Karina Chrisyantia Opini

Ada Pelangi di Bola Mataku

Gambar dari http://muhammadsaifullah1991.blogspot.co.id/2016/03/menjaga-pelangi-nusantara.html
Gambar dari http://muhammadsaifullah1991.blogspot.co.id/2016/03/menjaga-pelangi-nusantara.html

Ada pepatah mengatakan, manusia tidak bisa memilih, dia dilahirkan seperti apa dan sebagai siapa. Apakah dia akan menjadi orang kaya atau orang sederhana? Apakah kelak dia menjadi presiden atau rakyat? Tidak ada yang tahu. Khususnya, persoalan dia akan menjadi suku apa.

Saya terlahir sebagai orang Jawa. Orang Jawa yang di bola matanya ada pelangi. Kok kayak lirik lagu ya?

Seperti pelangi, yang mempunyai warna-warni dalam setiap lekukannya. Pelangi dalam kehidupan saya adalah keluarga dan sahabat saya. Mereka datang ke hidup saya dari berbagai suku dan agama. Di keluarga besar saya, sekitar 70% adalah Muslim sisanya adalah Katolik. Selain itu, hampir semua sahabat saya adalah orang Cina.

Kini saya akan bercerita bagaimana saya menemukan pelangi di dalam hidup saya. Khususnya mengenai sahabat saya yang mayoritas beretnis Cina. Jujur saja, cerita ini akan memunculkan lagi memori yang tidak menyenangkan tentang penerimaan terhadap mereka.

Sebelum melihat pelangi, saya pikir semua manusia diciptakan sama. Namun, seiring beranjak dewasa, saya bertemu warna baru dalam hidup.

Pertama kali saya tahu bahwa setiap manusia berbeda, ketika saya duduk di bangku sekolah dasar. Saya ingat waktu itu teman sebangku saya bertanya.

“Kamu orang apa?” Saya terdiam. Memang manusia ada macamnya ya? Sepulang sekolah, saya bertanya ke ibu saya, lalu ibu menjawab, “Kalau ditanya begitu, kamu bilang, kamu orang Jawa.”

Sejak saat itu, saya mengerti bahwa setiap manusia mempunyai suku. Besok harinya, muncul lagi pertanyaan, “Kamu orang apa?” maka “Kamu orang apa?”. Ya, kalimat tanya itu yang balik saya ungkapkan ke  teman depan, belakang, samping, serong dan segala penjuru kelas. Bibir saya membentuk “Ooo” saat teman yang saya tanyakan menjawab “Aku Batak” atau “Aku Cina” “Aku campuran Jawa Flores”. Wah, manusia berbagai macam ya ternyata.

Namun sangat disayangkan, semakin naik ke kelas yang tingkatan lebih sulit, saya menyadari ketidaknyamanan terhadap lingkungan sekitar. Mulai muncul anggapan terhadap suatu suku atau ras tersebut.  Saya memang asli orang Jawa karena ayah dan ibu saya Jawa alias Jawa tulen. Namun, karena secara fisik saya berbeda dengan orang Jawa kebanyakan. “Kamu Jawa? Yakin? Kok hitam banget sih, kamu orang Afrika kali.” Atau begini, “Kamu hitam banget, tetapi gak keriting rambutnya, orang apa sih?” ada juga “Kamu orang Jawa palsu ya?”

Alhasil, sejak sejumlah pertanyaan itu saya meraih gelar baru yaitu “Item”. Padahal nama saya jelas bukan itu. Hal itu membuat saya membenci beberapa teman yang mengejek saya dengan sebutan itu. Mereka yang kerap mengungkan hal itu kebetulan adalah sekumpulan teman-teman beretnis Cina. Nyebelinnya lagi, mereka yang bersuku Jawa, tetapi memiliki kulit kuning atau coklat muda malah ikut mencemooh saya. Misalnya, “Aku Jawa tapi nggak sehitam kamu”.

Sangat jelas mendekam dalam ingatan bahwa hampir saja saya tidak mau sekolah karena saya merasa ‘berbeda’. Sejak itu, saya tidak mau berteman dengan orang-orang Cina. Mulai muncul anggapan-anggapan juga di kepala saya bahwa tabiat suku A begini, suku B begitu. Kondisi ini membuat saya memilih berteman dengan yang satu suku dengan saya dan yang pasti tidak menyebalkan.

Lalu setelah tamat SMP, saya melanjukan studi saya ke SMA dan tinggal asrama di Ambarawa, Jawa Tengah. Tentunya teman-teman saya umumnya orang Jawa dan disinilah pertama kalinya saya tidak dipanggil “Item”. Pelangi menyilaukan yang mengganggu kenyamanan di hidup saya mulai memudar. Ya, saya merasa aman dengan kondisi saat itu. Namun sayang, kenyamanan itu tidak bertahan lama ketika saya kembali ke Jakarta untuk meneruskan kuliah di salah satu universitas swasta.

Waktu orientasi dimulai, saya melihat hampir semua calon mahasiswa adalah orang Cina. Well, siap dicemooh lagi deh, pikir saya. Namun tak disangka, kehidupan saya di kampus sama nyamannya dengan di SMA meski setiap manusia yang saya temui semakin berbeda. Lambat laun saya pun keheranan, sahabat pertama saya di kampus adalah orang Cina, mantan pacar juga Cina dan hampir semua teman saya adalah orang Cina. Dosen pembimbing saya, Cina. Kehadiran mereka menjadi benih dukungan untuk saya. Mantan Gubernur saya dulu juga Cina. Bahkan sekarang saya memasuki dunia kerja, supervisor sekaligus mentor saya juga orang Cina. Setiap Imlek, rumah saya kedatangan jeruk dan kue keranjang kiriman dari sahabat-sahabat saya.

Time heals everything. Saya bahkan lupa tentang kebencian yang saya punya sempat tanam untuk mereka. Saya mulai belajar bahwa, ah tidak penting orang-orang di lingkungan saya ini saya sukunya apa, bagi saya, mereka menjadi manusia seutuhnya saja sudah cukup. Selama masa kuliah berlangsung, saya membuka diri dalam berteman dengan siapapun sampai sekarang. Pelangi di mata saya mulai bersinar lagi dan warna-warninya semakin terang. Di kantor, saya bergaul dengan orang Sunda, ada yang dari Padang, Manado, dan berbagai macam suku lain.

Saya pernah lupa bahwa Tuhan menciptakan manusia beragam dan ada yang bilang, hal itu yang membuat kehidupan semakin asyik. Namun perbedaan juga seringkali mengakibatkan perkara. Apalagi beberapa tahun belakangan ini.  Keberagaman suku dan ras menjadi permasalahan. Perbedaan menjadi tanda tanya yang jawabannya malah memakai tanda seru. Padahal sudah kodratnya kan? Hey, you should deal with it.

Saya yakin para pembaca, juga mempunyai pelangi masing-masing. Sembari berharap ada pelangi di bola mataku, juga ada pelangi di bola matamu yang memaksa diri ‘tuk bilang……

 

 

jangan sampai warna-warninya hilang ya.

 

About the author

Karina Chrisyantia

Penulis buku harian yang disekolahkan oleh orang tuanya demi meraih sarjana pendidikan. Setelah itu malah memutuskan terjun bebas ke dunia media. Gemar mengumpulkan uang receh untuk membangun studio foto dan mengutarakan emosinya melalui puisi. Demi meningkatkan kepercayaan diri dalam menulis, dia bergabung dengan Agenda 18 Angkatan ke 6.

Add Comment

Click here to post a comment