Gloria Fransisca Resensi Buku

Cerita Perbudakan di Indonesia yang Indah

Mirah dari Banda

Refleksi atas novel Mirah dari Banda karya Hanna Rambe

Judul Buku                 : Mirah dari Banda

Penulis                         : Hanna Rambe

Penerbit                       : Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Jumlah Halaman       : 374

Jenis Cover                 : Soft Cover

ISBN                             : 978-979-461-770-0

“Orang Banda serakah, orang Banda terpecah belah. Semua terkecoh oleh kepentingan sendiri. Mereka sibuk berkelahi sampai punah. Orang Banda tak dapat memutuskan, apakah pohon pala sebuah laknat atau berkat bagi mereka.”

 

“Salahkah Tuhan menciptakan dan menganugrahkan pala kepada Banda? Tidak. Tuhan tidak pernah bersalah, bukan? Tuhan Mahatahu, Mahakuasa dan Sempurna. Manusialah yang tidak pandai menghargai karunia-Nya. Manusia habis dicabik-cabik oleh egoisme.”

 

Pengantar

Hanna Rambe adalah seorang jurnalis perempuan dan juga seorang novelis yang pernah berkarya di koran Indonesia Raya. Pekerjaan Hanna sebagai jurnalis membuat dia berkesempatan untuk bepergian ke banyak tempat. Alhasil, perjalanan Hanna menjadi inspirasi pada karya-karyanya.

Dia juga terkenal sebagai seorang penulis yang dengan rinci meneliti subjeknya sebelum menulis. Contohnya saja, saat Hanna mempersiapkan “Mirah dari Banda” dia memilih tinggal selama sebulan di Banda. Menurut Korrie Layun Rampan, Hanna Rambe adalah sorang novelis misteri yang menyelidiki sejarah dan mengaitkannya dengan persoalan takdir seperti terlihat dalam Mirah dari Banda.

Hanna menyelesaikan novel ini pada awal 1980-an, namun novel ini ditolak oleh banyak penerbit kala itu. Akhirnya dia menerbitkan sendiri novelnya, bekerjasama dengan Universitas Indonesia Press tahun 1983. Pada 1988, novel ini diterbitkan kembali oleh Indonesia Tera, dan pada 2010 oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

 

Isi Buku

Namanya Mirah. Dia adalah perempuan cilik berdarah Jawa yang datang ke Banda bersama salah seorang saudarinya. Mereka datang ke Banda menjadi budak pemetik pala di kebun milik salah seorang Tuan asal Belanda.

Kehidupan Mirah kian pelik ketika beranjak dewasa dan menjadi gundik Tuan Besar Belanda di Ulupitu. Kehidupan Mirah nantinya sama peliknya dengan penindasan terhadap budak-budak pemetik pala dan fuli di Banda.

Dalam kisah Mirah, Hanna mencoba menjabarkan terlebih dahulu pembumihangusan warga Banda oleh JP Coen, sang Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1621. Upaya JP Coen ini dilakukan karena ambisinya ingin menguasai sumber daya alam di kawasan itu.

Konteks sosial yang disajikan Hanna menjadi salah satu komponen dari kisah yang melatarbelakangi kekerasan yang kemudian dialami Mirah. Penindasan tersebut tejradi akibat perbedaan kelas. Pembumihangusan tersebut membuat banyak pendatang dari Jawa yang tinggal di Banda, sementara warga Banda asli tersingkir dan menyebar ke pulau-pulau kecil sekitar seperti Kei, Seram, dan Aru.

Mirah pun memulai kisahnya tatkala datang seorang tamu dari Australia, Wendy Higgins bersama suami dan beberapa kawan-kawannya ke Banda. Wendy adalah seorang perempuan campuran yang tidak mengenal asal-usulnya. Hanna pun mencoba memakai sudut pandang orang ketiga untuk menceritakan relasi sesungguhnya natar Mirah dan Wendy adalah sepasang nenek dan cucu yang berbeda ras.

Ketika menjadi Nyai Tuan Besar di Ulupitu, Mirah memiliki dua anak, Lili dan Weli. Ketika Jepang datang ke bumi nusantara dan melengserkan kedudukan Belanda, Tuan Besar Ulupitu dan anak-anaknya Indo-Belanda ini dalam ancaman. Lili pun diungsikan dengan Mirah ke pulau lain. Namun sayang, Jepang masih mencium keberadaan Lili. Dia pun menjadi tahanan Jepang. Singkat cerita, Lili menjadi gundik tantara Jepang, hingga akhirnya dia hamil. Wendy Higgins adalah putri Lili yang lahir saat perang antara Sekutu dan Jepang kembali meletus.

Keterikatan antara Wendy dan Mirah sampai dengan akhir cerita mendapatkan penjelasan. Penulis ternyata memilih relasi antara Wendy dan Mirah tersingkap sebagai misteri bagi keduanya.

 

 

 

Tanggapan

Membahas soal penulisan kisah Mirah, sesungguhnya saya melihat sosok Mirah yang unik dan berbeda dari perempuan-perempuan gundik dalam beberapa karya lain. Umumnya, beberapa cerita kerap memberikan karakter gundik sebagai sosok yang memiliki kekuatan dan keberanian. Mirah tidak sama dengan tokoh-tokoh itu.

Itulah keunikkan karya ini ketika Hanna Rambe mencoba menjabarkan konteks sosial dan budaya yang berbeda dari gundik di Banda dengan gundik di daerah lain. Mirah bukanlah sosok yang bodoh, tetapi bisa jadi terlalu polos. Dia menerima saja kondisinya atau taken for granted atas posisi-nya yang tidak menguntungkan.

Novel ini juga tidak hanya ingin menjabarkan relasi kekerasan perempuan, sebaliknya, hanna ingin melukiskan wujud pohon pala sebagai kekayaan di Banda itu sebagai cerminan kekayaan Indonesia. Hanna mencoba menceritakan suasana kehidupan di alam yang indah, di kebun pala, pohon rempah yang sangat wangi.

Membaca Mirah justru menimbulkan beberapa tanda tanya besar tentang sejarah perbudakkan perempuan pada zaman kolonialisme. Bagaimana perempuan nusantara ini menyikapi hal tersebut? Bagaimana sejarah mengkonstruksikan kisah penjajahan di Indonesia bagian Timur pada khususnya?

Pembaca seperti saya tentu kaget tatkala usai membaca akhir cerita, penulis tetap konsisten untuk tidak membuka identitas masing-masing dan relasi antara Wendy dan Mirah. Penulis terbukti konsisten bahwa sebagia besar dari cerita kehidupan manusia tidak akan bisa ditemukan korelasinya. Sebagai penulis, Hanna menegaskan ini adalah sebuah novel sejarah, historical story bukan drama. Oleh sebab itu, sebuah cerita tetaplah sebuah misteri.

 

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment