Jenni Anggita Opini

Surat Terbuka Menanggapi Pemberitaan Republika Tentang Tulisan Pemerkosaan Mei ’98

Menanggapi pemberitaan Republika berjudul “Suaka Via Perkosa: Menguak Kebenaran Perkosaan di Kerusuhan Mei 1998” ada banyak sekali fakta yang patut dipertanyakan dan harus diperiksa kembali.

Pertama, sumber utama dari berita tersebut berasal dari Andi Ghalib, mantan Jaksa Agung yang kemudian menjadi Duta Besar Indonesia di India. Disebutkan bahwa wartawan Republika ini bertemu dengan Andi Ghalib di India dan mewawancarainya soal peristiwa Mei 1998.

Andi Ghalib langsung membantah soal isu perkosaan terhadap sejumlah perempuan beretnis Tionghoa di bulan Mei 1998 dan mengatakannya sebagai “Bohong itu! Merusak citra Indonesia di mata dunia. Ada orang Cina yang kurang ajar membuat cerita palsu di Amerika.”

Dalam tulisan yang sama, wartawan Republika menyebutkan soal sumber lain yaitu Jaksa Penuntut Wilayah Virginia, Paul J McNulty, dan juga Dean McDonald, agen spesial dari Biro Imigrasi dan Bea Cukai Kepabeanan Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat di negara bagian Virginia. Tidak cukup jelas bagaimana wartawan Republika menemui dua narasumber yang berada di belahan dunia lain. Sejauh laporan ditulis, tidak ada keterangan bagaimana cara wartawan Republika mendapatkan kutipan atau komentar dari dua pejabat di Amerika Serikat tersebut.

Di sini sumber informasi boleh dikatakan tidak cukup jelas atau tidak cukup transparan untuk dipahami oleh publik.

Kedua, ada dokumen rahasia yang dikatakan oleh wartawan Republika yang ia baca yaitu dokumen dari FBI yang membicarakan soal kasus perkosaan massal yang dijadikan modus penipuan dari sejumlah warga keturunan Cina di Indonesia untuk mendapatkan suaka politik di Amerika Serikat.

Bahwa sindikat itu mungkin saja ada pada bulan Mei 1998, namun wartawan Republika tak mengecek lebih jauh kebenaran dari dokumen tersebut, dan pula bagaimana ceritanya sebuah dokumen FBI ini bisa jatuh ke tangan Andi Ghalib yang waktu menerima dokumen ini, sudah menjadi anggota DPR (tahun 2004—2009)? Agak tidak masuk akal, ada seorang anggota dewan dari negara lain yang memiliki dokumen FBI yang mungkin terkategori rahasia.

Ketiga, jika wartawan Republika merujuk pada “tim khusus yang dibentuk pada masa pemerintahan Presiden Habibie, “Dalam laporan tim, tidak ditemukan data-data dan fakta-fakta, baik di rumah sakit, maupun apartemen yang disebutkan telah terjadi perkosaan massal itu”, di sini telah terjadi penggelapan fakta dari apa yang telah terjadi sesungguhnya. Jika wartawan Republika mau sedikit lebih rajin pasti dia akan menemukan dokumen (yang telah dibukukan pada tahun 2005 dan direvisi tahun 2007) berjudul Kerusuhan Mei 1998: Fakta, Data dan Analisa: Mengungkap Kerusuhan Mei 1998 Sebagai Kejahatan Terhadap Kemanusiaan (penulis: Ester Indahyani Yusuf, Hotma Timbul, Olisias Gultom dan Sondang Frishka, diterbitkan oleh  Solidaritas Nusa Bangsa, dan Asosiasi Penasehat Hukum dan Hak Asasi Manusia – APHI).

Jika saja wartawan Republika mau lebih rajin membaca dokumen konkret setebal 470 halaman, mungkin tidak perlu semua kalau hanya ingin membaca masalah perkosaan yang terjadi pada bulan Mei 1998, silakan langsung lihat ke halaman 177—198, di bawah sub bab 4.2.2 Korban Perkosaan dan Pelecehan Seksual. Total ada 92 kasus yang terjadi di kota Jakarta (78), Medan (8), Surabaya (6). Dalam halaman lebih lanjut dari buku tersebut bisa dilihat deskripsi apa yang terjadi pada korban dan di mana lokasi ditemukannya korban.

Jadi, jika wartawan Republika menganggap peristiwa perkosaan Mei 1998 sebagai hoax, bukankah Anda yang sekarang sedang menyebarkan hoax karena tidak melakukan kerja jurnalistik dengan benar dan memeriksa dengan hati-hati sumber-sumber dengan jelas.

Kami sebagai publik meminta penjelasan terbuka terhadap hal ini.

*Pada tanggal 5 Juni 2017 penulis sudah mengirim langsung surat ini ke Republika, namun sampai sekarang tidak ada jawaban. Sebelumnya, dua media (Mojok: “Tidak Ada Selamat untuk Selamat Ginting”  dan Remotivi: “Menjadi Tionghoa, Setelah Selamat”) juga memuat tulisan yang membantah tulisan Republika tersebut.

About the author

Jenni Anggita

Penulis, peneliti, dan editor lepas. Tulisan terakhirnya terbit dalam antologi buku berjudul Ada Aku Di antara Tionghoa dan Indonesia (2018). Tengah bergelut di S2 Cultural Studies, FIB UI.

Add Comment

Click here to post a comment