Liputan Lucia Sihombing

Suarakan Keadilan Bagi Perempuan di Daerah Konflik Sumber Daya Alam

alf

Nasib Perempuan karena Kerusakan Lingkungan

Jumat 4 Agustus 2017, saya menghadiri sesi bertemakan Women, Natural Resource Conflict and Peace Transformation dalam acara Asean Literary Festival 2017. Narasumbernya adalah Siti Maimunah yang kerap dipanggil Mai dari Sajogyo Institute dan Saras Dewi, penulis dan juga dosen Filsafat di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.    

Sesi ini diawali cerita mbak Mai mengenai Jambore Perempuan yang diadakan pada 15 Juli 2017 di Pesantren Ath-Thariq, Garut. Jambore ini merupakan perkumpulan perempuan yang berjuang untuk lingkungan. Kasus-kasus di lapangan yang dibagikan oleh mbak Mai seperti, kasus pengenalan teknologi di bidang pertanian, yaitu  mesin yang dipakai untuk panen padi. Memang membuat proses panen lebih singkat namun, tenaga perempuan yang biasanya digunakan dalam proses panen menjadi tidak dibutuhkan lagi. Dalam hal ini kita perlu melihat di mana perempuan ditempatkan saat ada kemajuan teknologi di sawah.

Kasus pabrik Exxon di Aceh misalnya, mempunyai dampak kepada perempuan Aceh. Sumber air terkontaminasi dari limbah pabrik. Sumber air itu digunakan untuk mencuci dan mandi bagi perempuan di desa. Dampaknya adalah perempuan-perempuan mengalami gatal-gatal pada kemaluannya. Akibat gatal-gatal kadang kala mereka harus mengoleskan balsam pada bagian kemaluannya. Hal tersebut membuat mereka tidak bisa berhubungan dengan suami. Kasus ini tidak dibicarakan dan diangkat sebagai masalah bersama. Bahkan ada perempuan-perempuan yang enggan menyampaikan suaranya karena menganggap ini sebagai persoalan pribadi.

Kasus lain dari Kendeng, betapa perempuan-perempuan berjuang agar tidak didirikan pabrik semen berdampak pula pada lingkungan sekitarnya. Kemudian hadir perempuan-perempuan yang berani bersuara. Contohnya ibu Gunarti yang menyemen kakinya. Cerita di Kalimantan berbeda lagi, perempuan-perempuan yang kehilangan anak-anak mereka karena ada 15 anak yang meninggal ketika bermain-main di tambang batu bara.

Dampak kerusakan lingkungan berbeda terhadap laki-laki dan perempuan. Biasanya dalam menyikapi kasus-kasus konflik lingkungan, laki-laki berperan sebagai orang yang berdemo, melakukan pertemuan atau pergi ke pemerintah daerah atau pusat menyampaikan suara. Sementara peran perempuan, menggantikan laki-laki yang tidak bisa bekerja mencari uang karena mengurus kasus konflik lingkungan. Perempuan berperan menggantikan laki-laki mencari nafkah, menyiapkan makanan di rumah, serta mengurus anak-anak. Namun, beban ganda perempuan ini seperti tidak terlihat.

Didorong oleh kasus-kasus konflik lingkungan yang banyak terjadi di Indonesia, Sajogyo Institute mendorong perempuan untuk berjuang mengangkat suara mereka dan memimpin dalam perjuangan mereka. Institut ini menawarkan beasiswa bagi perempuan-perempuan yang mau menjadi pendamping di desa-desa. Mereka dilatih 1 bulan dan harus berkomitmen untuk tinggal 1 tahun di desa mereka. Mereka dilatih untuk memahami krisis ekologi yang dialami dari waktu ke waktu, dilatih untuk mengobservasi. Pertanyaannya, jika perempuan ingin berjuang, apa yang perlu dibantu?

Perempuan peneliti atau aktivis yang bergerak dalam program-program perempuan tidak cukup datang ke desa-desa hanya satu atau dua hari saja kemudian merasa tahu semuanya. Aktivis atau peneliti biasanya kebanyakan bertemu dengan laki-laki dan bukan dengan perempuan. Padahal, yang perlu diketahui adalah bagaimana membantu perempuan untuk berjuang dalam konflik lingkungan.

Jambore Perempuan menjadi wadah bagi para perempuan saling memberi pengalaman satu sama lain untuk berbagi pengalaman. Kita perlu melihat apa problem perempuan di kampung-kampung yang terdekat dengan kita. Sadarilah, bahwa kosmetik yang kita pakai itu mengandung kelapa sawit yang di dalam prosesnya ada pekerjaan perempuan. Kolonisasi rempah-rempah yang terjadi di Pulau Banda zaman dulu, juga menghilangkan peran perempuan di dalam cerita sejarahnya. Bahkan film Banda yang tayang di layar lebar kurang mengangkat peran perempuan di dalamnya.

Kita harus memperhatikan hal-hal kecil seperti sumber makanan kita. Tumbuh kembangnya toko-toko atau supermarket yang menjual bahan-bahan makanan juga berdampak pada perempuan. Toko-toko franchise ini dikuasai oleh dua grup besar. Hal ini menghilangkan pasar-pasar tradisional, tempat perempuan sebelumnya banyak berjualan di pasar-pasar tradisional. Bahkan tanpa kita sadari, relasi sosial dipotong dengan adanya supermarket. Misalnya saja, di pasar tradisional kita bisa utang belanjaan kalau tidak membawa uang karena relasi yang terjalin di pasar.

Makanan instan yang kita konsumsi dari supermarket-supermarket, menopang kekayaan konglomerat di Indonesia. Kita harus disadarkan kembali untuk membeli di pasar tradisional atau bertani sendiri bahan makanan kita. Atas dasar ini jugalah Jambore Perempuan yang lalu menawarkan makanan rakyat bagi para pesertanya.

Saras Dewi membawakan cerita yang berbeda dari pulau Bali. Gerakan tolak reklamasi di Bali sudah berjalan selama 4 tahun. Gerakan ini muncul dari rencana pembangunan resort mewah dalam bentuk pulau-pulau artifisial dan sirkuit balap di Tanjung Benoa. Sirkuit tersebut akan menjadi ikon Bali dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Padahal wilayah seluas sekitar 800 hektar itu berfungsi menyanggah ekosistem di Bali.

Bali dengan industri pariwisatanya menyimpan banyak problem sosial. Ketika pariwisata berubah menjadi pariwisata massal maka dampaknya adalah menghilangnya wilayah-wilayah hijau di Bali. Bahkan perkembangan terkini mengenai pembangunan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berencana membangun mega resort di Tanah Lot. Pembangunan dan perkembangan pariwisata meningkat tapi orang Bali sendiri justru terpinggirkan. Akibat lainnya yaitu terjadi kerusakan lingkungan namun, banyak orang yang tidak tahu.

Bahkan saat penulis pribadi pernah mengikuti diskusi dari organisasi Sawah Bali, yang melakukan penelitian mengenai dampak pariwisata terhadap alam dan lingkungan, hasil penelitian mereka mengatakan, Bali tidak akan mempunyai air dalam 5 tahun ke depan. Ini akibat konsumsi air berlebihan dari hotel-hotel dan vila-vila mewah.

Gerakan tolak reklamasi menjadi suatu keprihatinan. Sampai saat ini belum terlihat ada alat berat untuk pembangunan di Teluk Benoa karena investor masih terganjal peraturan perundang-undangan dari menteri kehutanan. Namun, ini memberikan dampak sosial, masyarakat menanti dalam ketidakpastian apakah pembangunan di Teluk Benoa akan berjalan atau tidak. Pembangunan yang nantinya akan berdampak pada lingkungan di Bali karena akan menghilangkan hutan bakau. Masalah lainnya adalah pengembang akan menggusur nelayan-nelayan yang telah hidup di sana.

Dari sisi religi dan sejarah, Teluk Benoa adalah jejak awal mula Hindu Bali. Hindu yang berbeda dari Hindu di India. Jika ada pembangunan sirkuit balap, hal itu akan menimbun sejarah yang terjadi ratusan tahun lalu. Walau investor mengatakan bisa dibangun lagi hutan bakaunya. Namun, adat dan sejarah, tidak bisa diganti. Di wilayah Ubud banyak pertanian-pertanian tua yang tidak bisa kembali karena telah digantikan oleh insfrastruktur pariwisata.

Jika melihat permasalahan akibat dampak pembangunan di Bali, kehadiran perempuan sepertinya tidak tampak di dalam pengambilan keputusan gerakan tolak reklamasi. Kita harus membuat analisis sederhana di mana peran perempuan dalam gerakan tolak reklamasi.

Pelestarian lingkungan hidup di Bali harus kembali dilakukan. Seperti yang dilakukan masyarakat Gria Nakau di Karangasem. Mereka percaya bahwa alam semesta ini terdiri dari 2 dimensi, yaitu miskala (dimensi yang tidak tampak) dan skala (dimensi yang tampak).  Ritual untuk peletarian lingkungan dilakukan dalam bentuk tarian. Di sana 4 anak perempuan yang belum puber, menarikan tarian Sang Hyang De Dari.

DSC_1322
Asean Literary Festival 2017 (4/8) Dok. Cherry

Perempuan dan Gerakan Pelestarian Lingkungan

Menurut mbak Mai, dalam gerakan pelestarian lingkungan, perempuan bisa menjadi relawan dan melakungan pendampingan pada kasus-kasus konflik lingkungan. Beliau memberikan contoh konflik karena sumber daya alam yang terjadi di Kongo, tempat terjadinya pembantaian masyarakat besar-besaran di Desa Benni. Konflik terjadi karena penambangan mineral. Mineral tersebut dijadikan sebagai bahan pembuatan komponen telepon genggam.

Mbak Mai menyarankan agar kita mencoba lagi hidup sebagaimana nenek moyang kita yang hidup selaras dengan alam. Perlu ada moratorium. Untuk diketahui, saaat ini wilayah terakhir untuk hutan belantara hanya di Leuser, Aceh. Itu pun wilayah ini mau dirambah untuk menjadi perkebunan kelapa sawit.

Kita saat ini tidak mendengar apa pun tentang Papua. Bagaimana selama ini Papua telah dikeruk kekayaan alamnya melalui perusahaan Freeport. Kita bisa hentikan ini dengan melakukan solidaritas untuk Papua dan mulai berjejaring.

Perempuan yang mempunyai keunikannya dengan memiliki womb (rahim). Jika diibaratkan, perempuan seperti bumi yang melahirkan kehidupan. Masyarakat kita tidak pernah bercakap-cakap dengan alam maupun dengan tubuh sendiri. Kita tidak diajarkan memperlakukan alam sebagai kehidupan. Sebaliknya kita malah mengeksploitasi alam. Konferensi ibu bumi di Bolivia mendeklarasikan bahwa alam itu adalah ibu bumi, punya hak untuk hidup, oleh karenanya harus dihormati. Walau sungai dalam batas tertentu bisa memperbaiki dirinya. Kita harus memikirkan dampak lebih jauh dari eksplotasi alam. Kita harus pikirkan bahan-bahan makanan dari mana asalnya.

Bagaimana memudahkan perempuan hadir tanpa hambatan? Tiga hal yang direkomendasikan oleh mbak Mai adalah menghilangkan stigma komunitas atas ketidakmampuan perempuan, hadirnya kebijakan negara yang ramah akan perempuan, dan di sisi korporasi, yang berbicara mengenai Amdal tidak dengan laki-laki saja, namun bisa dengan perempuan. Kemenangan kecil buat perempuan itu penting untuk menghasilkan karya atau memberikan kontribusi sekecil apapun. Perempuan harus diberikan rasa percaya diri untuk terlibat dalam gerakan pelestarian lingkungan.

Hal-hal lain yang perlu dihilangkan dan merugikan perempuan seperti, masyarakat perlu menghilangkan standar kecantikan yang telah dikonstruksi oleh korporasi ataupun media selama ini untuk keuntungan semata. Seperti, selama ini perempuan berlomba-lomba memakai kosmetik pemutih karena standar cantik itu adalah kulit yang putih. Melawan kampanye pernikahan anak atau dini, melawan pornografi yang banyak merugikan perempuan. Dan juga saran segera menikah kepada perempuan, untuk memutuskan rantai kemiskinan.

Menulislah dan Suarakan Keadilan Bagi Perempuan Melalui Tulisan

Sesi ini  berusaha mengajak kita supaya lebih sering bercakap-cakap dengan tubuh dan alam. Pikirkan untuk membeli minyak kelapa kembali ke petani. Perbanyak bertukar pikiran dengan perempuan lain. Berikan program literacy ke kampung-kampung untuk membuka cakrawala pemikiran pada perempuan. Perbanyak advokasi bagi masyarakat yang tidak mempunyai pemahaman gender. Jika kita berminat melakukan apa saja untuk lingkungan, kita harus mendukung pasar tradisional, membeli barang dari perempuan, membeli bahan makanan organik dan mulailah menulis.

Pada sharing mereka, kedua narasumber mengungkapkan bahwa dengan problem konflik sumber daya alam yang terjadi di Indonesia, tidak banyak tulisan yang mengangkat perspektif perempuan di dalamnya. Kedua narasumber memberikan dorongan agar perspektif perempuan bisa lebih diangkat lagi.

Mengingat kembali kelas menulis dengan topik gender yang diadakan oleh Agenda 18. Pada sesi “Menulis sebagai mana perempuan menulis”, para peserta di dorong dan diharapkan bisa memproduksi tulisan dari sudut pandang perempuan. Tulisan dengan mengangkat sudut pandang perempuan melalui metode refleksi diri kemudian merefleksikannya dengan pengalaman sendiri. Menulis mengenai perempuan baiknya mengungkap dengan bahasa dan rasa perempuan. Kita perlu melatih kepekaan karena bahasa perempuan adalah bahasa pancaindera. Kenapa kita harus menulis, karena perempuan selama ini dianggap di posisi bawah, dan tidak pernah ditanya dan didengarkan. Kita perlu menangkap aktivitas perempuan di ranah privat. Banyak angle dan yang bisa diangkat dari hal-hal keseharian perempuan.

Cerita-cerita kasus di masyarakat karena konflik sumber daya alam seperti telah dipaparkan di atas tidak banyak yang menulis. Terutama tulisan dari perspektif perempuan. Seperti kasus tentang pabrik Exxon di Aceh, kita harus mencoba tinggal di sana, berbaur dengan para perempuan, mendengar cerita dari mereka. Karena banyak cerita yang tidak terpikirkan oleh kita. Kita bisa menuliskan cerita-cerita ini untuk menghasilkan pengetahuan akan perempuan di daerah-daerah yang mengalami konflik karena sumber daya alam. Mengangkat pergumulan beban ganda perempuan antara anak dan keluarga, ranah privat, juga pergumulan membantu suami mencari nafkah, dan problem yang dihadapi karena konflik sumber daya alam. Banyak tulisan yang menghilangkan perempuan, baik tulisan sejarah, dan lain lain. Dalam hal ini, perspektif perempuan di konflik sumber daya alam harus dituangkan ke dalam tulisan.

Dengan adanya forum ASEAN Literary Festival dan sesi mengenai perempuan dan konflik sumber daya alam, semoga semakin banyak tulisan-tulisan yang mengangkat suara perempuan untuk membawa keadilan bagi perempuan.

DSC_1325
Asean Literary Festival 2017 (4/8) Dok. Cherry

About the author

Lucia Sihombing

Lucia Sihombing, participant of Kursus Perempuan Angkatan I. She is life time volunteer who loves traveling.

1 Comment

Click here to post a comment

  • Mohon maaf, bisa berikan contoh lain “hidup seperti nenek moyang kita yang selaras dengan alam” dengan tanpa menafikan kemajuan teknologi dan tidak juga menyakiti usaha konglomerat? Ingat tidak semua konglomerat itu jahat.