Jenni Anggita Resensi Buku

Pembelajaran Sejarah Kontroversial ’65: Suatu Proses Unlearning

lblk2

Kira-kira demikian sejarah yang sejak kecil terus-menerus diulang pihak yang berkuasa saat itu kepada kita, tidak utuh dan ada suara-suara yang dibungkam. Maka membaca sejarah Indonesia kadang seperti membaca fiksi tentang superhero yang kebenarannya dilebihkan dan kebaikan selalu menang atas kejahatan, ketimbang tentang perdebatan dalam proses menjadi Indonesia. Begitu pun ketika membicarakan peristiwa ’65 yang kompleks dan traumatis, masih hitam putih, dan tidak ter-refleksikan dengan baik dalam ingatan kolektif masyarakat mengingat perbedaan kepentingan dan semangat zaman.

Tulisan ini merangkum dua tulisan Djakababa berjudul “Narasi Resmi dan Alternatif Mengenai Tragedi ‘65” (2014) dan “Ingatan Kolektif Tragedi 1965 Seiring Perubahan Jaman” (2016). Tulisan pertama (2014) merupakan bagian dari buku Luka Bangsa Luka Kita: Pelanggaran HAM Masa Lalu dan Tawaran Rekonsiliasi. Seperti pada judul tulisan, di dalamnya membahas narasi resmi peristiwa ’65 ala Orde Baru mulai dari adanya pembungkaman sistematis dalam narasi resmi, latar belakang situasi, faktor penguat narasi resmi, pentingnya perspektif kebenaran, keadilan, dan rekonsiliasi, serta perlunya adanya narasi alternatif. Masih membahas topik yang sama, tulisan kedua (2016) merupakan tulisan yang dibuat untuk dipresentasikan pada Simposium Nasional “Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan” di Jakarta, 18—19 April 2016. Tulisan tersebut menjelaskan perkembangan atas narasi ingatan tragedi ‘65, pemeliharaan dan penyebarannya, serta konsekuensi narasi yang berubah seiring zaman.

Narasi Resmi Orde Baru

Peristiwa yang dimulai dari Oktober ’65—66 berdampak pada perubahan drastis struktur politik dan sosial masyarakat Indonesia yang berlanjut hingga kini. Perlu dipahami pula konteks global saat itu, masih dalam gejolak perang dingin, kalahnya blok timur dengan ideologi komunisme, menangnya kapitalisme, blok barat. Ketegangan politik itu pun terjadi di Indonesia antara kelompok komunis dan antikomunis sebelum peristiwa 1 Oktober ’65, penculikan dan pembunuhan Jenderal tertinggi TNI AD. Di Indonesia, perubahan yang terjadi bukan hanya politik, melainkan tragedi kemanusiaan.

Pada mulanya, narasi resmi ’65 yang diproduksi rezim Orde Baru adalah untuk menjawab ketidakjelasan situasi dan ketegangan antara pihak komunis dan non-komunis pasca-dibunuhnya para Jenderal. Maka, Mayjen Soeharto dan pasukannya merasa perlu bertanggung jawab menjelaskan kepada masyarakat kondisi chaos dan penuh tanda tanya tersebut dengan membuat satu-satunya narasi resmi dan dicap paling benar.

Narasi resmi penting dibuat untuk melegitimasi pihak yang berkuasa saat itu dan mengendalikan ingatan generasi mendatang. Isinya berupa kemenangan Pancasila atas komunisme, komunisme merupakan ideologi yang keji, militer AD termasuk Soeharto dan rezimnya berhasil menyelamatkan Indonesia dari komunisme atas peristiwa pembunuhan Jenderal di Lubang Buaya. Narasi resmi ala Orba itu secara masif disiarkan, terus-menerus diulang, dilanggengkan melalui monumen peringatan, kurikulum sekolah, dan film. Sementara peristiwa pasca-dibunuhnya perwira AD berupa kekerasan massal terhadap tokoh-tokoh PKI dan semua anggota serta yang dianggap simpatisannya berupa penahanan, penyiksaan, pembunuhan dengan sistematis disenyapkan. Bertahun-tahun para korban tidak memiliki daya untuk menartikulasikan kekerasan yang dialami.

Narasi resmi ’65 Orba itu diperkuat karena beberapa hal berikut. Peran besar media massa, yang pertama kali menyiarkan narasi resmi dari Berita Yudha, surat kabar militer, angkatan bersenjata. Suasana teror karena masyarakat melihat orang-orang sekitarnya yang dituduh terlibat G30S dihilangkan secara paksa. Keterlibatan masyarakat sipil yang tergabung dalam organisasi masyarakat yang bekerja sama dengan militer AD. Adanya sidang terbuka peristiwa Makamah Militer Luar Biasa atas tokoh kunci G30S yang tertangkap, kemudian langsung diadili Soeharto. Pada persistiwa ketika Nyoto diadili, legitimasi kekuasaan militer dan Soeharto semakin kuat di mata masyarakat, padahal Soekarno masih menjabat presiden.

Narasi Alternatif dan Solusi

Belum banyak kajian serius tentang dampak narasi resmi Orde Baru ini. Tempo (1999) dan Kompas (2002) sempat mengadakan survei tentang hal ini. Hasilnya, Tempo mendapati film “Pengkhianatan G30S/PKI” merupakan informasi pertama peristiwa 1 Oktober ’65, sedangkan Kompas menyebut sebanyak 72% responden melihat komunis dengan cap sadis, ateis, amoral. Separuh responden menyatakan komunis sama dengan pembunuh. Propaganda narasi resmi Orba itu dapat dikatakan efektif mempengaruhi masyarakat. Barulah ketika Orde Baru tumbang, narasi alternatif tentang ’65 bermunculan dari peneliti lokal, maupun asing. Narasi alternatif ini memunculkan perdebatan, kebingungan, dan cenderung mendominasi.

Pasca-Orba tumbang, demokrasi menyebar di dunia dan isu HAM menjadi tema yang populer. Kemajuan teknologi membantu cepatnya penyebaran informasi maka muncul narasi tragedi setelah 1 Oktober ’65 yang selama ini dibungkam. Sudut pandang HAM ini tidak menyertakan konteks sosial politik sehingga narasi yang muncul fokus pada peristiwa pembantaian, penangkapan, diskriminasi, stigmatisasi antar-WNI. Sejumlah aktivis dan penggiat HAM pun memberi perhatian besar untuk membela korban ‘65. Narasi alternatif yang datang tidak dari pemerintah—melainkan dari buku, media, dan diskusi—membuat  informasi menjadi terfragmentasi serta membingungkan masyarakat.

Perkembangan konstruksi ingatan kolektif tragedi ’65 dalam masyarakat memiliki kesamaan antara narasi resmi Orde Baru dengan narasi alternatif pasca-Orde Baru. Terjadi penyederhanaan narasi, yaitu pada masa Orba, antagonis adalah PKI, pasca-Orba antagonis adalah Soeharto, militer, dan rezimnya. Ada narasi yang senyap, pada masa Orba yang senyap adalah kekerasan massal (penyiksaan, pembunuhan, diskriminasi tokoh-tokoh PKI dan semua yang dianggap terlibat), pasca-Orba narasi yang senyap adalah pembunuhan Jenderal, padahal keduanya sama-sama korban. Kedua narasi tidak lengkap dan fokus pada satu periode saja, bahkan tidak menyentuh prolognya (konteks global, perang dingin dan kondisi politik). Perlu juga dicatat bahwa narasi yang ada sulit lengkap karena buktinya belum muncul. Selain itu, ingatan kolektif memiliki keenderungan diteruskan dengan berpihak sesuai dengan kepentingan zaman yang berbeda-beda terhadap narasi ini.

Kini, tragedi ’65 dilihat masyarakat dengan 4 perspektif berikut ini: ada kelompok yang yakin pada narasi resmi Orde Baru maka PKI pantas ditumpas; kelompok yang melihat tragedi ’65 dari perspektif korban dan penyintas bahwa tragedi ’65 adalah pelanggaran HAM yang serius; kelompok yang bingung  karena informasi yang beredar bertolak belakang; kelompok yang tidak peduli pada hal ini. Maka  perlu  ada keterbukaan pandangan dan pemahaman bersama atas peristiwa kompleks ini pertama-tama dengan menyeluruh, contohnya membuat periodisasi sejarah ’65—66 menjadi tiga: dinamika masyarakat lokal dan global sebelum 1 Okt ’65, peristiwa 1 Okt ’65 penculikan dan pembunuhan jenderal, dan setelah 1 Okt ’65 penangkapan, penyiksaan, pembunuhan, diskriminasi massal.

Kedua tulisan Djakababa saling melengkapi satu sama lain, pada tulisan pertama (2014) selain membongkar narasi resmi peristiwa ’65 ala Orde Baru bertujuan untuk mendorong segera dibuat narasi alternatif yang berperspektif keadilan, kebenaran, dan rekonsiliasi, sedangkan tulisan kedua (2016) mengusulkan pembelajaran yang utuh tentang ’65 (menyeluruh, selengkap mungkin sesuai data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan), meskipun ada kendala informasi yang masih belum terbuka; mengajak semua pihak yang terlibat membuka hati dan pikiran untuk bersama-sama membangun ingatan kolektif yang baru, menyeluruh, dan jujur; mengakui peristiwa ’65 sebagai sejarah kelam dalam proses menjadi Indonesia, terjadi konflik politik yang menelan begitu banyak korban juga diskriminasi antarsesama manusia dan WNI. Dengan harapan peristiwa ini menjadi pembelajaran bersama, semua pihak dapat berdamai, generasi muda mendapatkan informasi yang menyeluruh, peristiwa semacam ini kelak tidak akan terjadi lagi, dan kita dapat melangkah demi masa depan yang lebih baik.

Simpulan

Berdasarkan dua tulisan Djakababa, dapat disimpulkan bahwa tragedi ’65 sampai kini masih menjadi sejarah kontroversial yang merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia dan traumatis. Masih banyak masyarakat yang percaya pada narasi resmi yang diproduksi oleh Orba sebagai satu-satunya realitas tunggal peristiwa ’65. Padahal narasi itu tidak lengkap dan rezim Orba juga melakukan pembungkaman sistematis pada korban yang disiksa, dibunuh, didiskriminasi, distigmatisasi bertahun-tahun. Media massa berperan besar melanggengkan narasi resmi ini. Maka dibutuhkan pembelajaran yang menyeluruh mengenai peristiwa ’65 dan memperbanyak produksi narasi alternatif yang berspektif kebenaran, keadilan, dan rekonsiliasi. Pasca tumbangnya Orba narasi alternatif ini telah banyak dibuat. Namun, sebagaimana narasi resmi sebelumnya, narasi alternatif kini cenderung hitam putih, melakukan penyederhanaan narasi, ada narasi yang senyap, dan mendominasi. Itu semua terjadi karena adanya perbedaan kepentingan dan kecenderungan zaman.

Pembelajaran sejarah kontroversial khususnya terkait peristiwa ’65 ini memperlihatkan berbagai versi sejarah yang berbeda-beda pada satu peristiwa yang sama. Sebagaimana judulnya adalah sejarah “kontroversial”, yang berarti menimbulkan perdebatan, sejarah ’65 belumlah selesai, melainkan terus berproses karena seiring berkembangnya teknologi dan semangat zaman, muncul informasi, data, fakta-fakta, dan interpretasi baru terhadap peristiwa ini. Topik ini semakin memberikan pemahaman secara menyeluruh terhadap realitas masa lalu. Dengan demikian, kita dapat melihat berbagai sudut pandang dalam menjelaskan suatu peristiwa atau permasalahan. Selain itu, sejarah kontroversial dapat dikatakan upaya membongkar stigmatisasi atau “dosa sejarah” yang melekat terhadap kelompok tertentu pada peristiwa di masa lalu karena ada kelompok masyarakat yang menganggap satu versi sejarah sebagai satu realitas tunggal.

Refleksi

Topik sejarah kontroversial, khususnya pembahasan mengenai tragedi ’65 merupakan pembahasan paling menarik dan proses unlearning bagi saya. Melalui bahan bacaan serta diskusi di kelas, pemahaman saya mengenai ’65 menjadi lebih terbuka. Saya belajar untuk lebih bijaksana melihat peristiwa ini dengan tidak hitam putih dan menyederhanakan peristiwa atau hanya menganggap narasi yang satu lebih benar, ketimbang yang lainnya. Bukan hanya peristiwa ’65, melainkan untuk semua peristiwa bersejarah, penting untuk memahami konteks global dan lokal, serta melihat suatu peristiwa dengan menyeluruh, tidak spasial. Selain itu, topik ini juga membantu saya dalam menganalisis peristiwa bersejarah yang lainnya dengan melihat kesamaan pola-pola peristiwa yang terjadi. Pola-pola tersebut di antaranya, adanya narasi resmi dari pihak yang berkuasa, adanya suara-suara atau narasi yang disenyapkan, stigmatisasi, penyederhanaan narasi biasanya oleh media massa sehingga masyarakat tidak mendapat informasi yang menyeluruh, simpang siurnya berita yang menyebar, dan perlunya narasi alternatif yang berperspektif kebenaran, keadilan, dan rekonsiliasi.

Menurut saya bagian terpenting dan relevan dari topik ini adalah penulisan narasi dengan perspektif kebenaran, keadilan, dan rekonsiliasi. Barangkali perlu ada semacam tulisan tambahan dengan melakukan inter-refrensi pada negara lain tentang cara negara tersebut menyelesaikan sejarah kontroversial di negaranya, misalnya inter-referensi pada Jerman yang dapat menyelesaikan peristiwa Holocaust (1923), dengan tetap mengingat perbedaan kondisi sosial budaya masyarakat yang ada.

Topik ini membuat saya merefleksikan dengan mempertanyakan bagaimana saya dapat menulis narasi sejarah dengan perspektif kebenaran dan keadilan, sementara dalam studi yang saya tempuh di Cultural Studies, mengajak untuk berpihak kepada mereka yang dimarginalkan. Saya awalnya sempat skeptis pada penulisan sejarah dengan aspek kebenaran dan keadilan terutama di Indonesia. Terutama jika menengok pembahasan sejarah melalui kacamata Hayden White dalam Metahistory. White (1973) melalui sejarah sebagai narasi, mempertanyakan kebenaran dari penulisan sejarah dan objektivitas pekerjaan sejarah. Menurutnya, penulisan sejarah lebih dekat dengan fiksi (artefak sastra), ketimbang dengan science. Daripada mewakili realitas masa lalu, karya sejarah lebih merupakan pernyataan yang memiliki unsur-unsur gaya bahasa (perangkat dalam linguistik) seperti metafora, metonimi, siknekdoke, dan ironi.

Kendati demikian, dalam konteks ’65 meskipun pada mulanya dan sampai sekarang sejarah masih merupakan milik mereka pemenang atau yang berkuasa maka penting adanya narasi yang menyeluruh dan berperspektif kebenaran, keadilan, dan rekonsiliasi datang dari pemerintah. Perlu lebih banyak produksi ilmu pengetahuan dan narasi alternatif pada peristiwa-peristiwa kontroversial untuk mendorong terjadinya rekonsilasi. Dengan catatan, narasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Simposium Nasional barangkali langkah awal untuk menuju ke arah rekonsiliasi itu. Harapannya, tragedi ’65 ini dapat segera diselesaikan karena menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia mendatang.

 

Daftar Referensi

Ahmad, Tsabit Azinar. (2016). Sejarah kontroversial di Indonesia perspektif pendidikan. Jakarta: Obor.

Djakababa, Yosef. (2014). Narasi resmi dan alternatif mengenai tragedi ’65. Dalam Baskara T. (Ed.). Luka Bangsa luka kita: pelanggaran HAM masa lalu dan tawaran rekonsiliasi (h. 360-369). Yogyakarta: Galang Pustaka.

____________, (2016, April), Ingatan kolektif tragedy 1965 seiiring perubahan jaman. Makalah disiapkan dan dipresentasikan pada Simposium Nasional: Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan, di Hotel Aryaduta, Jakarta.

Rahayu, Ruth I.. (2016). Adakah perempuan revolusioner dalam sejarah gerakan kiri? dalam Sejarah gerakan kiri Indonesia untuk pemula. Bandung: Ultimus.

White, Hayden. (1973). Metahistory: the historical imagination in nineteenth-century Europe. Baltimore: Johns Hopkins UP.

 

[Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir matakuliah Historisitas, Cultural Studies FIB UI, pada 7 Juni 2017, yang diajar oleh Bapak Yosef Djakababa, Ph.D.. ]

 

About the author

Jenni Anggita

Usai lulus dari Sastra Indonesia FIB UI sempat wara-wiri. Pernah menjadi volunteer, editor, jurnalis, dan guru. Bersama kawan-kawan Agenda18 Angkatan V menerbitkan buku berjudul Rumah Kota Kita (2016). Kini, tengah bergelut di S2 Cultural Studies UI. Kadang-kadang menulis fiksi sambil merawat Agenda 18.

Add Comment

Click here to post a comment