Gloria Fransisca Resensi Buku

Ketika Modernitas Membentur Masyarakat Adat

pkp

Judul: Puya ke Puya

Penulis: Faisal Oddang

Penerbit: Kepustakaan Gramedia Populer

Cetakan: I, 2015

Tebal: xii + 218 halaman

ISBN: 978-979-91-0950-7

Puya ke Puya berhasil membuat saya berimajinasi suatu hari nanti dapat menginjakkan kaki ke tanah Toraja.

Faisal Oddang, lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Hasanuddin di Makassar ini bisa dibilang cukup cemerlang dalam memberikan penggambaran tentang konflik kepentingan dan benturan  modernitas terhadap masyarakat adat. Membaca karya Puya ke Puya mengingatkan saya pada chat seorang teman yang menanyakan tentang progres pembangunan yang menurut dia telah menyerobot lahan masyarakat adat. Kadang-kadang, diskusi kecil seperti ini membawa saya kembali bertanya, “apakah setiap pembangunan memang mengorbankan pihak lain?”

Novel yang memenangkan Sayembara Menulis dari Dewan Kesenian Jakarta ini bercerita dari banyak sudut pandang personal. Ada Allu Ralla, seorang pemuda, anak seorang petinggi adat di Toraja. Allu Ralla, seorang yang sangat rasional dan memiliki sumbu yang pendek dalam berpikir. Ada Rante Ralla, ayahanda Allu, seorang petua adat yang meninggal secara mendadak karena diracun. Maria, adik Allu yang meninggal saat masih bayi dan dikuburkan di dalam pohon. Arwah bayi yang meninggal dianggap sebagai jiwa yang suci sehingga mereka dikuburkan dengan cara yang berbeda menurut adat Toraja.

Ketika Rante Ralla meninggal, sebagai putra sulung Allu kelabakan dalam mengurus prosesi adat ayahnya yaitu prosesi Rambu Solo. Nah, Rambu Solo adalah prosesi pemakaman yang menjadi magnet alias daya tarik Tana Toraja. Keluarga yang berduka akan mengeluarkan biaya besar dari prosesi itu setara dengan pesta karena sebagai ahli waris, Allu harus menyiapkan 24 kerbau dan ratusan babi sebagai syarat untuk mengantar mendiang ayahnya ke puya (surga). Allu Ralla saat itu hanyalah seorang mahasiswa di Makassar yang tak kunjung lulus.

Allu yang sudah merantau ke kota, menerima terpaan pemikiran modern berpendapat realistis bahwa Rambu Solo hanya memboroskan uang. Dia pun mengutarakan niatnya untuk memakamkan Rante Ralla di Makassar tanpa prosesi adat, Allu mengatakan demikian.

“Kebudayaan adalah produk manusia, manusia dan kebudayaan itu dinamis sesuai ruang dan waktu. Dan relevansi dengan zaman sangat penting sebagai acuan untuk mempertahankan sebuah tradisi yang merupakan bagian dari kebudayaan itu. Acuan untuk tetap melakukan atau tidak, dan saya pikir zaman sudah tidak relevan dengan yang kalian pertahankan” (hlm. 20).

Spontan pemikiran Allu mendapat kecaman dari segenap anggota keluarga terutama Paman Marthen dan adik-adik ayahnya. Paman Marthen sempat membujuk Tina Ralla, ibunda Allu, untuk menjual saja tanah dan tongkonan turun temurun kepada Tuan Berth, orang asing yang membuka pertambangan di sekitar kawasan tersebut. Memang, sejak lama Tuan Berth dan orang-orang dari perusahaannya mengincar tanah dan tongkonan milik keluarga Rante Ralla, namun tidak pernah berhasil. Dalam diam, Tina Ralla tetap menolak ide penjualan tanah dan tongkonan. Perempuan itu menyimpan sebuah rahasia besar atas kematian Rante Ralla.

Keunikkan lain dari novel ini adalah banyak konflik tak terduga yang muncul. Misalnya, konflik percintaan Allu dengan kekasihnya Siti yang berakhir dengan keputusan Allu kembali ke pelukan mantan kekasihnya, Malena. Allu pun memutuskan menjual tanah dan tongkonan demi Rambu Solo sekaligus untuk biaya menikahi Malena.

Dalam dimensi kehidupan yang lain, Maria selalu bersedih hati melihat nasib keluarganya. Namun, Maria menjadi semakin sedih tatkala melihat Allu Ralla yang sudah tak memiliki pilihan diam-diam bekerjasama dengan Tuan Berth dengan mengambil jenazah bayi-bayi yang dikuburkan dalam pohon. Jenazah bayi-bayi tersebut ternyata digunakan semata untuk memberkati arena pertambangan milik Tuan Berth sebab bayi adalah mahkluk yang suci.

Bagian yang cukup mengejutkan, siapa menyangka, Malena ternyata menipu Allu karena dia adalah komplotan Tuan Berth. Malena sengaja menjebak Allu agar kekurangan uang sehingga bisa tunduk terhadap perusahaan tambang. Bisa dibayangkan betapa patah hatinya Allu!

 

Dilema Modernitas

Puya ke Puya sukses menghadirkan realitas terkini masyarakat adat, upaya mempertahankan warisan budaya, dan tuntutan kapitalisme terhadap sumber daya. Puya ke Puya menghadirkan realitas kegelisahan anak muda masa kini alias kids zaman now, realitas benturan adat dan modernitas yang membuat mereka kerap mengambil langkah-langkah yang serba taktis. Novel ini menghadirkan konflik atas modernitas sekaligus kritik adat.

Menurut Adorno (1903-1969) dan Horkheimer (1895-1973), sejarah dominasi di masyarakat disebabkan oleh kondisi psikologis manusia yakni kehendak untuk berkuasa. Pernyataan ini berbeda dari Karl Max yang mengacu pada sejarah dominasi umat manusia yang didasarkan dari hubungan produksi.

Kedua pernyataan tersebut tampak berkelindan dalam Puya ke Puya yang menggambarkan dominasi umat manusia karena kehausan untuk menguasai sesamanya, sekaligus didominasi oleh pemilik modal. Menurut Adorno dan Horkheimer, manusia mulai bisa mengeksplorasi dan mengeksploitasi alam berkat bantuan rasio dan konsep yang diciptakannya. Di sinilah tercipta kesenjangan, di mana ada pemisahan antara si manusia yang bisa menguasai alam seperti beberapa tokoh dalam buku ini, ada pula alam yang akhirnya dikuasai. Relasi manusia dan alam menjadi subjek dan objek, persis seperti penokohan Allu, para pengusaha tambang, serta para masyarakat adat setempat yang terkesiap pada modernitas.

Nampaklah pada akhir cerita, terjadi benturan modernitas dan adat digambarkan menjadi konflik kemanusiaan. Ketika persiapan Rambu Solo dilaksanakan, pihak perusahaan tambah datang dengan alat berat siap meratakan tanah dan tongkonan. Pada saat terjepit itulah Tina Ralla membeberkan rahasia bahwa penyebab kematian Rante Ralla karena diracun oleh orang-orang perusahaan tambang. Sebagaimana pemikiran Adorno dan Horkheimer, “Dahulu kala, animisme menjiwakan benda-benda, namun saat kini, industrialisasi membendakan jiwa-jiwa.”

Allu dan Masyarakat adat mengamuk atas kejadian itu. Warga Kampung kete beramai-ramai membakar lokasi penambangan. Allu dan para lelaki juga diamuk amarah terhadap Malena, sehingga mereka memperkosanya beramai-ramai. Sebuah ending kisah yang tragis dengan kekacauan dan para perempuan kembali menjadi korbannya. Saya jadi teringat lagi kesimpulan pemikir Adorno dan Horkheimer bahwasanya modernitas sukses membuat manusia menjadi tidak bebas dan malah mengasingkan dirinya sendiri dari manusia lain.

Terlihat pada akhirnya sebuah kesimpulan manis menutup kisah Puya ke Puya, yaitu sebuah penghancuran kawasan sebagai gambaran kutukan yang diberikan nenek moyang terhadap masyarakat. Ada keterasingan yang tercipta antara alam, leluhur, dengan masyarakat setempat.

Membaca kisah Allu dan Tana Toraja ada banyak getaran karena kekuatan tokoh yang benarasi dalam sudut pandang orang pertama. Meski Faisal berganti-ganti sudut pandang tidak lantas membuat pembaca kesulitan mengaitkan kondisi sekarang dengan sebelumnya. Cara bertutur tokohnya seperti air mengalir.

Akhir kata, karya Faisal memang ikut mengembangkan kebudayaan dengan mengangkat dilema ketegangan antara logika dan aturan konvensional. Sastra harus bisa hadir untuk mengangkat realitas dengan yang seharusnya terjadi. Faisal sukses mengangkat narasi korban-korban dalam setiap situasi.

Tabik!

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment