Gloria Fransisca Kegiatan Liputan

Perempuan, Korban Pertama Radikalisme

Dokumen: Agenda 18 dan Fahmina Institute
Dokumen: Agenda 18 dan Fahmina Institute

Tulisan ini memuat kilas balik perjalanan teman-teman Kursus Perempuan yang dibina oleh Komunitas Penulis Muda Katolik Agenda 18 dan Institut Kajian Krisis & Strategi Pembangunan Alternatif (InKRISPENA). Pada 11 Juni 2017 lalu, Kursus Perempuan berkesempatan berdiskusi bersama KH. Husein Muhammad dengan tema “Islam, Feminisme, dan Radikalisme Agama.” Acara diskusi berlangsung di ruang pertemuan Fahmina Institute, Cirebon, Jawa Barat.

Beberapa orang yang tergabung dalam Kursus Perempuan sejak Sabtu 10 Juni 2017 dan Minggu 11 Juni 2017 melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Cirebon. Tujuannya hanya untuk memperdalam materi-materi dalam Kursus Perempuan dari perspektif agama dan menyesuaikan pula dengan kondisi sosial-masyarakat saat ini.

Sekitar jam 12.00 WIB, pembukaan diskusi dari salah seorang peserta kursus perempuan, Nurul Bahrul Ulum, yang kebetulan penggiat di Fahmina Institute. Dalam diskusi tersebut hadir beberapa santri, dan mayoritas santri perempuan karena ingin mendengarkan ceramah dari KH. Husein Muhammad.

Moderator diskusi, Ruth Indiah Rahayu pun memulai diskusi dengan sejumlah pertanyaan dasar kepada KH. Husein Muhammad tentang relasi antara ketertindasan perempuan dengan gerakan radikalisme yang menjadi masalah global saat ini.

Di Indonesia, radikalisme sendiri sedang identik dengan radikalisme Islam. Hal ini semakin mengemuka dengan meningkatnya pengekangan dan keterbatasan akses untuk perempuan.

KH. Husein Muhammad pun menanggapi pertanyaan Ruth terkait radikalisme dalam Islam yang nampak membatasi ruang gerak perempuan. Menurut mantan komisioner di Komnas Perempuan ini, ada beberapa tahapan yang harus dipahami dari rangkaian aksi terorisme.

Diskusi dengan KH. Husein Muhammad tentang Islam, Feminisme, dan Radikalisme Agama
Diskusi dengan KH. Husein Muhammad tentang Islam, Feminisme, dan Radikalisme Agama

Tahap sebelum terorisme adalah radikalisme, tahap sebelum radikalisme adalah fundamentalisme, sementara tahap sebelum fundamentalisme adalah konservatisme. Ciri orang yang konservatif adalah orang yang menganggap hanya ada satu hal yang merupakan kebenaran, dia cenderung menutup peluang pada kemungkinan adanya kebenaran-kebenaran lain di luar yang dipercayainya. Salah satu solusi awal untuk menangkal konservatisme dan fundamentalisme adalah agama harus dikonstruksikan dalam kehidupan sehari-hari. Agama harus memiliki makna ketuhanan yang plural.

“Saya ingin mencoba membedakan radikalisme, fundamentalisme, karena keduanya itu sama-sama soal akar dari radikalisme,” jelasnya.

Dia menceritakan, seseorang harus tetap memiliki sisi fundamentalisme dalam dirinya sebagai prinsip hidup. Namun konteksnya bukan untuk penghancuran masyarakat dan kemanusiaan. KH. Husein Muhammad sendiri mengaku dirinya adalah seorang fundamentalisme kemanusiaan.

“Karena ada pula pemaknaan fundamentalisme ataupun radikalisme lain yang menjadi anti terhadap kemanusiaan,” tuturnya.

Ciri radikalisme Islam yang saat ini menggerogoti Indonesia adalah ajakan syariat Islam, ajakan kembali ke masa lalu yang menganggap adanya kebenaran dan gagasan yang tunggal dalam hidup bernegara, yaitu melalui hukum Islam. Menurut KH. Husein Muhammad, ini adalah gerakan kemunduran dari peradaban Islam.

“Pemaknaan atas teks dan kebenaran tunggal itulah yang memunculkan fundamentalisme,” sambungnya.

