikasi.” Dia menegaskan, hoax adalah sebuah permasalahan dunia pada era digital, era perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Orang Katolik, tentu saja adalah komunitas yang secara aktif melakukan perbaikan di dunia. Oleh sebab itu, tantangan satu ini harus mendapat perhatian khusus, dimana jurnalisme damai menjadi solusi untuk menjaga kemanusiaan.

 

Tiba-tiba saya tercenung, seharusnya, mereka yang menyebarkan foto-foto korban, video korban, itu mendengar khotbah Bapa Uskup. Secara jelas, dia menegaskan, kebenaran itu jauh lebih penting ketimbang kecepatan. Ucapan Bapa Uskup sangat berkorelasi dengan apa yang saya dapatkan selama workshop. Jurnalisme memang sepertinya akan selalu kalah cepat dengan fake news, sebab mereka diproduksi tanpa melalui proses verifikasi. Framming mereka jelas untuk menghancurkan, memecah belah. Sementara jurnalisme harus melalui verifikasi. Oleh sebab itu, jurnalisme damai juga berarti memberikan pemberitaan dengan cover all sides, not only both sides. Oh ya, pemanusiaan pada narasumber pemberitaan juga tak boleh dilupakan. Muncullah sebagai “Clearing Journalism” terlepas dari kecepatan yang dipaksa.

 

Saya pandang lagi lekat-lekat Bunda Maria, Ibu dari Segala Suku itu, pada 13 Mei 2018 ini ternyata dia tak main-main. Dia ingin memberikan refleksi yang mendalam. Saya membayangkan dia berbicara begini kepada saya, “Ketika kamu diberikan kesempatan belajar, sudahkah kamu mengamalkannya? Sudah benarkah kamu mengimplementasikannya?” Saya mendengar lagi seolah dia berbicara, “Bagaimana kejutan 13 Mei 2018 ini, Nona? Tepat pada hari Komunikasi Sosial Sedunia, tragedi terjadi. Apakah sudah kamu, kalian khususnya umat Katolik, menerapkan jurnalisme damai? Sudahkah kamu berkomunikasi dengan baik?”

 

Ah Mama Bunda, hebat sekali caramu memberikan pembelajaran. Sebab menurut saya, doa-doa memohon berkat adalah retorika, tetapi ilmu dan refleksi dalam perbuatan adalah kunci keluar dari altar dan berkarya. Iya kan?

 

 

Sekarang dan waktu kami mati…

Sesudah misa, lini masa media sosial masih ramai dengan belasungkawa dan solidaritas untuk tragedi bom di Surabaya. Belum lagi ledakan berikutnya masih terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur. Sangat menarik ketika beberapa teman menuliskan status yang intinya ada kesedihan dan ketakutan alias kecemasan pergi ke gereja.

 

Ah, mengapa harus takut kawan? Saya berani bertaruh, sebaik-baiknya rumah, tempat kamu beribadah, gereja misalnya adalah yang terbaik untuk pulang. Saya mengatakan ini sekali lagi bukan karena saya seorang Katolik yang taat. Sebaliknya, justru saya sangat berdosa, namun saya tahu hanya Gereja dan Mama Bunda yang akan menerima saya.

 

Pada saat saya masih SMA, saya pernah mengalami masalah besar dalam keluarga. Masalah itu membuat saya pergi dari rumah – semacam kabur begitu – dan saya pun pergi ke gereja. Saya ingat, ibu saya selalu berkata, gereja adalah sebaik-baiknya tempat seorang Kristiani ataupun non Kristiani berlindung. Gereja selalu membuka diri untuk siapapun. Di Gereja saya mendapatkan tempat tidur kecil pojokan untuk pembantu dari pastor paroki. Padahal, saya bukan umat dari gereja tersebut.

 

Saya ingat jelas, ketika pagi-pagi bangun saya pergi ke Gua Maria, berdoa dan menangis atas semua masalah yang menimpa saya. Setelah doa itu, doa yang penuh tuntutan, kekecewaan, dan kemarahan, Bunda Maria membuktikan kepada saya, dia tak pernah meninggalkan saya. Sejak saat itu, sampai sekarang, saya yakin, gereja selalu yang terbaik untuk berlindung. Jadi, kalaupun saya harus mati karena gereja di bom, itu bukanlah masalah. Setiap dari kita, bisa mati kapanpun dan dimanapun. Bukan begitu?

 

Pada akhirnya, saya pun tak ingin memberi judgement sedikitpun terhadap status kawan-kawan yang cemas seperti itu. Saya belum berani tampil untuk sok suci, sok baik. Saya percaya, setiap orang memiliki perjalanan iman masing-masing. Esensi dari iman itu biasanya muncul dalam situasi krisis, tergantung dari buah iman apa yang mau kita petik, buah iman baik, atau buah iman buruk. Bukankah dari landasan iman, sebuah kepercayaan juga, para teroris melakukan pengeboman sekalipun mereka telah merenggut banyak nyawa?

 

Ah Tuhan, sungguhlah 13 Mei 2018 adalah catatan terbaik dalam pengembangan iman dan pribadi saya sebagai manusia. Saya yakin, kejadian ini bukan hanya pendewasaan saya sebagai manusia, sekaligus sebagai Katolik yang merasakan tragedi. Saya yakin, kalau kita mau mengambil jeda untuk berefleksi, ada saja pendewasaan yang bisa kita petik dari tragedi ini, apapun agama kita. Entah kamu Katolik, Islam, Kristen, Konghucu, Buddha, ataupun Hindu. Bukan sebatas refleksi tentang solidaritas dan perdamaian atau nasionalisme saja, tetapi sebuah pemaknaan pada kemanusiaan, dan betapa cinta pada kemanusiaan menghasilkan resiko yang besar.

 

Jadi, setelah sibuk tenggelam dalam rutinitas dan lini media sosial, sudahkah kamu memikirkan sedikit saja, apa yang paling membekas bagi kamu pada 13 Mei 2018 ini?

Selamat berefleksi. Selamat menemukan dirimu!

 

 

Amin.

 

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment