Gloria Fransisca Resensi Buku

Harimau-Harimau Ditemani Secangkir Teh

Judul Buku                  : Harimau! Harimau!

Penulis                         : Mochtar Lubis

Penerbit, Tahun         : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 1975

Jumlah Halaman       : VI+214 halaman

Jenis Cover                 : Soft Cover

ISBN                            : 978-979-461-109-8

 

Pengantar

Mochtar Lubis, seorang jurnalis Indonesia yang melahirkan sebuah novel yang legendaris. Judulnya singkat, Harimau! Harimau! Covernya adalah gambar seorang lelaki membawa senapan dengan gambar harimau besar di belakangnya.

Saya membaca buku ini ditemani segelas teh saat hujan turun deras sekali akhir tahun lalu. Ada daya pikat dalam tulisan Mochtar yang membuat saya memutuskan untuk terus membaca kisah tujuh orang pengumpul damar dalam hutan namanya; Pak Haji Rakhmad, Wak Katok, Pak Balam, Sutan, Buyung, Talib, dan Sanip. Alkisah mereka sudah seminggu lamanya tinggal di dalam hutan demi mengumpulkan damar.

Kisah ini mencoba menceritakan tentang karakter manusia Indonesia, khususnya soal kepemimpinan. Mochtar menceritakan tentang upaya ketujuh orang ini bertahan hidup di tengah ancaman harimau liar, serta ketakutan mereka pada ilmu penjaga hutan bernama Wak Hitam.

Kondisi ini membuat ketujuh lelaki ini mengalami konflik psikologis, sosial, dan moral di antara mereka. Mereka pun saling menuding satu sama lain dan mengungkapkan bahwa dosa-dosalah yang menyebabkan harimau itu menyerang.

Akhirnya harimau itu berhasil dibunuh mereka setelah Wak Katok yang diyakini memiliki mantra dan jimat palsu, berwibawa dan sakti justru harus menjadi umpan bagi sang harimau.

Saya menilai cara menulis Mochtar Lubis sangat lugas dan tegas, mungkin karena dia adalah seorang jurnalis. Mochtar menulis tentang bagaimana enam tokoh kecuali Buyung, tidak mempertahankan kepolosan dan justru menjadi harimau bagi sesamanya. Mochtar menggambarkan bagaimana dalam segala keterbatasan, dan kecemasan, manusia cenderung untuk egois atau homo homini lupus.

Ada tiga tokoh yang karakternya sangat menonjol sebagai penggambaran kepemimpinan di Indonesia. Mereka adalah Wak Katok, Pak Haji dan Buyung.

Wak Katok adalah tokoh yang menguasai mantra-mantra palsu namun dia sudah menyandang predikat sebagai orang yang diagung-agungkan. Wak Katok menggunakan jimat palsu, munafik, lalim, suka menindas.

Sedangkan Pak Haji adalah pemimpin yang intelek namun penakut, tidak berani bertindak, suka mengasingkan diri dari permasalahan masyarakat demi keselamatan diri sendiri. Buyung adalah seorang pemuda yang polos, penuh dengan pergulatan batin yang masih memiliki idealisme.

 

Tanggapan

Harus diakui gaya Mochtar yang lugas juga muncul dalam penokohan, misalnya, dia tak ragu menuliskan kata ‘bangsat’. Padahal kita mengetahui kata tersebut cenderung kasar dan tidak umum dituliskan dalam novel pada zaman tersebut.

Beberapa pihak yang mengikuti karya Mochtar Lubis menilai Harimau!Harimau menjadi representasi sejumlah tokoh politik masa tersebut. Misalnya, ada yang menyebut tokoh Wak Katok adalah representasi dari Presiden Soekarno masa itu.

Selain itu Mochtar juga berani menggambarkan situasi penuh hasrat antara Buyung dan Siti Rubiah, istri muda Wak Hitam. Hal ini menandakan bahwa novel yang ditulis Mochtar adalah novel dewasa.

Berkat karya ini, Mochtar yang lahir pada 7 Maret 1922 di Padang telah mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama sebagai buku terbaik tahun 1975. Beberapa cerita pendeknya juga dikumpulkan dalam buku Si Jamal (1950) dan Perempuan (1956). Sementara itu romannya yang telah terbit antara lain; Tidak Ada Esok (1950), Jalan Tak Ada Ujung (1952) yang mendapat hadiah sastra dari BMKN.

Meski terpikat dengan novel ini, saya berharap novel ini tidak dilupakan dan tetap menjadi bacaan bagi generasi muda. Alasannya, karena novel ini mengajarkan kita bahwa dalam hidup kita harus saling tolong menolong sebab kita tidak hidup sendiri dan tak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

Novel ini juga membawa nilai moral yang baik tentang memaafkan kesalahan orang lain dan tidak menyimpan dendam. Mochtar juga mencoba mengingatkan pembaca agar selalu ingat kepada Tuhan, jangan percaya pada hal-hal yang bersifat takhayul.

Satu kalimat yang baik dalam novel ini adalah, “bunuhlah harimau dalam hatimu”. Itulah yang akhirnya saya catat baik-baik sembari menghabiskan teh sore itu, “untuk mengalahkan kejahatan dan harimau, sudahkah kamu mengalahkan harimau yang berdiam di dalam jiwamu?”

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment