Jenni Anggita Resensi Buku

Keterpenjaraan Tubuh Perempuan

Oprah Winfrey pernah mengatakan bahwa pencapaian besar dalam hidupnya adalah berhasil menurunkan berat badan sampai 67 pon atau sekitar 30 kg dalam 1 tahun. Bahkan, bagi seorang Oprah, perempuan kulit hitam yang berpengaruh di Amerika, memiliki tubuh ideal merupakan hal penting dalam hidup.

Buku Unbearable Weight: Feminism, Western Culture, and the Body merupakan kumpulan esai yang ditulis pada tahun 1980-an oleh Susan Bordo, seorang filsuf juga feminis. Buku tersebut berisi 9 esai yang dibagi menjadi 3 bagian: Discourse and Conception of the Body, The Slender Body and Other Cultural Forms, dan Postmodern Bodies[1]. Buku ini menunjukkan cara untuk memahami tubuh lewat budaya populer Amerika (Barat) pada tahun 80-an dalam perspektif tradisional dan feminis postmodern. Dalam esai-esainya, Bordo menganalisis pesan yang terkandung pada berbagai produk budaya seperti iklan, talk show, MTV, kasus hukum, dan penjelasan medis mengenai anoreksia dan bulimia yang terus-menerus mereproduksi dualisme pikiran: tubuh yang mendefiniskan perempuan dan tubuh yang jahat dan berbahaya.

Esai di bagian pertama fokus pada gangguan makan, nafsu makan, dan kelaparan. Dalam pandangan budaya Barat, tubuh perempuan didefinisikan sebagai tubuh yang liar (berdosa, jahat, memanjakan diri sendiri). Dengan demikian tubuh perempuan harus disipilin, harus dikontrol. Konstruksi tubuh ideal adalah tubuh kurus yang bukan saja “indah”, melainkan juga tubuh “normal”, “sehat”, dan “baik” karena tubuh perempuan bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk orang lain: laki-laki dan anak-anak.

Bordo berargumen bahwa anoreksia[2] dan bulimia[3] merupakan tindakan ekstrem yang tidak realistis karena mengejar tubuh ramping yang sesungguhnya merupakan konstruksi masyarakat tentang tubuh ideal. Bordo lebih jauh lagi membongkar cita-cita perempuan bertubuh ideal itu tadi dengan pembelaan sebagai sebuah pembebasan atau alasan kesehatan. Padahal, pembebasan itu hanya ilusi belaka. Bordo menunjukkan bahwa bukan hanya penjelasan medis berupa faktor biologis saja yang menjadi sebab, melainkan ada faktor ideologi budaya dan kekuasaan maskulinitas yang terus bekerja di balik itu.

Bagian Postmodern Bodies, Bordo berusaha memadukan postmodernisme dan feminisme. Bagian ini merupakan pemikiran terbaru Bordo tentang teori tubuh sekaligus menjadi respon atas perdebatan dalam studi feminisme. Bordo menjelaskan pentingnya analisis budaya dan keberagaman perempuan untuk memerangi penindasan terhadap perempuan. Secara khusus, analisis Bordo ini memakai konsep kekuasaan pada teori Foucault dan mengisi kekosongan pada pembahasan lebih jauh mengenai tubuh. Dia menyarankan untuk selektif dalam menggunakan teori feminis postmodern. Bordo berusaha mengatasi pikiran dualisme tentang tubuh dengan penekanan pada pengalaman unik tubuh perempuan yang berbeda-beda. Penting untuk mengingat adanya perbedaan ras, kelas, gender, etnis sehingga produksi makna yang dihasilkan untuk membaca tubuh menjadi lebih kompleks.

Buku ini berhasil membangun kesadaran tentang bagaimana penindasan terhadap tubuh perempuan bekerja melalui struktur sosial dan budaya yang sudah mengakar dalam masyarakat yang patriarki sekaligus kapitalis. Hal menarik dari pemikiran Bordo ini antara lain semakin membuka mata pada stuktur kekuasaan seksis yang berdampak dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi perempuan. Selain itu, menarik juga ambiguitas perihal tubuh perempuan yang bermata dua di satu sisi perempuan mencoba menurunkan berat badan yang secara fisik dapat melemahkan, membahayakan diri mereka sendiri, di satu sisi merupakan sarana memperoleh kepercayaan diri dan kesuksesan. Bordo berusaha membongkar paradoks itu dengan tetap kritis dan meningkatkan kesadaran atas pilihan pribadi.

Bagi saya, buku ini akan lebih terstruktur apabila bagian ketiga yang lebih teoretis ditempatkan di awal sebelum masuk ke dalam analisis. Namun, hal tersebut tidak menjadi persoalan yang utama karena yang lebih saya sayangkan adalah Bordo tidak memberikan gagasan atau nasihat praktis tentang jalan keluar dari keterpenjaraan perempuan pada tubuhnya. Apakah yang harus dilakukan perempuan? Diet atau tidak? Memakai makeup atau tidak? Dan seterusnya. Jawaban itu diserahkan saja kepada perempuan. Dalam hal ini, Bordo kurang mengeksplor lebih jauh pada bagian bagaimana perempuan dapat belajar mencintai atau merayakan tubuhnya melalui pengalaman kebertubuhan perempuan yang khas, yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.

Selanjutnya, Unbearable Weight ini dapat menjadi acuan bagi siapa pun hari ini yang hendak membongkar produk-produk budaya yang tampil dalam media yang seolah menawarkan kecantikan ideal yang sesungguhnya menjebak perempuan yang dibuat seolah-olah bebas, tapi terpenjara pada pilihan-pilihan yang semu. Bordo menganggap bahwa perlu adanya suatu analisis rinci dan menyeluruh dalam membongkar fenomena budaya. Maka Bordo semacam memberi penekanan bahwa pentingnya kerja feminis hari ini untuk menunjukkan analisis penindasan perempuan atas struktur kekuasaan patriarkhi dan irisannya dengan kapitalisme, dengan tetap mengingat pada pengalaman kebertubuhan perempuan yang berbeda-beda dan khas.

 

[1] Dalam tulisan ini hanya bagian pertama dan bagian ketiga yang akan diulas.

[2] Anoreksia nervosa adalah gangguan makanan yang ditandai dengan sengaja membiarkan dirinya kelaparan untuk mempertahankan berat badan atau tubuh yang tamping karena khawatir tubuhnya berlebihan berat badan.

[3] Bulimia merupakan suatu kondisi seseorang setelah makan berulang-ulang dan berlebihan, kemudian mengeluarkan kembali yang dimakan.

About the author

Jenni Anggita

Penulis, peneliti, dan editor lepas. Tulisan terakhirnya terbit dalam antologi buku berjudul Ada Aku Di antara Tionghoa dan Indonesia (2018). Tengah bergelut di S2 Cultural Studies, FIB UI.

Add Comment

Click here to post a comment