Buya Husein -panggilan lain KH. Husein Muhammad- menjelaskan, menguatnya radikalisme Islam akan meningkatkan pelemahan terhadap kaum perempuan. Selama ini, terlepas dari aksi radikalisme, Buya Husein mengaku banyak menemukan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan, terutama saat dia masih berkecimpung di Komnas Perempuan. Buya Husein mengakui, ada faktor yang sangat sensitif terhadap kekerasan perempuan yakni adanya legitimasi dalam agama yang menjadikan perempuan sebagai sub-ordinat.

“Subordinasi perempuan menjadi dasar kaum hawa ini mudah menjadi korban teror,” ungkapnya.

Selama ini begitu banyak upaya penggoyangan terhadap ideologi negara melalui gerakan radikal. Gerakan ini tak mau menyerah, ketika fundamentalisme tak berhasil, maka pelaku kerap membongkar masalah dasar yang mudah menggerakkan massa. Misalnya, sistem pemerintahan yang salah, demokrasi yang gagal, ketimpangan sosial, dan permasalahan HAM. Radikalisme menjadikan sistem sebagai penyebab dari ketidakadilan di tengah masyarakat.

“Nah, ketika masalah-masalah [kemasyarakatan] ini tidak bisa didialogkan, maka terjadilah teror seperti ISIS dan sejenisnya,” ujar Buya.

Berbanding lurus dengan menguatnya radikalisme, semakin subur pula gerakan-gerakan konservatif yang religius. Pada satu sisi gerakan ini positif, namun ini menandakan adanya ketidakberdayaan dalam masyarakat Indonesia sekarang.

“Saat ini masyarakat kita berarti membutuhkan pembebasan,” jelas Buya Husein.

Diskusi Radikalisme Agama dengan KH. Husein Muhammad
Diskusi Radikalisme Agama dengan KH. Husein Muhammad

Islam yang masuk ke Indonesia sesungguhnya adalah Islam Sufisme, sebuah gerakan kemanusiaan, gerakan kasih, gerakan persatuan. Namun karakter asli Islam Indonesia ini justru terkikis dengan paham asing yang membahayakan hidup antarumat beragama. Gagasan radikalisme yang menghantui Indonesia saat ini adalah radikalisme Islam transnasional. Gerakan ini menawarkan gagasan khilafah yang akan menggantikan demokrasi karena dianggap gagal memberikan keadilan bagi masyarakat.

“Khilafah berarti kekuasaan tunggal, ini yang tengah berlaku sepanjang sejarah monarki,” katanya.

Oleh sebab itu, jika negara dibuat dengan hukum agama akan sangat berbahaya dengan hanya ada satu kebenaran tunggal. Buya Husein menceritakan, penunggalan kebenaran atas dasar hukum agama ini sulit dibantah karena dia melibatkan Tuhan.

“Kita masuk ke zaman penyatuan hukum. Pada tingkat lokal, ada penunggalan kebenaran ini. Itu meningkat dan dapat ditelusuri pada beberapa Perda [Peraturan Daerah],” paparnya.

Kata Buya, ada beberapa Perda yang diskriminatif terhadap SARA, gender, dan golongan tertentu. Jumlahnya meningkat dari 163 Perda dan saat ini ada 420 Perda diskriminatif.

Berkaca dari sejarah, radikalisme menjadi penyebab kemunduran Islam di dunia. Padahal pada abad 7-10, Islam adalah pelopor perdamaian, dan menjadi pionir dalam peradaban menggantikan Yunani.

“Semua kehebatan Islam itu terjadi justru saat Islam memelihara pluralisme, semua peradaban diterima. Namun setelah Perang Salib, berpindahlah pengetahuan ke Barat, dan masyarakat Timur bergeser tidak rasional,” imbuhnya.

Dalam konteks ini, perempuan menurut Buya Husein selalu menjadi korban. Perempuan menjadi pelampiasan kemarahan atas aksi teror, tetapi sekaligus menjadi obyek kesenangan atau kepuasan hasrat.

“Masalah perkosaan, kekerasan seksual, selalu disalahkan kepada perempuan. Kalau golongan radikal ini berkuasa, perempuan secara seksual bisa menjadi budak yang dinikmati.”

Dia tak menampik ada beberapa ayat dalam Al-Quran yang menjadi penyebab perempuan ditafsirkan sebagai subordinat dari laki-laki. Pasalnya laki-laki dipandang memiliki kelebihan intelektual dan seorang pencari nafkah. Meskipun secara konkret penafsirannya dan realitanya tidak demikian.

Buya Husein mengkritik, masih banyak perempuan juga memilih terbelenggu dalam persepsi tersebut. Misalnya, perempuan itu tidak mandiri sebagai individu. Buya Husein mengaku sudah beberapa kali telah mengemukakan hal tersebut kepada pada aktivis perempuan.

“Gerakan perempuan saat ini secara ekonomi masih mengandalkan laki-laki. Ini harus diubah. Karena ini menjadi penyebab perempuan tidak bisa mandiri,” tuturnya.

Menanggapi hal itu, Ruth mengatakan pada masa ini memang terjadi penindasan dari kapitalisme, dimana perempuan tereksploitasi. Menurut Buya Husein, kapitalisme jugalah yang menjadi dalih atas gerakan radikalisme. Oleh sebab itu, perempuan sesungguhnya berada pada garda terdepan korban radikalisme dan kapitalisme.

Seorang peserta diskusi, Nuril, menanyakan kepada Buya Husein bagaimana merespon gerakan radikalisme di media massa. Sebab menurutnya, perang terbanyak justru terjadi di media massa selaku pihak yang membingkai isu saat ini.

Buya Husein menjawab, bahwasanya media massa saat ini, termasuk media sosial sedang dikuasai oleh golongan radikal. Mereka kerap melakukan provokasi dengan menyebarkan kalimat dan kata-kata kebencian.

“Sementara sekarang ini terjadi kemunduran dalam berpikir kritis di tengah masyarakat,” ungkap Buya.

Dia menilai menurunnya daya kritis terhadap konten turut melanggengkan golongan radikal mencapai tujuannya. Sebab, kata Buya Husein, sesuatu konten yang terus-menerus mencecoki pikiran akan mudah mempengaruhi cara pembaca dalam bersikap.

Saat ini, secara ekonomi dan psikologis, masyarakat Indonesia sedang rapuh. Masyarakat juga masih terbebani dengan ketidakberdayaan sehingga cenderung memilih kembali kepada Tuhan. Menurut Buya Husein, hal-hal seperti ini secara pragmatis menggambarkan kegagalan paham masyarakat dalam beriman. Kebanyakkan orang terjerumus dalam gerakan radikalisme justru karena dia tidak paham agama.

“Ini menjadi jawaban atas refleksi saya juga, mengapa anggota yang kerap direkrut gerakan radikalisme adalah anak-anak kuliahan dari ilmu eksakta? Bukankah mereka cenderung sangat pintar? Jawabannya; karena mereka belajar ilmu pasti yang terbiasa berpikir dengan kebenaran tunggal. Masalah-masalah humanis dengan kebenaran yang tidak tunggal jarang disentuh,” tutur Buya.

Radikalisme agama adalah pengingkaran terhadap kebaikan yang diajarkan dalam agama. Saat ini, Buya Husein juga mengkhawatirkan jika gerakan radikalisme itu masuk ke lingkungan anak-anak kecil.

Diskusi Kursus Perempuan

Sebagai manusia yang hidup bernegara, Ruth menanyakan bagaimana mengatur pluralisme sebagai kebebasan dalam negara kesatuan. Menanggapi pertanyaan Ruth, Buya Husein berpendapat sebagai warga negara ada prinsip bersama yaitu Pancasila. Ideologi ini tidak bertentangan dengan Islam, apalagi permusyawaratan. Itu adalah sebuah platform kesepakatan bernegara.

“Oleh sebab itu, undang-undang dan Perda tidak boleh bertentangan dengan Pancasila, dan konstitusi,” tegasnya.

Saat ini tak dapat disanggah menguatnya gerakan konservatif dan fundamentalis datang dari kelas menengah. Ternyata, ada indikasi bahwa pihak yang menyuburkan radikalisme adalah kelas menengah, dimana golongan ini mungkin terjebak dalam keterasingan hidup dan berlari pada hal-hal religius.

Sebagai kesimpulan, sebelum menutup diskusi, Ruth mencatat bahwa ada penciptaan kontrol sosial di tengah masyarakat terkait agama. Jika tidak sepaham, akan mudah dikucilkan dari pergaulan. Selain itu juga makin banyak pendekatan radikalisme dengan gaya spiritualis yang masuk ke dari kelas menengah.

“Spiritualitas hanya menjawab problem diri, tetapi belum tentu problem dunia,” kata Buya Husein.

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment