Gloria Fransisca Resensi Buku

Narasi Buruh Perempuan, Narasi SK Trimurti

Judul Buku               : S.K. Trimurti, Pejuang Perempuan Indonesia

Penulis                       : Ipong Jazimah

Penerbit, Tahun      : Penerbit Buku Kompas, 2016

Jumlah Halaman    : xviii+ 248 halaman

Jenis Cover               : Soft Cover

ISBN                            : 978-602-412-019-1

 

Narasi Seorang Kader Politik dan Penulis

Buku ini adalah sebuah buku yang menceritakan tentang seorang Pejuang Hak Buruh Perempuan dan Anak, namanya Soerastri Karma Trimurti alias SK Trimurti. Penulis nampaknya ingin menghidupkan kembali narasi buruh perempuan, dari rekam jejak SK Trimurti.

Ipong sang penulis berusaha mengangkat kembali kiprah seorang SK Trimurti melalui buku ini. Secara rinci, Ipong mencoba menulis ulang biografi SK Trimurti dengan sejumlah acuan dari beberapa buku yang telah diterbitkan sebelumnya.

Perempuan ini lahir dari keluarga ningrat, sehingga SK Trimurti adalah perempuan yang cukup beruntung zaman itu bisa mengenyam pendidikan di sekolah khusus perempuan menjadi guru. Dia lalu mengikuti saran kedua orangtuanya untuk menjadi guru berstatus pegawai negeri.

Gerak batin kegelisahan SK Trimurti tidak kunjung selesai. Dia masih melihat banyaknya penindasan yang dilakukan penjajah atas bangsanya. Panggilannya sebagai guru mulai goyah seiring dengan arah kepedulian dalam batinnya yang semakin bergejolak.

Kepeduliaan SK Trimurti tak lepas dari kebiasaannya ikut serta sang ayah berkeliling desa. Maklum, ayahnya adalah seorang Ndoro Seten alias seorang carik. Ayahnya kemudian naik jabatan menjadi Asisten Wedana alias Camat. Jadi tentu terbayang ayah SK Trimurti adalah orang terpandang saat itu.

Pergolakan batinnya yang terus menolak sikap kaum penjajah, SK Trimurti mengambil keputusan besar dalam hidupnya yakni berhenti menjadi guru dan memilih bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) di Bandung yang didirikan oleh Soekarno.

Petualangan SK Trimurti dimulai di Bandung baik sebagai seorang kader partai dan juga seorang penulis. Dia menjadi kader Partindo dan anak didik Soekarno bersama Wikana, Sukarni, dan Asmara Hadi. Dia juga menjalin relasi yang sangat akrab dengan istri Soekarno saat itu, yaitu Inggit Ganarsih.

Perjalanan menjadi penulis berawal ketika Soekarno meminta menulis pada harian Fikiran Ra’jat, salah satu koran kelompok Partindo.

“Saya tidak bisa,” kata SK Trimurti. Namun apa daya, Soekarno mendesak. “Harus bisa.” kata Soekarno.

Aktivitas politik yang digeluti oleh SK Trimurti ternyata mendapat penolakan dari keluarga. Menurut kedua orangtuanya, SK Trimurti bisa membahayakan anggota keluarga. Akhirnya, perempuan kelahiran 11 Mei 1912 ini pun keluar dari rumah keluarganya di Klaten dan memulai hidup baru layaknya pengembara.

Dari Bandung, SK Trimurti pindah ke Yogyakarta dan memulai karir dalam organisasi perempuan disana bersama kerabatnya Sri Panggihan. Keduanya mendirikan Pengurus Besar Persatuan Marhaeni Indonesia. Adapun Persatuan Marhaeni Indonesia juga berhasil membuat majalah Suara Marhaeni.

Tulisan-tulisan yang dimuat dalam Suara Marhaeni jelas berisikan kecaman kepada pemerintah Belanda. Hal itu membuat pengurus majalah Suara Marhaeni menjadi buronan Belanda. SK Trimurti dan kawan-kawan kerap berpindah tempat hal itu lantas menyulitkan aktivitas politik dan percetakkan pamphlet Suara Marhaeni.

SK Trimurti akhirnya berhasil ditangkap dan masuk bui. Dia pun mengalami penyiksaan dari Belama selama 9 bulan di penjara. Dia akhirnya dibebaskan, namun ia tak jera juga karena masih melanjutkan aktivitas politiknya dengan bergabung di majalah Suluh Kita. Dia juga menerima tawaran lain yaitu menulis di Sinar Selatan, koran milik Jepang.

Perkembang pers yang pesat ternyata membuat gerah pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda pun mengeluarkan aturan semua media yang beroperasi harus atas izin Gubernur Belanda. Jika tidak ada maka pemerintah berhak mencabut hak penerbitan alias persbreidel ordonantie, mekanisme yang sejenis dengan penerbitan SIUPP pada era Orde Baru.

 

Kisah Cinta SK Trimurti Yang Tragis

SK Trimurti yang sangat terbius dengan aktivisme dunia menulis membuatnya nyaris abai pada keinginan untuk menjalin hubungan pacaran. Dia lalu berjumpa dengan Sayuti Melik, seorang bekas tahanan Boven Digoel.

Kisah keduanya bermula ketika Sayuti Melik secara anonym menuliskan sebuah artikel di Sinar Selatan yang mengecam Belanda. Oleh sebab itu SK Trimurti ingin bertanggung jawab atas tulisan yang bagus itu dengan mencantumkan namanya sebagai penulisnya.

Keduanya begitu sering berjumpa dalam diskusi politik dan sering beradu pendapat secara sengit. Seturut pepatah Jawa cinta tumbuh karena terbiasa demikianlah yang terjadi antara Sayuti dan SK Trimurti. Akhirnya Sayuti pun melamar SK Trimurti.

“Kelihatannya kita bisa bekerja sama. Bagaimana kalau kau menjadi istri saya?” kata Sayuti Melik kepada SK Trimurti.

SK Trimurti lalu menerima pinangan Sayuti Melik. Sayang, pernikahan keduanya tak mendapat restu keluarga SK Trimurti. Orangtua SK Trimurti tidak mengharapkan menantu yang datang dari keluarga masyarakat biasa, apalagi Sayuti juga tak bekerja sebagai PNS. Namun karena keteguhan hati SK Trimurti pernikahan tetap digelar. Pada masa mengarungi bahtera rumah tangga, keduanya bahkan membuka majalah bersama dengan nama Pesat, dimana Sayuti Melik menjadi pemimpin redaksi.

Awal pernikahan mereka diuji dengan penangkapan SK Trimurti oleh polisi Belanda atas tulisan yang dimuat di Sinar Selatan, yang mana itu adalah tulisan Sayuti Melik. Tulisan itu dipandang Belanda sebagai tulisan yang memihak Jepang. SK Trimurti pun kembali dipenjara saat hamil pertama.

Ketika SK Trimurti bebas, Harian Pesat dibubarkan karena penjajah baru, pemerintah Jepang menolak ada organisasi, partai, ataupun penerbitan apapun. Gantian, Sayuti Melik yang diciduk pemerintah Jepang karena Sayuti diduga bagian dari anggota komunis bawa tanah. Anak pertama mereka pun kerap diungsikan ke beberapa kerabat karena panasnya kondisi politik saat itu.

Dua minggu berselang, SK Trimurti juga diciduk oleh Jepang, lagi-lagi dalam keadaan hamil putra keduanya. Dia sempat dikembalikan ke rumah untuk melahirkan namun dibawa lagi ke penjara setelah melahirkan.

Dia disiksa karena merendahkan seorang Nedaci Jepang yang ingin memperistri adiknya. Menurut SK Trimurti, suami dan istri harus setara, tidak bisa salah satu lebih rendah. Bagaimana mungkin seorang penjajah warga kelas satu memperistri warga pribumi, warga kelas dua? Nantinya ada kesenjangan dalam rumah tangga yang memicu kekerasan.

Tubuh SK Trimurti ambruk padahal dia sedang menyusui. Kepalanya menjadi linglung, penuh luka di tubuh, belum lagi air susunya yang memanas membuat bayi keduanya enggan untuk menyusu. Butuh waktu untuk memulihkan kondisi SK Trimurti.

Perjuangan keduanya tidak berhenti, sampai perjuangan kemerdekaan RI. Sayuti masih menjadi tahanan Jepang, sementara SK Trimurti bisa dibebaskan atas bantuan Soekarno. Bersamaan dengan itu tersiarlah kabar kekalahan Jepang yang menjadi peluang Indonesia untuk merdeka. SK Trimurti juga ikut membantu persiapan kemerdekaan bersama suaminya.

Saat itu Sayuti ikut serta dalam perundingan kemerdekaan RI di rumah . Hingga akhirnya pada proklamasi kemerdekaan SK Trimurti diminta mengerek bendera merah putih yang dijahit Fatmawati, tetapi dia menolaknya dan menyuruh Latief, mantan PETA yang lebih berpengalaman.

 

Aktivis Buruh, Perempuan dan Anak

Perempuan ini pun memulai aktivitas politiknya dengan masuk dalam Gabungan Serikat Buruh Partikelir Indonesia (GASPI), Barisan Buruh Indonesia (BBI), dan Barisan Buruh Wanita (BBW). Dia pun melanjutkan aktivisme itu dalam Partai Buruh Indonesia (PBI). Konsistensi SK Trimurti terhadap masalah buruh membuatnya terpilih sebagai Menteri Buruh oleh Presiden Soekarno bersama dalam kabinet Perdana Menteri Amir Syarifuddin.

Meski hanya setahun menjabat sebagai menteri karena kondisi politik yang tidak stabil, selama masa kepemimpinannya, SK Trimurti menghasilkan UU Perburuhan yang di dalamnya banyak mengakomodiri kebutuhan buruh perempuan, salah satunya hak cuti haid.

SK Trimurti juga masuk dan membidani lahirnya Gerwis alias Gerakan Wanita Indonesia Sedar. Gerwis berubah menjadi Gerwani. Gerwis meyakini perempuan memiliki kepentingan dalam perjuangan anti penjajahan. Gerwis juga bermaksud untuk mengerahkan seluruh lapisan tenaga wanita terutama buruh dan tani serta melepaskan diri dari perbudakan dan penindasan antara manusia dengan sesame manusia. Meskipun aktif berkecimpung dalam Gerwis, SK Trimurti tetap aktif menulis dalam Api Kartini dan Harian Rakyat.

Dalam tulisannya di Api Kartini, SK Trimurti banyak menuntut kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki. Misalnya; dia menentang bahwa perempuan berkewajiban memakai nama suaminya. Hal yang juga sangat ditentang oleh SK Trimurti adalah penolakan atas poligami. Buktinya, SK Trimurti berani mengkritik poligami yang dilakukan oleh guru kadernya sendiri, yaitu Soekarno. Tak heran jika kritik yang dilontarkan SK Trimurti sempat membuat Soekarno ngambek kepadanya. Perjuangan terhadap anti poligami juga turut diperjuangkan SK Trimurti dalam perumusan Undang-Undang Perkawinan.

Kiprah SK Trimurti dalam Gerwis tidak bertahan lama semenjak Sayuti Melik menulis pada Suluh Indonesia tentang pemahaman Nasionalisme Soekarno atau Soekarnoisme yang berbeda dengan Komunisme. Sayuti Melik menegaskan paham Marhaenisme yang menitikberatkan pada Nasionalis, Agama, dan Sosialis. Bukan Nasionalis, Agama, dan Komunis. Tulisan ini berujung perselisihan antara kaum Soekarnoisme dengan golongan komunis.

SK Trimurti mengundurkan diri dari Gerwani karena organisasi tersebut menjadi underbow PKI. Dia merasa Gerwani saat itu mulai sangat bertolak belakang dengan visinya.

 

Perceraian dan Mawas Diri

SK Trimurti memilih untuk bercerai dari Sayuti Melik saat suaminya hendak berpoligami. SK Trimurti yang konsisten menolak poligami tidak melarang suaminya untuk beristri kembali, dengan syarat dia harus diceraikan.

SK Trimurti yang menganut falsafah Jawa dari Serat Dewa Ruci untuk selalu mawas diri. Dengan sikap mawas diri dia percaya seseorang akan tiba pada pengenalan akan diri sendiri. Falsafah ini juga yang mungkin mendorongnya membuat majalah dengan nama Mawas Diri.

Dalam majalah itu, SK Trimurti banyak mengangkat masalah perempuan dan pekerja anak. Dia begitu giat mengurusi perlindungan anak yang dipekerjakan oleh industri. Selain itu SK Trimurti memberikan ajaran kantong bolong, dimana manusia menjauhkan diri dari materialisme, menolong satu sama lain, dan tidak egois.

Pada sisa hidupnya, SK Trimurti sempat ikut menandatangani Petisi 50 mengkritik pemerintahan Orde Baru. SK Trimurti juga sempat mengalami bermacam penyakit yang membuatnya harus bolak-balik rumah sakit. Untungnya, pemerintah tidak tinggal diam. Sejumlah donasi diberikan untuk pengobatan SK Trimurti pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. SK Trimurti pun wafat pada 20 Mei 2008 saat  usianya 82 tahun.

 

Saran

Sebagai pembaca, saya mengapresiasi buku dengan ukuran kecil dan mudah untuk dibawa. Pembahasaan yang digunakan juga relative mudah. Beberapa harapan saya sangat tinggi atas buku ini mengingat riwayat SK Trimurti sudah pernah dibubukan sebelumnya oleh Yayasan Bung Karno.

Tak heran jika saya sangat berharap penulis bisa melampirkan beberapa tulisan asli SK Trimurti. Itu akan menjadi salah satu contoh bagaimana seorang perempuan pada zaman itu menuliskan problematika yang dihadapinya seorang seorang perempuan, seorang anak, seorang kader, seorang penulis, seorang istri, sekaligus seorang ibu.

Setidaknya buku ini bisa menghidupkan kembali ketertarikan pembaca-pembaca muda pada sejarah Indonesia, dan bagaimana peran perempuan membentuk sejarah Indonesia.

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment