Gloria Fransisca Kegiatan Liputan

Maria Hartiningsih: Menemukan Jalan Pulang

MH

“Saya datang dari keluarga Islam. Kalau Islam dijelek-jelekkan, saya  juga tidak mau. Islam yang saya kenal tidak seperti itu.”

 

Demikianlah pernyataan yang diungkapkan Maria Hartiningsih, mantan jurnalis Harian KOMPAS kepada beberapa kawan Agenda 18 yang berkunjung ke rumahnya pada 16 Juli 2017 lalu. Maria menceritakan banyak hal kepada Agenda 18 tentang latar belakang dirinya sebagai perempuan dari bermacam kultur serta pengalaman hidup yang menempanya. Pada kesempatan ini juga Maria banyak membagikan pandangannya tentang fenomena radikalisasi Islam yang tengah bergolak di Indonesia.

 

Kunjungan ini memang bukan tanpa alasan. Agenda 18 ingin mendiskusikan buku terbaru Maria yang berjudul Jalan Pulang. Siang itu, Maria menyambut tim Agenda 18 di rumahnya yang sederhana dan nyaman di bilangan Serpong. Maria terbilang beruntung bisa menempati rumah yang berhadapan langsung dengan taman kota. Dia mengaku sangat bersyukur bisa memiliki rumah yang begitu akrab dengan alam.

 

“Hidup tidak selalu sama,” ujar Maria mulai menceritakan awal mulanya mencoba menuliskan buku berjudul Jalan Pulang. Sebuah buku yang merekam perjalanan spiritualnya sebagai seorang jurnalis. Sebuah buku yang sarat dengan pengalaman subjektifnya, sementara selama ini dia menjalani hidup sebagai jurnalis.

 

“Saya tidak bisa mengambil jarak dengan narasumbernya, puncaknya pada tahun 2000-an, saya sampai masuk rumah sakit,” ungkap Maria menceritakan pergulatan sebagai seorang jurnalis perempuan yang kerap meliput isu-isu kemanusiaan.

 

Akibat begitu banyaknya pergulatan, penerima penghargaan Yap Thiam Hien Award 2003 ini mulai melakukan meditasi dengan menempatkan objek-objek pemberitaan diluar dirinya. Sebagai seorang jurnalis dengan banyaknya aktivitas pekerjaan, Maria mengaku mulai meninggalkan aktivitas kerohanian, salah satunya pergi ke gereja setiap Minggu. Meskipun begitu, dia tidak meninggalkan doa Rosario dan Pekan Suci jelang Paskah.

 

“Menurut saya inti mistik iman Kristiani itu justru ada di dalam perayaan Paskah, jadi saya tidak pernah absen,” tuturnya.

 

KEBIMBANGAN

“Ada ketakutan kalau pensiun, saya sudah tidak di KOMPAS. Saya ini siapa?” terang Maria. Dia menceritakan bagaimana kebimbangannya setelah begitu larut sebagai seorang jurnalis dalam media terbesar di Indonesia. Seorang Maria Hartiningsih yang identik dengan KOMPAS. Dia pun mulai diselimuti rasa penasaran pada identitasnya, kebimbangan ini juga yang mendorong Maria melakukan perjalanan rohani atau sebuah peziarahan. Dia merasa ada dorongan barangkali peziarahan ini bisa memberikan sebuah solusi, sebuah jawaban, sebuah jalan.

 

“Saya selama ini menggugat yang namanya iman, namanya agama. Karena semua teks agama itu mengatakan sesungguhnya Tuhan sangat dekat dengan kita.”

 

Maria lalu menceritakan banyak hal yang dia alami selama proses perjalanan rohani sepanjang 2013-2015 menyusuri mulai Camino, Santiago de Compostela, Lourdes, Plum Village, Oran, dan Mostaganem. Sebuah perjalanan yang hanya bisa ditemukan dalam kesunyian batin. Menurutnya, setiap orang yang melakukan perjalanan rohani bukan tentang bagaimana dia sampai di tujuan, tetapi terkadang apa yang dicari justru ditemukan selama perjalanan tersebut. Momentum itulah yang membuat Maria dalam krisis usia senja menemukan Jalan Pulang.

 

KONFLIK AGAMA

Maria mengaku sangat tidak menyangka buku Jalan Pulang akan terbit saat suasana politik di Indonesia tengah mendidih dengan isu SARA. Bahkan dia mengaku awalnya sangat kesulitan untuk memulai menulis naskah novel Jalan Pulang tersebut.

 

“Saat menulisnya, saya bahkan tidak tahu target pasar [pembaca] siapa. Saya bahkan tidak tahu bisa menuliskannya atau tidak. Saya merasa tidak bisa menulis sebenarnya,” ungkap Maria sambil tersenyum.

 

Menurutnya, perpecahan yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia bukan karena agama, tetapi karena politik. Namun dia tak menampik bahwa buku Jalan Pulang hadir pada saat yang tepat ketika agama sedang dipakai untuk memecah-mecahkan manusia Indonesia.

 

“Setiap orang berpikir secara berbeda, masak kita harus sama dengan orang lain?,” paparnya.

 

Perempuan yang telah berkiprah sebagai jurnalis sejak 1984 itu yakin, suasana politik Indonesia yang belakangan lekas mendidih akibat masalah agama akan berakhir. Kondisi tersebut karena adanya oknum-oknum dalam dunia politik yang tidak bertanggung jawab.

 

“Situasi seperti sekarang ini justru menghadapkan kita pada kemauan kita untuk diam,” kata Maria menyikapi perilaku pengguna social media yang mudah terhasut atau terprovokasi atas ujaran kebencian yang diviralkan.

 

Diskusi yang berjalan nyaris dua jam sejak pukul 10.00 WIB sampai 12.00 WIB ditutup dengan makan siang bersama. Peserta dari Agenda 18 juga sangat senang karena berkesempatan untuk mengintip sejumlah buku-buku milik Maria yang tertata dengan rapi dalam rak-rak buku. Kebanyakkan buku-buku tentang masalah kemanusiaan, gender equality, dan filsafat atau kerohanian. Selain buku, Maria juga memajang beberapa patung Buddha berbagai ukuran dan patung Santa Perawan Maria di dalam lemari kaca.

 

MH 2

 

Interior rumah Maria juga sangat sederhana dengan pintu dari kayu jati dengan ventilasi yang cukup banyak. Bangku-bangku yang ada juga bernuansa minimalis dengan bahan kayu. Tak mengherankan jika siang itu usai makan kami masih bisa menikmati angin-angin sepoi dan tidak terasa panas.

 

“Orang yang berani menghadapi diri sendiri, dia adalah seorang warrior,” ungkap Maria berpesan kepada peserta Agenda 18.

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment