Gloria Fransisca Kegiatan Wawancara

Cerita Dia yang Kamu Sebut Pezinah

PSK 2

Saya tengah meneguk secangkir teh tawar di McDonald Graha Cijantung pagi itu menunggu seseorang yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Tiba-tiba, seorang perempuan berbaju lengan panjang hijau tosca, menggendong tas ransel berwarna merah lengkap dengan flat shoes coklat menghampiri saya.

“Mbak Tita ya?”

“Iya Mbak. Pasti ini Mbak Irma ya?”

“Iya..” saya pun mengulurkan tangan untuk berjabatan dan dia menyambut ramah.

 

Jakarta, 4 Desember 2014

Panggil saja dia Irma. Tentu bukan nama asli. Saya mendapatkan konteknya dari seorang senior untuk observasi lanjutan kehidupan pekerja seks komersial (PSK). Kami pun memutuskan untuk berjumpa di Cijantung mengingat lokasi pertemuan kami tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.

Perempuan ini bertubuh mungil, asal Sunda. Dia menancapkan pandangan tajam kepada saya pada awal perkenalan. Saya mencoba seluwes mungkin untuk mengutarakan maksud dan tujuan saya tanpa membuat dirinya merasa tak nyaman.

Syukurlah lambat laun senyuman mulai nampak di wajah Mbak Irma, dan ia pun dengan terbuka mengisahkan tentang kehidupannya di area lokalisasi bilangan Jakarta Timur, tepatnya di Ciracas. Sebelum perbincangan kami berlanjut, Mbak Irma mengeluhkan suasana McDonald yang tidak nyaman, dia meminta kami beranjak ke Circle K sebelah Mc Donald saja.

“Maaf ya Mbak terpaksa pindah, saya risih nggak bisa merokok kalau di dalam,” ujarnya jujur kepada saya.

“Nggak apa Mbak. Saya yang minta maaf harusnya, tadi saya di dalam hanya beli makanan untuk sarapan saja sembari menunggu Mbak. Maaf kalau gak nyaman lho Mbak”

Kami duduk di salah satu meja dan kursi depan Circle K sisi pojok belakang agar lebih privat dan nyaman. Mbak Irma lalu memberikan kepada saya sebuah pin berbentuk love yang entah mengapa saya melihat pin itu mirip huruf V. Pin itu dibuat dari manik manik berwarna putih, katanya itu adalah lambang kepanitiaan jelang peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dari teman-teman OPSI.

Saya pun menanyakan tentang aktivitas sehari-hari Mbak Irma. Saya cukup kaget ketika mendengar pengakuannya yang masuk dan terlibat dalam beberapa LSM penggiat HAM dan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan. Dia adalah bagian dari OPSI (Organisasi Perubahan Sosial Indonesia), PKBI, dan Koalisi Perempuan Indonesia. Saya pun bertanya apa latar belakang dia memutuskan terlibat dalam beberapa NGO tersebut.

“Saya mau bukan hanya diri saya yang sehat Mbak, tetapi juga teman-teman saya. Pekerjaan saya dan kawan-kawan ini sangat rentan dengan penyakit. Ini semua berawal ketika ada teman saya yang sakit-sakitan terus. Saya bingung, kok dia nggak sembuh-sembuh, sampai akhirnya meninggal. Sejak itulah saya tahu dia mengidap HIV. Dan saya mulai terpanggil untuk membantu pencegahan bagi teman-teman.”

 

Kekerasan Tak Pandang Pelaku

Sambil mengisap rokoknya, Mbak Irma lalu mengeluarkan kotak makan berisi manik-manik berwarna orange. Dia mulai merajut manik-manik itu menjadi pin-pin berbentuk love yang akan dijual olehnya, dan sebagian lagi untuk dibagikan dalam hari kampanye anti kekerasan terhadap perempuan. Mbak Irma mengundang saya untuk turut hadir dalam kampanye tersebut tanggal 10 Desember 2014.

Saya pun mulai menanyakan tentang kegiatan malam yang dilakoninya. Mbak Irma memulai kisahnya sejak 2001, sepulang dari Bandung untuk melahirkan anak keduanya. Dia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari nafkah bersama suaminya. Anak perempuan sulungnya ditinggalkan bersama Uwa-nya di Bandung.

Mbak Irma terpaksa menjajakkan diri mengingat penghasilan suaminya pas-pasan untuk membiayai hidup mereka. Belum lagi harus membiayai kebutuhan anaknya di Bandung, khususnya untuk biaya sekolah.

“Hidup ini tantangan Mbak, mau tidak mau harus dilalui dengan berani. Dengan air mata juga,” ujarnya sambil tersenyum kepada saya.

Saya pun semakin penasaran menanyakan tantangan seperti apa yang selalu dilalui, apakah itu tantangan dari mucikari, atau dari golongan masyarakat.

“Bukan mucikari Mbak. Kami disini tidak ada mucikarinya, kami tidak terorganisir seperti itu lagi. Sebagian besar yang ada disini menjadi PSK atas kesadaran setelah sebelumnya memiliki mucikari, entah mereka lari atau bagaimana. Akhirnya bersatu disini. Bedanya disini kami tidak ada mucikari tetapi ditolong oleh preman. Preman ya Mbak, bukan aparat,” tambahnya sambil tertawa sinis.

“Memang aparat kenapa Mbak?”

Irma pun membeberkan perlakuan keji oknum aparat kepada PSK. Oknum aparat memang paling suka melakukan razia di lokalisasi tempat Irma bekerja, ketika razia terjadi maka terjadi benturan antara preman dan aparat. Sialnya lagi, para preman seringkali takluk oleh aparat kalah dari segi kekuatan dan persenjataan.

“Biasanya sesudah Razia kami dibawa oleh aparat. Tetapi mereka tak lantas memasukkan kami ke panti sosial. Beberapa mungkin dimasukkan ke panti sosial. Tetapi disana cuma beberapa hari tidak diberikan pembekalan apapun yang berarti.”

Sebagian yang tidak dimasukkan ke dalam panti biasanya mengalami nasib yang lebih mengenaskan, kata Irma. Biasanya aparat meminta dilayani secara gratis jika ingin selamat.

“Mbak percaya nggak, teman saya ada yang ditodong pistol harus melayani tujuh orang aparat yang mengantri di depan kamar saat mereka melakukan razia? Hahaha. Sadis nggak Mbak?” tanyanya kepada saya sambil tertawa. Mata Mbak Irma agak berkaca sementara hati saya ketar ketir mendengarnya

Itu belum seberapa, Irma sendiri mengaku pernah saat razia ditarik dadanya oleh salah seorang polisi hingga terluka dan bajunya robek. Aparat pun pernah menancapkan belati ke perutnya hingga terluka karena kerap memberontak. Untungnya dia masih diperkenankan bertahan hidup oleh Tuhan.

“Saya tidak akan pernah lupa perlakuan itu, dan semua kekerasan yang pernah saya alami dan teman-teman saya alami Mbak. Makanya sejujurnya, kami merasa dilindungi nyawanya bukan oleh aparat tetapi justru oleh preman.”

Tak selesai sampai disitu, kisah kisah razia di lokalisasi berlanjut dengan tokoh antagonis lain. Masih ada tokoh-tokoh pengobral agama yang ngotot ingin menutup tempat pencarian nafkah Irma dan kawan-kawannya.

“Kami juga selalu dirazia oleh FPI. Dan itu sama saja perlakuannya dengan yang dilakukan aparat Mbak. Maunya dilayani tetapi gak mau bayar. Lalu kami dapat cap sebagai pendosa oleh agama.”

Soal razia yang tak hanya menggegerkan tetapi juga menyeramkan dipandang Irma sebagai tantangan hidup. Menjadi PSK memang tidak mudah, tetapi apa daya, kesulitan ekonomi memaksanya melakukan tindakan itu.

“Kami ini sebagai PSK setiap hari harus berhadapan dengan kekerasan dan ketidakadilan dari aparat, agama, masyarakat, kesehatan. Tetapi tidak banyak orang yang tahu akses mereka untuk tahu pun terbatas, yang selalu disalakan PSK. Orang selalu malas mencari tahu, Mbak,” ujarnya mengeluh sambil kembali mengisap rokoknya.

Sejenak saya hanya bisa melepas nafas, semua gugatan mencuat dan mengamuk dalam batin saya. Tiba-tiba Irma mengutarakan beberapa opininya yang sangat terkenang bagi saya. Pertama, jika tidak ada PSK bisa saja angka pemerkosaan meningkat karena sulitnya orang menahan syahwat. Kedua, pernahkah pelaku-pelaku razia itu berpikir, ketika mereka razia dan sweeping, mereka bukan hanya membunuh mata pencaharian para PSK, tetapi juga mata pencaharian orang-orang yang hidupnya bergantung dari aktivitas lokalisasi.

“Pernah nggak mereka berpikir, kalau lokalisasi ditutup, orang-orang miskin di sekitar lokalisasi mau makan apa? Yang punya usaha warung kopi, warung nasi, tukang ojeg yang mengantar kami alias anjelo, usaha laundry, usaha salon. Para PSK ini sesungguhnya juga sumber nafkah mereka. Mereka mungkin bukan PSK seperti kami tetapi yang membuat usaha mereka selalu ramai ya kami-kami ini, dan tamu-tamu kami. Kalau tidak ada?” tukasnya.

Saya pun iseng bertanya, apa itu anjelo. Oh, itu adalah sebutan untuk ojeg penjemput, dimana anjelo adalah singkatan dari ‘antar jemput lonte’, ujarnya sambil tertawa. Tawa kami berdua meledak siang itu, nama yang bagus untuk sebuah kepanjangan yang unik.

Irma mengeluhkan mengapa tidak ada pemberdayaan yang baik dari pemerintah kepada para PSK yang hidupnya jelas dibawah rata-rata.

“Mbak jangan kira sekali main itu mahal Mbak. Kami yang disini biasa dibilang lonte lokal, untuk yang masih muda saja sekali main itu hanya dapat 150 ribu. Sementara yang paling mahal hanya sampai 180 ribu Mbak, ga sampai 200 ribu.”

Mendengar itu saya teringat dengan observasi saya di Blok M bersama Adi berhasil bercakap-cakap dengan Mbak Agis, salah seorang PSK di Maimu, tempat karaoke yang berlokasi di Little Tokyo, kawasan Blok M Square. Menurut Agis, pekerjaan yang dilakukannya hanya 4-5 jam itu mendapatkan penghasilan yang worth it. Kondisi inilah yang berbeda jauh dengan yang dikatakan oleh Irma kepada saya.

“Kami jelas berbeda Mbak, mereka kan PSK elit, ada mucikarinya. Diatas 500 ribu, bisa juga jutaan. Tetapi hidupnya nggak enak Mbak. Mucikari atau pemilik tempat karaokenya itu bener-bener dijaga anak-anaknya. Makanya kan sampai ada angkot yang antar jemput pulang segala. Anak-anak itu kan asetnya.”

Irma mengaku ada banyak perbedaan. PSK untuk kelas elit itu cenderung tidak solid, hidupnya sangat individual dibandingkan Irma dan kawan-kawannya di lokalisasi yang komunal. Sadar atau tidak, PSK dari kawasan elit itu jauh lebih mengerikan karena jika terjadi kekerasan, baik dari tamu ataupun aparat, siapapun, teman-temannya sendiri belum tentu akan menolongnya. Mucikarinya sendiri belum tentu mau menolong, dia hanya mencari aman untuk dirinya sendiri.

“Hidupnya mungkin enak mbak. Pasti mereka tinggalnya tidak di tempat kumuh seperti kami. PSK yang di Mangga Besar dan Blok M khususnya, pasti disediakan rumah sama mucikarinya. Ada dokter yang selalu datang untuk mengecek kesehatan mereka. Tetapi mereka cenderung lebih individualistis Mbak. Mereka jauh lebih rentan terkena kekerasan dan tidak dibela, saya pernah merasakannya…”

 

Dijual Ke Batam

Irma berkisah bahwa ia pernah menjadi pelacur lesbian. Saya pun teringat pada kisah Re: seorang pelacur lesbian yang menjadi kerabat dekat seorang jurnalis handal, Kang Maman Suherman. Saya ingat, pada salah satu kelas tamu di UMN, Kang Maman pernah menjadi dosen tamu dan berkesempatan menceritakan soal investigasi kehidupan PSK. Skripsi Kang Maman yang kini menjelma sebagai novel berjudul Re: agak mirip dengan kisah Irma. Saya digiring oleh penasaran dan ingin mengulik lebih banyak kehidupan Irma. Saya berharap dia cukup merasa nyaman dan percaya kepada saya.

Irma adalah anak dari orangtuanya yang asli Cimahi dengan 9 bersaudara. Dari sembilan bersaudara itu hanya satu adik bungsunya yang masih bisa menyentuh jenjang pendidikan hingga tingkat SMP. Delapan orang lain, termasuk Irma hanya berhasil menginjakkan kaki hingga lulus SD, bahkan ada pula yang tidak lulus SD. Maklum saja, ayah Irma hanyalah seorang supir sementara ibunya tidak bekerja.

Sebagai salah seorang anak yang tertua, Irma memiliki keinginan untuk bisa membantu ekonomi keluarganya. Suatu hari datanglah seseorang yang mengaku menawarkan pekerjaan kepadanya di Batam.

Irma yang saat itu berusia 15 tahun diizinkan untuk mulai mencari nafkah di tanah orang diizinkan oleh orangtuanya untuk pergi bersama orang asing itu. Siapa sangka orang yang nampak berhati mulia itu adalah serigala berbulu domba. Orang itu menjual Irma di Batam bersama beberapa perempuan lain di Batam.

Sesampainya di Batam, Irma tinggal di rumah gedongan bersama beberapa perempuan. Dalam penantian menunggu pekerjaan yang belia, pada usia belia, Irma melepas keperawanannya dengan harga 2000 dollar.

“Saya masih 15 tahun waktu itu, tahun 1995. Sempat geger Batam sebagai pusat prostitusi setelah ada anak jenderal yang dijual, tetapi setelah itu sampai sekarang masih kembali ramai. Mengenaskan Mbak, saya dijual dengan harga segitu dan saya tidak mendapatkan seperser pun. Uang itu sepenuhnya masuk ke dompet orang yang membawa saya dari Cimahi itu,” ungkapnya miris sambil menatap saya dan ada bilah bilah kaca di balik bola matanya. Saya sangat berharap jangan sampai dia menangis di tempat, karena saya bisa ikutan menangis juga nanti.

Tuhan masih baik, pria yang membeli Irma akhirnya memutuskan memperistri Irma dan membawanya tinggal di Singapura. Beberapa tahun mengadu nasib di Singapura, mereka kembali ke Indonesia. Perkawinan mereka tak bertahan lama setelah kelahiran anak pertama Irma, seorang anak laki-laki. Mereka pun bercerai, dan hak asuh anak itu diambil oleh ayahnya. Irma pun kembali ke Bandung untuk bertemu orangtuanya. Sejak saat itulah baru orangtuanya mengetahui apa yang terjadi dengan anak mereka setelah kepergiannya ke Batam.

Irma yang hanya lulusan SD masih kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Pada 2001, berkat tawaran temannya, Irma kembali ke Jakarta dan tinggal di kawasan lokalisasi itu. Kepalang basah, ia pun kembali menjajakkan diri sebagai pelacur.

Beberapa tahun berjalan, Irma diajak untuk menjadi pelacur lesbian karena harganya lebih mahal. Setelah mencoba beberapa kali melayani sesama jenis, Irma merasa tidak bisa dan pergi ke lokalisasi di bilangan Ciracas bertemu teman-teman lamanya. Irma menikah lagi dengan seorang pria yang menjadi suaminya saat ini. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang tinggal bersama Uwa-nya di Bandung. Irma memang sengaja menitipkan anak-anaknya karena dia tak ingin kehidupan kelamnya tak bisa memberi kebaikan bagi pertumbuhan anak-anaknya.

“Saya ini tetap seorang Ibu ya Mbak, seorang Ibu rumah tangga. Saya sadar dan saya selalu katakan kepada teman-teman juga, selamanya kita tidak akan pernah bekerja seperti ini. Kita harus mau belajar. Maka saya mulai buka usaha bikin kerajinan tangan begini, dan juga mulai melamar kerja sebagai agen asuransi Mbak. Supaya sekalian ajarin teman-teman pentingnya asuransi kesehatan dan asuransi jiwa bagi mereka dan keluarnya,” tambah Irma.

Bagi Irma faktor kesenjangan ekonomi yang menjerumuskan dia ke dunia prostitusi. Irma berharap sosialisasi tentang human trafficking untuk dijual sebagai pekerja seks segera disosialisasikan masif bukan hanya di kota-kota besar, melainkan di desa-desa pedalaman.

“Rata-rata pasti yang diincar perawan-perawan di desa Mbak. Mau gamau ya harus bikin orang desa itu melek. Orangtuanya harus tahu kalau anaknya dibawa kemana, dan jangan biarkan anaknya dibawa orang asing seperti itu.”

Perbincangan kami berlanjut dengan Mbak Irma yang mengupayakan perlindungan bagi dirinya dna teman-temannya. Irma pun mendapat bantuan dari beberapa orang lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan juga Puskesmas setempat untuk memberikan akses terhadap kesehatan. Sebelumnya, tidak ada akses kesehatan yang memadai bagi mereka karena terbenturnya biaya.

Irma mengaku banyak kekerasan yang dilihatnya dan juga dialaminya selama di Batam, tinggal di rumah gedongan dari mucikari yang membawanya. Ada yang berani kabur, nyawa bisa melayang.

Saya teringat kisah Re: seorang pelacur yang nasibnya agak mirip dengan yang diceritakan Irma. Seorang pelacur yang menjadi subjek skripsi Maman Suherman dan pernah diceritakannya di kelas saat saya masih kuliah. Semua kejadian ini serasa nampak seperti puzzle yang saling menemukan paduannya.

Buku Re: dan Pin pemberian Mbak Irma untuk saya.
Buku Re: dan Pin pemberian Mbak Irma untuk saya.

Re: juga seorang ibu, dia juga berasal dari Bandung. Dia juga menjadi seorang pelacur bukan hanya karena tuntutan ekonomi, tetapi juga karena ketidakharmonisan dalam keluarganya yang membuatnya kabur dari rumah setelah Ibunya meninggal dunia.

Kehidupan Re: dan kawan-kawan dikisahkan oleh Maman Suherman selalu berada diambang kematian, karena ancaman kekerasan baik dari tamu hingga dari mucikari mereka sendiri bernama Mami Lani. Hal ini senada persis dengan yang diceritakan oleh Irma bahwa mereka yang tergabung dalam komplotan PSK bermucikari nasibnya kerap kali mengenaskan. Kerap kali nyawa mereka terancam justru karena mereka tidak lagi mematuhi aturan main dari sang mucikari.

Jika Irma dan kawan-kawannya bersahabat dengan para preman untuk saling melindungi, tidak dengan Re: dan kawan-kawannya. Mereka dijaga ketat oleh bodyguard para mucikari. Mereka sama sekali tidak bersahabat. Oleh sebab itu, Irma merasa ada kesulitan dari OPSI, sebagai salah satu organisasi yang mewadahi pemberdayaan dan pemulihan para PSK untuk menjangkau para PSK dari lingkaran elit.

“Mereka sudah membangun dinding sendiri Mbak, yang seolah memisahkan kami dengan mereka.” Ujar Irma.

Perbincangan dengan Mbak Irma membuat saya berpikir, ada kegagalan negara dalam memberdayakan perempuan. Negara juga gagal memberikan keadilan ekonomi terhadap kelompok yang tidak memiliki kemampuan menguasai modal. Hal yang terjadi justru sebaliknya, dimana orang-orang Indonesia menunjukkan bahwa orang yang punya pendidikan justru kerap kali membodohi dan memperbudak sesamanya yang tingkat pendidikan dan kesadarannya masih rendah.

Mucikari bisa saja berpendidikan dan punya akses yang baik, sehingga dia memanfaatkannya untuk memperdagangkan manusia.

Pelacuran dan korupsi disebut sebagai penyakit masyarakat, atau patologi sosial, kata Kang Maman dalam bukunya Re: saat dia merasa mengapa korupsi dan pelacuran dalam level yang sama sebagai Patologi Sosial. Keduanya merupakan sama-sama hasil dari berbagai ketimpangan masyarakat. Sayangnya nasib keduanya jauh bertolak belakang. Yang satu, pelacur terkonotasikan sebagai hamba atau bahkan budak, sementara koruptor terkonotasi sebagai Tuan atau majikan yang punya kuasa memanipulasi uang.

Alhasil saya mengakhirinya dengan sebuah pertanyaan sengit, “siapa yang harus bertanggung jawab menyembuhkan patologi sosial ini?” Ketimpangan yang ada bukan lagi terhitung dengan jari, tetapi dari berbagai golongan berkepentingan yang bermain dan menimbulkan gesekan itu sendiri. Oleh sebab itu sampai di akhir kalimat ini, saya tidak bisa menyebut ini sebagai laporan yang utuh dan menemukan jawaban atau solusi, ini masih sebuah proses yang harus dipertaruhkan entah sampai kapan.

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment