Fiksi Jenni Anggita

Butiran-butiran Tak Sempurna

21
oleh Jenni Anggita
Ketika pagi belum lekat benar di mata, ia bangun. Atas dorongan yang entah dari mana datangnya, ia mulai dengan mencari butiran-butiran kalung itu. Kotak kayu persegi ukuran 4 X 4 dibukanya. Rosario merah jambu itu ternyata telah putus. Maka, ia kembalikan lagi pada tempatnya semula.
 
Lalu, ia mencari-cari yang lain. Yang berwarna cokelat, pemberian dari seorang guru agama waktu SMP. Dengan cepat ia temukan terselip di bawah kipas angin. Dia benar-benar lupa, bahwa rosario cokelat itu pernah putus, lalu ia sambung dengan benang cokelat, tapi kemudian putus lagi.
 Maka, dalam hati ia berkata. Kalau tak kutemukan buku doa itu, tak akan kulanjutkan berdoa. Dengan diterangi hanya lampu oranye remang-remang untuk tidur dan sedikit cahaya yang menyelinap masuk melalui jendela kamarnya, ia mencari di antara tumpukan buku-buku yang semrawut karena mejanya terlalu kecil.
 
Alam mungkin sedang bersekongkol. Dia temukan buku doa itu. Dia pun lanjut berdoa dengan rosario yang putus tepat di penghujung butiran rosario terakhir atau bisa juga di awal butiran doa rosario pertama.
 
Di setiap butiran yang ia lalui, pikirannya melayang-layang. Teringat orang-orang yang dikasihinya. Teringat peristiwa-peristiwa yang menyakitinya. Teringat hal-hal yang dikhawatirkannya. Dia mulai bersedih untuk semua yang tak dipahaminya.
 
Pada butiran terakhir usai mengucap salam, ia tutup doanya dengan tanda salib. Kemudian, samar-samar ia mengucap, pelan nyaris tak terdengar. Mereka yang kucintai, mereka pula yang kubenci. Namun, perasaan lebih tenteram hadir menelimuti. Maka, dengan segera ia lupakan ucapannya karena ia tahu betul, ia belum dapat mengampuni.

About the author

Jenni Anggita

Penulis, peneliti, dan editor lepas. Tulisan terakhirnya terbit dalam antologi buku berjudul Ada Aku Di antara Tionghoa dan Indonesia (2018). Tengah bergelut di S2 Cultural Studies, FIB UI.

Add Comment

Click here to post a comment