Jenni Anggita Resensi Buku

Wacana Ibuisme sebagai Strategi Memerangi Stigma HIV/AIDS

Sebagian besar masyarakat Indonesia menilai orang yang mengidap HIV/AIDS dengan pandangan negatif seperti pecandu, perempuan asusila, kotor, menjijikkan, tidak bermoral, dsb.. Stigma yang melekat dalam diri Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tersebut tak jarang membuat mereka dikucilkan dalam masyarakat, bahkan dalam keluarga sendiri. Namun, bagaimana jika ODHA adalah seorang ibu?

Buku Mobilizing Motherhood: A Case Study of Two Women’s Organizations Advocating HIV Prevention Programs in Indonesia (2011) ditulis oleh Johanna Debora Imelda sebagai disertasi untuk meraih Ph.D. di Universiteit van Amsterdam. Penelitian ini dilakukan sejak tahun 2005, kemudian terbit pada 2011. Buku ini mengkaji strategi pergerakan ibu-ibu melalui dua organisasi perempuan, yaitu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Tim ODHA Perempuan (Tim seropositif Perempuan, atau TOP Support) dalam upaya pencegahan HIV/AIDS dari ibu ke bayi melalui program Prevention Mother-To Child Transmission (PMTCT) yang dilakukan oleh LSM Yayasan Pelita Ilmu (YPI). Dalam penelitiannya ini, Imelda menggunakan metode etnografi, deep intervieuw, dan focus group discussion.

Konsep ibuisme dalam masyarakat dikonstruksi pada posisi sakral atau kelas yang tinggi sebagaimana tergambarkan dalam pepatah “surga di telapak kaki ibu”. Hal itu seringkali dianggap bertentangan dengan program PMTCT karena stigma pengidap HIV/AIDS biasanya berperilaku “buruk”. Namun, penelitian ini justru menunjukkan bahwa wacana ibuisme yang berkembang dalam masyarakat justru digunakan untuk menjalankan program PMTCT sehingga berhasil mengubah stigma dalam masyarakat yang semakin melemahkan perempuan bahwa seorang ibu yang mengidap HIV/AIDS bukan berperilaku buruk. Ibu pengidap HIV/AIDS merupakan korban yang ditularkan suaminya. Maka, kata “ibu” pada saat program PMTCT berlangsung berperan besar dalam pengubahan citra HIV/AIDS dari penyakit perempuan tidak bermoral menjadi ibu rumah tangga yang setia, tetapi menjadi korban. Dengan demikian, masyarakat menjadi terbuka pada program pencegahan HIV di lingkungannya serta tumbuh pemahaman bahwa HIV/AIDS dapat dialami oleh siapa saja tanpa konteks asusila sekalipun. Sayangnya, karena program ini berfokus pada “ibu” maka tidak memfasilitasi suami, janda, ataupun perempuan yang tidak menikah. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tanpa adanya dukungan sosial dan jaringan yang tepat, identitas ibu saja tidak cukup dalam mempromosikan PMTCT atau HIV/AIDS secara luas.

Membaca buku ini, terutama bagian kutipan-kutipan kisah hidup, kesaksian mulai dari kader-kader PKK sampai ibu yang mengidap HIV/AIDS dapat membawa saya pada pemahaman lebih mendalam dan dilematis perihal perempuan yang terjebak dalam konstruksi masyarakat sebagai seorang ibu sekaligus menjadi ODHA. Inilah yang menjadi kekuatan buku ini, yaitu kekayaan data berupa narasi-narasi personal para ibu-ibu yang berhasil dikumpulkan. Sayangnya, kekayaan data tersebut kurang dianalisis mendalam. Pada bagian bab-bab akhir, pembaca dapat merasakan energi penulis yang semakin menurun dalam menulis.

Saya sendiri terganggu dengan pernyataan Imelda di awal menggunakan konsep ibuisme untuk membedakannya dari feminisme. Memang berdasarkan penelitian Imelda, identitas ibuisme mempermudah perempuan untuk mengubah stigma tentang HIV/AIDS serta mendapatkan kepercayaan dari masyarakat secara umum, juga dari suami. Apabila identitas yang dikemukakan adalah feminisme kemungkinan besar tujuan PMTCT tidak akan tercapai karena timbulnya persepsi yang mengancam suami dalam masyarakat patriarkhi. Meskipun demikian, dalam analisis Imelda, dikotomi antara ibuisme dan feminisme membuat penelitiannya menjadi kurang kritis dalam membongkar budaya patriarkhi yang melekat di masyarakat terutama konsep ibuisme itu sendiri. Padahal pergerakan ibuisme yang disebut Imelda dalam bukunya itu sejalan dengan tujuan feminisme. Maka dikotomi semacam itu tidak perlu dilakukan. Dalam analisisnya, Imelda dapat menggunakan teori feminisme untuk membongkar konsep ibuisme tersebut yang sesungguhnya merupakan budaya patriarkhi. Karena dalam buku ini tidak dilakukan, justru saya melihat tanpa disadari Imelda turut melanggengkan budaya patriarkhi terkait konsep ibuisme yang melekat dalam masyarakat.

Bagian paling berkesan dari buku ini, bagi saya, justru terletak pada narasi ibu-ibu kader PKK. Sebagai contoh, dalam Bab 5, seorang ibu kader PKK merasa berhasil menjadi seorang perempuan karena dia dapat mengurus rumah tangga (suami dan anak-anak) dengan baik juga mendapatkan penghasilan dari menjalankan program PMTCT yang kemudian dia gunakan untuk hidup sehari-hari, sampai untuk merenovasi rumah sehingga status sosialnya dalam masyarakat menjadi naik. Ketika PMTCT berhenti dilakukan di tempat tinggalnya, dia dan keluarga kembali mengalami kesulitan keuangan. Melalui contoh tersebut, dapat dilihat bahwa program PMTCT ini dimanfaatkan oleh kader-kader PKK itu untuk menambah penghasilan. Sebagai dampak, sosialiasi pencegahan HIV/AIDS kurang tepat sasaran karena orientasi ibu-ibu kader PKK itu lebih pada uang. Selain itu, tanpa mereka sadari, mereka terjebak pada konsep ibu yang ideal dalam masyarakat dan menjadi bahagia karenanya. Padahal, hal itu membawa ibu-ibu itu pada beban ganda. Di satu sisi mereka harus mengurus suami dan anak, di sisi lain mencari penghasilan tambahan demi kebutuhan keluarga, suatu ironi karena posisi yang dilematis.

Sebagai suatu karya ilmiah, buku ini dapat menjadi contoh terutama karena Imelda, sebagai seorang peneliti, berhasil membangun kepercayaan kepada narasumber sehingga mereka mau bercerita perihal hal-hal yang paling privat dalam kehidupannya. Buku ini menjadi bahan penting dan berguna terutama untuk organisasi-organisasi, pengambil kebijakan, atau pelaku-pelaku yang memiliki fokus perhatian pada persoalan HIV/AIDS.

About the author

Jenni Anggita

Penulis, peneliti, dan editor lepas. Tulisan terakhirnya terbit dalam antologi buku berjudul Ada Aku Di antara Tionghoa dan Indonesia (2018). Tengah bergelut di S2 Cultural Studies, FIB UI.

1 Comment

Click here to post a comment

  • Terima kasih yang sebesar-besarnya pada Jenni Anggita atas perhatian dan komentar yang membangun terhadap buku/disertasi yang saya tulis. Mudah-mudahan bisa menambah wacana bagi para pembaca. Terima kasih juga saya ucapkan pada Agenda 18 yang telah memilih buku/disertasi saya untuk dikupas lebih mendalam.