Gloria Fransisca Resensi Buku

GENDUK: Kegelisahan Perempuan Petani Tembakau

GENDUK

31142634Judul Buku                 : Genduk

Penulis                        : Sundari Mardjuki

Penerbit, Tahun        : Gramedia Pustaka Utama, 2016

Jumlah Halaman      : 232 halaman

Jenis Cover                 : Soft Cover

ISBN                             : 978 – 602 – 03 – 3219 -2

Pengantar

“Nduk, anakku, dalam hidup jangan sekali pun kamu menggantungkan diri pada orang lain. Kamu hanya boleh bergantung padaku Dan aku akan berusaha sekuat tenaga agar kita bisa hidup.” (halaman 25)

 

Butuh riset yang cukup lama bagi Sundari Mardjuki menuliskan Genduk, sebuah cerita tentang anak perempuan petani tembakau yang merindukan sosok ayahnya. Buktinya, Sundari membutuhkan waktu 4 tahun untuk menyelesaikan buku ini dengan melakukan riset, tinggal dan berinteraksi langsung dengan petani di Desa Mranggen Kidul, Parakan, Kabupaten Temanggung.

Ada banyak kegelisahan sosial juga yang dituliskan Sundari melalui Genduk yang mengambil latar waktu tahun 1970-an. Salah satunya soal ketimpangan sosial antara petani tembakau dengan tengkulak, serta status sosial yang ada di pedesaan di kaki Gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah.

Isi Buku

            Genduk, adalah seorang bocah perempuan yang hidup hanya berdua dengan ibunya di kaki gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah. Ibunya, yang dipanggil Biyung atau Yung- adalah seorang petani tembakau dari status sosial kelas bawah di pedesaan tersebut, apalagi dengan menyandang status janda, ibunda Genduk tidak bisa mengakses fasilitas atau menghadiri kegiatan sosial banyak hal layaknya perempuan lain. Kondisi ini mendorong Genduk mencari jati dirinya terutama mencari sosok ayah yang selama ini dirindukannya. Sayang, Yung tidak mau menceritakan sedikitpun tentang ayah Genduk, tak ayal Genduk kerap mencari tahu melalui Haji Bawon, tetangga sekaligus tetua di desa tersebut.

Di lain pihak, konflik semakin memanas ketika Genduk harus menghadapi kenyataan Yung selalu menghadapi gagal panen. Belum lagi kekurangan biaya hidup dan produksi membuat Yung kerap meminjam uang dari tengkulang. Genduk mengalami konflik batin ketika ia ingin menolong Yung dan meminta tolong kepada Kadek atau Celeng, seorang tengkulak tembakau di desa tersebut. Kadek ternyata hanya ingin mengambil keuntungan dari Genduk, dia menukarkan janji membeli tembakau Biyung dengan harga tinggi dengan memaksa Genduk untuk mau berkencan dengannya. Di lain pihak, kehidupan remaja Genduk juga menarik dengan sosok Sapto Adi, putra Lurah Cokro yang diam-diam menaruh hati pada Genduk.  Sapto selalu mendekati Genduk dengan alasan meminjam buku catatannya karena Genduk anak yang cerdas di sekolah.

Di tengah segala kesulitan hidup dan kegelisahan menemukan sang ayah alias Pak’e, Genduk pun memutuskan kabur dari rumah. Siapa sangka kisah ini justru semakin menarik ketika Genduk keluar dari desa untuk pertama kalinya dan menelusuri jejak sang ayah. Saat itulah Genduk baru menemukan alasan mengapa Yung selalu menutupi cerita tentang Pak’e.

Dalam pencarian itu, Genduk bertemu dengan sepasang suami istri pengelola pesantren. Melalui kedua orang itulah, Genduk mengetahui bahwa sang ayah telah hilang dalam konflik politik tahun 65-66, yakni kekisruhan Partai Komunis Indonesia (PKI). Digambarkan saat itu ada ketegangan antara pihak PKI ataupun non-PKI yang berlatarbelakang umumnya golongan agamis. Konflik yang pecah menjadi revolusi itu turut menghilangkan sosok Pak’e Genduk. Pada akhir cerita, Genduk pun akhirnya bertemu dengan Bah Jan, yang membantu membeli tembakau Yung dengan harga lebih tinggi. Alhasil Genduk juga bisa terbebas dari belenggu Kadek.

Tanggapan

Sundari bisa dipastikan berhasil menciptakan karya novel dengan metode etnografi. Dia bisa memasukkan berbagai budaya orang Temanggung dengan konsisten dalam cerita ini namun sukses membuat pembaca tak jenuh.

Contohnya Budaya Wiwitan, Permainan Obak Sodor, dan Gending-gending Jawa.  Saratnya budaya lokal dalam novel ini seolah bisa menghipnotis pembaca ikut berselancar di kaki gunung Sindoro. Kemampuan deskripsi Sundari juga cukup baik terutama dalam menceritakan kekhasan tembakau dan filosofi tembakau bagi para petani. Hal ini terungkap pada kutipan berikut.

“Mbako srintil ini memang mengundang perhatian. Jangan teperdaya dengan rupanya yang tidak menawan. Hitam pekat, berair, menggumpal seperti tai kebo. Ketika dijemur, tampak dari kejauhan seperti berkilat hitam kebiru-biruan. Inilah emas hitam yang sesungguhnya. Nilai srintil ini luar biasa. Digadang serta diimpikan oleh setiap petani.” (halaman 214)

Genduk adalah sebuah karya yang sarat dengan budaya lokal, sejarah, beban ganda perempuan, dan kegelisahan perempuan sebagai seorang anak dan juga seorang janda. Secara tidak langsung Genduk memberikan kritik atas permasalahan ketimpangan sosial dan relasi kekuasaan di dunia perkebunan tembakau. Sebab, seperti kata Seno Gumira Ajidharma, ketika jurnalisme bungkam, sastra berbicara.

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment