Kegiatan Liputan

Jumpa dengan Arswendo Atmowiloto

2 Arswendo
oleh Jenni Anggita

Seperti yang telah teman-teman semua ketahui, pada Minggu 23 Februari 2014, 17 orang anggota Agenda18 plus 2 orang non-Agenda18 berkunjung ke kantor Arswendo Atmowiloto. Berikut ini sedikit catatan kecil mengenai perjumpaan kami bersamanya.
Ketika masuk bertandang ke kantornya, kami mendapati suasana kantor yang lain dari biasanya. Kenapa? Karena ruang tersebut penuh dengan mesin tik, perabotan: meja dan kursi yang terbuat dari kayu. Sementara di belakang ruang yang kami pakai untuk bincang-bincang, Arswendo membiarkan cahaya matahari dapat masuk ke ruangan tersebut seolah seperti taman. Kesan tua dan asri begitu melekat.
Sekitar pukul 10.30 kami memulai bincang-bincang bersama si penulis Keluarga Cemara yang tersohor itu. Arswendo mengungkapkan kegembiraannya atas keberadaan kelompok Agenda 18. Kelompok semacam ini menurutnya sangat penting karena kebiasaan berkumpul dan berdiskusi akan menjaga semangat untuk menulis. Kata kunci yang disebutnya adalah “bersekutu”. ”Teruslah bersekutu,” katanya diselingi dengan selipan-selipan ayat dalam Kitab Suci. Dia mengingatkan bahwa ”bersekutu” sudah ada sejak zaman Yesus. Itulah kenapa “bersekutu” menjadi hal yang penting untuk berbagi dan menguatkan satu sama lain.
  
Kemudian, Arswendo berbagi kepada kami jatuh bangun perjalanannya menjadi penulis. Ternyata, ketertarikannya pada dunia tulis-menulis sudah dirasakannya sejak SMA. Menurut Arswendo, setiap orang pasti punya pengalaman unik dan pengalaman itu pasti berbeda satu dengan yang lain. Nah, pengalaman itulah yang dapat kita olah lalu, tuliskan dengan sudut pandang kita masing-masing.
 
Perbincangan berlanjut, ke kisah Arswendo yang seringkali memakai nama samaran di tulisan-tulisannya. Sukesi misalnya, “sukses dengan satu istri”, dan nama-nama lain yang aneh-aneh. Ketika ditanya alasan penggunaan nama samaran, dia berujar bahwa tak ada alasan khusus, hanya ingin saja karena terlalu sering menulis. Arswendo juga berulang kali menyemangati kami dengan kata-katanya untuk terus menulis. “Tidak ada tulisan yang buruk, tempat dan waktu yang menentukan” ujar penulis Canting yang disebut-sebut sebagai karya Masterpiece-nya.
Kami semua terkesima ketika Arswendo menceritakan pengalamannya ketika berada di penjara. Satu tahun setelah dibabtis, dia justru kena kasus dan harus mendekam di bui. Kami semua tertawa ketika cerita sedih itu dengan lancarnya dibumbui dengan guyon sana-sini dia bagikan kepada kami. 
 
Ketika anaknya akan masuk SMP di Tarakanita, anaknya menulis pekerjaan ayahnya: napi.  Kendati diprotes oleh Arswendo, anaknya tetap bersikeras. Justru karena itu, suster kepala sekolah malah berbaik hati dan menggratiskan biaya sekolah anaknya. Dengan santainya Arswendo berguyon kepada suster itu dulu, “Terima kasih Suster, nanti SMA juga digratiskan lagi ya…”. Kami pun tertawa terbahak-bahak. Kesulitan ekonomi yang dideranya pada saat itu tentu dapat kita bayangkan. Dia dipecat dari semua tempat pekerjaannya, padahal kebutuhannya banyak, juga untuk biaya cicilan rumah. Arswendo percaya dukungan istri, anak-anak menjadi penguatnya kala itu. Tentu juga pertolongan Tuhan yang luar biasa dia rasakan dan sampai sekarang begitu membekas dalam perjalanan hidupnya. 
Wendo juga menceritakan ketika di penjara, istri dan anak-anaknya tak dapat menjenguknya, dia sempat terkejut karena suster malahan dapat dengan mudah masuk penjara, menemuinya. Dan itu bagi Wendo adalah sebuah mujizat yang memberikannya kekuatan. Buahnya di penjara, selain tulisan, yang menjadi warisannya sampai kini adalah pekerjaan untuk para napi membuat sandal jepit. Sandal jepit tersebut di-desain para napi dengan menggunakan cuter. Bentuknya pun unik-unik. Kini, sandal jepit buatan para napi tersebut Arswendo pasarkan seharga Rp35.000,00.
 
Teman-teman satu per satu mulai bertanya sampai perbincangan meluas bukan hanya sekadar dunia tulis-menulis, tapi juga soal media, keluarga cemara, karya-karya Arswendo seperti Canting, Ibuk, dan Senopati Pamungkas, serta film-film pendek yang dikerjakannya bersama kawan-kawan yang lain. Dari berbagai kisah jatuh bangun-nya, kami dapat menangkap bahwa selalu ada kerja keras, perjuangan tanpa kenal lelah, sikap profesionalitas. Sekalipun beberapa kali Arswendo didera badai, berbagai kasus, dan sering juga ”nama” Arswendo tak diakui karya-karyanya, semua pengalaman hidup itu berusaha dihayati, dilakoni, dihadapinya dengan penuh rasa syukur dan tawa.
 
Perbincangan selama dua jam itu sungguh menggembirakan dan yang terpenting menjadi penguat bagi kami untuk meniru semangat juang Arswendo yang tak kenal lelah menulis dan terus menghasilkan berbagai karya. Ya, Arswendo dan karyanya pasti akan terus hidup.
“Teruslah menulis dan bersekutu.”
 
 
 

About the author

Jenni Anggita

Penulis, peneliti, dan editor lepas. Tulisan terakhirnya terbit dalam antologi buku berjudul Ada Aku Di antara Tionghoa dan Indonesia (2018). Tengah bergelut di S2 Cultural Studies, FIB UI.

Add Comment

Click here to post a comment