Gloria Fransisca Resensi Buku

Ya Tuhan, Siapa Suruh Datang Jakarta?

 

Judul Buku               : Ijinkan Kami Berdoa, #Ya Tuhan, Monas, Macet, Doa

Editor                         : Adityayoga & Zinnia

Penerbit, Tahun     : Gramedia Pustaka Utama, 2016

Jumlah Halaman    : 76

Jenis Cover               : Soft Cover

ISBN                            : 9786020334271

 

 

Ya Tuhan,

Apa sih rasanya naik ke

puncak Monas?

Saya belom pernah….

 

monas, macet, doa.\32

 

Saya pun tertawa dengan tulisan ini. Sungguh sederhana tapi memikat. Buku ini berukuran kecil saja, seperti buku saku pramuka berwarna orange. Saya mendapatkan buku unik ini saat acara tukar kado Tahun Baru Agenda 18 Gathering, 4 Februari 2017 lalu di rumah mentor kami, Pak Her Suharyanto.

 

Nyaris saja saya kira buku ini tidak memiliki daya tarik apapun, ah, don’t judge a book by it’s cover! Lalu saya mencoba memasang syair-syair yang dituliskan dalam buku ini.

 

Ya Tuhan,

Berikanlah kesabaran pada

teman-teman kami yang bertato

dari pandangan sinis ibu-ibu

yang alisnya ditato,

Amin

 

monas, macet, doa.\38

 

Buku ini memang menceritakan dengan satir kehidupan di Jakarta. Dikemas dengan singkat, sederhana, dan lucu. Saya terkesima karena hampir segala aspek kehidupan, permasalahan di Jakarta, menjadi topik dalam sebait doa ala Adityayoga dan Zinnia.

 

Ya Tuhan,

Ketika Kau sudah memberikan trotoar

yang bebas motor, sekarang mereka

hadirkan pot-pot tanaman raksasa

nan absurd yang memaksa kita tetap

turun dari trotoar ke jalanan….

 

Sang penulis ini sebenarnya terlihat ingin merangkum banyak permasalahan di Jakarta. Keduanya juga mencoba menuangkannya secara ringan. Misalnya saja, tentang membahas hiruk pikuk reklamasi di Pantai Utara Jakarta, begini bunyi syairnya;

 

 

Ya Tuhan,

Lindungi perairan Jakarta dari proyek

reklamasi yang tidak bertanggung

jawab terhadap alam dan nelayan.

Amin

 

monas, macet, doa.\65

 

Tak hanya itu, buku mungil yang bagi saya ajaib ini juga menggambarkan fenomena baru  tentang akses transportasi di Jakarta, yaitu ojek online. Meskipun demikian, Adityayoga dan Zinnia tak lupa menambahkan cerita soal bagaimana Metro Mini dan Kopaja masih kebut-kebutan di jalan. Berikut salah satu contoh syair tentang apa sih sebenarnya yang menjadi kegalauan pengguna jasa ojek.

 

 

Ya Tuhan,

Jagalah kesegaran rambutku

dari helm ojek yang lembap

dan beraroma tak sedap.

Amin.

 

Tidak banyak kritikan yang bisa saya berikan bagi buku kecil yang telah memberikan banyak kritik, banyak saran, banyak cerita, soal kehidupan Jakarta. Menyentuh kehidupan berbagai kelas yang ada di Jakarta, dari mulai sudut pandang kelas menengah, kelas atas, sampai kelas bawah.

 

Akhir kata, selamat membaca buku ini untuk memahami kompleksitas Jakarta dengan cara yang simple. Buku yang terbit pada November 2016 ini sayangnya belum banyak merangkum keramaian ibu kota belakangan ini saat Pilkada DKI.

 

Semoga, fenomena Pilkada DKI bisa menambah inspirasi si penulis untuk melanjutkan syair-syair mungil ini pada edisi buku berikutnya. Ciamik! Saya menanti!

 

Ya Tuhan,

Kalau ada yang menemukan buku ini, tolong dikembalikan kepada pemiliknya.

Amin.

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment