Jenni Anggita Peta Pustaka

Mencari Jejak Sastra di HB Jassin

HB JASSIN

Inilah satu-satunya tempat penyimpanan dokumentasi kesusastraan Indonesia: Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin. Terletak di dalam Taman Izmail Marzuki, usia PDS H.B.Jassin mencapai 40 tahun. Sementara koleksi yang tersimpan di dalamnya berumur lebih dari 85 tahun.

Tidak ada perubahan sama sekali tahun demi tahun pada PDS H.B.Jassin. Begitu memasuki kawasan Taman Izmail Marzuki, segeralah menuju ke arah Teater Kecil. Sebelum sampai ke sana, kau akan melihat sebuah plang bertuliskan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Langkahkan kakimu menuju gang kecil yang terletak persis di sebelah plang tersebut. Lurus terus sampai kau menemukan sebuah tangga biru di sebelah kananmu dengan tulisan sama seperti pada plang di depan. Di bawah tangga biru itu, ada warung kecil tempat nongkrong, ngopi, dan makan mie rebus. Naiklah dan kau menemukan PDS H.B Jassin.

SEJARAH AWAL MULA

Sebagaimana namanya, PDS ini erat kaitannya dengan sang Paus Sastra, H.B. Jassin. Sumbangan luar biasanya itu merupakan hasil ketekunan H.B. Jassin semasa hidupnya ketika menjadi pengajar sekaligus kepala perpustakaan di Fakultas Sastra UI, Rawamanun, 1952. Setiap hari ia datang pukul delapan pagi dan pulang pukul empat sore. Dia hanya istirahat setengah jam untuk makan, sedangkan sisa waktunya digunakannya untuk membaca. Karena kutu bukunya itu, ia terkenal sering lupa mengajar.

Sesungguhnya, dokumentasi sastra yang ditekuninya bermula jauh sebelum H.B. Jassin menjadi pengajar. Sejak tahun 1930-an, H.B. Jassin hobi menyimpan buku harian, mengumpulkan tulisan-tulisan dalam media massa, surat-surat, dan foto pribadi. Kemudian, berlanjut di masa penjajahan Jepang dan Belanda untuk mendokumentasikan majalah dan surat kabar yang terbit pada waktu itu. Sang Paus Sastra dengan tekun meng-kliping artikel-artikel sastra dan budaya. Dia semakin gigih ketika bekerja di Balai Pustaka tahun 1940-an. Dokumentasi sastra H.B. Jassin tersebut banyak dipergunakan oleh dirinya sendiri ketika dia menjadi pengajar di Fakultas Sastra UI dan oleh khalayak umum, seperti mahasiswa serta Lembaga Bahasa dan Budaya (sekarang Badan Pengembangan & Pembinaan Bahasa dan Sastra).

Berkat  Sultan Takdir Alisjahbana (STA) ketika menjabat sebagai Ketua Akademi Jakarta, lalu difasilitasi oleh Ali Sadikin yang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, serta Ajip Rosidi, dibentuklah Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin pada 28 Juni 1976. Ali Sadikin memberikan fasilitas tempat berupa satu gedung yang terletak di dalam Taman Izmail Marzuki. Dia juga menganggarkan dana dari Penprov DKI Jakarta untuk biaya pengelolaan. Dua hari kemudian pada 30 Mei 1976, Ali Sadikin meresmikan PDS. H.B. Jassin. Semua dokumen sastra H.B. Jassin yang berada di rumahnya, saudaranya, dan di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dikumpulkan dan disimpan di PDS. H.B.Jassin.

KOLEKSI

Cita-cita yang telah lama diimpikan H.B Jassin pun terwujud yaitu pusat dokumentasi sastra, yang bukan hanya meliputi sastra Indonesia modern dan klasik, melainkan juga sastra dunia. Dengan demikian, setiap orang, pencinta sastra, peneliti, bisa mendapatkan bahan apa saja mengenai kesusastraan yang dibutuhkan.

Dokumen yang ada di PDS terdiri atas buku, kipling, skripsi dan disertasi, makalah, majalah, foto pengarang, lukisan, puisi konkret, rekaman suara, kaset video mikrofilm, naskah tulisan tangan, naskah ketik, dan surat-surat pribadi. Dokumen-dokumen tersebut dikelompokkan menurut kategorisasi yang dibuat H.B. Jassin yaitu, 1) kritik dan esai, 2) prosa dan puisi, 3) drama, 4) karya terjemahan, 5) biografi pengarang, dan 6) subjek-subjek khusus. Selain itu, dokumen lainnya juga dikelompokkan tersendiri menjadi satu koleksi yaitu, 1) koleksi majalah, 2) koleksi skripsi dan disertasi, 3) koleksi buku sastra Melayu-Cina, 4) koleksi buku sastra asing, 5) koleksi makalah, 6) koleksi foto pengarang dan peristiwa sastra, 7) koleksi rekaman suara dan rekaman video. Kita juga dapat menemukan beberapa koleksi kesusastraan dunia di antaranya Malaysia, Amerika, inggris, dan Jepang.

KEANGGOTAAN

Koleksi di sana berjumlah kira-kira 150 ribu eksemplar. Untuk menjaga koleksi, para pengunjung tidak diperkenankan meminjam juga tidak diperbolehkan memasuki ruang koleksi. Apabila membutuhkan bahan, dapat memberi tahu petugas, kemudian semua koleksi yang dicari akan dibawakan. Pengunjung hanya boleh membaca di tempat atau memfotokopi dengan biaya Rp300,00 per lembar.

Perpustakaan ini buka dari hari Senin sampai Jumat pkl. 09.00 s.d. pkl. 15.00. Setiap bulan ada rombongan dari sekolah atau kampus, siswa-siswi SMA atau mahasiswa yang berkunjung. PDS juga seringkali dipinjam oleh sastrawan atau komunitas sebagai tempat kegiatan seperti diskusi buku dan peluncuran buku. Semua koleksi itu dapat dimanfaatkan oleh siapa saja bukan hanya mahasiswa, peneliti, atau wartawan. Dalam setahun ada kira-kira 5—6 orang asing yang datang ke PDS, di antaranya dari Malaysia dan Australia. Para pengguna yang berasal dari luar Jakarta juga dapat memanfaatkan layanan informasi PDS melalui surat-menyurat.

KEPRIHATINAN

Tidak mudah merawat koleksi yang usianya puluhan tahun. Keterbatasan dana untuk merawat koleksi, serta sempitnya ruang untuk menyimpan koleksi memaksa pengelola menaruh koleksi di dalam kardus. Kini, kegiatan meng-kliping itu masih terus berjalan, meskipun hanya koran tertentu saja. Pak Agung Trianggono, selaku bagian pengelolaan mengungkapkan bahwa mereka menerima sumbangan buku dari para pengarang, juga terbuka bagi donatur yang hendak menyumbang dana.

Bangsa yang besar bukan hanya menghargai sejarah, melainkan juga kesusastraannya. Sastra adalah cerminan masyarakat, tempat mencari suara-suara liyan yang tak tertulis sejarah, yang mengasah akal budi juga rasa. Di dalam karya sastra terdapat sejarah, karya anak-anak bangsa, buah ide, pemikiran tentang bangsa dan masyarakat tersimpan. Maka, merupakan hal penting dan mendesak bagi pemerintah ataupun kita untuk segera menyelamatkan PDS H.B.Jassin sebelum terlambat.

INFORMASI

Alamat Jl. Cikini Raya No. 73, Taman Izmail Marzuki, Jakarta Pusat 10330
Kontak 021-31936641
Spesialisasi Sastra dan budaya
Akses

 

Commuterline:

Turun di St. Cikini lalu jalan kaki atau turun di St. Gondangdia, jalan sedikit menuju kantor Pos Tjikini, lalu bisa jalan kaki atau naik Kopaja 20/502

Bus:

Kopaja 502 (Tanah Abang-Kampung Melayu) atau Kopaja 20 (Senen-Lebak Bulus)

Waktu layanan Senin—Jumat: Pukul 09.00—15.00 WIB

 

About the author

Jenni Anggita

Penulis, peneliti, dan editor lepas. Tulisan terakhirnya terbit dalam antologi buku berjudul Ada Aku Di antara Tionghoa dan Indonesia (2018). Tengah bergelut di S2 Cultural Studies, FIB UI.

Add Comment

Click here to post a comment