Jenni Anggita Resensi Buku

Perempuan dan Kreativitas

MAKRAME DIAS

Saya ingin menanyakan bagaimana seorang perempuan dalam masyarakat dan budaya yang patriarki dapat menulis? Barangkali kita akan teringat pada Kartini dan surat-suratnya.  Tapi, saya mau mengajak teman-teman sekalian untuk mengingat seorang perempuan penulis, sastrawan besar dan berpengaruh di Inggris pada abad ke-20, Virginia Woolf (1882-1941). Salah satu karyanya yang berjudul A Room of One’s Own, di sana Woolf menyebutkan bahwa untuk dapat menulis pertama-tama harus memiliki ruang privacy, tempat untuk Anda berpikir, menulis, membaca ulang yang ditulis, melakukan evaluasi, bahkan mengkritik diri sendiri, tanpa adanya interupsi atau gangguan dari luar. Ruang pribadi yang dimaksud Woolf dapat dimaknai sebagai simbol, selain berupa realitas. Bahwa untuk dapat menulis Anda harus menjadi diri Anda sendiri, memiliki diri Anda sendiri (Beauvoir dalam Heraty (ed.), 2002: 92).

Jika kita kaitkan ke Kartini, barangkali muncul pertanyaan begini, apabila dia bukan anak priyayi apakah memiliki kesempatan yang sama untuk dapat menulis surat-suratnya? Dia dapat bersekolah di Europe Lagere School, fasih berbahasa Belanda, dan memiliki kawan di Belanda. Tentu jawaban tidak. Maka, kelas sosial, keadaan sosial budaya mempengaruhi perempuan dalam menulis. Dalam masyarakat dan budaya patriarki, perempuan bukanlah milik dirinya sendiri, dia adalah milik keluarganya, sosok yang tidak independen. Dirinya, tubuhnya adalah milik suami dan anak-anaknya sehingga kapan saja mereka membutuhkannya perempuan dianggap berkewajiban memenuhinya. Maka, menulis bagi sebagian besar perempuan, yang dapat melakoninya, adalah kemewahan yang barangkali tidak dapat dilakukan perempuan lain.

 

Episode Kreatif Penulisan Fiksi: Membaca Cerpen-cerpen Dias Novita Wuri

Sebelum lebih jauh kita bicarakan anak pertamanya Dias ini, sedikit dari saya, sekadar cerita awal mula berjumpa dengan Dias karena kami sama-sama dipertemukan dalam Akedemi Menulis Novel DKJ 2014. Padahal, kami sama-sama satu almamater dan Dias hanya terpaut 1 tahun di atas saya, tapi kami justru saling mengenal di sana. Dan di tahun 2017 ini akhirnya kumpulan ceritanya terbit. Kira-kira butuh waktu 2 tahun lebih.

Makrame, seperti yang tertulis di sampul belakang, merupakan kumpulan dari 17 cerita pendek yang saling simpul dan berjalin, mengisahkan berbagai hubungan antarmanusia, maupun manusia dengan yang bukan manusia. Hubungan yang dikatakan dijalin, diputuskan, diuntai, atau diurai. Judul tersebut apabila kita telusuri dalam KBBI, makrame berarti bentuk seni kerajinan membuat berbagai siimpul pada rantai benang sehingga terbentuk aneka rumbai dan jumbai.

Makrame dalam cerpen Dias ini merujuk pada judul cerpennya terakhir, “Kartun dan Luka Makrame” yang berkisah tentang hubungan long distance relationship antara seorang perempuan dan laki-laki. Dalam cerita itu, Dea, tokoh utama perempuan menyebutkan Cartoons and Makrame Wounds merupakan lagu band Mew (alternatif rock band asal Denmark) kesukaannya, sekaligus menyamakan liriknya dengan kisah cinta mereka berdua. Reza, lelaki yang dingin, bersikap acuh tak acuh kepada kekasihnya, yang dia tinggal untuk menempuh studi master seni visual di Milan. Sementara Dea kekasihnya masih berulang kali mengirimi pesan, surat, dan sampai terakhir menyusul ke Milan menitipkan buku pesanannya, dan pergi melanjutkan studi pula. Begitu kekinian, cerpen ini menunjukkan orang-orang dapat dengan mudah pergi dari satu negara ke negara lain, meretas batas antarnegara.

Setiap penulis memiliki suaranya masing-masing. Menarik untuk mengetahui bagaimana penulis membangun dunia fiksi, memulai suatu cerita dan mengakhirinya. Bagaimana proses kerja kreatifnya dalam mencipta karya.

Banyak penulis yang memulai dengan deskripsi tempat, benda, orang, sesuatu yang ada di sekitarnya, tengah mendengarkan atau melihat, atau membaca sesuatu menggunakan pancaindera. Dalam beberapa cerpen Dias, judul yang sengaja dia pilih dari bahasa Belanda, Jerman, dan lainnya dengan terjemahannya mengajak pembaca sedari awal sudah membayangkan masuk ke dalam suatu tempat lain yang sesuai dengan judulnya itu. Beberapa cerpen dibuka Dias dengan percakapan, ada yang deskripsi perilaku tokoh, deskripsi tempat. Namun, kecenderungan cerita-ceritanya di awal sudah dengan dengan benih-benih insiden yang menyentuh, misterius, menarik, atau menghantui. Itu semua merupakan undangan bagi pembaca untuk eksplorasi, discovery. Seperti cerpen Malam Pertama:

“Di pagi hari setelah malam pertama, ia meyakini bahwa istri barunya sudah tidak perawan” (Wuri, 2017: 117).

Pembaca kemudian bertanya-tanya what happened next? Pembaca akan dibawa masuk ke dalam dunia fiksi di dalamnya terdapat karakter-karakter dan tokoh, peristiwa demi peristiwa yang muncul dalam pengalaman imajinatif dan kata-kata penulis.

Penulis juga harus menemukan sudut pandang yang pas dalam menulis fiksi, cerpen dan novel, yang berbeda apabila menulis puisi. Dengan tujuan voice tokoh-tokohnya tepat, logika cerita berjalin berterima. Tentu ini mudah-mudah sulit karena membutuhkan kepiawaian penulis dan tujuannya membangun logika cerita yang meyakinkan.

“Fiction is an artistic from in which the imaginary world as it unfolds is created by the words of narrators with point of view” (Doyle, 2014).

Dalam cerpen-cerpennya, Dias mengeksplor kemungkinan-kemungkinan sudut pandang yang tak melulu menjadi orang pertama. Tapi bisa dengan menjadi orang kedua, ketiga, dan kemungkinan menggunakan kata ganti orang keempat, “kami” dalam cerpen Teman Kami. Maka suara narator dalam cerpen-cerpennya dengan berbagai sudut pandang tersebut menawarkan perspektif atau cara memandang suatu peristiwa dan permasalahan yang beragam. Kita akan melihat banyak persoalan perempuan, pengalaman perempuan, tubuh dengan sudut pandang dan cara pengisahan yang beragam.

Setiap penulis memiliki sense kapan dia harus mengakhiri cerita. Tidak semua cerita dapat dikatakan “selesai” dalam cerpen-cerpen Dias, ada cerita yang membawa rasa menggantung dan pertanyaan, lalu bagaimana? Seperti pada Malam Pertama.

Tentu saja yang tak lupa, semua penulis diharapkan melakukan pembacaan ulang pada karyanya, evaluasi, bahkan revisi sebelum akhirnya dilempar ke pembaca.

 

Tema Patah Hati

Hubungan cinta antara perempuan dan laki-laki yang tidak berhasil: kandas di tengah jalan atau ditinggal mati, mendominasi cerita-cerita Dias. Mengesankan kesuraman, kemalangan, persoalan kehidupan. Selain cerita Makrame, misalnya juga pada Com a Luz de Dia, Dapur yang Bersih dan Lapang, Teman Kami, Ein Brief fur Dich, dan Her.

Pembaca juga diajak untuk menelusuri hubungan yang tak melulu sepasang kekasih, ada anak perempuan dan lelaki pada cerpen Sanna Dokunmak, pekerja seks dengan langganannya dalam Papa Gulali, bapak dengan anak seperti dalam Talo.

Selain hubungan antarmanusia, juga hubungan lain seperti lelaki dan roh istrinya yang meninggal dalam Dapur yang Bersih dan Lapang; hubungan roh manusia dan malaikat dalam Malaikat yang Bertugas Mengurus Pesta ulang Tahunmu di Surga; juga yang menarik, dan ini menjadi salah satu yang paling saya sukai, adalah relasi kakek dengan tiga perempuan robot dalam. 2.0. denan latar tempat Jepang. Ini mengingatkan saya pada istilah “body as machine” khususnya yang merujuk pada esai Donna Haraway A Cyborg Manifesto (1991).

Cyborg atau “cybernetics organism” atau adalah makhluk hibrida terdiri atas organisme dan mesin, makhluk realitas sosial dan juga makhluk fiksi. Maka tidak dapat didefinisikan semata-mata sebagai sosok biologis seperti manusia atau hewan, laki-laki perempuan, tubuh dan pilkiran. Menurutnya, kita semua cyborg dalam masyarakat kita sekarang ini.

Cyborg Manifesto mengkritik keterbatasan pemikiran feminis yang berfokus pada politik identitas, kelas, dan ras dalam hubungannya dengan sains dan teknologi. Ini menjadi representasi sosok kritis dalam feminisme, anti rasisme, dan teknologi, yang membentuk satu diskursus teori posthumanis feminis. Cyborg menurutnya sama nyatanya seperti manusia dan teknologi membuat semua hal ini menjadi mungkin. Konsep ini memberikan pemahaman hilangnya batasan identitas individu, menolak gagasan esensialisme, dan melawan dikotomi atau dualisme atau yang bermakna phallogosentris[1].

Dalam cerpen Dias, kita dapat membaca identitas kompleks dari perempuan cyborg yang dapat menimbulkan rasa sakit kehilangan dan kesenangan secara simultan yang menawarkan adanya kerja sama dengan teknologi untuk merepresentasikan perempuan yang lebih kompleks, multidimensipnal, dan melampaui adanya dikotomi atau dualisme.

Maka membaca fiksi dan memperbincangkannya akan selalu menarik karena membuka berbagai pemahaman kita pada dunia yang lain.

Akhir kata, Proficiat, Bravo untuk Dias dan Makrame!

 

Catatan:

Saya meminjam judul yang sama, yang dipakai oleh Simone de Beauvoir (1966) dalam tulisannya di buku Hidup dan Matinya Pengarang, Toety Heraty (ed.), Yayasan Obor Indonesia, 2000, hlm.91—117. Tulisan ini dibuat pada 7 Oktober 2017, untuk acara My First Book Dias Novita Wuri, Makrame, di Salihara,

Phallogosentris berasal dari dua istilah phallosentris yang digunakan Lacan merujuk pada anggapan masyarakat bahwa penis memegang kekuasaan. Sementara logosentris merupakan label Derrida pada pemikiran Barat yang memegang kekuasaan dalam pemaknaan simbol. Istilah ini merujuk budaya patriarki.

 

 

Daftar Pustaka

Beauvoir, Simone de. (2000). Perempuan dan kreativitas. Dalam Toety Heraty (Ed.). Hidup dan matinya pengarang (h.91—117). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Doyle, Charlotte L. (2010). The writer tells: the creative process in the writing literary fiction. Creativity Research Journal, 11: 1, 29—37, DOI: 10.1207/s15326934crj1101_4.

Wuri, Dias Novita. (2017). Makrame. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

About the author

Jenni Anggita

Usai lulus dari Sastra Indonesia FIB UI sempat wara-wiri. Pernah menjadi volunteer, editor, jurnalis, dan guru. Bersama kawan-kawan Agenda18 Angkatan V menerbitkan buku berjudul Rumah Kota Kita (2016). Kini, tengah bergelut di S2 Cultural Studies UI. Kadang-kadang menulis fiksi sambil merawat Agenda 18.

Add Comment

Click here to post a comment