Jenni Anggita Kegiatan Liputan

Antje Missbach: Pencari Suaka Terpaksa Masuk ke Indonesia

ANTJE

“Bagaimana sebenarnya kehidupan riil, narasi-narasi personal orang-orang itu mungkin di tempat-tempat penampungan di Cisarua dan sebagainya? Apa sih perspektif pemerintah Indonesia apakah masih menggunakan narasi-narasi nasionalistik yang sempit?

 

Itulah salah satu pertanyaan yang diungkapkan oleh Daniel Awigra, moderator Diskusi Buku ‘Troubled Transit’ karya Prof. Antje Missbach dari Monash University. Daniel Awigra yang juga merupakan alumnus Pelatihan Agenda 18 Angkatan I yang kini menjadi salah satu aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) dan bergelut di Human Rights Working Group (HRWG).

Awi -sapaan akrab Daniel Awigra- juga menanyakan kepada Antje, mengapa tertarik meneliti tentang kaum migran di Indonesia. Menanggapi hal itu, Antje mengakui bahwa penelitian ini berangkat dari pengalamannya melihat orang Indonesia yang justru ke luar negeri.

“Saya melihat kehidupan sehari-hari pencari suaka, saya mengunjungi mereka, dan bertanya-tanya bagaimana mereka bisa sampai kesini,” jelas Antje di Rumah Obor, pada Sabtu, 25 Februari 2017 lalu.

Dari hasil blusukannya itu, Antje menemukan beberapa fakta bahwa pencari suaka sebenarnya tidak menjadikan Indonesia sebagai tujuan, namun persinggahan sebelum sampai ke Australia. Pada awalnya Australia masih mau menerima pencari suaka, namun belakangan ini Australia malah mencegah kedatangan pencari suaka.

“Indonesia sebenarnya tidak berhak memberikan solusi kepada pencari suaka disini kalau tidak pulang sukarela harus cari resettlement,” ungkap Antje.

Biasanya, orang pencari suaka yang datang ke Australia mendaftarkan perlindungan kepada Australia. Namun sejak Australia mengubah Undang-Undang mereka maka tidak ada zona bagi imigran lagi.

Antje menceritakan, Australia tidak mau menerima pencari suaka, dan mereka malah diasingkan ke beberapa pulau-pulau kecil di luar Australia. Sejak 2013, kata Antje, jika pemerintah Australia menemukan kapal pengungsi di Australia maka akan dibuang ke Indonesia.

16998988_10154151111585826_2860154575148808290_n

Dia memprediksi ada sekitar 30 kali mereka membuang pencari suaka ke Indonesia, atau Vietnam dan Srilangka. Berdasarkan temuan Antje, totalnya sekitar ada 600 pencari suaka yang diperlakukan demikian.

“Apalagi hubungan Indonesia-Australia cukup panas, ada 3B itu, jadi banyak masalah dan ada dampaknya ke kerjasama Indonesia sama Australia,” tutur Antje.

Indonesia memiliki 13 rumah detensi namun kapasitasnya tidak cukup bagi para pencari suaka, sehingga beberapa mereka menyewa rumah sendiri. Indonesia juga sudah mengatakan tidak akan menambah rumah detensi karena bisa berpeluang menambah jumlah pencari suaka yang masuk ke Indonesia.

Menurut Antje Indonesia belum bisa memberikan hak bekerja bagi pencari suaka, itu juga membuat Indonesia belum ingin menjadi rumah bagi pencari suaka. Alasannya, karena di Indonesia angka pengangguran pun masih cukup tinggi.

Padahal, Indonesia masih belum meratifikasi Konvensi Pengungsi Tahun 1951, tetapi tetap menjadi salah satu tujuan favorit pengungsi. Kondisi yang mengenaskan tidak menyurutkan mereka datang ke Indonesia. Di lain pihak, Australia adalah pihak yang justru berkewajiban menampung pengungsi karena sudah menandatangani Konvensi Pengungsi Tahun 1951 itu. Dengan kata kain, Australia sudah melanggar Konvensi Pengungsi itu.

“Tidak ada mekanisme sanksi jika ada pelanggar konvensi seperti Aussie. Banyak negara yang ingin keluar dari konvensi itu di Eropa juga sama. Mereka merasa terlalu banyak orang datang.

Oleh sebab itu, kata Antje, Australia sedang berusaha mengurangi spirit dari konvensi itu. Sehingga Australia sendiri nampak lebih kreatif dan menjual ide mereka ke negara-negara Eropa tentang bagaimana mengalokasikan pencari suaka ke negara lain. Menurut Antje, penjualan konsep itu juga ada biaya yang tinggi.

Diskusi buku lalu berlanjut dengan sesi tanya jawab yang sangat hangat dari beberapa peserta diskusi. Suasana yang terbangun sangat kondusif untuk memberikan pemahaman pada peserta tentang polemic pencari suaka di Indonesia.

About the author

Jenni Anggita

Penulis, peneliti, dan editor lepas. Tulisan terakhirnya terbit dalam antologi buku berjudul Ada Aku Di antara Tionghoa dan Indonesia (2018). Tengah bergelut di S2 Cultural Studies, FIB UI.

Add Comment

Click here to post a comment