Jenni Anggita Resensi Buku

Ulasan Singkat The History of Sexuality Karya Michel Foucault

Michel Foucault merupakan salah satu tokoh utama post-strukturalis, seorang intelektual yang terkenal, fenomenal, dan berpengaruh. Karya-karyanya telah mengilhami para pemikir di berbagai bidang ilmu. Salah satu karya yang membawanya pada pembaca lebih luas lagi adalah trilogi The History of Sexuality. Dia melakukan penelitian dengan menggunakan metode genealogi sejarah. Bedanya dengan sejarawan, Foucault bukan hanya meneliti kebenaran faktual saja, melainkan juga persoalan hegemoni kekuasaan yang bekerja di balik wacana seksualitas. Dalam tulisan ini, penulis berusaha menyarikan pemikiran Foucault tentang seri pertama buku tersebut.

The History of Sexuality I dibagi menjadi lima bagian besar: kaum Victoria, hipotesis represi, scientia sexualis, sistem seksualitas, dan hak menentukan ajal dan menguasai hidup. Sebagai pembuka, Foucault menyoroti kemunafikan pada masa Victoria karena adanya represi seksualitas. Segala sesuatunya harus serba teratur, sopan, dan semua yang terkait dengan seks tabu untuk dibicarakan di publik. Padahal sebelum abad ke-17, kata-kata dan kegiatan terkait seks tidak ditutup-tutupi. Mereka yang menyimpang, gila, dan tidak menaati aturan-aturan sosial saat itu akan dianggap tidak normal, bahkan mendapat sanksi sosial. Seks menjadi terasosiasi dengan dosa. Seksualitas hanya dibicarakan di kamar, rumah bordil, rumah sakit jiwa. Seksualitas direpresi sedemikian rupa untuk mengatur masyarakat pada saat itu. Ternyata pengekangan seksualitas itu berjalin erat dengan kekuasaan dan kapitalisme. Tubuh diatur, dibuat patuh, seks dikekang, dibungkam untuk mengatur orang per orang sehingga alat-alat produksi dapat bekerja maksimal. Di sinilah tujuan Foucault menulis buku ini untuk membongkar wacana, kekuasaan yang paling subtil, terselubung mengendalikan kenikmatan seksual.

Pada bagian hipotesis represi, Foucault menyingkap wacana seks dalam wilayah kekuasaan yang semakin sering dibicarakan dalam institusi lembaga. Dia menyoroti moralitas seksual melalui agama khususnya ajaran pastoral Kristen pada abad ke-17 dengan dasar berahi adalah akar dari dosa. Nafsu berahi, mulai dari pikiran, perkataan, kehendak, dan praktik-praktik yang menyangkut kenikmatan, hasrat seksualitas harus diakui dalam pengakuan dosa, kemudian mendapat penitensi atau pengampunan. Semua itu terkait dengan ilmu pengetahuan manusia dan kepentingan memperoleh pengetahuan tentang subjek. Foucault menyebut represi kebungkaman sebagai sensor. Sensor atas seks disusun sebagai peralatan memproduksi berbagai wacana tentang seks yang terkait dengan spiritualitas Kristen.

Pada abad ke-18, mulai ada rangsangan secara politik, ekonomi, dan teknik untuk membicarakan seks. Bukan filsuf yang melakukannya karena mereka enggan bicara tentang seks, melainkan dalam ilmu kedokteran. Foucault melihat wacana kedokteran tentang seks dengan analisis ilmiah cenderung mencegah kemunculannya. Selanjutnya, seks menjadi urusan “polisi” yang berfungsi untuk mengokohkan kekuatan intern negara. Seks setiap warga perlu diatur oleh negara melalui berbagai wacana yang berguna dan terbuka. Wacana seks sejak abad ke-18 berkembang memasuki wilayah pendidikan dan memaksa pemahaman seks anak-anak dan remaja, membakukan isinya melalui pembicara-pembicara ahli. Wacana tentang seks itu tidak di luar kekuasaan atau melawan kekuasaan melainkan sebagai alat untuk menerapkan kekuasaan itu sendiri.

Pada subab penyimpangan, Focault membahas pula kekuasaan yang bermanifestasi pada sejumlah aturan pelarangan seperti larangan terhadap hubungan sedarah, hukuman bagi pelaku sodomi, anggapan tidak normal pada mereka yang homoseksual. Semua itu mengkerucut pada pernyataan bahwa wacana seksualitas merupakan hasil konstruksi sejarah, sosial, dan budaya.

Selanjutnya, masuk ke bab scientia sexualis, Foucault mengungkapkan Ars Erotica Timur yang berbeda dengan wacana seksualitas atau scientia sexualis yang dibangun Barat melalui mekanisme pengakuan dosa. Ars Erotica Timur tidak berkembang dalam ilmu kedokteran. Bagi tradisi Timur seks merupakan sesuatu yang substansial dari kehidupan manusia. Seks adalah suatu ekspresi tubuh yang berhak mendapatkan kebebasan yaitu, kebebasan untuk kenikmatan dan kesenangan.

Bab sistem seksualitas lebih dalam lagi menguraikan analitika kekuasaan yang menindas seks. Mekanisme yang dirumuskan merupakan suatu pembatasan. Misalnya pelarangan, adanya oposisi biner (halal-haram, boleh-terlarang), logika sensor yang menghalangi, dan lainnya. Mekanisme kekuasaan, sejak abad ke-18 sebagian telah mengurusi kehidupan manusia. Wacana seksualitas, hasrat terus dianalisis dalam hubungannya dengan kekuasaan, bukan dalam konteks penindasan atau hukum. Foucault mengkerucutkan menjadi tiga tahap mekanisme seksualisasi yaitu, tahap pengendalian kelahiran, tahap organisasi keluarga sebagai alat pengendali politik dan regulasi ekonomi, dan tahap pengengendalian perversitas secara yuridis dan medis. Tujuan pertama sistem seksualitas merupakan cara mendistribusikan berbagai kenikmatan, wacana, kebenaran, dan kekuasan. Foucault kembali mengulas tentang kaum borjuasi yang menyangkal seksualitasnya sendiri, men-sucikan tubuh, sementara kaum proletar menolak seksualitas yang berasal dari borjuasi tersebut karena dipakai untuk menindas mereka yang erat kaitannya dengan teori represi.

Hak untuk menentukan ajal dan menguasai hidup pada bab terakhir membahas tentang peran raja yang memiliki kuasa untuk menentukan hidup dan mati seseorang. Selanjutnya perihal perang yang terjadi bukan melulu membela raja, melainkan saling membunuh karena kebutuhan untuk hidup. Baik perang, maupun hukuman mati adalah pedang bermata dua. Hukuman mati merupakan efek dari kekuasaan yang seolah bertugas untuk mengelola kehidupan. Sementara bunuh diri dianggap sebagai tindak kejahatan karena merampas hak raja. Sebelum abad ke-18, masyarakat berupaya untuk mengendalikan kematian, kemudian di awal abad ke-18 perhatian masyarakat bergeser ke pengendalian terhadap kehidupan terutama kehidupan seks. Kekuasaan atas kehidupan dan seks itu bermanifestasi menjadi dua bentuk. Pertama melalui anatomi politik tubuh manusia yang bertujuan mendisiplinkan tubuh dan seksualitas, kedua bio politik kependudukan yang bertujuan mengendalikan dan mengatur pertumbuhan penduduk, kesehatan, harapan hidup, dan sebagainya. Seks menjadi penting sebagai alat memuaskan kebutuhan jasmani dan berkembang biak.

Pemikiran Foucault penting terutama untuk memahami mekanisme kekuasaan yang bekerja pada era modern sekarang ini. Wacana seksualitas berjalin berkelindan dengan kekuasaan dan pengetahuan. Kekuasaan ada di berbagai jenis lingkungan mikro dan tak hanya di satu sumber sentral. Maka perlu dibongkar sampai ke bagian paling subtil yang terselubung. Melalui Foucault, kita yakin bahwa tubuh patuh pada aturan-aturan psikologi tertentu, padahal sejarah dan budaya juga berpengaruh. Dengan kata lain, tubuh dan seksualitas sesungguhnya dibentuk oleh masyarakat. Ada konstruksi sejarah sosial, dan budaya yang membentuk seksualitas. Perlawanan terhadap kekuasaan itu harus terus berlangsung dengan melawan wacana seksualitas yang sudah dikonstruksi.

*Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas matakuliah Teori Kritis yang diajar oleh L.G. Saraswati Putri, pada 17 Desember 2016.

About the author

Jenni Anggita

Penulis, peneliti, dan editor lepas. Tulisan terakhirnya terbit dalam antologi buku berjudul Ada Aku Di antara Tionghoa dan Indonesia (2018). Tengah bergelut di S2 Cultural Studies, FIB UI.

2 Comments

Click here to post a comment