Jenni Anggita Opini

Merayakan Si Pesimis

Both-optimists-and-pessimists-contribute-to-society.-The-optimist-invents-the-aeroplane-the-pessimist-the-parachute.-George-Bernard-Shaw

Saya si pesimis. Namun, kepesimisan saya memberi saya energi melakukan sesuatu dua kali lipat sebagai antisipasi ketakutan saya itu menjadi kenyataan.

Saya menulis ini karena terinspirasi setelah menonton akun School of Life di youtube (The Wisdom of Pessimism dan Why Good Societies are Pessimistic). Saya merenung-renungi. Dalam video tersebut, dijelaskan bahwa pesimisme merupakan kunci untuk memelihara masyarakat yang “waras”. Inti pemikiran si pesimis adalah apa yang terlihat di luar belum tentu dalamnya, pada dasarnya kehidupan manusia tidak sesempurna dan sebahagia seperti yang tampak (misalnya pada foto-foto di Instagram). Manusia merupakan makhluk yang rentan, lemah, mudah marah. Menurut video tersebut pemikiran pesimis harusnya menciptakan masyarakat yang bijaksana, tenang, dan logis.

Video tersebut berargumen bahwa masyarakat pesimis tidak akan percaya pada janji-janji pemimpin yang utopis, solusi yang mudah dan cepat, dan tak membiarkan kekuasaan jatuh di tangan satu orang. Si pesimis mungkin mengisolasi diri dari opini publik yang cenderung histeris dan reaktif berlebihan. Masyarakat pesimis tidak akan mudah menghakimi atau mengucilkan kelompok atau kelas lain. Mereka akan menempatkan diri dalam sangkar serta memaknai kebebasan bukan terletak pada kemampuan untuk melakukan apapun yang diinginkan, melainkan untuk bertindak dengan bijaksana dan logis. Maka mereka memiliki kesadaran untuk tidak menghabiskan tabungan, tidak makan berlebihan, atau kecanduan sesuatu. Mereka juga tidak punya banyak waktu untuk mengidolakan seseorang karena ragu apakah ada orang yang sungguh layak diidolakan atas pemikiran bahwa setiap orang memiliki kekurangan. Masyarakat pesimis menggambarkan kota yang sederhana, rasional, dan harmonis serta menyukai lingkungan dan kehidupan komunal. Masyarakat optimis percaya bahwa setiap orang dapat meraih kesuksesan dengan kerja keras sedikit demi sedikit, restoran mewah itu luar biasa, rumah sakit swasta lebih baik, sekolah mahal dan megah berkualitas, serta pemukiman elit lebih sehat dan menyenanangkan. Sementara masyarakat pesimis berpikir bahwa kebanyakan orang, kelas menengah dan bawah tidak akan pernah “sukses”. Masyarakat pesimis memahami bahwa hidup adalah biasa-biasa saja maka perlu diubah menjadi menarik dengan perumahan rakyat, sekolah negeri, rumah sakit negeri, dan transportasi publik yang memadai.

Mari Menjadi Pesimis

Jika Anda menjadi pesimis, Anda akan lebih skeptis pada isu-isu yang sedang bertebaran di sekeliling Anda. Anda akan tidak mudah percaya pada kebenaran mutlak karena tidak ada yang sungguh-sungguh benar atau dapat Anda pegang teguh. Misalnya saja berkaca dari demo di LBH Jakarta yang lalu, (16—18 Sept). Saya sendiri sempat agak kesal juga karena diskusi ’65 dibatalkan polisi. Dan sempat terbujuk menggunakan hastag #daruratdemokrasi di akun saya. Hari itu begitu chaos, banyak akun menyampaikan hal-hal hoax bahkan sampai menstigma orang-orang dan komunitas yang ada di sana. Semua pihak memiliki kelemahan masing-masing, LBH kurang antisipasi bahkan kabarnya ada penyusup di sana, polisi berusaha mengamankan mereka dengan membatalkan acara padahal kebebasan berpendapat hak warga negara, serta ada oknum-oknum yang sengaja dimobilisasi untuk mengacau. Di pengujung aksi, seorang kawan cerita melihat adegan membagi-bagikan uang kepada massa.

Isu mengenai PKI dan Tragedi ’65 mencuat kembali. Jika dikaitkan dengan 2019 akan ada Pemilu yang berlangsung, ini semua adalah skenario yang telah ditulis oleh sutradara dan produser yang bermodal. Maka, kemudian saya baru sadar semua itu sengaja diciptakan dengan mempelajari pola-pola keberhasilan menang di Pilkada Gubernur DKI Jakarta (2016—2017) yang lalu. Maksudnya dengan cara menaikan isu politik identitas dengan menyebarkan berita hoax, menaikan kembali isu-isu tertentu yang tak pernah selesai dalam sejarah kita menjadi bangsa, menebarkan ketakutan, menstigma kelompok tertentu, terakhir “melukai”. Seperti yang telah diungkapkan beberapa pihak pula, semua ini bertujuan menggoyahkan pemerintahan Jokowi.

Kini, yang membuat kesal, pascakejadian itu, muncul wacana memutar kembali Film Pengkhianatan G30S PKI, bahkan ada wacana untuk membuat versi untuk generasi milenial. Jelas-jelas film itu merupakan film yang telah menjerumuskan banyak orang dengan rekayasa atau kebohongan sejarah yang luar biasa. Maka hari ini kita duduk menjadi penonton narasi ’65 yang kompleks, bukan lagi tarik-menarik narasi versi penguasa dan versi korban, melainkan digunakan secara sadar untuk memecah belah masyarakat sehingga menghasilkan konflik vertikal dan membenturkan masyarakat sipil dengan presidennya, serta digunakan untuk menghasut dan membuat hoax. Betapa menyedihkan dan terbelakangnya kita.

Saya akan tetap menjadi pesimis, meski dicap nihilis dan mudah jatuh ke perasaan fatal putus asa. Saya kecewa hari-hari ini dengan keadaan di luar sana. Kota yang menjadi ruang laga penguasa memainkan pion-pionnya, di satu sisi konsumerisme masyarakat menengah ngehek—misalnya dengan membeli skincare ratusan ribu karena terpengaruh tutorial dari beauty vloger di youtube, radikalisme dan fundamentalisme, politik kotor-kotor, atau aktivis yang gegabah.

Saya terasing di tengah arus modernisasi dan kerap tak menemukan kebahagiaan berada di dalamnya. Meski tampak seperti tidak memiliki pegangan, nihilis, dan skeptis, ini justru menuntun saya untuk bersikap lebih bijaksana, reflektif atas apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan, tidak gegabah, tidak mudah dihasut, dan sedikit berharap. Semoga saya tak jadi putus asa atas kejadian belakangan ini.

Saya tengah berpikir membentuk geng pesimis, barangkali Anda mau bergabung?

Tabik.

 

Bacaan lebih lanjut

On Pessimism

About the author

Jenni Anggita

Penulis, peneliti, dan editor lepas. Tulisan terakhirnya terbit dalam antologi buku berjudul Ada Aku Di antara Tionghoa dan Indonesia (2018). Tengah bergelut di S2 Cultural Studies, FIB UI.

2 Comments

Click here to post a comment