Gloria Fransisca Jalan-Jalan Kegiatan

Menyusuri Jejak Spiritual di Pasar Baru

A WALK TO UNDERSTAND

Saat ini orang beramai-ramai memamerkan identitas dirinya sebagai Indonesia yang pluralis. Misal, saya Jawa dan seorang muslim. Ada pula yang mengatakan saya Flores campur Tionghoa, dan saya Katolik. Lalu semua beramai-ramai mengklaim “Kita Indonesia”. Dari keramaian wacana publik itu saya justru mencari alternatif lain bagaimana mendeskripsikan Indonesia.

Upaya tersebut saya mulai dengan langkah mendalami setiap kebudayaan dan ritual agama yang ada di Indonesia. Saya ingat jelas Bung Karno pernah mengimbau agar seluruh masyarakat Indonesia menciptakan suatu dunia yang dimana semua bangsa, suku, ras dan agama bisa hidup dalam damai dan persaudaraan. Entah mengapa saya yakin, Indonesia adalah rumah keberagaman yang dimaksudkan oleh Soekarno.

Syukurlah saya melihat ada registrasi untuk acara jalan-jalan A Walk To Understand pada 29 April 2017 lalu, yang diinisiasikan oleh Jakarta Good Guide dan 100 Persen Manusia. Sebuah event mengunjungi beberapa rumah ibadah yang ada di Pasar Baru. Well, menarik ya?

Ternyata, di kawasan sekecil Pasar Baru, Jakarta Pusat saja ada beragam kepercayaan yang hidup berdampingan dengan damai. Perjalanan pun akhirnya dimulai pada jam 13.00 WIB, kami berkumpul di Stasiun Djuanda dan saling memperkenalkan diri. Setelah semua anggota rombongan sesuai absen telah hadir, kami berjalan kaki menyeberang jembatan menuju Masjid Istiqlal.

Para pelancong yang muslim dan non-muslim melepaskan alas kaki bersama tour guide kami yaitu Farid Mardhiyanto. Farid pun mengarahkan kami naik menuju lantai tiga masjid yang ternyata begitu megah.

Sebagai tour guide, dia pun membuka cerita soal masjid terbesar di Asia Tenggara ini. Menurut Farid, masjid ini berada pada bekas lokasi Taman Wilhelmina. Adapun cerita unik dibalik Masjid Istiqlal bahwa arsitektur masjid ini adalah seorang non muslim bernama Fredrich Silaban. Dia adalah seorang penganut agama Kristen Protestan

Dia bercerita, pada 1955, Presiden Soekarno mengadakan kompetisi desain masjid. Saat itu, tanpa melihat latar belakang agama dan suku, Soekarno dan tim menilai Fredrich memenangkan kompetisi tersebut. Konon, kemenangan itu tak secara spontan disyukuri oleh Fredrich. Dia sempat merasa tidak percaya diri karena harus mewujudkan desain masjid menjadi bangunan megah sesuai harapan Soekarno. Untuk mengatasi kekhawatiran itu, Fredrich pun membekali diri dengan belajar sejumlah tafsiran-tafsiran Islam sehingga masjid yang akan dibangun itu tak lepas dari falsafah muslim.

Pembangunan masjid itupun dimulai pada 1961, namun berakhir 1978 pada era kepemimpinan Soeharto. Alasannya, sepanjang 1961-1966 terjadi krisis ekonomi dan revolusi maka terjadi penundaan yang cukup lama.

Farid menunjuk pilar di ruang utama masjid. Katanya, Fredrich Silaban memberikan 12 pilar dalam Masjid Istiqlal sebagai lambang tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dia membangun lima lantai dalam masjid itu sebagai lambang waktu sholat, lima waktu. Ada juga yang mengatakan lima lantai itu menandakan lima rukum Islam yaitu; Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat, dan Haji.

Setelah itu, tour guide kami juga menunjuk langit-langit masjid. Dia mengajak kami melihat kubah yang berdiameter 45 meter sebagai lambang tahun kemerdekaan Republik Indonesia 1945.

Sekeliling kubah itu ada ayat. “Ayo ada yang tahu itu ayat apa?” tanya Farid kepada para peserta muslim yang hadir. Para peserta pun mulai mengajukan beberapa nama ayat, sisanya saling berbisik-bisik, sementara saya memilih diam karena tidak mengertai tulisan Arab. Tiba-tiba seorang perempuan berjilbab dalam rombongan kami berkata, “Itu adalah ayat Kursi.”

Ya, ayat yang ada di langit-langit kubah masjid adalah ayat Kursi. Sementara nama dari Masjid Istiqlal sendiri diambil dari kata Istiqlal yang memiliki arti Merdeka.

Usai melakukan perjalanan keliling masjid, menjumpai bedug dari kulit sapi tertua, kami pun berfoto bersama di Masjid Istiqlal dan melanjutkan perjalanan ke rumah ibadah di seberang Masjid Istiqlal. Apalagi jika bukan Gereja Katedral Jakarta.

Saat kami tiba, ternyata sedang ada upacara penerimaan sakramen perkawinan, sehingga anggota tour mendapat penjelasan dari pintu masuk saja.

Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga alias Gereja Katedral Jakarta ini dibangun pada 1810 dan dirancang oleh Pastor Anthony Djikmans SJ. Farid mengatakan, peletakkan batu pertama dilakukan oleh Pro-vikaris, Carolus Wenneker. Sayangnya pada 1826 bangunan ini hangus terbakar, bersama 180 rumah penduduk di sekitarnya. Selain kejadian itu, pada 1890 gereja ini sempat roboh. Oleh sebab itu, kata Farid, sejarah tidak terlalu mencatat secara pasti tahun 1810 sebagai hari lahir Gereja Katedral di Jakarta.

Pada 1901, pekerjaan gereja ini dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans sakit dan harus kembali ke Belanda. Gereja ini kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, S.J., Vikaris Apostolik Jakarta. Sejarah pun mulai banyak yang menyebut tanggap resmi kelahiran Gereja Katedral Jakarta adalah tahun 1901.

Sebagai seorang muslim, Farid pun tidak bisa menceritakan banyak hal soal Katedral, dia pun meminta beberapa peserta yang beragama Katolik untuk ikut sharing. Farid bercerita bahwa Gereja Katolik di Indonesi adi zaman penjajahan banyak mengalami masa pergumulan yang karena dilarang keras oleh Belanda. Maklum, orang Belanda secara mayoritas beragama Kristen Protestan.

Secara arsitektur, kata Farid, gereja dibuat dengan gaya neo-gothik. Dia pun menunjukkan kepada peserta bahwa tiga Menara di Gereja Katedral yakni; Menara Benteng Daud, Menara Gading dan Menara Angelus Dei. Farid juga menunjukkan ada Rozeta yang merupakan jendela bercorak Rosa Mystica sebagai lambang dari Bunda Maria. Benda ini terletak di atas gerbang utama.

Nah, pada pintu masuk utama terdapat patung Maria dan ada tulisan ‘Beatam Me Dicentes Omnes’. Dia pun mulai bertanya kepada orang yang beragama Katolik, kira-kira apa arti tulisan itu. Saya sendiri sebagai seorang Katolik tidak tahu tulisan Latin yang tertera pada pintu masuk gereja. Sebaliknya, seorang peserta lelaki yang masih muda mencoba mencari artinya, “Beata itu orang suci, semacam Santo. Nah sisanya apa, saya tidak tahu,” ujarnya sambil tertawa.

Farid pun menjawab, “Kalau sepengetahuan saya, itu artinya adalah Semua mahkluk keturunan menyebut aku yang berbahagia.” Ya, kata Farid memang benar, tulisan Latin itu artinya “Semua keturunan menyebut aku bahagia”.

“Kata-kata itu untuk Maria, karena Katedral ini memang identic dengan Maria, dari nama gerejanya saja sudah menunjukkan hal itu,” ungkap Farid.

Rombongan lalu menyusuri jalan trotoar di dari Katedral melalui Sekolah SMP-SMA Sancta Ursula. Setibanya kami di depan Kantor Pos Indonesia, Farid pun bercerita sedikit tetntang beberapa gedung yang berada pada simpang segitiga jalan itu. Menurut cerita Farid, gedung Kantor Pos yang lama memang dulunya bangunan Belanda. Dia juga menjelaskan ada makna khusus mengapa Pos Indonesia memakai   warna orange. Seorang peserta lantas menjawab, “Soalnya orange itu warna Belanda?” dan ya! Tepat! Orange adalah warna Belanda, Pos Indonesia masih mewarisi peninggalan Belanda.

Farid lalu menunjuk ke gedung sebelah kiri yang tampak tua namun megah, yaitu Gedung Kementerian Keuangan. Kata Farid, ada alasan khusus mengapa gedung kementerian satu ini memiliki bangunan warisan colonial, berbeda dari gedung kementerian lain.

“Soalnya, gedung ini dulunya mau dijadikan Istana. Sebab, langsung berhadapan dengan Lapangan Banteng, lalu tidak jadi,” jelasnya.

Nah, yang menarik berikutnya ketika Farid menunjuk Gedung Kimi Farma diseberang Kantor Pos Indonesia. “Ada yang tahu tidak ini gedung kantor apotik bisa berbentuk kayak bangunan colonial?” Sayang, tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan Farid. Dia pun mengatakan, konon, gedung Kimia Farma adalah gedung peninggalan Belanda. Gedung itu adalah Gedung untuk kaum Freemason.

Banyak peserta yang merespon bahwa Freemason adalah pemuja setan, dan sebagainya. Sampai akhirnya Farid bercerita, sepengetahuannya, Freemason di Indonesia tidak bisa diidentikkan sebagai pemuja setan. Sebaliknya, kelompok Freemason ini adalah kaum intelektual dari berbagai golongan.

“Gedung pertemuan Freemason ini isinya bukan bangsa kulit putih saja, tetapi juga kaum pribumi. Tujuannya mereka adalah untuk saling menjembatani kebutuhan masing-masing untuk meminimalisir potensi konflik horizontal,” ujar Farid.

Usai mendengarkan cerita singkat soal Freemason, kami melanjutkan perjalanan memasuki kawasan Pasar Baroe. Lokasi pertama yang kami kunjungi di kawasan Pasar Baroe adalah Hare Khrisna Temple.

Kami tidak bisa masuk ke dalam area Hare Khrisna Temple, sehingga kami pun hanya bisa berdiri tepat di depan pintu masuk. Farid menjelaskan bahwa penganut kepercayaan ini melakukan bakti yoga secara rutin dan menghindari diri dari hal-hal duniawi. Kuil ini berada di bawah naungan Masyarakat Kesadaran Krishna Internasional yang didirikan pada tahun 1966 oleh Srila AC Bhaktivendata Swami Prabhupada di Amerika Serikat. Kepercayaan ini Indonesia telah berkembang di Indoensia sejak tahun 1980. Pada 2002 terbentuk organisasi dengan nama Sampradya Kesadaran Krishna Indonesia (SAKKHI) di bawah naungan Parisada Hindu Dhrama Indonesia.

Dok: @titgaloria
Dok: @titgaloria

Setelah mendengarkan cerita singkat dari Farid, kami lantas melanjutkan perjalanan tak sampai 500 meter, ada lagi rumah ibadah Sai Baba Study Group (SSG). Senasib dengan Hare Khrisna Temple, kami pun berhalangan masuk ke Sai Baba Temple. Kami hanya bisa memfoto patung gajah seperti Ganesha yang berdiri di depan pintu masuk. Menurut jadwal, Sai Baba Temple sedang tutup sehingga tidak bisa menerima aktvitas apapun.

Farid bercerita, bahwa SSG dikelola oleh sebuah lembaga bernama Yayasan Sri Sathya Sai Baba Indonesia. Sai Baba Studi Group Indonesia mengklaim dirinya bukan suatu organisasi yang mempunyai misi pemindahan agama, bukan organisasi yang mencampur-adukkan agama, bukan agama baru atau suatu aliran kepercayaan. Oleh sebab itu para penganut agama apapun bisa terlibat dalam aktivitas spiritual Sai Baba Group. Ajaran Sai Baba adalah tentang menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air, menjaga keharmonisan antar sesama dan menjadi warga negara yang baik.

Aliran ini dipopulerkan oleh Sadguru Bhagawan Sri Sathya Sai Baba lahir pada tanggal 23 November 1926 di Puttaparti, India. Dia lahir tanpa ayah. Konon pada suatau malam, ada cahaya biru yang yang masuk kedalam tubuh ibunya dan seketika itu hamil.

Sai Baba telah wafat di usianya ke 96 tahun pada tanggal 24 April 2011. Namun ajaran-ajarannya yang bersifat universal tetap dilaksanakan pengikutnya. Waktu meditasi yang diselenggarakan tiap selasa dan kamis ini boleh diikuti oleh siapapun dari berbagai agama.

Cuaca siang yang terik mulai berganti menjadi senja dengan awan yang mulai gelap. Farid pun mulai mengingatkan peserta untuk mempersiapkan payung jika hujan mengguyur. Tak lebih dari 500 meter, kami pun tiba di Sikh Temple, sebuah kuil masyarakat peranakan India. Sayang, lagi-lagi Sikh Temple sedang tutup sehingga kami hanya bisa berdiri di depan pintu rumah ibadah, sembari mendengarkan cerita Farid.

Sikh Temple adalah kuil tempat ibadah para penganut agama Sikh. Kuil yang bernama Sikh Temple ini berdiri sejak 1950.

Farid mengutarakan bahwa agama Sikh adalah salah satu lima agama besar di dunia dan berkembang di India pada abad ke-16 dan 17. Agama Sikh memang dipengaruhi perubahan dalam agama Hindu India dan Islam di Pakistan.

Agama Sikh berkembang pertama kali di Punjab, India, dan digagas oleh Guru Nanak pada 1469-1539. Penganut Sikh hanya percaya kepada satu tuhan yang dipanggil Waheguru.  Setelah Guru Nanak meninggal, dia digantikan oleh penerusnya sebanyak sepuluh guru.

Dok: @titagloria
Dok: @titagloria

Kata Sikh sendiri berasal dari kata sisya dalam bahasa sanskrit yang berarti “murid” atau “pelajar”, atau siksa yang berarti “arahan”. Kepercayaan utama yang diajarkan agama Sikh adalah percaya kepada satu Tuhan yang pantheistik yang tidak mengandungi antropomofisme (pemberian sifat manusia kepada dewa-dewa).

Dari Sikh Temple kami pun lalu berbelok memasuki sebuah gang kecil yang ramai dengan ruko. Beberapa ruko adalah Gereja Kristen Protestan. Tibalah kami di depan gedung Saksi-Saksi Yehuwa.

Farid mengakui tidak mengetahui banyak informasi soal agama yang satu ini. Bahkan, banyak orang yang sudah memberi label Saksi-Saksi Yehuwa sebagai ajaran sesat. Hanya saja, Saksi-Saki Yehuwa adalah bentuk lain dari agama Kristen. Hal ini terbukti dari pencantuman Yehuwa yang artinya dalam Alkitab sama dengan Allah.

Berdasarkan papan informasi di pintu masuk Balai Kesaksian Yehuwa, Saksi-Saksi Yehuwa ini memang memiliki aktivitas pada Senin-Jumat untuk dan Sabtu-Minggu pengurus Balai Saksi-Saksi Yehuwa ini tutup. Oleh sebab itu kami pun lagi-lagi tidak bisa masuk ke dalam gedung Balai Kesaksian Yehuwa.

Pihak yang mengklaim ajaran ini sesat memang tak sepenuhnya salah. Pasalnya, pengajaran Saksi-Saksi Yehuwa di Indonesia telah resmi dilarang. Hal itu tercantum dalam Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor 129 Tahun 1976 yang menyatakan Jaksa Agung telah melarang kegiatan Saksi Yehuwa atau Siswa Alkitab di seluruh wilayah Indonesia. Alasan pelarangan karena Saksi-Saksi Yehuwa memiliki ajaran yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia. Misalnya menolak salut bendera dan menolak ikut berpolitik.

Kami lalu meneruskan perjalanan melalui Gang Kelinci. Kami masuk ke Pasar Baru lalu belok ke suatu gang kecil yang ramai dengan pedagang kaki lima berjualan makanan. Harum aroma berbagai masakan mulai menusuk hidung di tengah perut yang mulai keroncongan. Awan pun mulai menitikkan gerimis saat kami tiba di Vihara Dharma Jaya alias Klenteng Sin Tek Bio.

Sebagai pembukaan, Farid mengatakan bahwa Vihara ini adalah rumah ibadah tertua dari semua ibadah yang kami kunjungi. Klenteng Sin Tek Bio berdiri sejak 1698 di Batavia. Menurut Farid, klenteng ini dibangun seiring dengan banyaknya petani-petani Tionghoa yang tinggal di sekitar Kebun Chastelein. Ada kemungkinan klenteng ini dibangun oleh petani-petani Tionghoa yang tinggal di tepi kali Ciliwung sekitar Pasar Baru.

Dok: @titagloria
Dok: @titagloria

Berdasarkan buku sejarah Klenteng Sin Tek Bio, Pasar Baru mulai dihuni orang pada pertengahan abada ke 17, menyusul dibukanya persawahan dan perkebunan kopi di sekitar Lapangan Banteng. Semakin berkembangnya manusia pada awal abad 18, maka semakin banyak orang kaya yang mendirikan rumah-rumah peristirahatan sekitar Waterloopin alias Lapangan Banteng.

Semula Sin Tek Bio menghadap ke arah Selatan atau terletak di jalan Belakang Kongsi No. 16, kini dipakai Mie Aboen. Kemudian pada 1812 (tahun monyet) dipindah ke belakang bangunan lama dan menghadap ke utara yaitu menghadap ke Jalan Samanhudi. Dulu disebut gang Tepekong, sekarang dikenal sebagai jalan Pasar Baru Dalam Pasar No. 146, Jakarta Pusat.

Lokasi klenteng yang berada di pusat agar bisa menjadi penetralisir hawa negatif dari kegiatan di pasar. Adapun aura di pasar adalah energi yang negatif, energi panas keduniawian, juga disertai beberapa energi kecurangan dan penipuan dalam perdagangan. Akibat kecilnya luas klenteng, farid mengimbau peserta tur agar secara bergantian dan teratur masuk ke dalam klenteng.

Sekitar 15 menit di klenteng, hujan ternyata mulai mengguyur. Uniknya, tatkala kami baru membuka payung siap menerjang hujan dan melanjutkan perjalanan ke rumah ibadah terakhir, hujannya justru berhenti.

Keluar melalui pintu depan, lalu melalui Bakmi Aboen, kami pun melalui lagi Gang Kelinci. Kami menyusuri jalan raja menuju Gereja Protestan Bagian Barat, Gereja PNIEL alias Gereja Ayam.

Ketika memasuki gedung gereja, Farid langsung menunjuk batu marmer yang menuliskan pendiri gereja tersebut. Dia pun meminta salah satu peserta asal Belanda untuk membaca tulisan tersebut. Disana tercantum nama yang familiar dari yang sudah didengar oleh peserta. Siapa lagi jima buka Cuypers-Hulswit.

Gereja PNIEL ini ternyata dibangun oleh arsitektur yang sama dengan Gereja Katedral Jakarta yaitu oleh NA Hulswit dari biro arsitektur Cuypers-Hulswit. Gereja ini berusia 104 tahun namun kondisi perabotannya didalam masih baik. Misalnya, bangku di gereja adalah bangku yang sama sejak pertama kali didatangkaa. Ada pula Alkitab dari Belanda yang berusia 200 tahun serta meja pembaptisan untuk umat yang usianya 350 tahun, nyaris seusia dengan lamanya Belanda menjajah Indonesia.

Gereja ini memakai lambang utama pada puncak atap dengan lambang mata angin berbentuk ayam. Farid lalu bertanya kepada peserta mengapa Gereja ini mengambil lambang ayam, dana pa relasinya ayam dengan kitab suci.

Seorang teman seperjalanan saya, Zita Wahyu berdiskusi dengan saya. Dia lalu berkata, “Ayam, hmm.. Ayam jantan, itu relasi waktu Petrus bukan ya?” Saya pun terkejut dan yakin bahwa yang dimaksud adalah Ayam Jantan adalah lambang peringatan kepada Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali sebelum Yesus disalibkan.

Dok: @titagloria
Dok: @titagloria

Untungnya saat menjelaskan soal Gereja PNIEL, Farid tidak sendiri, dia ditemani oleh salah seorang Majelis Dewan Gereja. Menurut penjelasan Majelis Dewan Gereja, pada 1856 gereja ini hanya berbentuk kapel. Tujuan pendirian kapel untuk memenuhi kebutuhan ibadah penghuni panti jompo di lingkungan gereja.

Namun pada tahun 1913 gereja ini dipugar, misalnya pada bagian atas dibuat datar, tidak lagi berkubah. Hal ini guna mencegah adanya kerusakan pada kubah yang sewaktu-waktu bisa terjadi dan membahayakan umat. Gereja ini secara resmi aktif pada tahun 1915 dan kini terletak di Jalan Samanhudi No. 12 Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Seperti biasanya, usai sebuah perjalanan selalu ada pengabadian melalui foto-foto bersama. Perjalanan panjang dari jam 13.00 WIB dan berakhir 16.00 WIB ke delapan lokasi untuk menyusuri spiritual di Pasar Baru akan menjadi bekal yang berguna bagi saya.

Keberagaman tak seharusnya memecah belah, sebaliknya kita hidup dengan damai bahkan bersama kepercayaan yang belum diakui oleh negara. Hal ini menandakan masyarakat kita adalah manusia yang toleran. Tidak perlu ada Aksi Bela Islam, Aksi Bela Kristen, atau aksi lainnya.

Saya yakin, fenomena intolerasi yang muncul di masyarakat bukan disebabkan karena kita egois saja tetapi bisa jadi disebabkan karena kita tidak mau memahami kepercayaan orang lain. Kita lupa bahwa mereka manusia, seperti halnya saya seorang manusia.

Dok: @100persenmanusia
Dok: @100persenmanusia

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment