Gloria Fransisca Kegiatan Liputan

Semana Santa: Perjalanan Menjumpai Tuan Ma (Bagian II)

Dok: @felixjody
Dok: @felixjody

Tulisan sebelumnya disini 

Perjumpaan dengan Tuan Ma pada Hari Kamis Putih adalah momen yang berharga selama 24 tahun kehidupan saya. Usai prosesi di Kapela Tuan Ma, saya dan Tante Ellsye serta keponakannya Lito berjalan kaki menuju Kapela Tuan Ana atau Kapela Tuhan Yesus. Panasnya matahari kota Larantuka tak mengurungkan niat saya untuk melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di Kapela Tuan Ana ternyata kaum Conferia, keluarga kerajaan, dan petua adat masih melakukan prosesi doa dan upacara adat pembukaan Kapela Tuan Ana seperti yang dilakukan di Kapela Tuan Ma. Saya dan Tante Ellsye pun menunggu sembari ikut menderaskan doa Rosario menunggu prosesi pembukaan Kapela Tuan Ana.

Dok: @titagloria
Dok: @titagloria

Saat itu saya memperhatikan jumlah peziarah belum banyak yang datang ke Kapela Tuan Ana. Saya justru melihat para peziarah mulai berbondong-bondong mendatangi Kapela Tuan Ma. Ah, lagi-lagi saya beruntung bisa masuk dalam rombongan pertama dari peziarah yang bisa masuk ke Kapela Tuan Ana setelah giliran keluarga kerajaan, masyarakat adat setempat, dan kaum Conferia.

Saya melalui proses yang sama, berlutut ketika memasuki situs rohani ini untuk mencium Tuan Ana. Perasaan merinding kembali menyelimuti saya. Sesampainya saya di depan peti Tuan Ana, saya mengucapkan doa yang sama, ‘terima kasih’ untuk semua berkah yang diberikan bahkan ketika saya tidak memintanya.

Usai mencium Tuan Ana, saya pun keluar dari Kapela dan menunggu Tante Ellsye serta Lito. Saya membalas pesan singkat sahabat saya, Dokter Risna Beauty Hariyanto yang ternyata sedang padat kunjungan pasien. Alhasil, dia berkata akan mencium Tuan Ma dan Tuan Ana usai misa Kamis Putih saja. Dia juga meminta saya menemani dia.

Tante Ellsye menyarankan saya untuk segera mencium Tuan Bediri di Wureh, Adonara Barat. Hari itu adalah hari terakhir, maka Kapela Tuan Bediri yaitu Kapela Misericordia akan buka 24 jam, kapal motor juga tersedia selama 24 jam untuk mengantarkan peziarah.

Masih ada satu situs rohani lagi dalam ritual Cium Tuan ini, selain Tuan Bediri, masih ada di Kapela Tuan Meninu atau Kanak-Kanak Yesus yang lokasinya di bibir pantai Taman Doa Tuan Meninu. Kebetulan, Kapela Tuan Meninu tidak jauh dari rumah Dokter Beauty. Saya sudah berjanji akan makan siang bersama dengan Beauty.

Saya pun naik ojeg dari Kapela Tuan Ana menuju Kapela Tuan Meninu. Maklum, jarak dua Kapela ini cukup jauh dan tidak memungkinkan jika saya harus jalan kaki, sementara saya belum ke Wureh. Saya juga harus memperhitungkan misa Kamis Putih yang akan diselenggarakan pada jam 6 di Katedral Reinha Rosari.

Lekas-lekas saya menuju Kapela Tuan Meninu, disana saya menjumpai sebuah sampan kecil di dalam kawasan Taman Doa Tuan Meninu. Kata salah satu panitia, sampan itu yang akan digunakan untuk melakukan prosesi bahari, ritual perarakan Tuan Meninu di laut menuju ibuNya, Kapela Tuan Ma pada perayaan Jumat Agung esok hari.

Dok: @titagloria
Dok: @titagloria

Usai melakukan ritual penghormatan di Kapela Tuan Meninu, saya pun makan siang bersama Dokter Beauty di salah satu lapo dekat rumahnya. Saat makan itulah Dokter Beauty bertanya apakah saya ingin ke Wureh. Sebenarnya saya memang sangat ingin ke Wureh, namun saya tidak memaksa jika melihat keterbatasan waktu. Namun, Dokter Beauty yang akrab disapa kalangan dokter sebagai Bunda Beauty ini berkata; “Yaudah ikut aja, kalau mau gue temenin gue oke, masih cukup kok waktunya.”

Berangkatlah saya dan Beauty menuju Wureh dengan meronggoh karcis Rp10.000 per orang untuk sekali jalan. Pemandangan laut yang membentang antara Larantuka menuju Adonara sungguh indah.

Saya menahan haru di dalam hati, sesungguhnya sebelum saya memutuskan pulang ke Flores, saya bermimpi, almahrum Opa saya berkata bahwa saya harus datang ke Adonara. Maklum, Opa saya sebenarnya bukan murni turunan Umauta dan Sikka, Opa saya sesungguhnya memiliki leluhur beragama muslim yang berasal dari Adonara.

Saya sungguh bersyukur karena Beauty menjadi pembuka jalan untuk saya bisa menyelesaikan mandat Opa saya. Buat saya perjumpaan saya dengan Opa saya dalam mimpi itu bukan sebuah pesan yang biasa, entah apa yang harus saya temukan di Adonara.

Sesampainya di Kapela Misericordia inilah tangis saya pecah. Saya berhadapan dengan Tuan Bediri, patung Yesus yang terluka ditemani seekor ayam jantan. Beauty bercerita, berdasarkan mitos yang beredar turun temurun dari Denga Deo alias petugas kapela, ayam jantan tersebut dibeli oleh Tuhan Yesus di pasar Pantai Wureh yang berjarak hanya 100 meter dari Kapela. Pasalnya, ketiadaan uang kembalian membuat penjual ayam meminta alamat rumah pembeli agar usai berjualan bisa dikembalikan.

Selesai berjualan, si penjual ayam yang beragama muslim itu menanyakan kepada masyarakat rumah pembeli ayam yang lokasinya berada sekitar kapela. Ternyata, alamat jelas si pembeli adalah kapela berdiamnya Patung Yesus.

Penjual ayam menjadi heran karena cerita ciri-ciri orang yang membeli ayam miliknya sama dengan ciri-ciri Yesus. Ketika Kapela dibuka, si penjual ayam kaget karena orang yang membeli ayam sama persis dengan Patung Tuhan Yesus. Selain itu, ayam yang dibeli juga sudah berubah menjadi patung.

Dok: @risnabeauty
Dok: @risnabeauty

Di Kapela inilah saya melihat wajah Yesus yang begitu sedih, terluka karena dosa manusia. Saya menangis karena pengorbanan Dia terlampau besar untuk saya, tetapi itu semua harus saya balas dengan menjadi Sense Christe, wujud dari Rasa Kristus di tengah masyarakat. Atau menjadi Alter Christe, menjadi Yesus yang lain bagi sesama manusia.

Usai perjalanan ke Wureh, saya pun menepati janji dengan Beauty untuk misa Kamis Putih bersama, lalu menemani dia untuk mencium Tuan Ma serta Tuan Ana. Saya hanya berpesan kepada Beauty saat hendak memasuki Kapela Tuan Ma; “Fokus ya Kak. Coba fokus ke Tuan Ma, kalau ada getaran apa-apa rasakan saja sensasinya. Pasti rasanya kita berdua akan berbeda.”

Ya benar saja, usai mencium Tuan Ma, Beauty butuh waktu menenangkan diri. Dia nyaris menangis, mungkin kalau tidak sedang dalam keramaian peziarah dia sudah menangis tersedu-sedu. Ada pengalaman batin yang berbeda antara saya dengan Beauty saat menjumpai Tuan Ma, semua adalah cerminan dari perasaan, konflik batin, ataupun permasalahan yang sedang dihadapi. Namun kami sama-sama sepakat, pandangan sedih Tuan Ma, telah menelanjangi kami.

 

PROSESI JUMAT AGUNG

Pasukan dokter magang yang menamakan diri mereka #IshipLarantuka ini sudah berkumpul di rumah dan bersiap untuk mengikuti prosesi bahari menggiring Tuan Meninu dengan kapal motor milik perawat rumah sakit, Suster Etty namanya. Puji Tuhan, saya diizinkan ikut bersama rombongan ini, tidak perlu naik kapal motor yang padat penumpang.

Maklum, dua tahun yang lalu ada insiden kapal motor penumpang terbalik saat prosesi bahari akibat overcapacity penumpang. Om saya sudah mengingatkan juga agar saya tidak perlu ikut prosesi di laut jika tidak memungkinkan. Untungnya, akses para dokter memudahkan saya untuk melanjutkan prosesi ini.

Kami semua berseragam hitam sebagai tanda dukacita, dan ternyata hari itu akan dipenuhi oleh lautan orang berbaju hitam. Rombongan kami keluar pada pukul 09.00 WITA, namun baru sekitar pukul 10.00 WITA kami menaiki kapal menunggu persiapan perarakan. Kami mengitari laut biru yang terlampau jernih sembari memantau pergerakkan kapal Tuan Meninu. Ternyata pasukan pendayung sampan yang akan menggiring Tuan Meninu masih melakukan latihan.

Sekitar pukul 11.00 WITA, kami mulai melihat sampan di Taman Doa Meninu bertolak ke laut. Sampan itu membawa Tuan Meninu menuju ibunya, Tuan Ma. Caranya dengan menyeberangi Selat Gonzalu menuju Armida atau tempat persinggahan. Para pendayung sampan kayu ini ternyata bukan sembarang orang, mereka dipilih sesuai garis keturunan suku penjaga Kapela Tuan Meninu. Para pendayung juga terbagi dalam dua sampan di depan dengan komposisi satu perahu satu pendayung. Posisi kedua adalah sampan Tuan Meninu, dan beberapa sampan pendamping di samping kiri dan kanan, serta di belakang Tuan Meninu. Untuk komposisi lainnya satu sampan berisi dua sampai tiga pendayung.

Dok: @felixjody
Dok: @felixjody

Selama proses, nahkoda kapal saya terlihat saya berhati-hati, saya malah jadi ngeri melihat kapal-kapal lain yang nyaris oleng karena kelebihan penumpang. Suster Etty nampaknya sudah mengingatkan nahkoda agar jangan terlampau kencang dalam perarakan, harus sering memperlambat kecepatan.

Menurut Beauty dan diperkuat juga oleh Suster Etty, terbaliknya kapal penumpang saat prosesi bahari dua tahun lalu bukan hanya overcapacity tetapi juga karena si pengemudi tidak taat aturan. Pasalnya, dia melakukann aksi potong jalan alias menyalip dari samping supaya bisa mendapat jalur di depan dan tidak jauh dari Tuan Meninu. Hal ini dipandang oleh masyarakat Larantuka telah melanggar aturan, sehingga kapal tersebut kualat dan justru terbalik.

Pada hari Jumat Agung inilah saya melihat ribuan peziarah dalam waktu kurang dari 24 jam memenuhi Larantuka, di laut maupun di darat. Sepanjang bibir pantai peziarah berdiri menunggu lewatnya Tuan Meninu. Sementara di tengah laut ada lebih dari 50 kapal, mungkin juga ratusan kapal jika dihitung dengan kapal-kapal kecil lainnya yang mengiringi Tuan Meninu.

Dok: @titagloria
Dok: @titagloria

Sesampainya Tuan Meninu di Kapela Tuan Ma, prosesi dilanjutkan dengan perarakan Tuan Ma dan Tuan Ana menuju Katedral Reinha Rosari. Saat itulah dengan mata kepala saya sendiri melihat jumlah manusia membludak. Saya hanya berpikir sejenak, jika antusiasme prosesi ini semakin meningkat setiap tahunnya perlu ada perencanaan baru yang strategis untuk menjaga tradisi ini.

Beauty mendapatkan informasi bahwa jumlah peziarah Paskah 2017 ini diperkirakan mencapai 6000 orang, sementara di media online tirto.id disebutkan ada 5500 peziarah di Larantuka. Angka yang berbeda muncul dari Jawa Pos yaitu sekitar 7000 orang mengikuti prosesi ini. Angka yang tak jauh berbeda itu harus menjadi signal bagi pemerintah daerah untuk menambah infrastruktur penunjang, khususnya kapal motor. Menurut saya, antusiasme prosesi bahari sangat besar, sangat disayangkan jika satu kapal harus overcapacity dan malah berpotensi menyebabkan kecelakaan.

Dok: Jawa Pos
Dok: Jawa Pos

Selain itu, dengan kapasitas kota Larantuka yang tidak besar, pemerintah daerah perlu lebih proaktif mengajak masyarakat setempat menerima peziarah di dalam rumahnya. Dengan demikian, tidak perlu pembangunan hotel atau penginapan yang berlebihan, sebaliknya, Semana Santa bisa menjadi ajang komunikasi dan tukar budaya antara masyarakat setempat dengan para peziarah. Secara tidak langsung ada upaya pemberdayaan masyarakat dengan lebih optimal.

Di lain pihak saya juga menyoroti sikap para peziarah yang tidak mengikuti aturan main prosesi Semana Santa. Misalnya, sesampainya patung Tuan Ma di Katedral, para peziarah yang belum sempat mencium Tuan Ma berbondong-bondong mendekati patung itu. Saya dan Beauty sungguh prihatin dengan para petugas pengamanan Patung Tuan Ma yang kewalahan menghadapi buasnya peziarah. Disitulah saya mengkritik sikap peziarah yang tidak menghargai Tuan Ma sebagai peninggalan bersejarah di Larantuka. Bukan sekadar sakral, tetapi soal nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.

Dok: @felixjody
Dok: @felixjody

Sesampainya Tuan Ma dan Tuan Ana di Katedral, prosesi dilanjutkan dengan misa Jumat Agung. Setelah itu, saya, Dokter Beauty, dan Dokter Cristina Sondang Silalahi alias Dokter Sondang melanjutkan prosesi utama yaitu Lamentasi mulai pada pukul 18.00 WITA. Adapun prosesi Lamentasi adalah perarakan patung Tuan Ma dan Tuan Ana sepanjang malam keliling kota Larantuka. Prosesi ini disebut-sebut bisa memakan waktu sampai pukul 02.00 WITA, alias esok hari.

Prosesi diawali dengan pemasangan lilin di sepanjang jalan kota Larantuka. Patung Tuan Ma diarak oleh Conferia, sementara Tuan Ana diarak oleh petugas khusus yang ditutupi seluruh tubuhnya dengan baju putih dan topi merah. Tidak ada seorangpun yang tahu identitas empat orang berkerudung itu. Mereka adalah Lakudemu, yang menjadi simbol Nikodemus, orang yang memberikan kubur pada jenazah Yesus Kristus.

Dok: Jawa Pos
Dok: Jawa Pos

Prosesi ini berlangsung hikmat, setiap umat membawa lilin dan dalam barisan ribuan umat mengelilingi kota Larantuka sambil menderaskan doa Rosario dan lagu-lagu. Ada perhentian-perhentian khusus selama prosesi ini untuk mengingat kisah sengsara Yesus.

Saya pribadi tidak pernah merasa seantusias ini mengikuti ritual adat. Sepanjang jalan di kota Larantuka dipenuhi lilin. Setiap rumah juga mengeluarkan Patung Yesus dan Maria serta memasang lilin menunggu kewatnya Tuan Ma dan Tuan Ana di depan rumah mereka. Sungguh momen ziarah yang berkesan bagi saya.

Benar saja, saya, Beauty, Sondang, dan seorang dokter lagi bernama Adrianus Christian atau Dokter Adrian menghabiskan waktu 7,5 jam untuk proses Lamentasi. Prosesi ini selesai pada pukul 01.30 WITA.

Pengalaman ini adalah pengalaman terbaik yang ditorehkan Tuhan melalui tangan-tangan banyak pihak. Mereka adalah keluarga saya, serta sahabat-sahabat saya. Setidaknya, misi masa kecil saya menjumpai Tuan Ma, tuntas sebelum saya berkepala tiga.

 

Tulisan ini saya persembahkan secara khusus untuk Ibu saya, Monica Say, yang menceritakan mitos Tuan Ma saat saya masih kelas tiga SD, dan untuk Risna Beauty, salah seorang Srikandi Tarakanita 1, senior sekaligus kawan berbagi.

Dok: @titagloria
Dok: @titagloria

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment