Jenni Anggita Opini Resensi Film

Coco: Memaknai Kembali Makna Keluarga

coco

Film animasi Coco tidak hanya menyuguhkan sinematografi yang memuaskan mata dengan warna-warni setiap tempat, namun juga musik yang mengagumkan, serta cerita yang mengharukan.

Di awal kisah, kita akan mendapati perjuangan dan luar biasanya seorang perempuan, Imelda, yang dapat membesarkan anak-anaknya seorang diri karena ditinggal suaminya. Usaha yang dipilih Imelda kemudian dilanjutkan kepada anak-anaknya dan cucunya adalah membuat sepatu. Benda yang tak banyak diperhitungkan orang siapa dan bagaimana orang membuatnya kerena dipakai sebagai alas kaki, diinjak-injak dan cenderung dilupakan orang. Kebencian terhadap suaminya yang pergi karena dikira lebih memilih musik ketimbang keluarganya diceritakan turun-temurun sehingga menjadi hal tabu bagi anak cucu dan cicit mereka untuk mengikuti jejaknya sebagai seorang musisi.

22710233_1938734413042667_5977082531579691008_n

Coco adalah nenek buyut Miguel, anak laki-laki yang merupakan tokoh utama film ini. Mama Coco di sini menjadi tokoh kunci dalam proses mengingat cerita tentang papanya, Hector, supaya tetap dikenang dan tidak hilang.  Sementara Miguel, cicitnya, dilarang bermusik oleh keluarganya. Padahal, ia mewarisi bakat musik kakek buyutnya dan berusaha mengejar mimpinya menjadi seorang musisi sampai ke dunia orang mati.

Film ini berhasil mengangkat kebudayaan lokal menjadi latar cerita yaitu tradisi di Meksiko yang berusia 3000 tahun lalu, Dia de los Muerto atau “Day of the Dead”.  Dia de los Muerto adalah perayaan tahunan di Meksiko untuk mengenang keluarga yang sudah meninggal. Tidak ada dukacita atau kengerian dalam perayaan tersebut. Justru sebaliknya, sukacita, musik, makanan, minuman, layaknya pesta untuk merayakan hari berkumpul bersama keluarga, dengan berbagai pernak-pernik, lilin, bunga pada altar yang dipajang foto-foto keluarga yang sudah meninggal. Mereka percaya pada saat perayaan itu, keluarga yang meninggal kembali ke dunia orang hidup untuk berkumpul dan bergembira bersama.

Ritual perayaan Dia de los Muertos tersebut menjadi pintu masuk Miguel untuk pergi ke dunia orang mati dan menelusuri asal-usul keluarganya. Terutama kakek buyutnya yang dihapus kisahnya karena pergi meninggalkan keluarga demi musik.

Perayaan tersebut bukan sekadar ritual berulang. Namun, mengandung penghormatan terhadap leluhur dengan cara mengenang dan menceritakan kembali kisah mereka. Itulah pentingnya memori. Karena tanpa melupakan, kita tidak dapat mengingat, dan untuk mengingat kita membutuhkan media seperti foto. Maka proses memori yaitu mengingat dan melupakan adalah suatu lingkaran yang tak putus.

Pentingnya seseorang untuk tetap diingat meskipun telah meninggal menjadi suatu hal yang sangat berharga baik itu untuk mereka yang telah tiada, atau kita yang hidup. Bagi yang hidup, kisah keluarga yang telah tiada apabila terus dikisahkan menjadi pengingat mengenai akar kita, identitas kita, tempat kita bermula. Ini menjadi jalan supaya kita tidak merasa tercerabut dari akar.

https://i2.wp.com/i.ytimg.com/vi/QxcOPx0lKb4/hqdefault.jpg?w=1320&ssl=1

Makna Keluarga

Coco mengingatkan hal penting dan mendasar dalam sebuah keluarga yaitu soal pengampunan. Ketika Hector meminta maaf kepada Imelda dan Imelda memaafkannya, hubungan mereka pun kembali pulih. Bahkan di dunia orang mati pun peristiwa saling memaafkan dapat terjadi yang juga berdampak di dunia orang hidup. Ketika hubungan Imelda dan Hector pulih, Miguel yang kembali di dunia orang hidup membukakan jalan pada Mama Coco, nenek buyutnya untuk mengingat papanya, Hector, yang telah dilupakannya.

Sebagai dampak dari petualangan Miguel mendapat restu untuk meraih mimpinya itu, sejarah yang penuh kebohongan mengenai kiprah musikus Ernesto de la Cruz pun terbongkar. Hector, musikus sesungguhnya kemudian dikenal dan dikenang. Semua itu berkat Miguel yang berhasil membangkitkan ingatan Mama Coco mengenai papanya, Hector. Demikian memang kerja memori, memori dapat dilupakan, direvisi, diorganisir, dan di-update. Maka memori merupakan hal yang diulang-ulang, diinterpretasikan, dan diceritakan kembali. Keberhasilan Mama Coco mengingat kembali papanya, sekaligus membangun narasi mengenai identitas dirinya dan keluarganya yang sekian lama tidak diketahui orang. Kemudian, karya-karya berupa lirik lagu yang ditulis Hector setelah sekian lama disimpan Mama Coco ditemukan kembali dan diabadikan menjadi museum.

Demikianlah kita semua: bermula dan berakhir di keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama yang menjadi jalan setiap kita mengusahakan dan meraih mimpi. Kegembiraan di tengah keluarga dengan berkumpul, baik saat suka atau duka menjadi sumber kekuatan sekaligus penghiburan di tengah problematika kehidupan.

Film Coco sangat tepat ditonton bersama keluarga menjelang pengujung tahun ini untuk sejenak berrefleksi dan mengingat kembali makna keluarga. Barangkali itulah yang membuat saya berlinang air mata. Menyadari bahwa betapa di era modern ini begitu banyak keluarga terpecah-belah, tercerai-berai, Coco hadir memberikan suatu gambaran mengenai kehangatan keluarga yang barangkali sulit didapatkan oleh masing-masing dari kita.

https://i1.wp.com/media-assets-03.thedrum.com/cache/images/thedrum-prod/s3-screen_shot_2017-11-08_at_10.56.24_am--default--640.png?w=1320

About the author

Jenni Anggita

Usai lulus dari Sastra Indonesia FIB UI sempat wara-wiri. Pernah menjadi volunteer, editor, jurnalis, dan guru. Bersama kawan-kawan Agenda18 Angkatan V menerbitkan buku berjudul Rumah Kota Kita (2016). Kini, tengah bergelut di S2 Cultural Studies UI. Kadang-kadang menulis fiksi sambil merawat Agenda 18.

Add Comment

Click here to post a comment