Gloria Fransisca Kegiatan Liputan

Semana Santa: Perjalanan Menjumpai Tuan Ma (Bagian I)

Dokumen Pribadi Gloria Fransisca
Dokumen Pribadi Gloria Fransisca

Perjalanan saya ke Larantuka tahun ini sebenarnya bukan yang pertama. Pertama kali saya pulang ke Flores tahun 2000 menggunakan Kapal Motor Sirimau milik PT PELNI dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Pelabuhan Larantuka. Setibanya kami di Larantuka tengah malam, hari masih gelap, tidak ada pemandangan yang bisa saya ingat sampai sekarang kecuali mobil melaju kencang melalui gunung dan bukit menuju Maumere.

Sesudah perjalanan saya yang hanya sekilas di Larantuka, Ibu saya menceritakan kisah klenik tentang keajaiban-keajaiban di Flores, khususnya tentang kepercayaan masyakarat pada iman Katolik. Kata Ibu saya, ada sebuah patung Bunda Maria di Larantuka yang sebelumnya berwujud manusia, dan diyakini itu adalah Bunda Maria sendiri.

“Jadi dulu, ada seorang nelayan menemukan seorang perempuan terdampar, namun ketika diajak berbicara, dia berubah jadi patung,” demikian kata ibu saya.

Mitos yang diceritakan Ibu saya membekas lama bagi anak kecil seperti saya kala itu. Patung Bunda Maria yang mistik itu kerap menghantui saya, ada ketertarikan yang timbul dalam diri saya untuk mencari tahu sendiri.

Akhirnya saya menemukan beberapa informasi tentang Semana Santa, sebuah prosesi Tri Hari Suci jelang Paskah di Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur. Mitos ini dipercaya mulai pada lima abad lalu tepatnya tahun 1510 di Pantai Larantuka, seorang nelayan bernama Resiona menemukan patung berwujud perempuan.

Alkisah, Resiona melihat perempuan cantik namun ketika ditanya nama dan asalnya, si perempuan hanya menunduk lalu menulis tiga kata di pasir pantai yang tak dipahami Resiona. Setelah itu, ketika mengangkat mukanya, si perempuan berubah menjadi patung kayu. Konon, ketiga kata itu dibuatkan pagar batu agar tidak terhapus air laut, sementara patung setinggi tiga meter langsung diarak keliling kampung, dan memasuki setiap rumah pemujaan suku di daerah tersebut.

Singkat cerita, patung tersebut dihormati sebagai benda keramat, dan disebut Tuan Ma (Tuan dan Mama) lalu penduduk pun mulai memberikan sesajen dan melakukan pemujaan setiap perayaan panen dan tangkapan laut yang jatuh bulan Februari. Masyarakat Lamaholot menyebutnya, Rera Wulan Tanah Ekan, Dewa Langit dan Dewi Bumi.

Namun ketika datanglah misionaris Ordo Dominikan ke Larantuka, mereka membaca tiga kata yang dituliskan perempuan itu yaitu ‘Reinha Rosario Maria’. Para misionaris pun terharu karena Reinha Rosari itu adalah adalah patung Mater Dolorosa atau Bunda Kedukaan atau Mater Misericordia.

Kedatangan Portugis yang membuka identitas Tuan Ma spontan membawa pemahaman kepada raja-raja Larantuka, bahwa Tuan Ma yang disembah bernama Bunda Maria. Dalam kepercayaan Kristiani, Bunda Maria memiliki putra bernama Yesus Kristus yang dipercaya sebagai Mesias, penebus dosa manusia. Sejak itu, orang Larantuka semakin meyakini Bunda Maria dan Yesus Kristus.

Pada tahun 1645, Raja Larantuka Olla Adobala dibaptis oleh imam Katolik Portugis dan menyandang nama Don Fransisco Olla Adobala Diaz Viera Ghodinho (DVG). Dia pun menyerahkan Kerajaan Larantuka kepada Bunda Maria. Dia memberi gelar kepada Maria sebagai Pemimpin Orang Larantuka. Setelah itu, putranya, Raja Don Gaspar I memulai tradisi mengarak patung Maria atau Tuan Ma keliling Larantuka, sampai saat ini.

Larantuka lalu menyandang gelar Kota Reinha yang dalam bahasa Portugis adalah Kota Ratu, Kota Ratu Maria. Kota Ratu Tuan Ma. Devosi kepada Maria menjadi sentral kehidupan masyarakat Larantuka.

Dari segi geografis, Larantuka adalah sebuah kota dari Kabupaten Flores Timur, lokasinya berbatasan langsung dengan kampung halaman ibu saya yakni di Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Saya melalui perjalanan darat selama tiga jam dari Maumere ke Larantuka untuk mengikuti prosesi Semana Santa. Untung saja, saya diantarkan oleh mobil oleh om saya, kalau tidak, saya bisa mabuk darat.

Sesampainya di Larantuka, saya hanya terkesiap dengan pintu masuk kota ini, karena ada Patung Bunda Maria yang sangat besar dengan tulisan ‘Ema Reinha Rosari, Doakanlah Kami’. Suasana Kota Larantuka sangat berbeda jika dibandingkan Kota Maumere, suasananya tidak ramai, ukuran jalan pun lebih kecil dibandingkan ukuran jalan di Maumere. Kota ini memiliki dua jalan besar, jalan atas yang berdekatan dengan gunung, dan jalan bawah yang berdekatan dengan pesisir pantai.

Menurut cerita om saya, Fransiskus Stephanus Say, kota Larantuka memang memiliki ajaran, dan tradisi budaya khas Portugis. Misalnya saja dari segi penataan kota, Larantuka didesain sebagai kota kecil yang memiliki kekuatan utama transportasi laut yakni Pelabuhan Larantuka. Penataan kota ini sejenis dengan salah satu kota di Portugis. Pantas saja, saya kesulitan berangkat menggunakan pesawat ke Larantuka karena bandar udara disana sangat kecil, hanya menerima maskapai penerbangan Trans Nusa atau pesawat perintis. Mau tak mau harus melalui jalur darat atau laut.

Saya memulai perjalanan di Larantuka dalam asuhan para dokter magang dari Sabang sampai Merauke antara lain; senior saya saat SMA, Dokter Beauty, Dokter Sondang, Dokter Lerina, Dokter Fida, Dokter Vani, Dokter Mimid, Dokter Brian, Dokter Rai, Dokter Puji, Dokter Cya, Dokter Medi, dan Dokter Reinaldi.

Saya memulai perjalanan pada hari Kamis, seorang diri mengikuti misa pagi di Katedral Reinha Rosari Larantuka. Maklum, dua kawan saya ada visit ke rumah sakit, yaitu Dokter Beauty dan Dokter Sondang. Kebetulan sekali, misa dipimpin oleh Bapa Uskup Fransiskus Kopong Kung, Pr dan dihadiri seluruh imam Keuskupan Larantuka. Ada prosesi pemberkatan minyak dan pembaharuan janji imamat.

Saya sungguh tersentuh dengan homily dari Bapa Uskup, yang secara rendah hati mengakui berbagai kesalahan yang dilakukan para imam dimanapun mereka berkarya. Saya terenyuh karena mengingat salah satu hasil investigasi tentang kriminalitas dalam tubuh Gereja Katolik dan dilakukan oleh para imam. Hasil investigasi itu bahkan dirilis menjadi sebuah film berjudul SPOTLIGHT, kisah tentang pastor-pastor yang melakukan kekerasan seksual kepada anak-anak.

Bapa Uskup pun secara rendah hati meminta doa umat agar pelayanan imamat ini semakin ditingkatkan, dan para imam yang mengambil jalan ini dikuatkan, agar jauh dari segala kekeliruan. Sungguh, saya sepertinya baru pertama kali mendengar khotbah sebaik ini, sebab saya seringkali menganggap ada ego kaum imam yang tidak mau mengakui kesalahan. Sejak itu saya mulai yakin, perjalanan Semana Santa ini tidak akan menjadi perjalanan Semana Santa yang biasa saja.

BERJUMPA TUAN MA

Usai misa, saya pun berjalan kaki dari Katedral Reinha Rosari menuju Kapela Tuan Ma. Ada perasaan tak sabar sekaligus cemas sebelum melakukan penghormatan kepada Tuan Ma. Kota Larantuka memang terbilang sangat panas, cukup ampuh membakar kulit saya yang sudah hitam kian legam.

 

Gerbang depan Kerajaan Larantuka
Gerbang depan Kerajaan Larantuka

Sesampainya di depan Kapela Tuan Ma pukul 09.00 WITA pintu masih tertutup. Ternyata, prosesi buka pintu Kapela Tuan Ma dimulai pada jam 11.00 WIB. Saya mendapat cerita dari Kak Imelda Tobing, bahwa prosesi cium Tuan Ma akan semakin ciamik jika kita berhasil masuk urutan awal. Kita bisa ikut melihat dan mendengar bagaimana perwakilan keluarga Raja Larantuka membuka pintu Kapela Tuan Ma. Kita juga bisa melihat bagaimana prosesi mencium Tuan Ma akan diiringi oleh doa-doa Salam Maria dalam bahasa Latin dan Portugis.

Saya pun tidak mau kembali ke rumah meski ada sisa waktu dua jam. Saya cemas kalau-kalau pezirah semakin banyak. Saya ngotot tetap menunggu di depan pintu masuk Kapela Tuan Ma. Mendekati pukul 10.00 WITA, peziarah mulai berdatangan, pelaku adat, Conferia, dan para suster mengajak peziarah menderaskan doa Rosario, dan lagu-lagu pujian untuk Bunda Maria sebelum membuka pintu Kapela.

Meski panas terik menyengat, upaya saya menunggu di depan Kapela Tuan Ma tidak sia-sia. Saya berhasil masuk diurutan paling depan peziarah. Saya bisa mendengar bagaimana pelaku adat, perwakilan keluarga Raja Larantuka membuka pintu Kapela, lalu prosesi masuk ke dalam Kapela harus didahului oleh keluarga kerajaan. Prosesi masuk ke dalam Kapela untuk mencium patung Tuan Ma dilakukan dengan berlutut diatas karpet.

 

Kapela Tuan Ma saat masih sepi
Kapela Tuan Ma saat masih sepi

Setelah keluarga kerajaan, peziarah pun tidak bisa langsung masuk, tetapi suku-suku setempat, lalu para Conferia atau para awam non selibat yang diamanatkan menjadi pengiring Patung Tuan Ma. Saya melihat banyak peziarah yang tidak memahami tradisi ini sehingga mereka ngotot ingin didahulukan. Saya hanya bisa mengelus dada, tidakkah para peziarah ini menghargai tradisi orang Larantuka jika memaksa ingin didahulukan? Menurut saya, prosesi Semana Santa ini bukan hanya ajang pencarian berkat, tetapi sebuah ritual budaya yang harus dihargai oleh siapapun.

Setelah para Conferia, saya pun diarahkan oleh para penjaga untuk masuk ke Kapela. Saya bersama seorang peziarah, Tante Ellsye dan keponakannya yang bernama Lito memasuki Kapela Tuan Ma. Saya memang sudah mengintip patung Tuan Ma dari luar, saya sudah melihatnya. Hati saya bergetar, seperti ada perjumpaan yang sudah lama belum terlaksana.

Saya meninggalkan tas saya di luar Kapela, bersama semua harta benda. Saya sama sekali tidak ada keinginan untuk mengambil foto saat Tuan Ma berada dalam kapela. Padahal jarak kami begitu dekat. Saya ingin menjalankan prosesi ini sepenuhnya dengan hikmat, bukan hanya karena ini adalah prosesi keagamaan tetapi juga penghargaan saya terhadap masyarakat Larantuka.

Benar saja kata Kak Imelda, dikeliling kapela ada lilin-lilin besar, para suku dan keluarga kerajaan duduk di dalam Kapela Tuan Ma sambil menderaskan doa Rosario berbahasa Latin dan Portugis. Suasana yang begitu mistik. Saya melihat Tuan Ma yang begitu sedih, sangat cocok dengan gelar yang diberikan yaitu Mater Dolorosa atau Bunda yang Berdukacita.

Kondisi batin saya yang penuh haru karena misi saya berhasil menemui Tuan Ma membuat tubuh saya bergetar. Saya menahan tangis karena perasaan yang hinggap ketika melihat Tuan Ma adalah perasaan rindu yang terpuaskan. Saya sudah mengenal Tuan Ma sejak saya masih kecil, lewat mitos yang biasa diceritakan ibu saya, namun saya baru berhasil bertemu dengannya setelah 17 tahun lamanya.

Maka, tibalah giliran saya seorang diri untuk mencium mantelnya yang biru tua sementara keringat sukses membasahi sekujur tubuh. Saya pun membatin saat mencium mantel biru yang dipercaya melindungi seluruh kota Larantuka atau Kota Nagi.

“Terima Kasih,” ungkap saya.

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment